
Hermawan memarkirkan mobilnya di garasi. Ia hanya bisa memandang istrinya dari kejauhan. Safia dan nyonya Sanjaya berjalan beriringan masuk kedalam rumah.
" Rasanya lebih sakit dari patah hati" gerutu Hermawan sambil mengambil tas Safia dari dalam bagasi mobil.
Hermawan berjalan memasuki rumahnya,namun baru sampai depan pintu ia melihat pak security datang menghampiri nya.
" Mas her,tadi ibu Karin menitipkan ini pada saya. Ibu bilang kalau tas ini untuk mas Hermawan" pak security menyerahkan sebuah tas.
Hermawan sedikit heran melihat tas yang dikirim Karin untuk nya. Ia membuka tas itu ternyata isinya kunci mobil, sertifikat rumah, Surat kepemilikan butik disebuah mall mewah,satu kredit card,satu kartu debit dan juga beberapa perhiasan.
Kenapa Karin mengembalikan ini semua padaku?
Disana juga ada secarik surat. Hermawan membacanya penuh teliti. Dahinya mengkerut sewaktu membaca surat itu.
*Dear Hermawan Sanjaya,
Terimakasih untuk semua limpahan materi yang kau berikan padaku,dulu aku sangat bahagia mendapatkan itu semua. Tapi sekarang itu semua tak berarti lagi bagiku.
Aku sadar,aku bukan istri juga ibu yang baik... Aku juga sempat iri karena kau lebih mencintai istri barumu itu. Sekarang aku* *sadar,Semua karena ulahku,aku tak bisa menjaga kebahagiaan yang sudah aku dapat. Aku malah mencari kebahagiaan diluar sana... kebahagiaan yang semu.
Sekarang..... Aku sangat bersyukur ketika bisa menemukan seorang pria yang bisa menerima semua kekurangan ku. Walaupun dia tidak menawarkan kemewahan* *sepertimu...haha Setidaknya,dia tidak merendahkan ku seperti pria diluar sana...
Her,dengan semua keterbatasan ku... aku tak pantas mendapatkan hak asuh Fanesa. Tolong....jaga anakku dengan baik,apapun yang terjadi tolong jangan pernah sia-siakan anakku. Biarkan dia bahagia bersamamu*...
*Kecup sayang dari*
Karin
__ADS_1
Hermawan tersenyum sinis menanggapi surat Karin. Ia meremas surat itu lalu membuang ke sembarang arah.
Hermawan langsung pergi berlalu menapaki tangga ke kamarnya. Ia merasa lelah dan tidak bersemangat pagi itu. Ia ingin segera merebahkan tubuhnya di kasur empuknya. Ketika membuka pintu kamarnya matanya terpaku pada sesosok wanita yang sedang berdiri di balkon kamarnya. Ia langsung menghampiri wanita itu dan memeluknya dari belakang.
Wanita itu tersentak karena tubuhnya tiba-tiba dipeluk dari belakang. " Apa yang kamu lakukan padaku,mas!"
" Aku rindu padamu sayang....! Kenapa kamu selalu menghindari ku,hah?" Hermawan nampak mengeratkan pelukannya.
Safia tidak nyaman dipeluk Hermawan. Dengan sekuat tenaga ia melepaskan pelukan Hermawan. Hermawan nampak melonggarkan pelukannya. Safia pun beranjak pergi meninggalkan Hermawan.
" Apa kau masih marah padaku? kenapa kau selalu menghindari ku?" wajah Hermawan berubah sedih.
" Aku...." Safia sangat bingung dengan perasaannya. Ia sebenarnya tak bisa berlama-lama marah pada suaminya. Namun entah mengapa ia tak ingin berdekatan dengan suaminya. " Aku sudah memaafkan mu mas. Tapi biarkan aku sendiri untuk sementara waktu" Safia pergi meninggalkan Hermawan.
Bagai disambar petir, Hermawan merasa hatinya hancur. Semenjak Hermawan mengusir Safia,sikap Safia langsung berubah. Safia selalu mengacuhkan Hermawan ketika ada ibu mertuanya. Bahkan Safia selalu tidak merespon ketika Hermawan mengajaknya ngobrol.
Hermawan merebahkan tubuhnya diatas kasur. Matanya mulai terpejam secara perlahan. Ia mencoba melupakan penderitaan nya selama diacuhkan Safia.
🌹🌹🌹🌹
Sore pun berlalu....
" Her... bagaimana pekerjaan mu" Suara mama Sanjaya akhirnya memecah keheningan.
" Semua lancar ma,aku sekarang berusaha memegang kendali semuanya dari rumah."
