
" Mas....!"
Afrian menumpukan janggutnya pada pundak Safia. Safia memandang suaminya keheranan.
" Aku takut nggak bisa menemukan kalian" Mata Hermawan kemerahan menahan tangisnya.
" Iih,papa bucin..!" Ledek Fanesa.
" Papa khawatir sayang,bukan bucin!" Hermawan mulai kesal dengan ledekan putrinya.
" Hallah....! Bucin ya bucin aja pa" Fanesa mulai beranjak dari tempat duduknya.
" Nes... Papa nggak suka ya dikatain bucin!"
" Bodo....! hwleeeeekk" Fanesa berlari sambil menjulurkan lidahnya meledek papanya.
Hermawan langsung mengejar Fanesa. Safia beranjak dari tempat duduknya.
" Aawww...! Hati-hati dong mas..." Safia disenggol dari belakang oleh seorang pria. Bukannya minta maaf,pria itu pergi begitu saja. Pria itu sempat menoleh sebentar, tatapannya mengerikan. Telinganya bertindik, Baju yang ia kenakan serba hitam. Mirip preman atau mafia, yang jelas mengerikan.
Safia sempat takut,namun ia berusaha menetralkan perasaannya. Ia menghampiri suami dan anaknya yang sudah menunggunya diparkiran.
" Ayo te, aku sudah lapar" Safia sedikit berlari menuju parkiran.
" Mau makan dimana sayang?" Tangan kanan Hermawan memeluk putri kesayangannya.
" Terserah papa yang penting enak" Ucap Fanesa sambil tersenyum. Fanesa masuk ke mobil,kini ia duduk di samping kemudi. Safia memilih duduk dibelakang. Hermawan mulai melajukan mobilnya perlahan. Sesekali ia perhatikan istrinya dari kaca sepion. Ia sempat heran kenapa muka istrinya nampak murung.
" Fia sayang, apa kau baik-baik saja?"
" Mungkin aku kecapekan mas" Sebenarnya Safia berbohong kepada suaminya.Ia masih teringat dengan tatapan pria misterius yang menabraknya di taman tadi. Tatapan pria itu benar-benar penuh amarah dan kebencian. Entah dengan siapa....
Safia masih setia menatap keluar jendela. Ia bahkan tak menghiraukan candaan yang dilakukan suaminya dengan anak tirinya itu.
Setelah menempuh 15menit perjalanan akhirnya sampailah pada sebuah restoran mewah di kota Kediri. Safia sempat terkagum-kagum dengan arsitektur bangunan restoran tersebut. Restoran tersebut mengusung gaya American classik,jelas saja membuat Safia takjub.
Hermawan memilih meja disudut restoran. Sengaja Hermawan pilih agar ia dan kedua bidadari nya bisa menikmati makanan yang dihidangkan.
" Kau ingin makan apa Fanesa sayang?" Fanesa masih asik dengan buku menunya.
" Steak pa,salad buah dan bakwan udang"
__ADS_1
" Minumnya?"
" jus jeruk" Fanesa menutup buku menunya dan menyerahkan nya ke pelayan.
" Saya sama dengan yang dipesan putri saya. Kau pesan apa sayang?"
" Sup sarang walet,nasinya putih sm jus jeruk"
" kau tak ingin pesan yang lain sayang?" Safia menggeleng.
" Aku takut tak mampu menghabiskan nya mas"
" Hahahaha....sayang,tenang ada aku dan Fanesa"
" Tenang te,papa selalu menghabiskan makanan ku jika masih tersisa"
" Apa maksudmu? enak aja....!" kini yang terdengar hanya tawa kedua nya. Safia hanya bisa ikut tersenyum melihat tingkah putrinya tirinya.
" Sayang aku mau cobain punya kamu dong. Haaakk...." Hermawan membuka mulutnya lebar-lebar sebagai kode agar Safia menyuapinya. Fanesa tampak tak menyukai sikap papanya tersebut. Ia menyambar suapan dari Safia untuk Hermawan.
Hermawan terkejut melihat putrinya menyambar suapan untuk nya. Safia spontan terkekeh melihat tingkah Fanesa. Berbeda dengan Hermawan,ia nampak sangat kesal dengan ulah putrinya.
Fanesa nampak kegirangan karena membuat papanya kesal. Setelah selesai makan mereka kembali pulang. Setelah sampai pekarangan rumah Hermawan,Fanesa langsung berlari dan memeluk seorang pria.
' Pria itu!' Batin Safia.
" Sayang ayo kita masuk..!" Hermawan menggandeng Safia menghampiri Fanesa dan pria itu.
Awalnya Safia tidak memperhatikan pria yang dipeluk Fanesa. Ia sempat kaget karena pria yang dipeluk Fanesa itu adalah pria menyeramkan yang menabraknya di taman.
