
Dikantor Hermawan benar-benar sibuk. Setelah selesai meeting dengan kliennya Hermawan menyempatkan waktu untuk mengecek handphone nya. Ada satu panggilan tak terjawab dari istrinya. Hermawan akhirnya menghubungi nomor istrinya. Namun nomornya tak bisa dihubungi. Ia mencoba menghubungi nomor telepon rumah nya,namun tak kunjung tersambung juga.
Hermawan semakin cemas Ia memutuskan untuk pulang mengecek sendiri keadaan istrinya. Ketika dijalan perasaannya mulai tidak menentu. Ia segera melajukan kendaraannya dengan kecepatan tinggi.
Ketika sampai pintu gerbang Hermawan sedikit curiga. Tak seperti biasanya pintu gerbang nya terbuka lebar. ' Sepertinya ada tamu' Batinnya dalam hati. Ketika memasuki pekarangan rumah ia heran tak ada mobil lain yang terparkir di halaman rumahnya.
Pintu rumahnya terbuka lebar. Hermawan langsung turun dari mobilnya. ketika sampai di dalam rumah,ia sangat terkejut melihat rumahnya sangat berantakan. Ia semakin terkejut melihat darah berceceran di lantai.
Hermawan langsung naik kelantai dua untuk mengecek kamarnya. Dikamar nya tak ditemukan istrinya. Ia langsung berlari ke ruang kerjanya untuk mengecek cctv.
Dia terkejut karena cctv nya mati. Hermawan mulai menyalakan laptop nya untuk mengecek apa yang terjadi dirumahnya. Hermawan me-rewind rekaman cctv nya.
Hermawan terkejut karena melihat seorang pria memakai Hoodie hitam,topi hitam dan juga masker hitam memasuki pekarangan rumahnya. Sebelumnya pria itu menyerahkan 2 box pizza ke security dan membawa 1 box lagi masuk ke dalam rumahnya.
Setelah menyerahkan 1 box pizza ke bibik,pria itu berjalan ke arah belakang rumah. Setelah itu listrik tiba-tiba mati. Ia masih bisa melihat bayangan pria itu memasuki ruang kerjanya dan rekaman cctv itu pun berakhir.
" Shiitt....!" Hermawan melempar sebuah gelas kedinding hingga pecah berantakan. Nafas Hermawan mulai memburu. Ia merogoh handphone disakunya.
π Anak buah : Halo pak Hermawan
π Hermawan : Datang kerumahku sekarang
π Anak buah : Baik pak.
Hermawan turun ke lantai 1. Ia berusaha mencari bibik. Bibi terlihat duduk di kursi dengan kepala bersandar di meja. Hermawan menghampiri bibi dan mencoba membangunkan nya. Namun bibik tak meraspon. Hermawan semakin gusar.
" Safiaaaaa......" Teriak Hermawan.
Tiba-tiba handphone Hermawan berdering.
π Hermawan : Halo!
π Sonia : Her,bisakah kau datang kerumah sakit Bhayangkara sekarang!
π Hermawan : Apa yang terjadi padamu Sonia?
π Sonia : Aku menemukan istrimu terlibat kecelakaan tadi di jalan.
π Hermawan : Apa? Ok aku akan segera kesana sekarang.
Hermawan berlari keluar rumah menuju mobilnya. Ketika di teras ia berpapasan dengan ibunya.
" Her mau kemana?"
" Kerumah sakit ma,Safia kecelakaan"
" Apa?" Nyonya Sanjaya langsung masuk ke dalam mobil Hermawan. Hermawan melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi. Nyonya Sanjaya tak bisa protes dengan cara mengemudi anaknya.
Setelah sampai di lokasi rumah sakit Bhayangkara, Hermawan dan nyonya Sanjaya berlari ke ruang UGD.
__ADS_1
" Tante..... hiks....hiks..." Sonia langsung berhambur memeluk nyonya Sanjaya sambil menangis.
" Sonia,apa yang terjadi dengan Safia?"
" Taan-te... Fia aku temuin dijalan dengan badan penuh luka dan darah dimana-manaβ
" Tenang lah Nia.... semoga tak terjadi apapun dengan Safia" hibur nyonya Sanjaya.
Tak lama berselang datanglah Karin dengan wajah cemas.
" Karin..." Sapa Hermawan.
" Mas... Aku mendapatkan telpon dari rumah sakit kalau Martin kecelakaan" Karin mulai menitikkan air mata.
Hermawan mencoba memeluk Karin untuk menenangkannya.
" Tenanglah Karin,dokter pasti melakukan yang terbaik untuk Martin" hibur Hermawan.
" Keluarga bapak Martin!" sapa seorang dokter yang keluar dari ruang UGD.
" Saya kakak nya dok...!" Karin menghampiri dokter itu.
