
Hermawan dan Safia mengajak bapak ibu Safia juga Wulan adiknya untuk berkeliling kota Surabaya. Fanesa selalu nempel dengan Wulan adik Safia. Entah mengapa Fanesa begitu nyaman ketika ngobrol ataupun bersama Wulan. Mungkin karena usia mereka tidak terlampau jauh.
Hermawan mengajak keluarga Safia untuk mampir di sebuah restoran mewah di kota Surabaya. saking antusiasnya Wulan sampai tak henti-hentinya mengabadikan setiap momen-momen ia di Surabaya dengan ponsel pintarnya.
" Nduk....jangan malu-malu in mas Hermawan begitu" ibu Safia sengaja mencubit pinggang Wulan.
" Aduuh.....ibuk,mblengeri...." Wulan kesal dengan teguran ibunya.
" Biarkan Bu.... Hermawan nggak malu,biarkan Wulan sesuka hatinya. Jarang-jarang saya dan Safia bisa menjamu ibu dan bapak seperti ini"
β Nak Hermawan,bapak bahagia Safia putri bapak bisa mendapatkan pria sebaik nak Hermawan" Bapak Safia ikut menimpali percakapan.
" Saya tidak sebaik yang bapak katakan,masih banyak kekurangan saya pak. Saya bahagia fia bisa menerima kekurangan saya" Hermawan mengenggam tangan Safia. Tatapan penuh cinta terpancar Dimata keduanya.
" Bapak dan ibuk nggak usah khawatir,fia bahagia bersama mas Hermawan" imbuh Safia sambil tersenyum bahagia.
" Alhamdulillah,ibuk seneng kalo nak Hermawan bisa bahagiain fia. Fia memang nggak cantik,juga nggak berpendidikan tinggi. Tapi buat kami fia segalanya...."
" Buat Hermawan Safia wanita yang sempurna buk,ia mampu menutupi semua kekurangan saya..." Hermawan mencium tangan Safia.
Karena malu, Safia segera menarik tangannya kembali.
" Cieee.....ehem...ehem..." ledek wulan.
Akhirnya semua orang yang berada diruangan itu pun tertawa bahagia. Hermawan memesan sebuah ruangan VIP agar keluarga Safia merasa nyaman. Ketika Wulan dan Fanesa tengah asik ngobrol, tiba-tiba dua orang pelayan datang membawakan hidangan yang Hermawan pesan.
Seorang pelayan wanita menata hidangan diatas meja. Sedangkan seorang pelayan pria mendorong meja dorong restoran.
Mata Wulan tak lepas dari seorang pelayan pria itu. Walaupun pelayan pria itu memakai masker namun ketampanannya masih terlihat.
" Silahkan menikmati hidangan yang kami suguhkan" kata seorang pelayan wanita sopan. " Jika ada yang dibutuhkan kembali silahkan hubungi pelayan kami,permisi..."
kedua pelayan itu pergi meninggalkan ruangan.
" Eeehmmm....maaf saya mau ketoilet sebentar" tiba-tiba Wulan beranjak dari duduknya.
" aunty aku ikut ya..."rengek Fanesa.
" Jangan...! aku cuma sebentar,kamu disini saja...!" Wulan menolak keinginan Fanesa lalu segera pergi dari ruangan itu.
" Tumben Wulan beser buk..." kata Safia sambil mengambilkan makanan untuk suaminya.
" Lhaambuh,adikmu lak ngono..." jawab ibu Safia sambil menikmati hidangan. (nggak tau,adik kamu memang begitu).
Tak lama kemudian Wulan sudah kembali keruang yang dipesan Hermawan dengan wajah berseri-seri. Bapak dan ibuk Safia nampak cuek tidak perduli. Sedangkan Safia merasa adiknya bersikap aneh.
" Sayang,cobalah ini..." Hermawan meletakkan sepotong ikan pada piring Safia.
__ADS_1
Safia hanya membalas perlakuan Hermawan dengan senyuman. Semenjak kehamilan safia Hermawan semakin perhatian dan sangan protektif pada Safia. Mulai dari makanan, pakaian ,bahkan seluruh kegiatan Safia harus seizin Hermawan.
Setelah selesai makan, Hermawan mengantarkan bapak dan ibu safia kembali ke hotel. Bapak ibu Safia berkemas untuk segera kembali kekediri diantar sopir Hermawan.
Safia merasa sedih ketika kedua orang tuanya berpamitan pulang. Tak terasa air matanya meluncur bebas di pipi mulusnya.
" Nduk,dadi bojo seng beneh ya nduk. Ojo wani nyang bojo mu. Karo morotuo mu Yo seng beneh" kata ibu Safia sambil menangis haru. ( nak,jadilah istri yang baik. jangan berani pada suamimu. dengan mertuamu juga harus baik).
