INIKAH TAKDIRKU...

INIKAH TAKDIRKU...
58 Istri yang tak dianggap


__ADS_3

Susi menghampiri Antony yang sedang terbaring diranjangnya. Dengan lembut ia mengusap pipi Antony, rahangnya kini mulai ditumbuhi bulu-bulu halus.


Antony membuka matanya,ia menatap Susi dengan tatapan tidak suka.


" Ada apa?"


" Antony...aku mohon jangan seperti ini..."


Antony membuang mukanya. " Kamu akan menyuruhku untuk mengakhiri semua ini?"


" Biarkan Hermawan bahagia... kita bisa-"


Antony menggenggam bahu Susi dengan kasar.


" Katakan sekali lagi?" Antony menghentakkan bahu Susi dengan kasar.


Susi mulai menangis...


" Kamu mau menggurui ku,hah? Sudah ku bilang jangan ikut campur...! Setelah semua yang Hermawan lakukan padaku, apa aku harus mengalah...,?!"


" Antony... ini semua bukan salah Hermawan..." Susi semakin terisak.


" Diaaaaamm.....!!"


Antony bangkit dari ranjangnya dan berdiri dengan angkuhnya. Tatapannya tajam bak pedang yang menghunus hati Susi. Begitu sakit dan menyesakkan.


Susi hanya bisa menangis dan menggelengkan kepalanya.


" Aku peringatkan,jangan ikut campur dengan semua urusanku...!"


Antony pergi ke ruang ganti dan segera berganti pakaian santai. ia menggenakan celana jeans hitam dengan atasan sweater berwarna krem.


Antony keluar dari ruang ganti dan segera mengambil kunci mobil diatas nakas.


" Mas mau kemana...?"


Antony tidak menghiraukan ucapan Susi sama sekali. Ia melangkahkan kakinya dengan cepat menuju tempat memarkirkan mobilnya.


Dengan cepat ia melesatkan mobilnya meninggalkan rumah mewahnya. Sementara itu,dibalkon ada seorang istri yang menangis pilu melihat kepergian suaminya. semakin sesak rasanya ia menahan beban yang selama ini tersimpan rapat.


Susi adalah istri sah Antony Suherman. Pria yang cukup terpandang dikota Surabaya. Dengan segala kekayaan dan semua yang dimiliki Antony tidaklah membuat susu bahagia. Padahal banyak wanita yang ingin diperistri Antony. Bahkan ada yang rela menjadi simpanan Antony.


Antony adalah seorang pengusaha yang ulet. Berkat kemampuannya ia bisa mengembangkan bisnis keluarganya dengan sukses. Kini, usahanya mulai merambah keluar negri. Siapapun yang menjadi istrinya pasti akan bangga dengan keberhasilan nya.


Lain halnya dengan Susi, sebagai istri Susi merasa tidak diperlakukan seperti semestinya. Antony tidak pernah memperdulikan nya sama sekali. Jangankan perhatian, tak sedetikpun Antony tidak pernah mengingatnya.


Antony hanya perduli dengan pekerjaannya dan mengganggu kehidupan Hermawan. Antony hanya menghampiri Susi dengan keadaan mabuk. Ketika Antony benar-benar hancur barulah ia menghampiri Susi istrinya.


Begitu menyakitkan bukan? Namun Susi tetap menerima itu semua dengan ikhlas. Karena ia menganggap semua ini adalah takdir.


🌹🌹🌹


Dirumah Hermawan.


" Her,biarkan fia istirahat dikamarnya"

__ADS_1


" Ma... biarkan fia disini sebentar" Hermawan tak bosan-bosannya mengusap perut Safia.


" Awas saja kalau kamu membuat mantu mama kelelahan" dengus mama Sanjaya.


Fanesa hanya menatap sikap Oma berserta ayahnya tak suka.


" Nggak lah ma... Aku pasti akan menjaga fia dan calon penerus Sanjaya group" Hermawan mengelus rambut Safia lembut.


" Heiii.... selamat malam semuanya" Seorang pria datang sambil membawa sebuah paperbag dan juga parcel buah.


" Heiii Antony,sayang....kamu kesini?!" nyonya Sanjaya segera berdiri dan menyambut kedatangan Antony.


Hermawan nampak tidak suka dengan kedatangan Antony. Lain halnya dengan Safia,ia merasa gugup dan bersalah karena telah memblokir nomor Antony.


" Aku tadi kerumah sakit bi,,dan kata perawat fia sudah pulang" Antony menyerahkan sebuah paperbag dan juga parcel buah tersebut pada nyonya Sanjaya.


" Iya,Safia tadi pagi sudah diperbolehkan pulang" Nyonya Sanjaya menerima sebuah paperbag dan parcel buah dari Antony. " Heiii....apa ini? kamu memang yang terbaik Antony"


" Bibik jangan berlebihan..." Antony tersipu malu sambil melirik Safia.


" Bagaimana pekerjaan mu Her..." Antony mulai membuyarkan fikiran negatif Hermawan.


