INIKAH TAKDIRKU...

INIKAH TAKDIRKU...
25 Menurutlah Sayang


__ADS_3

Hermawan merebahkan tubuh Safia diatas ranjang. Ia merogoh handphone disakunya dan menghubungi seseorang.


πŸ“ž Dokter : Hallo... Pak Hermawan


πŸ“ž Hermawan : Hallo...dok,bisakah anda datang ke rumah saya sekarang? istri saya pingsan...


πŸ“ž Dokter : Baiklah,saya akan segera kesana.


πŸ“ž Hermawan : Saya tunggu dok, terimakasih...


Hermawan meletakkan handphone nya diatas nakas. Ia mulai memperhatikan wajah pucat istrinya.


" Nak her,apa Safia baik-baik saja?" Ibu Safia nampak cemas melihat kondisi putrinya.


" Tenanglah Bu, sebentar lagi dokter akan datang. Kita akan tahu bagaimana kondisi Safia" Hermawan menatap ibu Safia lekat. Sebenarnya dalam hati Hermawan sedang gelisah. Takut terjadi hal buruk terhadap istrinya. Ia kembali menatap wajah istrinya, meraih tangan istrinya dan mengecup mesra. Berharap Safia segera membuka matanya.


Selang 15menit akhirnya dokter pun datang. Dokter segera mengeluarkan alat untuk memeriksa kesehatan Safia. Sesekali dokter memperhatikan jam yang melingkar ditangannya. Dengan nafas berat akhirnya dokter menghampiri Hermawan.


" Maaf Pak Hermawan, sepertinya kejadian yang terjadi pada Bu Safia kemarin mempengaruhi kesehatan mentalnya"


" Apa maksud dokter?" Hermawan nampak mengeryitkan dahinya tidak mengerti.


" Kondisi mental Bu Safia sekarang sangat terguncang. Bila ini terus dibiarkan maka akan berakibat buruk dengan kesehatan nya"


" Lalu apa yang harus saya lakukan dok?"


" Jauhkan Bu Safia dari orang-orang yang akan mengingatnya pada kejadian buruk yang menimpanya. Jangan biarkan Bu Safia sendirian. Sebaiknya Bu Safia mengikuti terapi agar kondisi kejiwaannya bisa stabil kembali"


" Tolong jadwalkan terapinya segera dok. Saya akan segera pindah ke Surabaya. Saya harap dengan begitu istri saya bisa pulih seperti sedia kala"


" Baik,saya akan hub rekan sejawat saya disurabaya. Supaya Bu Safia bisa ditangani dengan baik"


" Terimakasih dok atas bantuannya"


" Sudah menjadi tugas saya pak Hermawan,saya permisi dulu..."


" Mari dok,saya antar sampai depan,.."


Hermawan mengantarkan dokter sampai mobilnya. Dan mobil dokter akhirnya pergi meninggalkan kediaman Safia. Hermawan kembali merogoh handphone yang berada di sakunya.


πŸ“ž Asisten : Hallo selamat sore pak...


πŸ“ž Hermawan : Tolong segera urus kepindahan Safia dan Fanesa ke Surabaya.

__ADS_1


πŸ“ž Asisten : Baik pak.


πŸ“ž Hermawan : Bersihkan foto Karin di rumah Surabaya. Jangan sampai ada yang tersisa!. Jangan sentuh foto Karin yang berada di kamar Fanesa!


πŸ“ž Asisten : Baik pak.


πŸ“ž Hermawan : Besok pagi saya mau berangkat ke Surabaya. Jangan lupa atur jadwal terapi istri saya.


πŸ“ž Asisten : Baik pak...


Hermawan memutus panggilan teleponnya dan kembali kekamar Safia. Ketika sampai di kamar Safia Hermawan melihat ibu Safia menangis disisi ranjang Safia.


" Buk..."


" Safia kenapa nak Her..."


" Safia hanya kelelahan Bu... ibu jangan khawatirkan kondisi Safia. Safia baik-baik saja bu"


" Sungguh nak her?" ibu Safia menatap Hermawan dengan lekat.


" Iya Bu... jangan khawatir,saya akan menjaga Safia dengan baik"


" Terimakasih nak her,kau mau menjaga Safia putri ibuk dengan baik. Sekarang temani Safia istirahat. Kalau butuh apa-apa panggil ibuk"


" Ibu keluar dulu ya nak...." Hermawan tersenyum dan mengantar ibu Safia sampai depan pintu kamar. Melihat tubuh Safia mulai bergerak, Hermawan kembali menghampiri Safia.


" Kau sudah sadar sayang?" Hermawan menahan tubuh Safia yang berusaha bangun dari tidurnya.


" Biarkan aku duduk mas...!" Akhirnya Hermawan membantu posisi duduk Safia.


" Katakan apa yang terjadi padaku mas? Kenapa aku tiba-tiba dikamar?" Hermawan mengelus pipi Safia dengan lembut.


" Tidak terjadi apapun sayang,kau hanya kelelahan. Kau tadi tertidur dibangku taman,lalu aku menggendongmu kekamar" Mendengar pernyataan Hermawan pipi Safia langsung merona.


