INIKAH TAKDIRKU...

INIKAH TAKDIRKU...
8 Pernikahan Yang Tertunda


__ADS_3

Hermawan mulai mengacak rambutnya kesal. Sepertinya ketakutan yang difikirkan benar-benar terjadi. Apakah Safia benar-benar tidak datang? Hermawan berharap ini hanyalah mimpi.


" Her...."


" Ma...." Hermawan pun memeluk mamanya.


" Ayo kita pulang sayang..."


" Tidak ma,aku mau nunggu Safia datang ma"


" Sepertinya wanita itu tidak tau diri sayang,biarkan saja...mama nggak memaafkan wanita itu"


" Tidak ma,Safia tidak seperti yang mama bayangkan..."


" Apa yang kamu katakan sayang? Bisa-bisanya kamu membela wanita yang telah mengecewakanmu!"


" Ma,ini salahku... aku yang telah memaksanya menikah denganku"


" Sayang.... Banyak wanita yang ingin menikah dengan mu,apakah dia buta tidak bisa melihat semua yang kau miliki?"


" Dia tidak seperti itu ma,dia bahkan tak bergeming sedikitpun dengan apa yang kumiliki... Dia sangat berbeda ma"


" Buat mama,dia tidak berbeda dengan Karin. Wanita yang telah mengecewakanmu!"


" Mama tau kenapa aku menceraikan Karin?"


" Tentu,Fanesa cerita semuanya.... Tadi malam Fanesa mendengar pertengkaran mu dengan Karin"


" Lalu apa yang dia katakan ma...?"


" Dia sangat kecewa,tapi Fanesa lebih sayang padamu. Mungkin sekarang dia sangat membenci mamanya"


" Ma,bantu aku menjaga Fanesa"


" Tentu,dia cucu terbaikku"


" Terimakasih ma..."


" Ayo sekarang kita pulang"


" Enggak ma,aku akan menunggunya sampai malam sekalipun"


" Hermawan,ayolah nak.... Kamu bisa mendapatkan 1000 wanita sepertinya"


" Tidak ma,dia sangat berbeda...." Hermawan tertunduk lesu. Matanya berkaca-kaca,hatinya sangat kecewa Safia tidak datang kepernikahan nya.


" Her,jangan kamu tangisin wanita tak tau diri itu. Mama tak rela kamu disakitinya. Mama akan membalas semua lukamu nak"


" Ma,jangan pernah mama menyakitinya sedikitpun..... Aku nggak rela ma"


" Sepertinya dia sudah membuatmu gila nak. Sudahlah ayo kita pulang..."


Hermawan tetap saja tak beranjak dari tempat duduknya. Hatinya benar-benar kacau. Ingin rasanya ia mengamuk,melampiaskan semua kekesalan hatinya kepada semua yang ada dihadapannya.

__ADS_1


****


" Nduk,ayo nduk... Agi Ndang macak! wes jam piro iki? Sakno nak Hermawan ngenteni"


( Nak,ayo nak... Cepat lah berdandan! sudah jam berapa ini? Kasihan nak Hermawan sudah menunggu lama)


" Fia mboten bidhal buk" ( Fia tidak mau berangkat Bu)


" Maksudmu opo? Kowe ate marai ibuk isin ta?!" (apa maksudmu? kamu ingin membuat ibu malu?!)


" Buk...Ojo nesu-nesu ngono to.." (ibu jangan marah-marah seperti itu)


" Bapak ora usah melu-melu,goro-goro bapak manjakno anak,iki lo akhire....ate kurang ajar!"


(Bapak jangan ikut campur, gara-gara bapak selalu memanjakan anak,ini akhirnya...jadi kurang ajar!)


" Ora ngono buk,rabi iku butuh tresno... Yen ra tresno...Ojo dipekso,marai loro ati" (tidak seperti itu Bu,menikah itu butuh cinta... jika tidak ada cinta,jangan dipaksa,bikin sakit hati)


" Bapak lali to,wiwiteng tresno jalaran soko kulino. Awake dewe biyen kan yo dijodohne" ( bapak lupa ya, awal tumbuhnya cinta karena terbiasa. Kita dulu juga dijodohkan)


" Tapi biyen awak e dewe pasrah,iki bedo cerito. Jamanne wes maju, bocah-bocah bebas milih pasangane dewe-dewe" (tapi dulu kita pasrah,kali ini berbeda ceritanya. Jamannya sudah modern, anak-anak bebas memilih pasangan masing-masing)


" Bapak Iki kok ra mbelo aku seh?" ( bapak ini kok tidak membela saya sih?)


" Gak ngono buk..." ( Bukan begitu Bu)


" Buk...,pak... mpun! Niki salah fia,fia mpun ngomong teng mas Hermawan kersane batalaken pernikahan niki"( buk ....pak....sudah! ini semua salah fia,fia yang minta mas Hermawan membatalkan pernikahan ini) Safia pun menangis,tak kuasa melihat pertengkaran orang tuanya.


