
Hari berlalu begitu cepat. Acara siraman pun tiba. Keluarga besar Safia sudah datang sejak kemarin sore. Bapak,ibu dan juga Wulan adik Safia menginap dirumah Hermawan. Sedangkan keluarga yang lain menginap dihotel. Hermawan sengaja memesankan beberapa kamar untuk menginap keluarga besar Safia.
Entah kenapa sejak kemarin kepala Safia sedikit pusing. Mungkin sedikit setres karena kelelahan mempersiapkan acara hari ini. Sebenarnya tugas Safia tidak berat,hanya mengangguk setuju saja. Namun beberapa orang dari wo yang datang dan berlalu-lalang menata ruangan membuatnya tidak nyaman.
" Mama..."
" Iya sayang...."
" Kenapa wajah mama pucat?"
" Nggak papa sayang,cuma pusing aja"
" apa tidak sebaiknya mama tiduran dulu di ranjang?"
" Nggak perlu sayang,mama nggak papa"
" Nesa bangga deh,"
Safia menoleh ke arah Fanesa heran.
" Kenapa anak cantik mama heran?"
" Mama kelihatan cantik pake baju kaya gini. Kaya ratu dicerita kerajaan Majapahit"
Safia pun tersenyum. " Cantik dari mana? bikin masuk angin iya.... Lihat,baju kok cuma kemben sama jarik doang. Mana mama nanti dimandiin orang beramai-ramai lagi. Duh...malunya itu lo"
" Nanti kalau fanesa hamil, mau dibikinin acara kaya gini"
Hahaha.... Akhirnya keduanya tertawa bersama.
" Hust,sekolah dulu yang bener. Baru kerja lalu menikah terus hamil..."
" Siaapp boss....!" Fanesa memberi hormat kepada Safia.
" Hahaha....anak siapa sih gemesin banget. Sini peluk..." Safia merentangkan kedua tangannya. Dan Fanesa pun langsung mendekat dan memeluk Safia.
Fanesa melepas pelukan Safia lalu menyatukan jari telunjuk dan ibu jari membentuk sebuah love kecil.
" Salanghae....mama fia"
" Nado Neo manh-i salanghae" Safia menirukan gerakan Fanesa. Dan akhirnya mereka tertawa bersama.
" Wah...wah...wah... dua bidadari papa sedang berbahagia yaa..." Hermawan datang tiba-tiba tanpa mengetuk pintu.
Safia hanya tersenyum. Lain halnya dengan Fanesa,ia sedikit cemberut karena kedatangan papanya.
" Papa menganggu saja...!"
__ADS_1
" Ayolah sayang,nanti setelah acara selesai kalian bisa bercanda sesuka hati kalian".
Fanesa merajuk, " Pa... sampai jam berapa acaranya selesai?"
" Entahlah....! ingat,kamu nggak boleh meninggalkan acara ini sesuka hatimu" Hermawan memberikan peringatan keras pada Fanesa.
" iya...iya..."
" Tunggu mama dibawah,papa akan membantu mama untuk bersiap"
" Baiklah pa..." Fanesa ngeloyor keluar kamar masih dengan mode bad mood.
" Mas...,aku malu kalau keluar dengan pakaian seperti ini"
" ini...," Hermawan menyerahkan sebuah kain penutup dada. " Aku akan membantumu sampai ditempat siraman. Jangan khawatir sayang...aku akan melindungi mu dari mata-mata nakal para tamu undangan"
Safia mengangguk,ia mulai mengenakan selendang panjang dan membelitkan pada punggung dan dadanya hingga tertutupi. Hermawan juga menutup kepala Safia menggenakan pashmina panjang.
" Ayo...!" Hermawan memeluk bahu Safia erat. " Kamu terlihat cantik sekali sayang... Rasanya aku tidak rela jika membagi keindahan istriku pada orang lain."
Safia mencubit pinggang Hermawan.
"Aaauww....! kenapa kau mencubitku sayang?"
" Aku gemas padamu mas..." bisik Safia sambil tersenyum.
Acara siraman dilaksanakan di halaman belakang rumah Hermawan. Para tamu bersorak riuh menyambut kedatangan Safia. MC memberikan aba-aba agar para tamu duduk dengan tenang.
Seorang MC wanita membacakan susunan acara siraman terlebih dahulu. Safia duduk diantara ibu mertua dan suaminya. Kedua orang tua Safia duduk di bangku berbeda dengan yang diduduki Safia.
