
" Dimana kau sembunyikan istriku?"
Hermawan masih dipegangi nyonya Sanjaya dan seorang polisi.
" Cih, bukannya kau sudah cek seluruh ruangan di villa ku? Lalu apa kau sudah menemukan istrimu disini?"
"Kau pasti menyembunyikan istriku ditempat lain!"
" Coba saja cari sampai dapat!" Antony pergi keruang kerja bersama dua anak buahnya.
Nyonya Sanjaya mengajak Hermawan pergi meninggalkan villa Antony.
Dihalaman villa Antony, Hermawan masih saja memberontak berusaha masuk kedalam villa Antony lagi. Namun nyonya Sanjaya terus menarik tangan Hermawan agar ia mau masuk kedalam mobilnya.
" Ma, kenapa mama cegah aku nemuin Antony sih ma? Aku yakin pasti Safia disembunyikan Antony!"
" Her, sudahlah her... kita pakai cara lainnya!"
" Cara lainnya apa lagi sih ma...!"
" Kita akan pantau Antony dari jauh, pasti kita bisa menemukan Safia kalau kamu bisa bersabar"
" Ma, fia itu sedang hamil. Gimana nanti keadaan fia ma...! Kandungan fia itu lemah..." Hermawan mulai menangis lagi.
" Mama tau,kita akan berusaha yang terbaik agar Safia cepat ketemu" Nyonya Sanjaya mengusap air mata Hermawan.
" Kita pulang dulu ke Surabaya ya...! Nanti kita pikirkan cara lain,ok!"
Hermawan hanya bisa pasrah dengan keadaan ini. Ia tidak tau lagi kemana harus mencari istrinya.
πΊπΊπΊπΊ
Di villa Antony
Setelah sampai diruang kerjanya, Antony langsung membuka laptop nya untuk memeriksa cctv. Sekilas tidak ada kejanggalan. Lalu Antony teringat seseorang.
" Dimana Bu Meri...?"
__ADS_1
" Tadi pagi-pagi buta Bu Meri pergi kepasar bos. Tapi sewaktu ada penggerebekan saya kekamar nyonya,Bu Meri masih tidur di kamar nyonya bos"
" Bangunkan Bu Meri sekarang...!" teriak Antony.
" Kalau dikamar itu Bu Meri, berarti yang pergi pagi-pagi sekali itu..." Antony diam sejenak untuk berfikir. " Siapkan mobil,ayo kita cari Safia. Pasti dia belum terlalu jauh dari sini!" Antony dan beberapa anak buahnya mengikutinya naik mobil untuk mencari Safia.
Didalam perjalanan Antony terus saja memperhatikan jalanan yang ia lewati. Bahkan Antony dan anak buahnya bertanya pada beberapa warga yang ia jumpai sewaktu perjalanan mencari Safia. Namun sepertinya mereka tidak satupun melihat Safia.
Antony semakin kesal,ia memijit pelipisnya. Ia kembali naik mobil dan kembali ke villa. Ia benar-benar merasa kecolongan karena telah memberi kebebasan pada Safia. Ia berfikir kebaikan nya akan membuat Safia luluh, namun ternyata salah. Safia malah memanfaatkan kesempatan itu untuk kabur dari Antony.
πΊπΊπΊπΊπΊ
Flashback On
Ada seorang bapak-bapak berumur 60tahun sedang mencari kayu bakar. Ia juga berniat memetik beberapa dedaunan untuk lauk makan ia dan istrinya.
Ketika bapak itu asyik mengambil ranting-ranting kecil yang berjatuhan,ia melihat ada seorang wanita sedang tergeletak di semak-semak.
" Lho,Lapo wong wedok iku turu ndek Kono?"( lho,kenapa wanita itu tidur disitu?)
Bapak itu mendekati tubuh Safia,betapa terkejutnya sang bapak karena melihat wanita yang terbaring didepannya sedang hamil besar.
Dengan sedikit berlari akhirnya sang bapak sampailah di depan rumahnya.
" Buk e....buk e.... reneo!" teriak sang bapak. (buk e,buk e...kemarilah!"
Seorang ibu berpakaian kebaya kuno keluar dari rumahnya. Alangkah terkejutnya si ibu melihat apa yang dibawa sang bapak.
" Gendeng,bojone sopo seng mbok gowo pak?" ( Gila,istri siapa yang kau bawa pulang pak?)
