INIKAH TAKDIRKU...

INIKAH TAKDIRKU...
84 tak gintang....gintang....


__ADS_3

" Buk e....buk e....!" bapak Hasan datang sambil terengah-engah.


" Mesti heboh dewe" ( selalu heboh sendiri)


" Aku bingung buk, wong-wong podo takok kok enek suoro bayi nangis iku bayine sopo?" ( aku bingung bu, semua orang-orang bertanya padaku kok ada suara bayi menangis itu bayi siapa?)


" Jawab ae putumu!" (jawab saja cucumu!)


Mata pak Hasan langsung berbinar-binar. " Angsal nduk?" (boleh nduk)


Safia mengangguk sambil tersenyum.


Pak Hasan langsung mendekati box bayi. Diambilkan bayi jagoan milik Safia. Pak Hasan sangat menyukai bayi Safia. Sesekali pak Hasan menggendong bayi Safia sambil diajak bicara. Seakan-akan bayi itu sudah mampu bicara.


" Mbuk jenengno sopo nduk bayi Iki?!" ( kau beri nama siapa bayi ini?)


Safia menunduk sedih. Ia kembali teringat suaminya.


" Anak mu Iki ganteng,kuat koyo simbok e. yok opo lak dijenengno Arjuno?"( anak mu ini tampan,kuat seperti ibunya. Bagaimana kalau diberi nama Arjuna?)


Safia mengangguk sambil tersenyum.


" Arjuno....Arjuno.....putu ne pak Hasan.....! tak gintang....gintang" ( Arjuna....Arjuna.... cucunya pak Hasan....! tak gintang...gintang) Pak Hasan berjoget sambil menggendong bayi Safia.


Safia tersenyum melihat tingkah pak Hasan.


" Bapak Iki yo... Ojo sui-sui gendong Arjuno, ambumu lebus marai Arjuno semaput" ( bapak ini ya.... jangan lama-lama menggendong Arjuna,baumu tidak enak nanti Arjuna pingsan)


" Ibuk iihh....!" Pak Hasan meletakkan kembali Arjuna kembali ke box bayi.


" Nduk,bapak sama ibuk mau berjualan makanan sama kopi ditepi coban Amprong"


" Nggeh buk,pak...!"


" Jaga diri baik-baik,jangan keluar jauh-jauh! nanti nyasar!"


" Nggeh..." Safia mengangguk sambil tersenyum.


Safia merasakan kehangatan di tengah-tengah keluarga pak Hasan. Rumah pak Hasan jauh dari pemukiman warga. Rumahnya sedikit terpencil,namun masih ada akses jalan yang mudah untuk dilalui.


Kadang Safia merasa sedikit takut ketika malam hari. Suara-suara hewan malam begitu lekat, sehingga membuat bulu kuduk Safia sedikit meremang. Rumah pak Hasan terbuat dari anyaman bambu,jadi kalau malam terasa begitu dingin sekali. Karena anggin dapat menerobos dicelah-celah bambu.


Safia keluar dari rumah pak Hasan, ia berniat mengamati situasi di sekeliling rumah pak Hasan. Arjuna sengaja ditinggal di rumah karena sedang terlelap dalam tidurnya. Safia berjalan kurang lebih lima belas meter dari rumah pak Hasan. Safia hanya bisa melihat jalan setapak dan pepohonan rindang.


Ketika mengamati sekeliling,Safia terkejut. Ia melihat beberapa orang bertubuh tegap seperti mencari sesuatu. Safia membekap mulutnya dengan tangannya sendiri lalu berlari masuk kedalam rumah pak Hasan kembali. Safia mengunci rapat pintu rumah pak Hasan.

__ADS_1


Dengan nafas terengah-engah Safia mengambil bayinya dan bersembunyi di bawah dipan tempat ia tidur. Safia mengenali betul siapa orang-orang yang bertubuh tegap tersebut. Mereka adalah anak buah Antony.


Safia ketakutan luar biasa. Ia mendekap tubuh Arjuna dengan erat. Terdengar seperti jejak langkah mendekat. Safia memeluk Arjuna sambil menahan Isak tangisnya.


" Permisi....! apa ada orang didalam?! permisi....?"


" Kok sepi,coba kau lihat dibelakang rumah ini"


"ok!"


" Nggak ada orang bos,"


" Ayo kita kembali ke mobil,kita laporin ke bos Erik"


" Kira-kira kemana kaburnya wanita simpanan bos besar ya?"


" Husst! nggak usah ngomong macem-macem lu! Entar dikepret bos baru tau rasa!"