" Apa aku merepotkan mu mas?" Melihat sikap Safia Hermawan pun tersenyum. " Kau tak pernah sekalipun merepotkan ku sayang" Hermawan meraih dagu Safia dan mengecup bibir Safia lembut. " Apa tidurmu nyenyak?"


Merasakan sikap Hermawan yang begitu lembut dan manis Safia tak kuasa menahan rasa malunya. " Katakan sesuatu sayang..."


" A-aku...." Safia meremas tangannya bergantian. Hermawan tersenyum melihat tingkah istrinya. " Kita lakukan nanti kalau kau benar-benar pulih. Kau kan baru pulang dari rumah sakit" Safia spontan mendongakkan kepalanya. " Apa maksud mas?"


Hermawan tersenyum nakal. Melihat senyum Hermawan Safia bergidik ngeri. Melihat tingkah istrinya Hermawan tertawa terbahak-bahak.


" Hahaha....."

__ADS_1


" Mas,apa yang lucu sih...!" Safia membuang mukanya sambil mengerucutkan bibirnya kesal.


Melihat istrinya kesal Hermawan meraih dagu Safia hingga tatapan mereka saling beradu." Sayang.... Jangan merajuk seperti itu. Nanti aku semakin gemas dan tidak tahan padamu. Sekarang kau harus fokus pada kondisi kesehatan mu. Besok kita kesurabaya. Kita akan menetap disana"


Safia membelalakkan matanya." Kenapa ke Surabaya sih mas,disini kan ada ibuk. Gimana nanti kalau ibuk butuh sesuatu? Disini saja ya mas!" Safia mengatupkan kedua tangannya memohon.


" Tenanglah sayang,semua sudah aku atur. Nanti seminggu sekali kita bisa kesini. Lagian Wulan punya nomer telpon kita kan? Dia bisa telpun kapanpun kalau mereka membutuhkan kita" Hermawan mencoba meyakinkan Safia.


" Tapi mas...." Rasanya Safia enggan tinggal berjauhan dengan kedua orang tuanya. " Apa kau ingin aku menghajarmu semalaman? Menurutlah sayang... atau aku akan melakukan itu padamu"


*Deg....


Senyum itu, melihatnya saja bulu kudukku selalu berdiri. Tidak mungkin ia menghajarku dengan memukuli ku kan?! Pasti aku akan diajaknya kerja rodi semalaman. Duh... Rasanya tubuhku remuk redam dibuatnya. Batin Safia*.


" Hahaha.....apa yang kau fikirkan wanita nakal?" Hermawan tak henti-hentinya tertawa melihat tingkah istrinya.


" Mas,hentikan...! Kau ingin mati karena terlalu banyak tertawa?" Safia mendengus kesal.


Hermawan langsung mengatupkan kedua bibirnya. Tak percaya istrinya yang pendiam dan sangat sopan itu berani mengatai nya. " Kau menyumpahi ku mati sayang?!" Hermawan melotot menatap wajah istrinya.


" A-aku nggak bermaksud seperti itu mas...!" Safia semakin gugup. Hermawan mendekatkan wajahnya semakin dekat dengan wajah Safia. " Apa kau yankin?"


Ooh...Tuhan,matilah aku! Seperti nya suamiku marah sekali. batin Safia lagi.


" Rasakan ini....! Kau sekarang berani padaku ya...!" Hermawan menggelitiki pinggang Safia dan beberapa titik sensitif nya. Safia menggeliat tidak karu-karuan. " Mas, hentikan! Hahahaha.... apa-apaan ini kau mas...!" Hermawan masih tidak menghentikan kegiatannya. Tangannya bergerilya masuk kedalam baju Safia. " Ampun mas....ampun! Apa kau ingin aku mati karena lemas kebanyakan tertawa?" Hermawan menghentikan tangannya.


" Apa kau yakin sayang?" Hermawan mendekatkan wajahnya dengan Safia. Hermawan merasakan nafas Safia menyapu wajahnya. Sejenak matanya terpejam merasakan hembusan nafas itu.


Padahal hanya merasakan hembusan nafasnya. Kenapa rasanya nikmat sekali...? Duh rasanya aku ingin menghajarnya sekarang juga. Batin Hermawan.


" Mas... dadaku sesak kalau kau masih menindih ku!" Safia mendorong tubuh Hermawan sedikit menjauhi tubuhnya.


" Kalau kau masih menggodaku aku tak akan memberimu ampun" Kini Hermawan duduk disamping Safia.


" Apa mas lupa,selama kondisiku belum pulih benar mas tidak boleh melakukan apapun denganku!" Hermawan semakin gemas melihat tingkah istrinya. " Stop! mas mau apa lagi?" Safia meletakkan telapak tangan nya didepan wajah Hermawan. Namun Hermawan segera menepis tangan Safia dan menyesap leher Safia.


" Mas her......!!" Safia berteriak tidak terima dengan perlakuan Hermawan.


" Rasakan itu! hahaha..... itu balasan karena kau selalu menggodaku" Hermawan puas memberikan sebuah tanda merah dileher Safia.


🌺🌺🌺🌺🌺


Alhamdulillah.... tetap semangat πŸ’ͺ

__ADS_1


__ADS_2