" Terimakasih atas wejangan -wejangan yang disampaikan dari keluarga besar Sanjaya untuk nyonya Hermawan dan juga tuan Hermawan... ,kini saatnya kita memasuki acara inti yaitu siraman. Silahkan nyonya Hermawan berserta tuan Hermawan memasuki tempat yang disediakan"
Safia dibantu Hermawan menempati sebuah panggung kecil yang sudah tersedia bak besar berisi air bunga tujuh rupa. Safia duduk disamping bak tersebut dan tak lama kemudian sebuah tirai menutup i panggung tersebut. Acara siraman pun dimulai...
Ada seorang wanita yang dianggap tetua keluarga Sanjaya memulai acara siraman dengan membacakan doa-doa khusus untuk Safia dan keluarga Hermawan. Lalu mengguyur tubuh Safia dimulai dari kepala sampai ke tubuh Safia. Diikuti kemudian ibu mertua Safia yang nampak cantik menggenakan kebaya dengan rambut yang disanggul rapi. Disusul kemudia Hermawan.
Dan tak lupa kedua orang tua Safia juga dipanggil untuk naik ke atas panggung. Bapak Safia nampak menagis karena terharu. Begitupun dengan ibu Safia.
" Ibuk... bapak jangan nangis..." Safia merasa tidak tega melihat kedua orang tua nya menangis.
Nyonya Sanjaya merangkul ibu Safia untuk turun dari panggung dan mencoba menenangkan nya. Sedangkan bapak Safia turun dibantu budhe Safia.
" Wes to mas,Ojo nangisan ngono...! ngisin-ngisini" gerutu bude
*Sudahlah mas,jangan menangis seperti itu! Memalukan saja*
Setelah acara siraman selesai, Hermawan segera membantu Safia untuk berganti pakaian. Safia nampak menggigil kedinginan.
__ADS_1
" Sabar sayang...sini aku bantu" Hermawan dengan cekatan membatu safia berganti pakaian. Setelah Safia selesai,tiraipun terbuka.
Ada seorang wanita membawa beberapa baju ke hadapan Safia.
" Nyonya sanjaya...silahkan...!" teriak mbak rosi.
Nyonya Sanjaya dengan senyum semringahnya berjalan mendekati Safia.
" Ini saatnya mantuku mencoba beberapa baju. Ayo...pantaskah mantuk pakai baju warna merah ini?" nyonya Sanjaya meletakkan sebuah baju berwarna merah darah ke dada Safia.
" Tidaaaakk....." teriak para tamu.
" Kalau merah muda..." nyonya Sanjaya meletakkan baju berwarna pink ke dada Safia.
" Tidaaaakk..." teriak para tamu lagi.
" Kalau biru..." nyonya Sanjaya meletakkan baju ber warna biru didada Safia.
" Tidak....."
" Kalau ungu..." nyonya Sanjaya meletakkan warna unggu didada Safia.
" Cantik...."
" Iya pantes..." teriak para undangan.
" Tentu saja cantik dan pantas. Karena ungu itu adalah pilihanku. Aku yakin cucuku nanti pasti seleranya tinggi dan menyukai kemewahan sepertiku" kata nyonya Sanjaya dengan sombongnya.
" Yaaaa.....hahaha" teriak para tamu undangan.
" Baiklah para undangan yang berbahagia,izinkan nyonya sanja beristirahat sejenak. kini saatnya tuan Hermawan untuk membelah kelapa cengkir gading yang sudah bergambarkan tokoh pewayangan Arjuna dan juga Srikandi. Harapannya nanti jika anaknya laki-laki akan gagah seperti Arjuna,dan kalau perempuan akan jadi wanita pemberani seperti Srikandi. Silahkan tuan Hermawan..."
Ketika Safia beranjak dari panggung tempat siraman,tak lama kemudian Safia tersungkur dan tidak sadarkan diri. Para tamu heboh melihat Safia pingsan. Dengan sigap Hermawan menggendong Safia masuk kedalam rumahnya. Hermawan merebahkan tubuh Safia di ranjang tamu.
Tak lama kemudian seorang pria ikut menyusul kekamar tempat Safia terbaring.
" Her...kenapa istrimu?"
" Nggak tau Riyan,tolong periksa istriku"
Dengan cekatan pria itu memeriksa keadaan Safia. Riyan adalah salah satu kerabat dari ayah Hermawan. Tepatnya adalah anak dari adik tuan Sanjaya.
" Riyaaaann.... bagaimana keadaan mantu Tante?" Nyonya Sanjaya datang sambil tergopoh-gopoh disusul ibu Safia.
πΊπΊπΊπΊ
thank you ππ
__ADS_1