Safia mengangguk dipelukan ibu Safia.
" Nak Hermawan,bapak titip anak bapak. Jaga anak bapak, walaupun mungkin anak bapak belum bisa menjadi istri yang baik untuk mu nak..."
" Iya bapak jangan kawatir,saya akan menjaga Safia dengan baik" Hermawan memeluk tubuh bapak Safia.
Setelah selesai berpamitan,Wulan dan kedua orangtua Safia menaiki mobil yang sudah disediakan. Tangis kembali pecah ketika kedua orang tua Safia melambaikan tangan dan mobil mulai berjalan meninggalkan hotel.
Hermawan memeluk tubuh istrinya. Ia mencoba menenangkan istrinya. " Sudahlah,jangan terlalu bersedih... nanti kita bisa mengunjungi mereka dikediri"
Safia masih menangis sesenggukan. Hermawan menuntun Safia ke dalam mobil. Sedang kan Fanesa hanya diam seribu bahasa. Ia bingung apa yang harus ia lakukan ketika ibu sambungnya sedang bersedih.
25 menit mobil Hermawan tiba di kediaman Citraland. Fanesa menggandeng tangan ibu sambungnya ke dalam rumah.
Didepan pintu nyonya Sanjaya bermaksud untuk menyambut menantu bersama anaknya. Namun wajahnya berubah cemas ketika melihat mata Safia yang sembab.
" Anak mama kenapa sayang?" Tangan nyonya Sanjaya membelai lembut pipi Safia.
" Her...? Apa yang terjadi pada mantu mama?" Nyonya Sanjaya menarik tangan Hermawan.
" Biasa ma,fia nggak mau pisah dari orang tuanya. Ma,besok ajak fia kesalon. Biar dia agak rileks, sepertinya dia kelelahan"
" Ok,besok mama ajak dia shopping. Ooh ya her,fia sudah lama nggak priksa kedokter kandungan"
" Iya ma,mama atur saja. Besok pagi-pagi Hermawan mau pergi ke Singapura. Bibi Maria sakit"
" Maria...selalu saja begitu" nyonya Sanjaya menghembuskan nafasnya kasar.
Hermawan mengajak mamanya masuk ke dalam rumahnya sambil berbincang-bincang masalah pekerjaan nya.
πΉπΉπΉ
Dirumah Hermawan
Pagi hari setelah sholat subuh Safia kembali tidur,ia merasa badannya begitu lemas dan lelah. Hermawan memaklumi kondisi yang Safia alami saat ini. Ketika ia ingin berpamitan,rasanya enggan untuk membangunkan istrinya. Namun, ia harus segera kebandara agar ketika malam tiba ia sudah bisa pulang lagi ke Indonesia.
" Her..."
" Iya ma..."
__ADS_1
" Jangan perlihatkan kebencian mu dihadapan Maria. Buatlah seakan-akan tidak terjadi apapun. Kamu harus ikhlas dengan semua yang dilakukan anak Maria padamu. Karena kejahatan nggak perlu dibalas kejahatan"
" Iya ma... Hermawan akan meredam semua emosi Hermawan. Semoga semua bisa berubah ma..."
" iya her..."
" Hermawan pamit dulu ma..." Hermawan mencium pipi mamanya dan segera masuk kedalam mobilnya.
Nyonya Sanjaya kembali masuk kedalam rumahnya.
πΉπΉπΉ
Mount Elizabeth Hospital
" Mom....gimana keadaan momy?"
" ciihh....masih perduli kau dengan keadaan ku?"
" Please mom,jangan merajuk seperti ini..."
" Aku tidak butuh kamu...! pergilah....!"
" Maafkan aku mom, karena kesibukan ku jadi nggak perhatiin momy..."
" Sejak kematian wanita itu memang pekerjaan lebih penting dari ibumu kan?!"
" Mom...."
" Sudah-sudah,pergilah....! aku ingin istirahat..."
Tok...tok...tok....
Ceklek....
" Bibi Maria...." Seorang pria muncul dari balik pintu dan menghampiri nyonya Maria.
" Woouuw....kamu datang nak....! kemarilah peluk bibi...." pria itu memeluk erat tubuh wanita paruh baya itu.
" Maafkan aku bi, lama aku tidak mengunjungi bibi..."
" Tentu sayang,pasti kamu sangat sibuk. Heiii... Antony...! kenapa kamu tidak menyambut sahabat mu? Biasanya kalian langsung berpelukan bukan?!
πΊπΊπΊπΊ
terimakasih....π
i love you π
__ADS_1