
*pyaaarrr......
Sebuah vase bunga berukuran 1,5meter terguling menimpa punggung Susi. Susi yang kaget dan tubuhnya remuk tertimpa vas tersebut akhirnya pingsan. Darah Susi berceceran dilantai. Antony syok melihat kejadian ini. Siapa lagi tersangka yang menggulingkan vas bunga kalau bukan Antony.
Antony mengacak rambutnya dengan kasar,ia berlari keluar rumahnya memanggil anak buahnya. Anak buah Antony berdatangan,mereka kaget melihat Susi tertelungkup bersimbah darah. Akhirnya anak buah Antony membawa Susi kerumah sakit. Antony tak berani pergi kerumah sakit. Ia takut kalau Susi meninggal dunia akibat ulahnya.
Antony mondar-mandir di dalam ruang kerjanya seperti setrikaan. Ia tak sabar menunggu kabar dari anak buahnya yang berjaga di rumah sakit. Akhirnya setelah menunggu 5hari lamanya akhirnya seorang anak buahnya menelfon.
" Boss...."
" Katakan...!"
" Kondisi nyonya Susi sudah melewati masa kritis,nyonya masih butuh perawatan lebih lanjut atas patah tulang dibeberapa tempat yang dia alami"
" Apa dia sudah sadar?" Antony nampak cemas dengan keadaan Susi.
" Sudah boss,namun nyonya sepertinya sedang terpukul. Ketika dokter memeriksa nya nyonya hanya diam. Namun ketika melihat keberadaan kita nyonya ketakutan"
" perketat penjagaan,aku tak mau kau lengah. Jangan sampai orang lain tau berita ini. Tutup mulut semua anak buah mu yang melihat kondisi Susi. Jangan sampai ada orang berfikiran aku yang menganiaya Susi"
" Baik boss"
Tut....Tut...Tut...
Sambungan telepon akhir nya terputus. Antony melipat lengan kemejanya hingga siku. Ia bergegas pergi ke rumah sakit bersama Alex.
Dirumah sakit....
Setibanya Antony langsung menuju ruang perawatan Susi. Antony sengaja menempatkan Susi di kamar VIP dengan penjagaan sangat ketat. Ia tak mau orang lain mengetahui kalau ia lah tersangka yang menganiaya Susi.
Ceklek....
Pintu kamar Susi terbuka,Susi tersentak ketika melihat Antony menyembul dari balik pintu. Susi mulai cemas dan ketakutan,wajahnya mendadak pucat. Tangannya berubah menjadi dingin. Nafas Susi mulai ngos-ngosan.
" Tenanglah sayang,aku tak akan menyakiti mu lagi" Antony semakin mendekat dan akhirnya duduk ditepi ranjang Susi. Antony menyentuh pipi susi dengan lembut. " Mana yang sakit? Maafkan aku,aku tidak bermaksud untuk menyakiti mu sayang. Mari kita ke luar negeri,aku mau kau berobat dirumah sakit terbaik"
Susi hanya menggeleng sambil meremas seprei. Wajahnya masih pucat. Bahkan keluar keringat dingin diarea dahinya mengucur dengan derasnya.
" Jangan takut,aku tak akan menyakiti mu lagi" Antony berdiri dari duduknya. Tak lama kemudian seorang dokter menghampiri Antony.
" Maaf tuan Antony, nampaknya nyonya sedang mengalami depresi. Sebaiknya nyonya dibiarkan istirahat sendiri lebih dahulu"
__ADS_1
" Diam kau...!! Aku akan memindahkan pengobatan istriku diluar negri saja. Aku tak butuh dokter sepertimu!"
Dokter itu hanya menunduk dan berpamitan dari ruangan dimana Susi dirawat.
" Sayang,bersiaplah...! Alex akan mengurus semua berkas-berkas mu" Kata Antony lalu pergi meninggalkan kamar perawatan Susi. Namun langkahnya terhenti tepat di depan pintu.
" Antony........!" Susi berteriak sekuat tenaga nya. " Kau jahaaatt dan kejam....!!" Tak lama kemudian Susi pun tak sadarkan diri.
Flashback off
" Antony..aku sangat mencintaimu,jangan ceraikan,aku... hiks....hiks....nggak sanggup hidup tanpa mu" Susi mulai terisak.
Antony merengkuh tubuh Susi kedalam pelukannya. " Tidak akan sayang... Kau akan selalu menjadi wanita terbaik ku" Antony mengecup kening Susi.
" Apa aku boleh merawat anak mu?" Susi berkata dengan hati-hati.
" Nanti kau akan merawat anak kita,anak laki-laki tentunya" kata Antony penuh antusias.
" Anak laki-laki? Anak dari wanita mana lagi Antony?, Bukankah anak mu perempuan?" Tanya Susi penasaran.
