
Dihotel....
Pagi ini Safia tidak berolahraga seperti biasa. Ia disibukkan dengan acara syukuran empat bulan kehamilan nya. Sebenarnya ia menolak acaranya diadakan secara besar dan mewah. Ia hanya ingin acaranya diadakan secara sederhana namun bisa berjalan dengan hikmat.
" Aku nggak suka acaranya,tapi aku pengen moment nya bisa berkesan" Safia melempar tas nya kesal.
" Sayang...jangan marah seperti itu, ini semua keinginan mama. Aku hanya bisa pasrah..."
" Pasrah kamu bilang mas?! Aku lihat kamu sangat bersemangat dengan acara ini...!" Safia melipat tangannya didada membelakangi Hermawan.
Hermawan merengkuh pinggang Safia dan memeluk nya dari belakang. " Kamu tau kenapa aku melakukan ini?"
" Nggak tau" jawab Safia ketus.
" Karena kamu dan calon anak kita sangat berarti buat aku. Apalah arti semua uang ku tanpa kamu dan dia..." Hermawan mengelus perut Safia yang mulai sedikit membuncit.
" Tapi aku nggak suka,aku malu kalau harus jadi bahan tontonan banyak orang" Safia membalikkan tubuhnya menghadap Hermawan.
Hermawan mengelus kepala Safia lembut. " Karena mereka iri dengan kesempurnaan mu sayang" Hermawan meraup wajah Safia dan menggesekkan hidungnya ke hidung Safia.
" Nggak ada manusia sempurna, kesempurnaan hanya milik Allah mas"
" Buat ku kau wanita yang paling sempurna dimuka bumi ini..."
" Hallah....gombal!" Safia melepaskan tangan Hermawan dan mengambil btas nya yang terjatuh dilantai. " Kalau aku nggak ada apsti kamu nikah lagi...!" Safia memoleskan lipstik ke bibirnya.
" Aku nggak akan nikah lagi....!"
" Kenapa...? Kamu punya segalanya,... kamu bisa memilih wanita seperti apapun untuk menjadi istrimu" Safia melihat kaca untuk memastikan penampilan nya sudah sempurna.
" Setelah kepergian mu,hatiku pun akan mati... cintaku akan ku kubur bersama kepergian mu"
" Sejak kapan mas suka banget bicara manis seperti itu?"
" Sejak kau hadir dalam hidupku...."
" Aduuh....!"
__ADS_1
" Kamu kenapa sayang?" Hermawan nampak khawatir karena Safia mengasuh karena kesakitan.
" Aku lupa ngabarin bapak sama ibuk..."
" Tenanglah sayang, semuanya sudah aku siapkan... aku pastikan kamu pasti bisa ketemu dengan bapak sama ibuk nanti. Mereka sedang beristirahat dikamar mereka"
" Kapan mas menghubungi bapak sama ibuk?" mata Safia nampak berbinar karena bahagia.
" Kemarin malam..."
" Aku nggak sabar ingin ketemu mereka..."
Ceklek....
Pintu kamar terbuka,nyonya Sanjaya datang menghampiri Safia dan Hermawan.
" Her, semuanya sudah siap...! Setelah jam lagi acara dimulai,aku harap kamu akan selalu berada disamping istrimu" Nyonya Sanjaya melirik menantunya lalu pergi meninggalkan mereka berdua.
πΉπΉπΉπΉ
Kamar hotel...
" Hust, Ojo Sampek awakmu ngisin-ngisini bapak Karo ibumu lan. Mau Bu Sanjaya wes meling lak awak e dewe gak oleh ngisin-ngisini keluarga ne nak Hermawan" ( kamu jangan sampai bikin malu bapak dan ibumu lan. tadi,Bu Sanjaya sudah mewanti-wanti agar keluarga kita tidak mebuat keluarga nak Hermawan malu)
" ibuk mu bener lan,sakne mbak mu mesti diseneni Karo Bu Sanjaya lak awakmu neko-neko" (ibu kamu benar kan,kasihan kakak mu pasti kena marah Bu Sanjaya jika kamu macam-macam).
" iih....bapak kaleh ibuk sami mawon. Mblengeri..." (bapak sama ibu sama saja.membosankan...) Wulan kembali merebahkan tubuhnya di ranjang empuk hotel. Ia mengotak-atik handphone nya untuk berselfi ria. Tak lupa ia meng-upload nya kemedia sosialnya.
