
Setelah menempuh perjalanan kurang lebih 15menit akhirnya Hermawan sampai dirumah Karin. Hermawan segera memarkirkan mobilnya di garasi mobil. BIbik Karin terlihat mondar-mandir di depan pintu.
" Syukurlah kau datang her,bibik takut...!"
" Dimana Karin bik?"
" Dikamar nya..."
" Mari bik..." bibik Karin mengantarkan Hermawan pergi ke kamar Karin di lantai 2. Sesampainya didepan pintu kamar,terlihat barang-barang Karin berserakan dilantai. Bahkan ada yang sudah hancur tak berbentuk. Hermawan segera masuk kedalam kamar,matanya menyapu seluruh sudut kamar. Ia melihat Karin terduduk dipojok kamar dengan kaki yang ditekuk. Rambutnya acak-acakan, badannya gemetar.
" Karin,apa yang terjadi padamu?" Hermawan merangkul Karin dan membimbingnya duduk di sofa dekat ranjang tidurnya.
" Mas,apa itu kau?" Karin mendongakkan kepalanya melihat wajah Hermawan.
" Iya ini aku,apa yang kau lakukan? Jangan menyakiti dirimu sendiri seperti ini" Hermawan mengkode bibik Karin untuk mengambilkan segelas air untuk Karin. Bibik pun mengangguk dan pergi ke dapur.
" A...aku....aku harus bagaimana? Kau pergi meninggalkan ku dan sekarang Martin juga...hiks....hiks...hiks..." Karin mulai menangis sesenggukan. Hermawan langsung memeluk Karin. Hermawan merasa iba dengan kondisi Karin sekarang. Hermawan tak menyangka kepergian Martin bisa merubah Karin seperti itu. Walaupun sempat menyimpan luka yang digoreskan Karin,namun Karin pernah singgah dihatinya. Karin telah memberinya seorang anak.
" Tenanglah,jangan bersedih... Aku akan selalu ada untukmu" Hermawan membelai rambut Karin dengan lembut. Terlihat satu sudut bibir Karin tertarik sedikit.
Dasar pria bodoh, akhirnya kau masuk perangkap ku. Perlahan kau akan kembali kepelukanku,hahaha. Kau pikir aku serapuh itu? batin Karin
" Kita pindah ke kamar sebelah saja,biarkan bibik membereskan kamar ini" Hermawan menuntun Karin menuju kamar sebelah. Kamar yang lebih kecil dari kamar utama,biasa digunakan untuk tamu yang menginap.
" Duduklah..!"
" Her ini airnya..." bibik Karin menyodorkan segelas air putih. Hermawan langsung memberikan air itu pada karin." Minumlah..!"
Setelah air itu habis tak bersisa,Karin menyerahkan kembali gelas kosong pada Hermawan. Hermawan meletakkannya pada nakas.
" Her,bibik siapkan sarapan untuk kalian" Hermawan hanya mengangguk tanpa berucap sepatah katapun. Pandangan nya kembali ke wajah pucat Karin.
" Apa kau merasakan sakit pada tubuhmu? akan ku panggilkan dokter"
__ADS_1
" Aku nggak butuh dokter mas,aku hanya butuh kau" Karin menatap Hermawan dengan wajah sendunya.
" Karin,dengarkan aku...! Sekarang kondisinya sangat berbeda,aku sudah menikah lagi. Kondisi istriku juga sedikit kurang baik. Kemarin ia keguguran. Sebelumnya ada seseorang yang mencoba untuk membunuhnya..." Hermawan membuang muka. Menyembunyikan kemarahannya pada Martin.
Karin meraih tangan Hermawan, menggenggam nya erat." Aku tau, setidaknya ijinkan aku untuk selalu bersamamu. Aku belum bisa jauh darimu,mas. setelah kepergian Martin,hatiku semakin hancur. Aku nggak ada semangat hidup lagi her...! Rasanya aku ingin mati saja....hiks...hiks...hiks"
" Jangan berkata seperti itu, Aku akan sering-sering mengunjungi mu" Hermawan masih saja membujuk Karin agar tak berbuat nekat. Walau bagaimanapun Karin adalah ibu kandung dari Fanesa putrinya.
" Her...., walaupun aku tak bisa seperti dulu lagi,bisakah aku menjadi teman dekatmu? Hanya teman...! Setidaknya aku tak jauh-jauh darimu her..." Hermawan melihat kesungguhan kata-kata Karin dari matanya.
Sepertinya dia bersungguh-sungguh. Semoga saja dia benar-benar berubah. Batin Hermawan.
" Baiklah,mulai sekarang kita berteman. Bukan karena aku, melainkan demi kebaikan Fanesa putri kita" Hermawan melihat raut wajah Karin berubah berbinar-binar.