" eh,baik..."


" Baik apanya,kamu sering tidak datang kekantor, meeting sering kamu wakil kan pada orang lain..." sungut nyonya Sanjaya.


" Ma...aku hanya tidak nyaman jika Safia dirumah sendiri" bela Hermawan.


" Apanya,alasan saja kamu tuh. Contoh lah Antony, walaupun dia sudah berkeluarga tapi ia tetap bertanggung jawab dengan pekerjaannya. Jangan mentang-mentang menjadi bos jadi seenaknya" tambah nyonya Sanjaya.


" Tapi sekarang istrinya sedang hamil, seharusnya lebih giat bekerja... untuk masa depan anaknya kelak" nyonya Sanjaya melipat tangannya didada karena kesal.


Antony mengusap bahu nyonya Sanjaya lembut. Tatapannya kini beralih pada Safia. " Bagaimana keadaan mu fia?"


" e....,baik mas" Safia gugup menjawab pertanyaan Antony. Sesekali ia melirik suaminya.


Hermawan mengenggam tangan Safia. " Ayo sayang,aku antar kekamar. Kamu harus banyak istirahat" Hermawan berdiri dan mengulurkan tangannya pada Safia.


" Ma,mas Antony...maaf fia tinggal istirahat dulu" Safia berpamitan sambil menunduk sopan.


" Iya sayang,jangan lupa minum vitaminnya ya...." balas nyonya Sanjaya ramah.


" iya ma..." Safia menggapai tangan Hermawan dan mereka pergi sambil bergandengan.


Antony hanya memandang dengan tatapan tidak suka.


" Tony...apa kamu mau minum sesuatu?"


" Jus buah saja tante..."


Nyonya Sanjaya nampak terkejut dengan permintaan Antony.


" Sekarang aku berusaha mengurangi kafein dan alkohol tante..."


Nyonya Sanjaya tersenyum senang. " Bagus,kafein memang tidak bagus untuk kesehatan. Tunggu sini aku ambilkan segelas jus untuk mu" nyonya Sanjaya pergi kedapur.

__ADS_1


Mata Antony beralih pada Fanesa. Mata gadis itu nampak sibuk berselancar di dunia maya. Tanpa Fanesa sadari Antony sudah duduk disamping Fanesa. Dengan lembut Antony membelai rambut Fanesa.


Fanesa terlonjak kaget." aah....om"


" Kenapa kamu sekaget itu baby?"


" A...aku..."


" Apa saking asiknya hingga kamu tidak menyadari kehadiran ku?"


Fanesa hanya mengangguk pelan.


" Ternyata kamu manis juga. Maaf karena aku tidak pernah memperhatikan mu" Antony kembali mengelus rambut Fanesa lembut.


Entah perasaan apa yang menggelayutinya,Fanesa merasa nyaman berada didekat Antony.


" Ini ton jusnya" nyonya Sanjaya meletakkan segelas jus jeruk dimeja.


" Terimakasih tante....ooh ya tante,apa boleh kapan-kapan aku bawa Fanesa jalan-jalan bersama Susi?"


" Tentu ton,tidak masalah...."


" Tidak...!! Fanesa harus tetap tinggal dirumah. Dia harus banyak belajar,agar dia bisa masuk ke SMA unggulan" Tiba-tiba Hermawan datang dan duduk bergabung bersama Antony dan mamanya.


" Kenap kau begitu posesif wan?" Antony bersedih kesal.


" Tentu saja ini demi kebaikan anak ku"


" Her...jangan mulai" nyonya Sanjaya mencoba menengahi.


" Kenapa aku tidak boleh mengajak anak ku sekedar jalan-jalan?" Antony mulai tersulut emosi.


" Anak mu? hei... Antony Suherman..!! Dia anak ku. Jangan pernah merasa milik ku juga milik mu...!!"


" Apa salahnya aku menganggap Fanesa juga seperti anak ku? Tidak boleh kah aku memperhatikan nya?"


" Tidak boleh....!! "


Nyonya Sanjaya hanya bisa melongo melihat perdebatan dua pria dewasa itu.


" Aku nggak nyangka kalau kau sangat berlebihan....!" Antony nampak sangat kesal.


" Sudah malam, sebaiknya kau pulang. Atau aku akan benar-benar mengusirmu dengan kasar" Hermawan membuang wajahnya sambil melipat tangannya didada.


" Her....jangan seperti itu" nyonya Sanjaya tidak menyangka kalau anaknya bertengkar dengan Antony.


" Ciihh....Benar-benar keterlaluan...!!" Antony berdiri dan segera pergi meninggalkan nyonya Sanjaya berserta Hermawan.


" Ton....tunggu....!!" nyonya Sanjaya berlari mengejar Antony.


Hermawan menatap Fanesa tajam. " Pergi kekamarmu dan belajarlah...!"


Fanesa hanya menunduk ketakutan." Iya pah..." Fanesa berlari menuju kamarnya.


🌺🌺🌺🌺

__ADS_1


__ADS_2