
Dirumah Hermawan
" Pagi her...."
" Pagi ma..."
nyonya Sanjaya sangat sedih begitu melihat putranya yang pucat dan tidak memiliki semangat hidup.
" Sarapan yang banyak her, mama bantu kamu mencari fia" Nyonya Sanjaya menggenggam tangan Hermawan.
" Aku ikut mbak..."
" Vero...kamu dirumah saja jagain Fanesa. Aku nggak mau jika terjadi hal buruk pada Fanesa"
" Oma... aku kan sudah besar,kenapa Oma begitu padaku" rengek Fanesa.
" Buktinya mama mu yang sudah dewasa aja bisa diculik,gimana kamu yang masih remaja ini? sudahlah kita dirumah saja ya..." bujuk nyonya Veronika.
" Her....kenapa makannya cuma sedikit?"
" Aku nggak bisa makan ma. ... Aku nggak tau istri dan anak ku apa sudah makan?" Hermawan menunduk sambil mengusap air mata yang tiba-tiba menetes.
" Ya sudah, mama juga sudah selesai...! Ayo kita cari Safia"
Hermawan mengangguk dan berdiri. Tiba-tiba Fanesa menghampiri Hermawan dan menatik tangan Hermawan.
" Papa pasti bisa bawa mama pulang lagi"
Hermawan mengangguk sambil mengelus kepala Fanesa lalu pergi. Diikuti nyonya Sanjaya yang berjalan di belakang nya.
Pagi ini Hermawan tidak menyetir mobil sendiri karena kondisinya yang kurang istirahat tadi malam.
" Her,apa kau sudah pergi kerumah Susi?"
" Sudah ma, tapi dia malah meragukan kesetiaan Safia. Dia terus saja membujuk ku agar tidak mencari Safia lagi"
Nyonya Sanjaya menggenggam tangan Hermawan.
" Biar mama yang membujuknya, kamu cukup menunggu di basement"
" Baik lah, terserah mama"
Hermawan hanya bis pasrah dengan keinginan mamanya. Setelah sampai di basement apartemen Susi, benar saja Hermawan hanya menunggu di basement. Sementara nyonya Sanjaya pergi ke unit tempat tinggal Susi sendirian.
Lama menunggu Hermawan menjadi gelisah. Sudah satu jam mama nya tidak kunjung keluar dari apartemen Susi. Hermawan berniat menyusul nyonya Sanjaya,namun ketika ia membuka pintu mobil terlihat nyonya Sanjaya berjalan mendekati mobil Hermawan.
" Bagaimana ma?"
" Ini cukup sulit, awalnya Susi tidak mau mengatakan dimana Antony berada. Tapi..."
" Tapi apa ma?"
" Susi minta waktu untuk mengecek nya terlebih dahulu. Apakah istrimu benar-benar bersama Antony atau orang lain"
" Ma.... sumpah ma,aku melihatnya sendiri di rekaman cctv kalau Safia dibawa Antony pergi"
" Iya,mama percaya padamu sayang. Tapi tolong, beri waktu Susi untuk membuktikannya"
Hermawan terlihat putus asa mendengar perkataan mamanya.
" Ayo kita pergi kerumah sakit"
" Untuk apa?"
__ADS_1
" Untuk mengecek kondisimu,dan memastikan Safia pernah dibawa kesana atau tidak"
" Apa hubungannya ma?"
" Bukankah istrimu sedang hamil? Jika dia masih berada dikota ini,dan jika istrimu sedang dalam kondisi tidak baik bukannya dia akan dibawa kerumah sakit?"
" i...iya,tapi ma..."
" Serahkan pada mama mu,kamu cukup periksa kesehatan"
" Ba-baik ma..."
Hermawan hanya bisa menuruti keinginan mamanya.
Didalam perjalanan Hermawan merasa tidak tenang. Ia merasa cemas dengan keadaan istrinya,namun karena mamanya memaksa untuk ikut akhirnya ia harus menuruti keinginan mamanya.
" Ma... "
" Mama sudah memperhitungkannya. Menurutlah....!"
" Ma, bagaimana kalau Antony melukai istriku?"
" Bukankah Antony menyukai istrimu? Tentu dia akan menjaga wanita yang ia sukai dengan baik,bukan?"
Hermawan merasa teriris dengan perkataan mamanya. Memang benar, Antony menyukai istrinya. Jelas saja Antony tidak akan menyakiti istrinya.
Setelah sampai rumah sakit, Hermawan segera memeriksakan dirinya. Sedangkan nyonya Sanjaya pergi keruangan pimpinan rumah sakit.