Sementara disofa bapak dan ibu sedang gelisah. Mereka benar-benar tidak nyaman dengan keadaan saat ini. Diundang diacara empat bulanan anaknya tercinta tak se menyenangkan seperti bayangan mereka. Karena mereka harus mematuhi segala aturan dari nyonya Sanjaya. Tak lupa nyonya Sanjaya selalu mengingatkan untuk menjaga etika bahkan tidak boleh berbaur dengan para undangan sembarangan.
Bukan karena keluarga bapak ibu Safia bukan keluarga yang tidak memiliki etika dan sopan santun. Melainkan mereka sangat tidak terbiasa berkumpul dengan orang-orang elit kelas atas. Rasanya benar-benar tidak nyaman berada di tempat se mewah itu.
Tok...tok...tok....
Ceklek....
Dua orang wanita membawa dua koper masuk kedalam kamar bapak dan ibu Safia.
__ADS_1
" Maaf pak dan ibu,saya diutus ibu Sanjaya untuk merias bapak dan ibu. Nama saya Merlin..." wanita itu menunduk kan badannya memberi hormat.
" i...iya mbak" jawab bapak Safia gugup. "Aduh...buk....sakit" bapak Safia mengusap-usap pahanya yang tiba-tiba dicubit ibu Safia.
" Mata dijaga pak..awas nanti tak colok pake linggis kalo bapak macem-macem...!" bisik ibu Safia di telinga bapak Safia.
" Hehe.... ibuk,kan bapak ndek pabrik jarang liat yang seger-seger..." kata bapak Safia cengengesan.
" Silahkan siapa dulu yang bisa saya rias?" kata Merlin membuyarkan perdebatan mereka.
" Saya saja mbak..." Wulan langsung beranjak dari ranjang dan mendekati Merlin.
" Silahkan nona..." Merlin segera mengeluarkan seperangkat peralatan make up dari kopernya. Asisten nya juga menyiapkan baju-baju yang akan dikenakan Wulan dan juga kedua orangtuanya.
πΉπΉπΉ
Hermawan dan Safia sedang melakukan pemotretan untuk tampilan dilayar monitor. Sewaktu acara berlangsung akan diputar juga foto-foto keseharian Hermawan berserta Safia dan juga Fanesa.
Setelah acara pemotretan selesai,Safia dan Hermawan akhirnya pergi keruang ballroom hotel. Tempat berlangsungnya acara empat bulanan Safia. Acara empat bulanan diadakan begitu mewah dan megah. Tamu undangan tak hanya dari saudara,sahabat,beberapa perwakilan dari panti asuhan dan yayasan sosial juga teman bisnis Hermawan.
Acara perayaan empat bulan kehamilan safia berjalan begitu khidmat, rangkaian doa serta bacaan ayat-ayat Al-Qur'an dilantunkan begitu merdu dan menyejukkan hati. Safia begitu menikmati acara demi acara hingga acara selesai.
Setelah acara selesai,para tamu undangan berbaris berebut memberikan ucapan selamat pada Hermawan serta istrinya. Wajah bahagia begitu terlihat diwajah keduanya. Begitupun nyonya Sanjaya,ia sangat bahagia karena akan memiliki cucu kembali.
Para tamu satu persatu pergi meninggalkan ballroom hotel. Terlihat dua orang pria menghampiri Hermawan dan Safia. Pria itu tersenyum sambil mengulurkan tangannya memberi selamat.
" Selamat atas kehamilan istrimu sahabatku...." tak mendapatkan respon pria itu langsung memeluk tubuh Hermawan. " istrimu boleh juga. .."bisik pria itu ke telinga Hermawan.
" Kau jangan macam-macam...!" Hermawan masih mencoba mengontrol emosi nya.
" hahaha... kau masih saja terlalu kaku padaku" pria itu tertawa dan mengalihkan pandangannya pada Safia. Pria itu mengulurkan tangannya pada Safia.
Antony.... kenapa kau bisa disini....!
πΊπΊπΊπΊ
Alhamdulillah sayangku semuanya.....maaf aku telat up,karena kesibukan dan cuaca tak menentu mengakibatkan author agak oleng....π£π£π
__ADS_1
Setelah semuanya membaik,pasti diusahakan agar bisa up nya lebih rajin yaa....i love you semua πππ