" Maafkan kami bu, kami sudah melakukan yang terbaik. Namun Tuhan berkehendak lain. Bapak Martin tidak bisa kami selamatkan"
" Maaaaaarrrttiiiiinnnnn......" Teriak Karin. Tak lama kemudian Karin tak sadarkan diri. Para perawat dengan sigap membawa Karin ke ruang perawatan.
" Saya suaminya dok" Hermawan,nyonya Sanjaya dan Sonia menghampiri dokter.
" Maafkan kami, karena benturan yang cukup keras kami tidak bisa menyelamatkan janin bapak"
" Apa? Janin?!"
" Iya pak,ibu Safia hamil 2 Minggu. Keadaan ibu Safia stres berat. Tekanan darah nya tinggi, harap untuk sementara waktu ibu Safia benar-benar dijaga agar tidak menerima berita-berita kurang menyenangkan"
" Baik dok" Jawab nyonya Sanjaya.
Setelah mendapatkan berita kurang menyenangkan dari Safia,Hermawan sangat shock mendapatkan kenyataan bahwa Safia keguguran.
" Tenangkan dirimu her..." nyonya Sanjaya mencoba menghibur putra semata wayangnya.
" Aku nggak bisa bayangin gimana sedihnya Safia ma..." Hermawan duduk sambil menunduk sedih. Matanya mulai memerah antara marah, kecewa dan sedih.
" Her,kuatkan hatimu.... Jangan perlihatkan kesedihan didepan Safia. Ini semua sudah menjadi takdir her..." nyonya Sanjaya memeluk putranya.
" Ma,aku nggak pernah sesedih ini ma... Rasanya tuh sakit sekali ma..."
" Sudah her... sudah!" ucap Nyonya Sanjaya lembut.
" Aku nggak akan maafkan orang yang membuat Safia seperti ini ma..!" tangan Hermawan mengepal keras.
__ADS_1
" Sudahlah,ayo sekarang kita lihat keadaan Safia..." Nyonya Sanjaya mengajak keruangan perawatan Safia.
Diruang paviliun, dengan segala fasilitas seperti tivi,kulkas,kamar mandi dalam dan sebagainya. Pandangan Hermawan terpaku pada tubuh pucat istrinya yang terbaring diatas ranjang. Ia menghampiri istrinya. Digenggamnya tangan Safia,dan kemudian ia kecup. Tak terasa butiran bening meluncur dipipi Hermawan.
Nyonya Sanjaya mengelus pundak Hermawan,seakan seperti memberi kekuatan.
Tak lama kemudian tangan Safia mulai bergerak. Mata Safia perlahan mulai terbuka. Ia menoleh kearah suaminya.
" Mas..." ucapnya lirih.
" Iya sayang, tenanglah aku ada disini"
" Aku takut..." Bisik Safia.
" Tenanglah,aku ada disini menjaga mu"
" Mas... Martin mau membunuhku"
" Apa?" Hermawan nampak terkejut.
' Ber*ngsek anak itu!' gumamnya dalam hati.
" Dia tak akan mengampuni ku mas...." Safia mulai menangis mengingat penyiksaan yang dilakukan Martin.
" Tenanglah,Martin sudah membusuk di neraka. Dia tak akan mampu lagi menyentuh mu" Safia masih terus menangis. Hermawan mengusap air mata dipipi Safia.
" Sudahlah Fia,tenangkan fikiranmu. Jangan lagi berfikir yang macam-macam" bujuk nyonya Sanjaya. Safia mulai mengontrol emosi nya. Ia masih sedikit takut,namun keberadaan suami dan ibu mertuanya sedikit membuatnya tenang.
Setelah melihat keadaan Safia sedikit membaik, Hermawan teringat anak buahnya.
" Ma,tolong temani Safia sebentar. Aku ada urusan sedikit" nyonya Sanjaya mengangguk. Hermawan keluar dari kamar perawatan Safia. Ia berjalan menuju taman rumah sakit. Ia duduk di sebuah bangku taman. Ada seseorang pria menghampiri nya.
" Katakan padaku,apa sebenarnya yang terjadi pada istriku"
" Maaf pak Hermawan,saya menemukan sedikit bukti. Sebenarnya Martin sudah lama memata-matai keluarga anda. Hari itu ia sengaja memesan 3 box pizza yang sudah dibubui obat tidur"
" Jadi....?" Hermawan mencoba berfikir keras.
" Iya pak,Martin sengaja memberikan pizza tersebut kepada dua security anda dan satu pembantu anda. Setelah itu saya tidak mengetahui apa yang dilakukan Martin. Dari barang bukti di TKP ditemukan sidik jari Martin"
" Ber*ngsek!" Hermawan berdiri sambil mengepalkan tangannya. " Siapa dalang dibalik semua ini?"
" Maaf, untuk hal itu kami sudah tidak ada bukti lagi pak"
πΊπΊπΊπΊπΊπΊ
***Untuk kritik dan saran membangun masih ditunggu eaa .....ππππ
Thank you All***....
__ADS_1