
Pagi-pagi sekali Safia dan Hermawan sudah bersiap berangkat ke Surabaya. Namun sebelum berangkat mereka masih menunggu mobil jemputan Fanesa tiba di rumah Safia.
Tak lama kemudian mobil jemputan Fanesa tiba dirumah Safia.
Fanesa turun sebentar untuk menyapa orang tua Safia. Orang tua Safia menyambut kedatangan Safia dengan ramah. Safia dan Hermawan akhirnya berpamitan dengan orang tua Safia juga adiknya Wulan.
" Seng beneh yo nduk melu bojomu" kata ibu Safia sambil menangis sesenggukan. ( bersikaplah baik dengan suamimu).
Safia mengangguk sambil menahan air matanya. Wajah Safia memerah tak kuasa menahan kesedihannya berpisah dengan orang tuanya.
" Jangan khawatir ibuk,bapak.... Saya akan menjaga Safia dengan baik" Hermawan memeluk safia. Fanesa, Hermawan dan Safia melambaikan tangan dari dalam mobil. Dan mobil mewah Hermawan akhirnya pergi meninggalkan rumah Safia.
Dalam perjalanan Safia tak kuasa menahan air matanya. Hermawan yang duduk disampingnya masih dengan setia mencoba untuk menenangkannya.
" Mas,apa kita akan lama berada di Surabaya?" Kata Safia ketika tangisnya mulai mereda.
" Kita akan menetap di Surabaya" jawab Hermawan tenang.
" Bagaimana dengan orang tuaku? bagaimana dengan mama?" Safia menatap Hermawan dengan tatapan sendu.
" Semua sudah aku urus... Di Surabaya dekat dengan kantorku. Jadi aku bisa dengan mudah pulang untuk menjaga mu"
" Bagaimana dengan rumah yang kita tinggali dulu mas?"
" Aku sudah menjualnya. Kita nggak akan kembali kerumah itu lagi"
" Mas...."
" Dengarkan aku,kita mulai hidup baru kita lagi. Jangan ingat-ingat hal yang sangat menyakitkan kemarin. Kita anggap itu tidak pernah terjadi"
Safia mengangguk lemah. Sebenarnya ia masih ingin tinggal berlama-lama dengan orang tuanya. Namun apalah daya, seorang istri harus patuh dengan suaminya.
" Ini untuk kebaikanmu sayang. Nanti singgu 2 kali kamu akan mengikuti terapi untuk menghilangkan traumamu itu. Dan ingat satu hal,kau masih punya 1 PR" kata Hermawan sambil tersenyum licik.
" Apa mas?" Safia mengernyit kan dahi tidak mengerti.
" Memberiku banyak anak....hahaha" Hermawan tertawa terbahak-bahak. Fanesa sempat menoleh ke bangku belakang tempat papa dan ibu tirinya duduk.
Papa nggak pernah sampai tertawa selepas itu waktu bersama mama Karin... batin Fanesa.
__ADS_1
" Mas...! " Safia melotot tajam.
" Aaaaww....! Sayang,kenapa kau mencubitku? Kamu gemas ya dengan ku...haha" Hermawan masih berusaha menggoda Safia. Safia merenggut kesal.Tatapannya berpaling keluar jendela.
Hermawan meraih dagu Safia hingga tatapan mereka saling beradu. Hermawan mencium bibir Safia dengan lembut. Ciuman itu berubah menjadi *******. Safia meremas kaos Hermawan. Hermawan melepas ciuman panas itu lalu tersenyum.
Safia merebahkan kepalanya didada Hermawan. Perlahan matanya mulai terpejam. Nafasnya mulai berhembus teratur. Hermawan ikut memejamkan matanya.
Sang sopir yang sejak tadi memperhatikan ke uwuuan Hermawan bersama istrinya merasa iri. Sesekali pak sopir melirik sepion memperhatikan adegan demi adegan tadi. Mata pak sopir melirik Fanesa yang duduk disampingnya. Bahkan si nona kecil ini acuh tak bergeming sekalipun dengan adegan yang terjadi dibangku belakangnya.
****
" Sayang, bangunlah! kita sudah sampai..." Hermawan menepuk-nepuk pipi Safia lembut. Ia mulai mengerjapkan matanya beberapa kali. " Kamu bisa melanjutkannya dikamar nanti" kata Hermawan.
Safia masih diam seribu bahasa. Ia mencoba mencerna ucapan suaminya itu. Namun Fanesa tiba-tiba datang menarik tangan Safia.
" Ayo ma,kita masuk...!" Safia kaget dengan kata-kata Fanesa.
