
Antony.... kenapa kau bisa disini....! batin Hermawan.
Ketika Safia ingin membalas uluran tangan pria itu, Hermawan segera menarik kembali tangan Safia. " Sayang...kau terlihat lelah, istirahatlah!" ujar Hermawan lembut.
" Baiklah sayang.."
Safia pergi meninggalkan Hermawan bersama Antony. Kedua nya bertatapan dengan begitu intens. Tampak Hermawan tak menyukai kehadiran Antony.
" Kenapa kau datang ke acara ku?" kata Hermawan ketus.
" Tentu aku akan datang ke acara bahagia sahabat ku" Antony tersenyum sinis.
" Sahabat kau bilang? cuiihh" Hermawan membuang wajahnya kesamping. "Tidak ada sahabat yang tega menghancurkan kebahagiaan sahabatnya sendiri...!"
" Menghancurkan...? apa kau lupa siapa yang memulai semua ini...?" Antony mendekatkan wajahnya pada wajah Antony. " Kau yang memulai nya...!"
" Antony....!"Hermawan mengepalkan tangannya.
" Bersiaplah,aku akan merebut semua kebahagiaan mu kembali...!" Antony pergi meninggalkan Hermawan yang berdiri mematung.
" Sial....! kenapa pria brengs*k itu bisa datang di acara ku...?!"
" Her...," seorang wanita paruh baya menepuk bahu Hermawan.
" ma..."
" kontrol emosi mu,mama yang mengundang pria itu"
" Tapi kenapa ma? mama lupa dengan apa yang dilakukan nya padaku?"
" Mama nggak akan pernah lupa her...."
" Lalu?"
" Mama ingin menunjukkan padanya kalau kau sekarang sudah bahagia kembali..."
" Apanya yang mau ditunjukkan ma...?"
" Kebahagiaan mu... kau bahagia kan sekarang?"
" Iya sekarang aku bahagia ma,tapi apa mama tau? Dia sudah mengancam akan merebut kebahagiaan ku kembali ma...!"
" Her....tenanglah,Safia bukan wanita seperti Karin. Mama dulu sempat meragukannya. Tapi sekarang mama yakin,Safia wanita baik... Dia tak akan menghianatimu her"
" Ma,aku takut kalau Antony nekat melakukan hal-hal buruk pada Safia dan anak-anakku"
" Sebenarnya Antony berhati lembut sepertimu,mama mengenalnya sejak kecil. Namun karena kebenciannya sudah meracuni otaknya maka ia tega melakukan ini semua"
" Ma...."
" Mama yakin kalau Antony tidak akan menyakiti Safia dan anak-anak mu"
Hermawan menggangguk.
" pergilah,ayo temui mertua mu... mereka pasti sudah menunggu mu"
Hermawan menarik sudut bibirnya untuk tersenyum. " Ayo ma...!"
__ADS_1
Hermawan dan mamanya pergi ke sebuah ruangan khusus untuk menjamu orang tua Safia. Ruangan itu tidak terlalu besar,namun sangat nyaman sekali digunakan untuk beristirahat.
Tok....tok...tok....
Ceklek....
Seketika ruangan itu hening. Semua orang yang berada diruangan tersebut melihat siapa yang datang.
" Mama..."
" Hei..." sapa nyonya Sanjaya dengan senyuman ramah. Mata nyonya Sanjaya membelalak ketika melihat Safia belum berganti alas kaki. " Fia...apa yang kamu lakukan?" nyonya Sanjaya menghampiri menantunya itu.
" Apa ma...?" Safia bengong tidak mengerti maksud mama mertuanya itu.
Ibu Safia dan bapak Safia menelan ludahnya kasar. Ia takut besannya itu memperlakukan putrinya dengan kasar.
" Kenapa kamu nggak ganti sendal sih? Lihat kakimu! kenapa kamu masih pake sepatu itu? pake ini...!" nyonya Sanjaya melepas alas kakinya dan menyerahkan pada Safia untuk dipakai.
" Ta..tapi mam...ma?" jawab Safia gugup.
" Sudah pakailah...! Wanita hamil tidak bagus pakai sepatu hak tinggi terlalu lama. Apa kakimu tidak pegal...?"
Safia menunduk melihat kakinya lalu melirik ibu mertuanya lagi.
" Cepat lepas...!" nyonya Sanjaya berjongkok melepaskan sepatu Safia dan memasangkan sendal teplek tanpa hak kekaki Safia.
"ma... mama seharusnya tidak usah seperti ini" Safia nampak tidak enak dengan mertuanya itu.