" iya,itu anak Karin. Aku tidak menginginkan anak perempuan sayang. Aku ingin anak laki-laki yang tampan dan cerdas seperti ku" imbuh Antony penuh semangat.
" Tapi.... rahim ku sudah tidak ada sayang. Aku tidak mungkin bisa memberimu anak" kata Susi sedih.
" Siapa wanita itu sayang?" Susi menatap Antony penasaran.
" Namanya Safia...." Antony menarik salah satu sudut bibirnya.
Susi melongo mendengar pertanyaan Antony. " hah?Sayang....." Susi menutup mulutnya dengan telapak tangan kanannya. " Kau serius? dia kan istri Hermawan"
" iya,tapi aku menyukainya. Dia wanita yang polos,aku sangat tertarik padanya" Antony mengelus-elus pipi kiri Susi.
" Apa kau akan melupakan ku setelah hadirnya wanita itu?" tanya Susi dengan wajah sendunya.
" Tentu tidak sayang....buatku,kaulah yang terbaik. Antony mengecup kening Susi. " setelah dia melahirkan anak laki-laki,aku akan menyingkirkan nya...."
" Antony....jangan seperti itu,kau terlihat jahat Antony,aku tidak suka itu...!" Susi menggelengkan kepalanya.
" Kali ini saja,demi seorang bayi laki-laki penerus kekayaan kita" Antony mengatupkan kedua tangannya memohon.
" Baiklah,tapi jangan singkirkan wanita itu. Kalau ia benar-benar bisa melahirkan bayi laki-laki, anggap dia seperti ku....istrimu. Jika dia melahirkan perempuan..... ijinkan aku merawat bayi itu" kata Susi hati-hati.
__ADS_1
" Untuk apa? bukankah memiliki bayi perempuan itu merepotkan?" Antony menaikkan satu alisnya.
" Tidak Antony, please sayang....bayi perempuan itu sangat lucu dan menggemaskan, Aku tak pernah meminta apapun darimu kan?"
" Baiklah....baiklah....! Ayo sekarang layani aku,aku sangat rindu belai kasihmu" Antony menggendong Susi masuk kekamarnya. Mereka memadu kasih dalam derai peluh kenikmatan.
πΉπΉπΉ
Dirumah Hermawan...
Di ruang keluarga berkumpul lah Safia, Fanesa, Hermawan juga bibi Vero berbincang-bincang hangat sambil menonton siaran TV. Fanesa hanya sibuk mengunyah camilan yang berada dipangkuan nya. Ia kesal, ternyata mamanya Karin tidak benar-benar berubah menjadi baik padanya. Nyatanya Karin meninggalkan nya sendiri dirumah tanpa mengajaknya pergi.
Tak lama kemudian datanglah Karin menghampiri mereka.
" Hai semua...." Sapa Karin ramah.
" Dari mana aja kamu Karin?" Tanya bibi Vero.
" Tadi ada urusan sedikit... jadi,yaa begitulah!" Karin duduk disamping Fanesa namun Fanesa tak menghiraukan nya sama sekali.
" Bagaimana usaha butik kamu di mall? Apa kau pernah mengeceknya?" kata Hermawan serius.
" Aku berniat menjual butik itu,aku mau pindah ke Bandung. Aku juga akan mengajak Fanesa tinggal bersama ku" Karin sambil membelai rambut Fanesa.
Fanesa menepis tangan Karin lalu berdiri. " Aku nggak mau ikut mama,aku disini aja sama papa" Fanesa beranjak dari tempat duduknya dan duduk di antara Hermawan dan Safia.
" Kenapa kamu tiba-tiba ingin mengajak pergi?" cecar Hermawan.
" Ya karena Fanesa itu anak ku..." balas Karin memandang Hermawan tajam.
" Tapi Fanesa juga anak ku....!" balas Hermawan sengit.
" Kau nggak berhak mas,akulah yang lebih berhak karena aku ibu kandungnya"
" ooh ya? Apa kau pikir aku bukan ayah kandung nya?" balas Hermawan tak mau kalah.
Deg....
Karin tak bisa berkata apa-apa lagi. Hatinya merasa tersentak,jika Hermawan mengetahui kenyataan ini mungkin Fanesa tidak akan mendapatkan kasih sayang seorang ayah setulus Hermawan lagi. Karin bingung,melihat Fanesa memeluk tubuh Hermawan hatinya sakit.
Kenapa kamu lebih sayang Hermawan yang bukan ayah kandung mu nak...
__ADS_1
Dan kau mas Hermawan,apa yang akan kau lakukan jika kau tau Fanesa itu bukan putrimu? Apa kau akan membuang anak ku seperti Antony? Batin Karin
πΊπΊπΊπΊπΊ