Mama? bukannya selama ini ia memanggil ku Tante? Batin Safia.
Hermawan mengeluarkan barang bawaannya dari bagasi. Seorang pembantu menghampiri Hermawan untuk membawakan koper dan barang bawaan lainnya.
Safia memperhatikan bangunan rumah Hermawan. Dengan arsitektur bergaya American classik,denga bangunan lebih luas dan besar dari rumah Hermawan yang berada di kediri.
" Haii cucu bunda apa kabar?" Wanita itu membalas pelukan Fanesa.
" Baik bunda... Kenalin ini mama baru fanes" Fanesa manunjuk Safia yang berdiri dibelakang Fanesa. Safia menjulurkan tangannya dan dibalas wanita itu.
" Haiii... kamu istri mudanya Hermawan ya?" Wanita itu berkata sambil tersenyum ramah. Safia menjawab dengan anggukan dan senyuman. Tiba-tiba Hermawan datang dari belakang Safia dan langsung merangkul bahu Safia.
" Lihat bik,nggak kalah cantik sama Karin kan? Bahkan lebih muda,lebih menggairahkan....haha" Safia mendengar ucapan suaminya merasa malu. Ia menundukkan wajahnya yang mulai memerah.
" Kau ini memang pintar memilih....haha" Balas wanita itu.
" Sayang ini bibik Veronika,adiknya mama Sanjaya" kata Hermawan. Hermawan mulai menjelaskan kenapa bibiknya itu tinggal dirumahnya. Bibik Veronika janda seperti nyonya Sanjaya. Namun bibi Vero berpisah dengan suaminya. Ia memilih tinggal dirumah Hermawan karena besar dan mewah. Bibi Vero mempunyai seorang anak perempuan. Anak bibik Vero tinggal di Jakarta bersama suaminya seorang polisi.
" Mama bilang bibik ke Jakarta..."
" Iya her,Rosita melahirkan anaknya yang ke 4"
__ADS_1
" Apa bik? ke 4? wah.... rajin sekali suaminya Rosita...haha kenapa Bibik nggak tinggal disana saja?" Ledek Hermawan.
" Bibik malas tinggal disana. Nanti bibik suruh ngasuh anak Rosita yang masih kecil-kecil yang nakal-nakal itu. Masih seminggu tinggal disana bibik sudah pusing tujuh keliling"
" Walau gimanapun mereka kan cucu bibik"
" Iya sih,tapi aku suka tinggal disini. Aku akan melakukan nya sama dengan Karin"
" Harus dong bik, perlakukan istri kesayangan ku ini bahkan lebih dari pada Karin" Hermawan semakin mengeratkan pelukannya.
" Ooh ya?Apa dia seistimewa itu?" Goda bibik Vero.
" Tentu,karena waktu aku menikahinya segel nya masih utuh" Hermawan terkekeh.
" Woooowww.....dijaman seperti ini masih ada yang begitu her?" Bibik Vero mengerucutkan bibirnya membentuk huruf o. Bibik Hermawan mengamati Safia dari ujung kaki hingga ujung rambutnya. Safia sedikit risih dengan tatapan bibik Vero.
" Sayang, istirahat lah dikamar. Nanti aku akan menyusulmu..." kata Hermawan sambil mengecup kening Safia. Safia mengangguk dan berlalu meninggalkan Hermawan dengan bibiknya.
Diruang tengah....
Bibik Vero dan Hermawan asik bercengkrama sambil mengunyah kripik singkong.
" Her... kenapa kamu menceraikan Karin? Karin kan cantik,sayang banget..." kata bibik Vero sedih.
" Ya mau gimana lagi bik. Dia berselingkuh dengan rekan bisnisku. Tak hanya itu saja, ternyata ia berselingkuh dengan banyak pria" Hermawan menengguk air mineral dari sebuah botol.
" Kok bisa her,kamu kurang apa?" Bibik Vero mengernyitkan dahi bingung.
" Rekan bisnis ku itu jauh lebih kaya dari ku. Istrinya saja dua"
" Kenapa kamu nggak madu aja dia? Ya, sebagai hukumannya.."
" Haha.... aku tak sanggup kalau harus memberi uang belanja dua wanita bik" Hermawan terkekeh dengan ucapannya sendiri.
" Sok merendah kamu her...."
" Kalau aku mempertahankan Karin,pasti cepat habis hartaku bik. Karin boros sekali. Dalam sehari ia bisa menghabiskan puluhan juta,bahkan ratusan" Hermawan menggeleng-gelengkan kepalanya.
" Kurang ajar juga si Karin"
__ADS_1
πΊπΊπΊπΊπΊ
Terimakasih i love you all...π