" Buk,Ojo muni ngono to..." (Buk,jangan bicara seperti itu...)


" Mbuh pak,ngelu ndasku..." (terserah pak,pusing kepala saya) Ibu Safia pun pergi meninggalkan Safia yang terus saja menangis.


" Nduk,wes to .... Yen awakmu wes yakin,orapopo.... bapak dukung" ( nak,sudahlah...jika kamu sudah yakin,tidak apa-apa...bapak akan selalu mendukung) Safia dan bapaknya pun berpelukan. Safia menumpahkan segala keresahan dihatinya kepada bapaknya.


****


Melihat Hermawan dari kejauhan nyonya Sanjaya merasa sakit. Hermawan duduk ditepi kolam masih satu lokasi masjid. Hermawan terus saja merokok,satu,dua,tiga,empat....entahlah sudah berapa puntung rokok ia habiskan. Nyonya Sanjaya akhirnya menangis melihat putra semata wayangnya tersebut.


" Nyonya,maaf kan saya... ini sudah pukul 11, sebentar lagi adzan Dzuhur. Saya tidak bisa berlama-lama disini nyonya, pekerjaan saya masih banyak"


" Bapak penghulu,saya mohon...! Demi putra saya,jangan pergi sebelum dia menginginkan bapak pergi..."


" Nyonya,tapi ini sudah lewat 2 jam. Saya rasa pengantin wanitanya tidak akan pernah datang"


" Saya mohon tetaplah disini... Saya takut tiba-tiba pengantin nya datang siapa yang akan menikah kan anak saya....?"


" Nyonya,saya mohon anda jangan menangis. Saya akan tetap menunggu tuan Hermawan nyonya"


" Terimakasih pak... terimakasih banyak!"


Nyonya Sanjaya merasa sedikit lega,pak penghulu mau mengikuti keinginan putranya. Dari kejauhan Fanesa terlihat kebingungan mencari Omanya. Setelah melihat keberadaan Nyonya Sanjaya, Fanesa berlari memeluk Omanya.


" Oma, sampai kapan kita disini?"

__ADS_1


" Sampai wanita yang akan menjadi ibu sambungmu datang"


" Fanesa sebenarnya tidak ingin ibu baru,tapi... Fanesa ingin papa bahagia"


" Terimalah siapapun wanita yang papamu pilih, itu akan membuat papamu bahagia"


Fanesa hanya mengangguk perlahan. Sebenarnya Fanesa hanya ingin mamanya kembali,tapi mamanya telah mengkhianati papanya. Fanesa hanya ingin papanya bahagia.


Datanglah seorang pria dengan lari tergopoh-gopoh. Pria itu langsung menghampiri nyonya Sanjaya.


" Maaf nyonya, rombongan pengantin wanita sudah tiba diparkiran"


" Apa?" Nyonya Sanjaya tampak kaget.


" Iya nyonya, rombongan calon istri tuan Hermawan sudah tiba"


" Her....her....cepat kemari nak....." Nyonya Sanjaya sedikit berteriak memanggil putranya. Bahkan nyonya Sanjaya tidak sadar telah berlari menghampiri anak lelakinya itu.


" Mama kenapa berlari seperti itu? Hati-hati ma..."


" Her,cepatlah cuci muka... matikan rokok mu! Benahi penampilan mu, bersiaplah...." nyonya Sanjaya sedikit mendorong anak lelakinya itu.


" Apa yang terjadi ma...?"


" Pengantinmu sudah datang... cepatlah!"


" Sungguh? Mama tidak bercanda kan?"


" Apa kamu lihat mama sedang bercanda?"


" Mama...." Hermawan langsung memeluk mamanya,tak lupa ia menciumi seluruh wajah mamanya. Hatinya sangat bahagia mendengar kabar kedatangan Safia.


' Semoga semua berjalan dengan lancar....' batin nyonya Sanjaya


Hermawan segera cuci muka dan berkumur,berusaha menghilangkan bau rokok dimulutnya. Tak lupa ia rapikan rambut dan jas yang ia pakai.


" Her,cepatlah...." ucap nyonya Sanjaya setengah berteriak dari balik pintu toilet.


Hermawan keluar dari toilet dengan wajah segar dan harum parfum mahal.


" Kau mandi parfum ya her....?"


" Mama....." Hermawan nampak tertunduk malu.


" Ayo cepat hampiri pengantinmu..."


Hermawan langsung berlari menuju parkiran. Setelah melihat rombongan pengantin wanita sejenak Hermawan berhenti dan memperhatikan dimana pengantin wanitanya. Hermawan pun tersenyum sendiri setelah melihat keberadaan Safia diantara rombongan itu.


****


Next habis ini ya.... aku mau nafas dulu,bingung gimana caranya merangkai kata,alur cerita sudah ada diotak....namun apa daya otak dan tangan tak singkron😑


terimakasih yang masih setia baca karya aku, jangan lupa like komen n vote🔥👍

__ADS_1


__ADS_2