" Buk,tulungen...! aku mau nemu mbak e iki pas golek kayu" (Bu,tolonglah! saya tadi bertemu dengannya sewaktu mencari kayu)
" Aduh....bapak iki" Si ibu langsung memeriksa keadaan Safia. " Aduh pak,gawat Iki!"
" Opo to buk,bapak gak ngerti!" ( apa sih Bu,bapak tidak mengerti)
" Mbak e iki wayae nglairno. Tapi umur e kandungane gung wayae" ( Mbak ini sudah waktunya melahirkan. Tapi usia kandungannya belum waktunya)
__ADS_1
" Lha terus piye buk? tulungen ae lah buk!" terus bagaimana buk? tolonglah buk!)
" Bapak Iki ngawur, aku wes gak oleh ngewangi wong lahiran maneh Karo bu bidan deso. Goro-goro konangan aku gak ndue ijin bantu wong lahiran. Aku wes kapok dilaporno polisi pak?" (Bapak ini ngawur,aku sudah tidak boleh membantu orang melahirkan oleh Bu bidan desa. Gara-gara ketahuan aku tidak punya ijin membantu orang melahirkan. Aku sudah kapok dilaporkan ke polisi)
" Tapi buk,mbak e iki terus piye? Sawangen iki getih seng mulai ngrembes neng pupune. Lek awak e dewe gak ndang cepet,iso bablas mbak e" ( Tapi buk, mbak nya ini terus bagaimana? lihatlah darah yang merembes di sela pahanya.kalau kita tidak bertindak cepat,bisa meninggal mbak ini)
" Aku gak iso pak! Aku wes janji...! Mbak e Iki kudu dioprasi cepet,Ben anak e iso slamet" ( Aku tidak bisa pak! Aku sudah janji...! Mbak ini harus segera dioperasi,agar anaknya bisa diselamatkan)
" Lek operasi awak e dewe duit kan ndi? Wes buk, gak sah kakean mikir! Ayo tak bantu,tak ewangi golek jamu ge lahiran" ( kalau harus dioperasi kita dapat uang dari mana? Sudah buk,ayo saya bantu, saya carikan jamu untuk persiapan melahirkan) Si bapak langsung mengangkat tubuh Safia keatas dipan.
*Dipan adalah bangku panjang, biasannya berbentuk seperti sofa namun tidak ada spons nya. Biasanya untuk duduk-duduk atau tidur.
Si ibu langsung menyiapkan perlengkapan melahirkan dan perlengkapan bayi. Sang bapak langsung pergi mencari dedaunan untuk dijadikan jamu.
" Bismillah yaa Allah....! Mugo-mugo gangsar!" (bismillah yaa Allah...! Semoga lancar persalinannya.
si ibu melafazkan doa sebelum membantu Safia melahirkan. Lalu ibu itu mengusap wajah Safia dengan air, bertujuan agar Safia sadar.
Selesai mengusap wajah Safia,si ibu menekan beberapa titik ditubuh Safia agar Safia segera sadar. Dan benar saja Safia mulai sadar. Safia merasakan perutnya mulai sakit yang luar biasa.
" Aaarrgh...ssss....aah" Safia memegangi perutnya. " Aaaw,sakit buk! Sakit sekali!" rintih Safia.
Si ibu memasukkan jarinya ke alat vital Safia, si ibu menggeleng lemah.
" Sabar ya nduk, sebentar lagi!"
" Sakit buk,sakit banget...!" Safia memegangi sisi dipan untuk berpegangan.
" Sabar nduk! sabar....!"
Sibapak datang membawa beraneka jenis dedaunan untuk jamu. Si ibu dengan cekatan segera meramu dedaunan tersebut untuk dijadikan jamu. Satu gelas jamu diberikan pada Safia untuk diminum. Satu lagi diletakkan di mangkok untuk dioles di beberapa tempat.
" Nduk, bismillah mugo-mugo lancar ya" Si ibu membimbing Safia untuk berdoa. " Pasrah dengan Gusti Allah ya! Hidup dan mati hanya miliknya. Kita hanya bisa berusaha dan berdoa.
Si ibu mulai meletakkan jarik di bawah tubuh Safia. Ia juga sudah menyiapkan perlengkapan.
" Bismillah Gusti, paringono lancar..."
__ADS_1
πΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊ
semoga lahirannya mbak fia lancar ya guys.... iloveyou.....πβ€οΈππͺ