
" Maafkan aku bi,lama aku tidak mengunjungi bibi..."
" Tentu sayang,pasti kamu sangat sibuk. Hei.... Antony....! kenapa kamu tidak menyambut sahabat mu? Biasanya kalian langsung berpelukan bukan?"
Antony masih terdiam duduk disofa. Ia merasa malas atas kedatangan sahabatnya tersebut.
Pria itu menghampiri Antony, Antony pun berdiri dan mereka saling berpelukan.
" Jangan kau fikir, pelukan ini akan mengakhiri kebencian ku padamu... HERMAWAN!" bisik Antony ke telinga Hermawan.
Hermawan hanya tersenyum mendapatkan perlakuan tidak menyenangkan Antony.
" Heii.... Hermawan, kemarilah nak! ayo kita ngobrol,bibi kangen padamu. Banyak sekali yang ingin bibi bicarakan padamu"
Setelah melepas pelukan Hermawan, Antony menatap dengan tajam Hermawan. Matanya berubah merah penuh dengan amarah.
Sedangkan Hermawan hanya menatap dengan mata sayu. Berharap semua akan berakhir.
"Her.... kemarilah nak,bibi rindu padamu"
" Baik bik...!" Hermawan menghampiri ranjang bibi Maria.
" Ma... aku pergi keluar sebentar"
"Ya....ya,ya... terserah,kamu selalu saja seperti itu!" bibi Maria seakan malas dengan sikap putranya itu. " Bagaimana kabarmu sekarang her...?"
Antony mengepalkan tangannya lalu keluar ruangan rawat inap ibunya.
" Baik bik..." Hermawan duduk dipinggir ranjang bibi Maria.
" Her... kau tidak baik-baik saja,katakan padaku"
" Aku baik-baik saja bik. Lebih baik bahkan..." Hermawan kembali tersenyum.
"Ooh ya,apa kamu datang sendiri? Mana Karin?"
Hermawan tertunduk lesu. " Kami sudah berpisah bik, sekarang aku sudah menikah lagi..."
" Kenapa? bukannya Karin sangat mencintai mu?"
Sekelebat bayangan muncul dibenak Hermawan. Penghianatan Karin bersama putra semata wayang bibik Maria. " Aah,itu... kami merasa tidak cocok lagi bik"
" Kenapa sih,pria selalu saja bilang seperti itu. Apa ada yang kau sembunyikan dariku?" bibi Maria menatap Hermawan dengan tajam.
" Tidak bik...!" Hermawan sedikit gugup takut jika ia tiba-tiba keceplosan.
" Apa kau yang berselingkuh dari Karin?"
Hermawan menggeleng.
" Lalu....?"
" Aku merasa kita sudah tidak cocok lagi bik. Aku merasa bukan pria yang baik untuk Karin"
" oooh...sayang,jangan bicara seperti itu. Bibi rasa kau pria baik. Bahkan lebih baik dari Antony. Untung saja Susi bisa menerima Antony yang kurang ajar itu. Dia selalu mementingkan pekerjaan nya ketimbang kami semua..."
Hermawan hanya tersenyum mendengar bibik bercerita.
" Her....apa istimewanya istri barumu itu?"
" Dia sangat berbeda bik, namanya Safia. Usia kami selisih 20tahun. Tapi,dia sangat dewasa dan pengertian."
__ADS_1
" ooh tidak,! kamu nakal juga ya her...?" bibik Maria menutup mulutnya dengan telapak tangannya.
Hermawan tersenyum. " Dia istimewa bi, kesederhanaan nya membuatku merasa sadar. Harta bukanlah segalanya. Bahkan Fanesa mudah sekali menerima kehadirannya"
" Waaauuww,,kapan kau mengenalkannya pada bibik?"
" Nanti kalau bibik sudah sembuh,aku akan mengajaknya mengunjungi bibik"
" Kenapa kau tidak mengajaknya menjenguk ku hari ini...?"
" Dia sedang hamil muda bik, mama melarangku mengajaknya bepergian jauh"
" waah..... selamat ya her, kamu luar biasa! Semoga kamu dikaruniai anak laki-laki. Biar bisa jadi penerus usahamu"
" Aamiin, terimakasih bik..."
Akhirnya mereka berbincang kesana kemari. Menceritakan semua yang mereka alami. Hermawan lebih banyak menceritakan Safia istri barunya,juga Fanesa putrinya. Sedangkan bibik Maria menceritakan kehidupan Antony dan Susi menantunya.
Tak terasa tiga jam pun berlalu. Antony tak kunjung kembali ke ruangan. Hermawan merasa enggan meninggalkan bibik Maria sendirian di kamar inapnya. Namun ia harus segera kebandara untuk kembali ke Indonesia sebelum malam tiba.
" Bik....apakah Antony masih lama?" Hermawan melihat jam yang melingkar di pergelangan tangannya.
" Apa kau buru-buru?"
" Aku harus segera kembali ke Indonesia. Banyak pekerjaan yang harus aku selesaikan"
" Pergilah,bibik sudah biasa sendiri. Sebentar lagi asisten pribadi bibik akan datang"
" Maafkan aku bik,aku harus pergi..." Hermawan mengecup pipi kanan dan kiri bibi Maria.