" Kenapa? Aku juga ibumu,aku berhak memperhatikan mu karena didalam perutmu ada cucu ku"
ooh....cuma karena ada cucunya di dalam perutku.batin Safia sedih...
Merasakan pelukan hangat nyonya Sanjaya Safia merasa lega.
" Ayo kita makan...aku lapar...!" Hermawan merangkul Safia dan nyonya Sanjaya.
" Ayo....ayo...mari pak,Bu..." nyonya Sanjaya mempersilahkan kedua orang tua Safia untuk menikmati hidangan yang sudah di sediakan.
Awalnya bapak ibu Safia menganggap nyonya Sanjaya begitu kejam. Namun setelah melihat perhatian nyonya Sanjaya pada putrinya akhir nya mereka lega.
" Ma...maafkan fia,karena fia mama nggak pakai alas kaki"
" Sudahlah Fia, ini hanya pengorbanan kecil mama untuk mu dan juga cucu mama" nyonya Sanjaya mengelus perut Safia lembut. " kalau kau butuh sesuatu,jangan sungkan pada mama"
Safia mengangguk bahagia.
" Fanesa...ayo sini makan,ajak tante Wulan juga sini..." Hermawan melambaikan tangan pada putrinya.
Wulan dan Fanesa sejak tadi asik berbincang dipojokan ruangan. Ketika semua keluarga berkumpul mereka tidak memperhatikan. Sekarang mereka ikut bergabung dengan keluarga Safia juga Hermawan.
" Oma...nenek dan kakek baik deh,Tante Wulan juga. Kapan-kapan aku boleh nggak nginep dirumah kakek dan nenek?" kata Fanesa manja.
" Boleh,asal kamu nggak boleh merepotkan mereka disana..." kata nyonya Sanjaya lembut.
" Nggak kok,Fanes janji... Fanes mau bantu nenek dan kakek jualan ditoko"
" Anak pintar..." celetuk Hermawan bangga.
__ADS_1
Semua orang tersenyum melihat tingkah Fanesa manja.
" Silahkan pak,Bu....jangan sungkan....! anggap seperti rumah sendiri" nyonya Sanjaya kembali mempersilahkan kedua orang tua safia." Ayo fia...kamu harus banyak makan sayur..." nyonya Sanjaya mengambilkan sayur ke piring Safia.
" Terimakasih ma..."
" Ooh ya pak,Bu... bapak dan ibu jangan langsung pulang,besok saya dan fia akan mengajak bapak ibu berkeliling kota Surabaya. Bapak dan ibu menginaplah di kamar yang sudah saya pesankan"
" Benar kata Hermawan,jangan terburu-buru pulang" kata nyonya Sanjaya ramah.
Sikap nyonya Sanjaya sangat berbeda dengan pertama bertemu orang tua Safia di hotel. Awalnya orang tua Safia mengira nyonya Sanjaya sangat kejam dan angkuh. Namun setelah makan malam bersama malam ini merubah semua persepsi orang tua Safia. Nyonya Sanjaya begitu menyayangi Safia.
πΉπΉπΉ
Seorang pria sedang duduk santai di kursi kebesaran. Tangannya memegang sebuah gelas berisi minuman beralkohol. Matanya merah menatap pemandangan dijendela.
" Maaf bos....saya terlambat menemui bos"
" Hemmm.... Apa kamu sudah menyiapkan semuanya?"
" Sudah bos..."
" Persiapkan semuanya dengan rapi. Aku ingin semuanya berjalan seperti rencana"
" Siap bos...!"
" Kalau semua gagal lagi,kita lakukan rencana cadangan"
" Siap bos....!"
" Siapkan filaku...! setelah semuanya berjalan sesuai rencana,aku akan membawanya ke filaku"
" Siap bos...!"
" Hem....." pria itu menggerak-gerakkan tangannya memberi kode agar anak buahnya pergi dari ruangannya.
" Sayang...!"
Pria itu terkejut dan memutar kursi kebesarannya. " Susi...!"
" Ayo kita pergi ke Singapura, mama masuk rumah sakit"
" Mama....!"
" Ayo kita kesana sekarang...!"
" Tapi susi..."
" Lupakan semua rencana mu...! apa semua itu lebih penting daripada mama mu sendiri?"
" Kamu benar Susi... Ayo kita pergi!"
π«π«π«π«π«π«π«
πΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊ
Alhamdulillah.... makasih untuk semua yang masih stay tune di karya aku... aku harap kalian tidak bosan dengan alur ceritanya.
__ADS_1
Kritik dan saran masih sangat saya butuhkanπππ€·π π
i love you all....πππ