Selesai memeriksakan dirinya Hermawan menunggu diruang tunggu. Tidak lama kemudian nyonya Sanjaya keluar dari ruangan pimpinan diantar oleh direktur utama rumah sakit.
" Terimakasih,maaf sudah merepotkan Anda..."
" Tidak nyonya,justru kami bisa membantu nyonya adalah suatu kehormatan"
Direktur itu pun mengantar nyonya Sanjaya dan Hermawan sampai lobi rumah sakit. Nyonya Sanjaya sempat melambaikan tangannya pada direktur itu ketika kendaraan nya mulai meninggalkan rumah sakit.
" Mama ada hubungan apa dengan Dirut rumah sakit itu?"
" Nggak ada,cuma teman..." Nyonya Sanjaya menjawab dengan begitu cuek nya.
" Mama mencoba membohongiku? Aku sudah dewasa ma!"
" Lalu? apa mama tidak boleh dekat dengan siapapun? Begitu egois sekali kamu...!" nyonya Sanjaya memalingkan wajahnya.
" Ma.....!"
" Sudahlah,apa kata dokter sewaktu memeriksa mu tadi?"
" Tekanan darah ku tinggi, gula darah juga tinggi, asam lambung ku kumat.kepalaku berat sekali ma..."
" Gimana nggak berat,kamu salaman nangis nggak tidur. Lama-lama kamu masuk rumah sakit karena stres berat"
" Aku aja kaya gini ma,gimana fia? Aku nggak tau harus gimana lagi buat nyari fia ma"
" Makanya kamu istirahat,makan yang banyak. Biar otak kamu bisa jalan kalo buat mikir. Makan aja enggak,gimana mau mikir buat nyari istri kamu?"
" Masalah nya Safia sekarang itu sedang hamil ma. Hamil anak ku, anak yang akan jadi pewaris Sanjaya grup, ma"
" Mama tau, kalau kamu mau merebut kembali istri kamu kembali...seharusnya kamu lebih cerdas dari Antony"
" Aduh...! kepalaku pusing ma"
" Pak sopir,kita pulang saja!"
__ADS_1
" Tapi ma, bagaimana dengan fia..."
" Sudah,diam. Tunggu kabar dari Susi. Sebaiknya kamu tidur saja dirumah"
Hermawan tidak bisa melakukan apa-apa karena kondisinya yang sangat lemah. Akhirnya Hermawan harus beristirahat sesuai keinginan nyonya Sanjaya.
❤️❤️❤️
Di villa Antony
" Tuan,nyonya Susi terus saja menelpon menanyakan anda"
" Tumben..."
" Nyonya bilang akan mencari anda,jika anda tidak mau mengangkat telepon nya"
" Biarkan saja dia melakukan apapun sesuka dia"
" Kalau nyonya menyusul anda kesini bagaimana tuan?"
" Biarkan...! Kita lihat,apa yang bisa dia perbuat..." Antony tersenyum sinis.
" Tuan,nyonya masih saja terus menangis sejak pagi"
" Apa Meri sudah memberikan obat penenang itu?"
" Sudah,tapi nyonya tidak mau menyentuh obat itu sama sekali"
" Carikan obat penenang yang berbentuk injeksi"
" Tapi tuan... obat itu harus menggunakan resep dokter"
Antony menatap tajam pria yang menjadi pelayan villanya tersebut. Pria itu hanya bisa menunduk ketakutan.
" Apa kau menunggu aku yang bertindak?"
" Tidak tuan,saya akan mencari obat itu untuk anda. Saya permisi tuan..." pria itu langsung pergi meninggalkan Antony.
Antony penasaran dengan keadaan Safia saat ini. Akhirnya ia memberanikan diri untuk pergi kekamar Safia. Didepan pintu kamar sudah terdengar Isak tangis Safia yang begitu menyayat hati.
Antony melangkah mendekati ranjang safia. Safia yang terus saja menangi tidak menyadari kehadiran Antony.
" Fia..."
Safia tersentak,ia mengangkat kepalanya melihat seseorang yang berada disampingnya.
" Mas, aku ingin pulang...."
Safia mengatupkan kedua tangannya seraya memohon.
" Makanlah,dan jangan menangis lagi...!"
Safia menggelengkan kepalanya.
" Aku mau pulang mas....aku mohon! Antar aku pulang mas....hiks,hiks,hiks..."
" Makanlah...! Kasihan bayi kita, nanti kamu bisa sakit!"
Safia menggeleng ketakutan sambil memegang perutnya.
" Bukan,ini bukan bayimu mas...!"
🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺
__ADS_1