
" Yaa Allah Gusti,paringono lancar..." Si ibu menengadahkan kedua tangannya keatas memohon kelancaran atas usahanya membantu Safia melahirkan.
" Jenengmu sopo nduk?" ( Nama mu siapa nak?) si ibu duduk di samping dipan dimana Safia terbaring.
" Safia Larasati," Safia menangis, ia benar-benar ketakutan jika terjadi sesuatu yang buruk pada calon anaknya.
Bayangan-bayangan masalalu selalu menghantuinya. Terlebih sekarang ia merasakan sakit yang luar biasa pada perutnya.
" Bu..." Dengan bibir bergetar dan tangan dingin Safia memegang tangan si ibu.
" Celuk en aku Bu Lastri. Ojo gugup,pasrah Karo Gusti..." ( Panggil namaku bunlastri. Jangan takut,pasrahkan semua pada Tuhan)
Safia mengangguk lemah.
" Bukak anmu gung komplit, dadi awakmu kudu ngenteni Sampek bukak an mu komplit. Aku dukun bayi,tahunan bantu wong nglairno. Dadi gak usah wedi, pasrah Karo Gusti ya nduk..." ( pembukaan kamu belum lengkap, jadi kamu harus sabar menunggu sampai pembukaan mu lengkap. Aku dukun bayi, bertahun-tahun membantu orang-orang melahirkan. Jadi tidak usah takut, pasrahkan semua pada Tuhan ya nak...)
Safia kembali mengangguk pelan.
Bu Lastri mengkode suaminya untuk mendekat. Suami Bu Lastri membawa sebuah piring berisi nasi,sayur dan lauk ikan asin.
" Mangano disik,gae tambah energi pas nglairno. ndek gelas sanding mu onok duduh klopo,iku diombe ben gak lemes" ( Makanlah dulu, untuk menambah energi sewaktu melahirkan. Disamping tempat tidurmu ada gelas berisi air kelapa, itu harus diminum agar tidak lemas)
" Nggeh Bu Lastri..."
" oh ya, bojoku jenenge pak hasan. Lek butuh opo-opo gak usah sungkan" ( oh ya,suamiku bernama pak hasan. kalau butuh sesuatu jangan sungkan) Bu Lastri meninggalkan Safia untuk mengambil kendil kecil untuk tempat ari-ari atau plasenta bayi.
Safia makan sambil menahan kontraksi yang terjadi pada rahimnya. Sesekali ia harus meringis menahan sakitnya kontraksi pembukaan jalan lahir bayi. Setiap beberapa menit sekali ia harus mengusap air mata yang dengan lancangnya meluncur begitu saja di pipinya.
Dibelakang rumah pak Hasan sibuk membuat sebuah kotak dari bambu. Kotak itu nantinya akan digunakan sebagai box bayi.
Bu Lastri kembali menghampiri Safia dan mengecek pembukaan jalan lahir bayi. Setelah dirasa sudah lengkap, Bu Lastri menggenakan sarung tangan yang terbuat dari karet. Bu Lastri juga menggunakan celemek didadanya.
" Nduk, bismillah ayo dimulai. Iling-ilingen opo seng di omongne buk e. Lek ibuk bilang dorong,kui awakmu kudu ngeden. Lak ibuk bilang tarik, berarti awakmu kudu tarik nafas. Faham Yo....!" ( nak, bismillah ayo kita mulai. Ingat-ingatlah semua yang dikatakan ibu. Kalau ibu bilang dorong,berarti kamu harus mengejan. Kalau ibu bilang tarik, berarti kamu harus menarik nafas. Faham ya...!)
Safia mengangguk tanda mengerti.
Bu lastri menata sandaran kepala Safia agar sedikit tinggi. Bulastri juga melipat kedua kaki Safia sehingga betis menempel pada paha. Bu Lastri juga menutup pintu rumahnya,bahkan jendela rumahnya. Pak Hasan masih dibelakang rumah Bu Lastri untuk menyelesaikan pekerjaannya membuat box bayi.
" Buka pahamu nduk..."
Safia mengikuti interuksi dari Bu Lastri.
__ADS_1
" ayo nduk,tarik.....dorong...!"
"e......aah...nggak kuat Bu!"
" Nggak papa,coba lagi! Tarik....dorong....!"
" E............"
" Ayo terus...Ojo sampe pedot...! terus....!"
"Oeeekk......oeekkk....oeekk...."
Akhirnya baby boy Safia terlahir didunia.