" Martin..."
" Hay kak,apa kabar?"
" Baik,kapan kau tiba di indo?"
" Dua hari lalu kak, ini istri baru kakak?"
" Iya, kenalin ini Safia..."
Martin mengulurkan tangannya. Safia membalasnya,dan akhirnya mereka bersalaman.
__ADS_1
" Aawww...." pekik Safia.
" Maaf,mungkin aku terlalu kuat menggenggam tangan kak Safia" Martin nampak tersenyum ramah. Safia heran kenapa sikap pria ini sangat berbeda dengan awal pertemuan nya ditaman tadi.
" Ayo masuk tin,kita ngobrolnya didalam saja"
Safia bergidik ngeri ketika berjalan di dekat Martin. Akhirnya Hermawan dan Martin ngobrol diruang keluarga. Sedangkan Fanesa masih asik bergelayut manja di lengan martin. Safia memilih pergi ke dapur, ketika mood nya sedang buruk ia selalu melampiaskan dengan memasak didapur.
" Bik, sepertinya Martin sangat akrab dengan mas Hermawan. Sebenarnya siapa sih Martin itu?"
" Den Martin itu adik nyonya Karin. Kalo nyonya Karin judes,lain dengan den Martin. Walaupun dandanan seperti preman,tapi hatinya seperti Barbie"
" Aah masak sih bik?"
" Iya non,," Safia sedikit merasa lega,ia mulai bisa mengontrol ketakutannya. Ia membuka aplikasi resep masak. Discrol naik dan turun, akhirnya ia menemukan resep ikan gurame bakar. " Sepertinya menarik..."
" Non,saya tinggal ke warung depan sebentar"
" iya bik..." Safia mencari ikan didalam kulkas. Seingatnya kemarin baru saja membeli ikan gurame. " Duh,masih beku..." Safia merendam ikan gurame beku dengan air bersih. Ia mulai menyiapkan bumbu-bumbu. Setelah ikan sudah tidak beku lagi ia letakkan ikan itu diatas talenan. Ia sempat bingung mencari sesuatu.
" Kau cari ini kak..!" Martin mengacungkan sebuah pisau dihadapan Safia. Safia terlonjak kaget,Martin semakin mendekat kan pisau itu ke muka Safia. Melihat Safia semakin gugup,Martin tersenyum sinis.
" Kau sudah berani merebut kebahagiaan kakak ku! Tunggu suatu saat nanti,aku akan membuatmu menyesal seumur hidup. Bahkan kau akan menyesali hidupmu sendiri" Tatapan Martin sangat tajam. Safia sempat menahan nafasnya karena ketakutan.
Martin menancapkan pisau itu tepat dimata ikan gurame. " Lihat apa yang kulakukan..!" Martin mencabut pisau itu dan menancapkan keperut ikan gurame dengan keras. Martin mengoyak perut gurame itu hingga tak berbentuk lagi. " Aku bisa melakukan ini padamu! Tunggu tanggal mainnya!" Kata-kata Martin penuh dengan penekanan. Martin kemudian meninggalkan Safia yang berdiri dengan gemetar di sudut dapur.
Setelah Martin pergi,Safia terduduk lemas dilantai. Kakinya benar-benar lemas seperti tak bertulang. Nafasnya masih memburu,mukanya sangat pucat. Ancaman Martin masih terngiang-ngiang di telinganya.
" Lhoh,non.... kenapa non duduk dibawah" Bibik menghampiri Safia dan memapahnya duduk di kursi. " Apa yang terjadi sama non? bibik ambilkan minum dulu" Bibik mengambilkan satu gelas air putih. Safia menerima gelas itu dengan tangan gemetar.
" Pelan-pelan non minumnya..." Bibik masih terheran-heran apa yang terjadi dengan majikannya itu. " Non kenapa?" Safia hanya menggeleng lemah. Bibik semakin bingung dibuatnya. " Ya sudah non,non istirahat saja disini. Biar bibik yang melanjutkan memasak"
Bibik kembali ketempat Safia memasak. Bibik menatap heran dengan ikan gurame yang ada di atas talenan. Perutnya sudah hancur tak berbentuk. ' Sebenarnya non Safia mau masak apa sih?' gumamnya dalam hati.
" Bik,tolong beresin ikannya,aku nggak jadi masak" Safia meninggalkan bibik didapur. Langkahnya masih sempoyongan karena kakinya masih lemas. Ia memilih pergi kekamarnya untuk istirahat.
πΊπΊπΊπΊπΊ
***Kebut terus.... setelah nanti 2 judul aku tamat,aku akan bikin cerita yang lebih fenomenal, fantastis,bombastis dan spektakuler....ππ
Tunggu ya....πππ
__ADS_1
Love you Allπ***