"Her, hati-hati dijalan...! Jangan lupa hubungi bibik kalau sudah sampai di Indonesia ya!"
" Baik bi..." Hermawan mengambil jas yang berada disofa dan melambaikan tangan pada bibi lalu keluar dari kamar inap bibi Maria.
" Sedang apa kau disini Antony? Kenapa kau tidak masuk menemani bibik?"
" Dimanapun aku itu bukan urusanmu...!" jawab Antony ketus.
" Antony,kenapa kau masih saja bersikap seperti ini padaku?"
" Karena aku membencimu..."
" Aku sudah lelah Antony...."
Antony tersenyum devil. " Sampai kapanpun aku akan selalu menganggu mu Her"
" Terserah kau saja,aku tidak perduli..." Hermawan pergi begitu saja tanpa menghiraukan Antony.
Ketika Hermawan pergi,ia berpapasan dengan Susi. Hermawan bahkan tidak menyapa Susi, ia bersikap acuh seakan tidak mengenal Susi.
" Biasanya dia menyapaku,apa yang terjadi padanya sayang?"
" aku tidak perduli,mana minumku sayang?"
Susi menyerahkan sebotol air mineral pada Antony.
" Bersiaplah Susi,kita akan menyerang Hermawan kembali setelah mama pulang dari rumah sakit"
Susi hanya bisa mengangguk pelan. Sebenarnya Susi enggan menuruti kemauan suaminya itu. Namun,rasa cintanya pada Antony mengalahkan akal sehatnya.
" Ayo kita masuk ke dalam kamar mama..."
__ADS_1
" Ayo..."
πΉπΉπΉπΉ
Di rumah Hermawan...
" Ma, mas Hermawan kemana kok pergi nggak pamit padaku?"
" Ah, Safia... duduk disini sayang" nyonya Sanjaya kaget tiba-tiba menantunya sudah berdiri dibelakangnya. " Hermawan menjenguk ibu dari sahabat nya di Singapura"
" Sahabat?"
" iya sahabat, namanya Antony... di sahabat Hermawan sejak kecil"
" Ma,entah perasaan fia saja atau memang benar adanya. Fia merasa mas Hermawan hubungan nya tidak baik-baik saja dengan Antony..."
" Kamu benar sayang,hubungan mereka sedikit memburuk karena salah faham"
" Salah faham? maksud mama?"
" Antony mengira Hermawan merebut kekasihnya hingga kekasihnya itu bunuh diri"
" kok bisa bunuh diri ma...?"
" kekasih Antony hamil diluar nikah,dan bukan Antony yang menghamilinya"
" Lalu kenapa Antony mengira mas Hermawan yang merebut ma?"
" karena sebelumnya kekasih Antony mengakui kalau ia pernah memiliki rasa dengan Hermawan. Jadi Antony berspekulasi bahwa Hermawan lah yang menghamili kekasihnya itu"
" Tapi kan nggak ada bukti kan ma?"
" Iya,tapi Antony sempat melaporkan Hermawan kepolisi"
" Apa ma? mas Hermawan pernah dipenjara dong?"
" Enggak sayang.... polisi tidak mempunyai bukti kuat,hingga akhirnya Hermawan dibebaskan"
" Syukurlah...!"
" Kamu tau fia,siapa pria yang berselingkuh dengan karin?"
Safia menggeleng. " Mas Hermawan nggak pernah cerita siapa laki-laki itu"
" Laki-laki itu adalah Antony"
" apa ma?" mata Safia membulat.
" Iya,aku nggak nyalahin antony sepenuhnya... karena kenyataannya Karin nggak hanya tidur bersama Antony,tapi dengan banyak pria" Wajah nyonya Sanjaya berubah murung.
" Mama kenapa sedih, semua kan sudah berlalu..."
" Semua karena mama... Mama maksa Antony untuk menikah dengan Karin, awalnya Antony menolak karena belum ingin menikah" nyonya Sanjaya menyerahkan apel yang sudah ia kupas pada Safia." Makanlah...!" sambil mengelus perut Safia yang mulai membuncit.
" Kenapa mama maksa mas Hermawan nikah ma?"
" Karena mama nggak mau Hermawan berlarut-larut dalam kesedihan. Hermawan dulu suka pada Sonia,tapi Sonia memilih menikah dengan pria lain"
" jadi... dulu mas Hermawan suka sama Sonia?" Safia terkejut mendengar pernyataan mama.
" iya... dulu Antony,Sonia juga Hermawan bersahabat sejak kecil. Jangan cemburu pada Sonia... perasaan Hermawan sekarang tidak seperti dulu. Sekarang ia hanya mencintaimu". nyonya Sanjaya membelai lebut rambut Safia.
__ADS_1
" Ayo sarapan dulu,kamu harus banyak makan yang bergizi... biar cucu mama sehat" nyonya Sanjaya membelai kembali perut Safia. Safia hanya tersenyum bahagia.
πΊπΊπΊπΊ