" Terimakasih mas Hermawan, terimakasih!" Karin langsung memeluk Hermawan erat. Hermawan membalas pelukan Karin. Hermawan merasa kembali ke masa lalunya. Ketika ia masih menjadi suami Karin. Namun tiba-tiba bayangan Safia hadir dibenaknya. Seketika ia lepaskan pelukan Karin.
" Maaf Karin,aku nggak bisa mengontrol diriku. Kita sudah bukan suami istri lagi. Tolong jangan tersinggung!"
" Iya mas,maafkan aku yang kelepasan" Karin nampak sedikit kecewa.
" Her,kau mau kemana?"
" Pulang bik, kasihan istriku dirumah pasti menunggu ku"
" Tunggu lah sebentar hingga Karin membaik sampai sore nanti. Aku takut jika tiba-tiba dia mengamuk lagi" Nampak sekali raut wajah bibik katin sangat mencemaskan keadaan Karin.
" Tenanglah bik,aku sudah bicara pada Karin. Dia pasti akan baik-baik saja. Maaf bik,aku tak bisa meninggalkan istriku terlalu lama. Kondisinya belum pulih benar"
" Baiklah kalau kau tetap ingin pergi. Tolong jangan jauhi Karin,bibik yakin hanya kaulah yang bisa mengontrol emosinya"
" Tidak bik,bibik pun bisa memberinya semangat. Jangan pernah tinggalkan dia sendirian. Dia hanya butuh teman,makanya aku ingin bibik menetap disini bersamanya"
" Baiklah her,nanti bibik akan bicara dengan anak bibik"
__ADS_1
" Ya sudah bik,saya pamit dulu"
" Hati-hati dijalan ya her..." bibik Karin melambaikan tangannya. Hermawan membalas dengan mengangguk dan tersenyum.
Mobil Hermawan melesat menjauhi kediaman Karin. Entah mengapa hatinya merasa bersalah dengan sikapnya pada Karin. Mungkinkah selama ini ia terlalu keras dengan karin...? Atau sudah benarkah sikapnya menikah dengan Safia? Entahlah...!
***
" Bu... Safia dimana?"
" Safia di taman belakang"
" Baiklah Bu, saya akan menyusulnya..."
" iya..."
Hermawan pergi meninggalkan ibu Safia yang fokus menonton tv. Setelah pulang dari rumah Karin ternyata Hermawan tidak langsung pulang. Ia sengaja mengecek beberapa pekerjaan nya yang terbengkalai. Ketika sampai ditaman belakang ia melihat seorang wanita duduk tampak terlihat punggungnya. Hermawan segera menghampirinya.
Mendengar ada derap langkah menghampiri Safia langsung berdiri dan berbalik badan. " Astagfirullah mas,bikin kaget saja" Safia nampak mengatur nafasnya kembali.
Hermawan nampak mengeryitkan dahinya heran." Sayang apa kau takut padaku?"
Safia menggeleng dan kembali mendaratkan pentatnya dibangku taman. Tangan Safia terlihat sedikit gemetar. Hermawan langsung merangkul Safia. " Sayang apa kau baik-baik saja?"
" Nggak tau kenapa kejadian demi kejadian itu hadir kembali di ingatanku mas. Langkah kaki Martin, itu terdengar sangat menakutkan mas. Aku takut kalau dia tiba-tiba datang dari arah berlawanan dengan arah ku mas..." Nafas Safia mulai tersengal-sengal. " Aku takut dia menyerang ku dari belakang" Safia menutup kedua telinganya dengan kedua telapak tangannya. Perlahan bulir air mata jatuh melintasi pipi Safia. Tubuhnya bergetar, kepalanya menunduk.
" Sayang tenanglah...! Ada aku bersamamu" Hermawan memeluk Safia erat. Hatinya terasa sakit, ia tak menyangka kalau perlakuan Martin kepada istrinya meninggal kan trauma yang mendalam. Hermawan menuntun Safia untuk masuk kedalam rumahnya. Namun tiba-tiba tubuhnya tumbang. Hermawan segera menangkap tubuh Safia dan menggendong nya kedalam kamarnya.
Melihat putrinya digendong menantunya ibu Safia berlari menghampiri Hermawan. " Le.... Safia kenapa?" Hermawan sempat berhenti beberapa detik untuk menjawab pertanyaan ibu mertuanya. " Pingsan buk...!" Hermawan melanjutkan langkahnya menuju kamarnya.
🌺🌺🌺🌺
***Terimakasih untuk support yang selalu diberikan kepada karya sy🙏 tetap semangat dan saling mendukung yaa💪
__ADS_1
Semoga setiap kebaikan kembali ke kita semua 🤲 aamiin Yaa Allah***