
Sudah 2 hari Hermawan pulang dari rumah sakit. Hari ini Antony berniat untuk menjenguk Hermawan. Sekaligus memberi kabar sejauh apa pencarian Safia. Antony membawa parcel buah dan juga sebuah paperbag berisi makanan restoran langganannya.
Ting...tong....
" Selamat pagi...!"
Seorang pelayan membukakan pintu rumah Hermawan. " Pagi tuan,silahkan masuk...! Nyonya dan tuan sedang bersantai ditepi kolam"
Antony menyerahkan parcel buah dan paperbag yang ia bawa ke pelayan rumah Hermawan. Antony langsung masuk kerumah Hermawan dibimbing seorang pelayan lainnya.
" nyonya...ada tuan Antony berkunjung"
Nyonya Sanjaya juga Hermawan langsung menatap kedatangan Antony.
" Duduklah ton...!" nyonya Sanjaya mempersilahkan Antony untuk duduk.
"Bagaimana keadaan mu awan?"
" Seperti yang kau lihat!" Hermawan malas menjawab pertanyaan Antony.
" Aku tadi membawakan beberapa makanan dari restoran langganan ku, semoga sesuai dengan seleramu"
" Makasih...!"
" Ton, bagaimana keadaan mantuku?"
Antony bingung harus menjawabnya. " Anak buah ku sedang mencurigai salah satu warga yang bermukim di coban Amprong"
" Ton... bagaimana pun caranya, cepat temukan mantu ku!"
" Iya tante, akan aku usahakan!" Tatapan Antony beralih pada Fanesa yang duduk disebelah Hermawan.
Hermawan pun menyadari kalau Antony sedang memperhatikan Fanesa. Hermawan langsung mengenggam tangan Fanesa.
" Duduklah di samping om Antony!" Hermawan berkata dengan lembut pada Fanesa.
" Tapi pah...!" Fanesa menggeleng kan kepalanya.
" Fanes, seharusnya bukan aku yang seharusnya kamu panggil papa!"
Fanesa terkejut dengan perkataan papanya. Begitupun dengan nyonya Sanjaya.
" Apa maksud mu her?"
__ADS_1
" Iya ma, sebenarnya Fanesa bukan anak kandung ku. Tapi Fanesa anak kandung Antony" Hermawan berusaha tegar untuk mengatakan kebenaran ini didepan mamanya dan juga Fanesa. Anak yang ia sayangi sejak kecil, anak yang selalu ia manjakan dan bahagiakan.
Nyonya Sanjaya menutup mulutnya dengan mata yang berkaca-kaca.
Hermawan pun berdiri, ia ingin segera pergi meninggalkan mereka semua. Ia tidak sanggup lagi menceritakan kenyataan ini. Namun tangan Fanesa menarik tangan Hermawan.
" Aku nggak mau papa yang lain, aku hanya mau papa Hermawan...hiks,hiks,hiks" Fanesa mulai menangis.
Hermawan memeluk Fanesa, hatinya hancur ketika harus mengatakan ini pada semua orang. Hermawan sebenarnya tidak ingin berpisah dengan Fanesa. Namun Fanesa harus tau siapa sebenarnya ayah kandungnya.
Hermawan menatap Fanesa lembut. " Ada orang yang lebih berhak untuk merawatmu sayang. Sampai kapanpun aku tetap akan menyayangimu. Menganggapmu tetap seperti putri kesayanganku" Hermawan tidak sanggup membendung air matanya. Hermawan memeluk tubuh Fanesa begitu erat. Seakan tidak sanggup untuk kehilangan seorang putri yang sejak kecil ia besarkan. Namun ia harus berhati besar, dan Fanesa harus tahu siapa papa kandungnya.
Fanesa pun ikut menangis diperlukan Hermawan. Nyonya Sanjaya ikut menangis, begitupun nyonya Veronika. Nyonya Sanjaya begitu terpukul mendengar kenyataan bahwa cucu yang selama ini ia banggakan adalah cucu orang lain.
Hermawan melepas pelukannya, ia menggandeng Fanesa mendekati Antony. Fanesa begitu berat melangkah, namun akhirnya ia pasrah dengan keadaan.
" Jaga Fanesa baik-baik...!" Hermawan menyerahkan tangan Fanesa pada Antony.
" Her, bukan begini maksud ku...!"
" Bawa dia pergi, atau aku akan semakin terluka melihatnya tetap disini!"
Akhirnya Antony menerima tangan Fanesa,lalu memeluk Fanesa dengan erat. Hermawan langsung pergi meninggalkan mereka ditepi kolam. Fanesa terus menangis melihat kepergian Hermawan.
Fanesa menggeleng lalu melepas pelukan Antony dan berlari menyusul Hermawan. Antony semakin tidak tega melihat Fanesa menangis mengejar Hermawan.