" Alhamdulillah,..." Bu Lastri memotong plasenta bayi dan segera membersihkan si bayi. Setelah bersih bayi itu langsung diletakkan didada Safia.
Safia menangis karena terharu melihat wajah bayinya. Wajahnya begitu mirip dengan Hermawan suaminya. Dalam hati kecilnya sangat sedih karena melahirkan tanpa ditemani suaminya.
Bu Lastri ikut menangis terharu melihat Safia memeluk bayinya.
" Anak mu ganteng nduk,kaya Arjuna" ( anak kamu tampan nak, seperti Arjuna)
Safia menganggu sambil menangis. Safia menciumi bayinya dengan penuh haru.
Bu Lastri mengambil bayi Safia lalu diserahkan pada pak Hasan untuk di adzan ni. Bu Lastri menata bpk dengan melapisi kain tebal serta kain jarik untuk box bagian sampingnya.
Setelah selesai di adzan ni,si baby ditaruh box agar merasa hangat. Bu Lastri memberi Safia minuman herbal atau jamu. Tanpa ragu Safia langsung meminum ramuan itu.
" Nduk, sementara Ojo gerak sek! awakmu engko iso nyang wc lak wes 4-5 dino" ( nak, sementara jangan banyak gerak dulu ! kamu nanti sudah bisa buang air besar kalau sudah 4-5 hari)
Safia mengangguk kembali,dan akhirnya tanpa terasa Safia pun tertidur.
Flashback off
πΊπΊπΊπΊ
Di villa Antony
Malam pun tiba, tanpa diketahui Antony Hermawan sudah bersiap dan sembunyi didalam mobilnya. Hermawan sengaja pergi diam-diam tanpa sepengetahuan ibunya. Ia benar-benar sudah tidak sabar untuk bertemu istrinya.
Berbeda dengan Hermawan, Antony masih sibuk bergulat dengan pekerjaannya. Sejenak ia melupakan Safia, namun sesekali ia menelpon anak buahnya untuk menanyakan Safia.
__ADS_1
Braaaakkk....braaaakk....braakkk!!
Terdengar pintu ditendang dengan kasar dari luar villa. Beberapa anak buah Antony langsung pergi keluar dan melihat siapa yang sedang melakukan keonaran diluar. Awalnya Antony tidak perduli,namun karena terdengar begitu berisik akhir nya Antony ikut keluar.
" Hei...,! Ngapain kamu kesini lagi...!" Teriak Antony.
" Sudah kukatakan berkali-kali dimana istriku!"
" Dia tidak ada disini!"
" Bohong,kau pasti sudah menyembunyikannya ditempat lain...!" Hermawan kesulitan bergerak karena kedua tangannya di pegang oleh anak buah Antony.
" Iya, aku menyembunyikannya disuatu tempat! Dia sekarang milikku! Dan jangan mencarinya lagi!"
" Tidaaaaak! Aku tidak rela kau mengambilnya dariku!"
" Kenapa tidak rela? sebelumnya kau selalu mengambil apa yang ku miliki! Apa aku salah membalasmu?"
" aku tidak pernah mengambil apa yang kau miliki,jangan ngawur!"
" Pertama kau mengambil tunangan ku,lalu anak ku...! apa aku tidak boleh membalasnya?"
" Aku tidak pernah mengambil Vita darimu, dia memang bukan wanita baik-baik!"
Antony langsung menghantamkan pukulan kewajah Hermawan berkali-kali. Tak hanya wajah,tapi juga tendangan ke perut Hermawan.
Hermawan merintih kesakitan. Namun ia mencoba tetap bangkit berusaha kuat seperti tidak terjadi apapun.
" Lakukan apapun sesukamu! Kalau itu menurutmu baik! agar kau puas!" Hermawan mencoba tersenyum walaupun menahan rasa sakit disekujur tubuhnya. " Tapi aku tidak pernah mengambil anakmu!"
" Mungkin kau lupa sebelumnya,atau kau benar-benar tidak tahu yang sebenarnya terjadi?" Antony mendekati Hermawan.
" Apa maksudmu?"
" Maksudku adalah Karin" Antony kembali tersenyum.
Hermawan nampak terkejut. " Apa maksudmu dengan Karin?"
" Apa kau tau siapa yang mengambil keperawan*n Karin?"
Wajah Hermawan berubah pucat. Kakinya langsung melemas.
__ADS_1
" Hahahaha.....apa kau tidak ingin tahu?"
πππππππππ