Terdengar kembali langkah kaki menjauhi rumah pak Hasan. Namun, tiba-tiba ada benda jatuh dari dalam rumah pak Hasan. Anak buah Antony kembali kerumah pak Hasan. Safia semakin ketakutan.


" Boss, sepertinya ada orang...!"


" Coba kau intip...!"


Tok,tok,tok..


Yaa Allah.....selamatkan lah saya dari orang-orang jahat tersebut. Yaa Allah....hiks,hiks,hiks


Tiba-tiba pintu belakang rumah pak Hasan dibuka paksa. Ada langkah yang mendekati dipan Safia tempatnya bersembunyi.


" Lho...nduk....,nduk fia....! Nyang ngendi cah iki?" (lho nduk,nduk fia....! kemana anak ini pergi?)


Safia seperti tidak mendengar pak Hasan. Dia terus menangis dibawah dipan.


Pak Hasan merasa mendengar sesuatu yang aneh di bawah dipan. Lalu pak Hasan menengok kebawah dipan. Pak Hasan begitu terkejut melihat Safia sembunyi dibawah dipan.


" Nduk...! nyapo neng kunu?" ( nak,kenapa sembunyi disitu?)


Pak Hasan membantu Safia keluar dari bawah dipan.


Safia masih gemetaran dan menangis ketakutan.


" Kene lungguh...!" ( sini duduk...!) pak Hasan membimbing Safia agar duduk di pinggir dipan. lalu pak Hasan mengambil air didalam gelas untuk diberikan pada Safia.


Safia meneguk air digelar dengan tangan gemetar hingga airnya sedikit tumpah membasahi bajunya.

__ADS_1


Pak Hasan begitu heran melihat Safia yang sangat ketakutan.


" Enek opo nduk?" ( ada apa nak?) pak Hasan menggendong bayi Safia lalu meletakkannya di box bayi.


" Fia takut pak...!" Safia kembali menangis.


" Wedi enek opo?" (takut kenapa?)


" Wau teng ngajeng enten tiang-tiang seng nyulik kula" ( tadi di depan ada orang-orang yang mau menculik saya)


" Ndi nduk? neng ngarep gak enek wong" ( dimana nak? di depan tidak ada orang) pak Hasan clingak-clinguk mencari orang-orang yang dimaksud Safia.


Safia mendongakkan kepalanya dan menoleh kearah pintu depan. Safia pun menunjuk pintu tersebut.


" teng ngriku pak,wau enten tiyang katah" ( disana pak,tadi ada orang banyak)


" Wes-wes, awakmu neng kene ae... bapak tak balek neng warung karo gowo kopi. buk e tak kon balek ngancani awakmu!" ( sudah-sudah, kamu disini saja... bapak mau kembali kewarung membawa gula. Ibuk saya urus pulang untuk menemani mu)


" Tapi pak...!"


" Neng kene ae,kancingen lawang e kan njero" ( disini saja,kunci pintunya dari dalam)


Safia mengangguk.


Pak Hasan buru-buru mengambil kopi dan beberapa renceng minuman bubuk. Pak Hasan segera pergi meninggalkan Safia sendiri dirumah. Sedangkan Safia Segera mengunci rapat rumah pak Hasan dari dalam.


Dalam perjalanan pak Hasan merasa gelisah. Akhirnya pak Hasan mempercepat langkahnya menuju warung tempatnya berjualan. Warung pak Hasan berada tidak jauh dari rumahnya. sekitar 200meter dari rumahnya. Makanya pak Hasan dan Bu Lastri biasa berjalan kaki saja jika berangkat ke warung.


Dari kejauhan warung pak Hasan nampak ramai. Pak Hasan segera mempercepat langkahnya menuju warung. Bu Lastri nampak sibuk melayani pesanan para pria yang mengunjungi warungnya. Pak Hasan membantu Bu Lastri menyiapkan apa yang mereka pesan. Sesekali pak Hasan memperhatikan beberapa orang yang mengunjungi warungnya


Mereka tidak seperti orang-orang pada umumnya yang berniat mengunjungi tempat wisata air terjun Coban anprong.


" Mas-mas nya bukan orang sini ya?" Pak Hasan mulai membuka percakapan.


" Bukan,kami dari Surabaya. Tidak sengaja mampir karena ada urusan disini"


" Urusan apa ya, kalo ibu boleh tahu!" Tiba-tiba Bu Lastri ikut menyerobot pembicaraan.


" Buk...!" Pak Hasan melotot.


💓💓💓💓💓💓💓


***Maaf kemarin ngga up soal nya ada keperluan yang tidak bisa ditinggalkan. Mohon maklum yaa sayangkuh semua....😘


Enjooyyy n jangan lupa like komen n vote yaa😘😘😘***

__ADS_1


__ADS_2