Nyonya Sanjaya mendekati Antony lalu tamparan keras mendarat dipipinya.
Plakk....
Antony memegang pipinya yang memerah.
" Kamu memang pantas disebut ibl*s....! belum puas kau berselingkuh dengan Karin, sekarang kau mau merebut Fanesa dari kami?!" teriak nyonya Sanjaya.
" Aku tidak merebut siapapun tante, aku ada bukti tes DNA bahwa dia benar-benar putri kandungku!"
" Kau bohong...!!"
" Kita bisa cek ulang kalau tante tidak percaya!" Dengan tenang Antony menantang nyonya Sanjaya balik.
" Kamu memang bajing*n ton...! Brengs*k kamu...!!" nyonya Sanjaya mencoba menyerang Antony, namun segera dicegah oleh nyonya Veronika.
Antony segera pergi mencari dimana keberadaan Fanesa. Setelah bertanya pada pelayan, akhirnya Antony menemukan Fanesa yang terus menangis sambil menggedor-gedor pintu kamar Hermawan.
__ADS_1
Brak....,!
Brak...!
Brak...!
" Pa...., buka pintunya pa! jangan seperti ini pa...! Fanes janji nggak akan nakal sama papa...tapi papa jangan giniin Fanes pa...! Fanes hanya mau papa, nggak mau papa yang lain...! hiks,hiks,hiks...!"
" Fanes...!" Antony langsung memeluk Fanesa.
Fanesa mengatupkan kedua tangannya " om...! Tolong jangan bawa Fanesa pergi om...! Fanes mau disini aja sama papa awan...!" Fanesa memohon dengan berurai air mata.
" Nes,om juga mohon...! untuk sementara waktu kamu harus ikut om. Nanti jika suatu hari kondisinya sudah membaik, om akan antar kamu untuk berkunjung kesini, ok!"
" Tapi om, Fanes mau nya disini aja! Fanes maunya sama papa awan aja"
" Fanes lihat, papa awan sedang tidak ingin bertemu dengan Fanes. Makanya pintunya tidak dibuka. Makanya Fanes ikut om dulu. nanti kalau papa awan sudah membaik, om antar kesini ya!"
Fanesa diam beberapa menit, pintu kamar Hermawan tidak kunjung dibuka. Tangis Fanesa semakin menyayat hati, Antony langsung mengajak Fanesa pergi dari rumah Hermawan. Fanesa pun menurut, dengan langkah berat sambil terus berjalan namun matanya masih memandang pintu kamar Hermawan. Ia berharap Hermawan mencegahnya pergi, namun kenyataan tidak seindah harapan. Hermawan tidak juga membukakan pintu kamarnya.
Didalam kamar, Hermawan menangis dibalik pintu kamar sambil memeluk foto Fanesa. Sebenarnya, dari dalam lubuk hati yang paling dalam... Hermawan tidak ingin Fanesa pergi bersama Antony. Namun ia harus mengikhlaskan Fanesa pergi, agar ia tidak terus mengingat penghianatan Antony bersama Karin di wajah Fanesa.
Nyonya Veronika membawa nyonya Sanjaya kekamarnya. Nyonya Sanjaya terbaring di ranjangnya sambil menangis. Nyonya Veronika menyelimuti tubuh kakaknya. Dan pergi sebentar mengecek keadaan Hermawan.
Tok! tok! tok!
" Wan.....awan....! apa kamu didalam nak..!"
" Iya tante...!" dengan suara serak khas orang habis nangis, Hermawan mencoba menjawab agar bibiknya tidak khawatir.
" Kamu baik-baik saja nak...!"
" Awan baik bik...!"
" Istirahatlah nak...! Jangan fikirkan apapun, bibik ada diluar jika kamu butuh sesuatu!" nyonya Veronika berjalan meninggalkan kamar Hermawan.
Hermawan kembali melanjutkan tangisnya. Ia mulai merangkai bayangan-bayangan masa kecil Fanesa. Mulai dari Fanesa belajar berjalan, Fanesa menyebut kata papa untuk pertama kalinya. Kenangan itu terlihat begitu indah Dimata Hermawan. Terlebih mengingat senyum Fanesa, juga ketika Fanesa memeluk Hermawan dengan manja.
Hermawan semakin menangis mengingat masa-masa itu. Begitu indah dan sulit dilupakan. Hermawan juga sudah mempersiapkan beberapa rencana untuk masa depan Fanesa. Namun kini tinggallah angan-angan semu.
Fanesa sekarang sudah bersama pria yang seharusnya merawatnya juga menjamin masa depannya. Siapa lagi kalau bukan ayah kandungnya, Antony Suherman.
💓💓💓💓💓
__ADS_1