" Apa semuanya bisa seperti itu. Sekarang banyak orang-orang jahat yang nggak tau diri. Mana bisa kau percayakan begitu saja pada orang lain"
"Aku punya beberapa orang-orang kepercayaan yang bisa ku andalkan. Aku ingin memanfaatkan waktuku bersama keluargaku"
" Jangan ceroboh,ayahmu membangun semua usaha ini dengan tidak mudah. jangan karena sesuatu hal saja kau jadi lalai dengan tanggung jawab mu!" Seru mama Sanjaya.
" Mbak....jangan terlalu keras pada Hermawan... Ia sudah bekerja dengan baik. Tak usah lah kau mempermasalahkan metode bekerja nya" bibik Veronika mencoba membela Hermawan.
" kamu itu selalu saja membelanya.....!" nyonya Sanjaya sudah menyelesaikan makan malamnya dengan cepat. Ia segera meninggalkan meja makan menuju kamar tamu.
__ADS_1
Safia, Hermawan,Fanesa juga bibik Veronika hanya memandang kepergian nyonya Sanjaya dengan diam seribu bahasa. Bibik Vero menepuk bahu Hermawan. Hermawan seakan enggan menanggapi kemarahan ibunya.
" Sayang apa kau ingin sayur ini lagi?" Hermawan menuangkan sayur capcay ke piring Safia. Namun,Safia segera menarik piringnya menjauh.
" Aku sudah kenyang mas..., Fanes,ayo kita ke kamar,mama bantu kamu menyelesaikan pr kamu..." Safia dan Fanesa pergi meninggalkan Hermawan dan bibik Veronika.
" Bik, kenapa semuanya menghindari ku? apa yang salah dengan ku? apa fia belum memaafkan ku..,.?" Hermawan sangat sedih dengan sikap Safia yang selalu menghindari nya.
" Jangan terlalu difikirkan her,mungkin bawaan bayi...."
" Maksud bibik?"
" Ada beberapa kasus ibu hamil merasa tak nyaman jika berdekatan dengan suaminya. Bisa jadi karena suaminya terlalu posesif atau ada pula yang tidak menyukai bau kringat suami. ada pula yang tergila-gila dengan kringat suaminya" bibik Veronika mencoba menjelaskan.
" Bibik jangan sok tau deh..." ledek Hermawan.
" aku dulu begitu, aku begitu risih berdekatan dengan suamiku...itupun nggak berlangsung lama" bibik Vero nampak sedih.
" kenapa Bibik sedih...?!" Hermawan mengernyitkan dahinya.
" Suami bibik meninggalkan bibik ketika bibik tak bisa memberinya anak laki-laki" raut wajah bibik Vero berubah semakin sedih. Bahkan matanya terlihat berkaca-kaca.
Hermawan memeluk bibik Veronika. " Jangan menangisi pria itu bik, anak itu sama saja baik laki ataupun perempuan. Mereka memiliki rejekinya masing-masing" Hermawan mengelus punggung bibik Vero.
" Kalau kau memiliki anak perempuan lagi, apakah kamu akan memperlakukan nya sama dengan Fanes her?" tanya bibik Vero.
" Tentu, walaupun mereka terlahir dirahim yang berbeda namun buatku mereka semua darah daging ku"
" Kamu memang yang terbaik..." bibik Vero tersenyum sambil melepaskan pelukan Hermawan. " tapi jika Fanes bukan anak kandung mu, apakah kamu akan tetap menyayangi nya?" tanya bibik Vero lagi.
" Apa maksud bibik...?" Hermawan nampak terkejut mendengar pertanyaan bibik Vero. "Fanesa itu anak ku bik, walaupun aku tau Karin sewaktu menikah dengan ku sudah tidak...." kata-kata Hermawan menggantung. Perasaan ragu kini mulai timbul lagi. Ia pernah merasa ragu jika Fanesa bukan putri kandungnya. Bahkan ia pernah memeriksakan DNA nya bersama Fanesa ke lab. Namun ia enggan membuka hasilnya.
Sejujurnya ia sangat takut jika mengetahui kenyataan bahwa Fanesa bukan putri kandungnya. Putri yang selama ini ia besarkan dengan penuh kasih sayang...
🌺🌺🌺🌺
__ADS_1
Terimakasih,maaf telat up... soalnya sikecil lagi ulangan. Jadi haru dampingi dan mengerahkan seluruh kekuatan super emak saya untuk fokus di anak saya🤗
terimakasih untuk semua yang setia memebaca karya saya....i love you all 😘😘🔥