INIKAH TAKDIRKU...

INIKAH TAKDIRKU...
61 Pengakuan Cinta


__ADS_3

" Lalu...?"


Fanesa menunggu hingga beberapa menit,namun tidak mendapatkan jawaban. Akhirnya Fanesa menoleh ke arah Safia.


" Yaa ampun,mama malah tidur....!" Fanesa merasa kesal,akhirnya Fanesa meninggalkan Safia tidur sendirian dikamar.


*****


" Sa...mama enggap sa,jangan peluk mama seperti ini" dengan mata yang masih terpejam Safia mencoba menyingkirkan tangan yang melingkar di dadanya. Namun ia merasa aneh,tangan Fanesa terasa lebih besar dan berat. Safia mencoba membuka matanya dan ia sangat terkejut melihat seseorang dengan santainya tidur sambil memeluknya.


" Maaas....!" teriak Safia.


" Hemmmt..." jawab Hermawan malas.


" aku nggak bisa gerak..." Safia mencoba menyingkirkan tangan Hermawan namun tangan itu kembali membelit tubuh Safia. Bahkan sekarang semakin erat.


Hermawan semakin menggoda Safia dengan mengusap-usapkan wajahnya di ceruk leher Safia.


" Maaasss.....! apa mas mau aku masuk rumah sakit lagi?" ancam Safia.


Dan akhirnya pelukan itu merenggang.


" Katakan padaku kalau kamu sangat mencintai ku. Eh bukan...! Katakan kalau kamu amat sangat mencintai ku melebihi apapun..." kata Hermawan berapi-api.


" Kita nggak boleh mencintai sesuatu melebihi cinta kita pada sang pencipta mas" sanggah Safia.


" Ok,kalau begitu cintai aku setelah sang pencipta"


" Nggak bisa mas...!"


" Gimana nggak bisa? Harus bisa dong... aku ini suamimu. Dan aku berhak akan semuanya yang bersangkutan dengan mu fia"


" Setelah sang pencipta,aku mencintai rosulnya... yaitu nabi Muhammad Saw"


" Lalu aku...?"


" Eehmmmmtt...." sejenak Safia mencoba berfikir keras. " Mas nomer.....7"


" kok nomer 7 sih?"


" Iya nomer 3 nya orang tua aku,terus bayi yang ada dalam perutku,Fanesa,mama Sanjaya dan baru kamu mas" Safia terlihat menahan tawanya. Karena berhasil mengerjai suaminya. Suaminya itu nampak kesal sekali, wajahnya terlihat sangat muram.


" Segitu nggak penting kah aku dimata mu fia?"


" Menurut mas...?" Safia menatap wajah Hermawan sambil tersenyum.


" Apa kamu masih belum mencintaiku?" Hermawan menatap Safia dengan tatapan sendu.


Safia menggelengkan kepalanya.


Hermawan membuang wajahnya. Ingin sekali ia menangis. Karena wanita yang ia cintai tidak membalas cintanya.


" Mas....tatap wajahku" tangan Safia meraih dagu Hermawan dan mengarahkan wajah Hermawan ke hadapan Safia. " Lihat mataku mas...!"


" Heemmmtt...."


" Ada apa disana?"


" ada belek..."


" Maaaasss.....! Bukan itu"


" Apasih,mas nggak ngerti..."


" Lihat di bulatan yang berwarna hitam mas.. ."


" Ada....bayanganku"

__ADS_1


" Begitupun hatiku mas...."


" Sebentar,gimana-gimana maksudnya?" Hermawan nampak berfikir keras.


" Nggak ada siaran ulang...!" Jawab Safia ketus. Ia pun beranjak dari tidurnya.


Sebelum ia benar-benar meninggal kan Hermawan langsung menarik tangan Safia hingga tubuh Safia terjelembab dengan posisi terlentang diatas tubuh Hermawan.


" Maaaaasss....!" Safia berbalik menghadap tubuh Hermawan dan memukuli dada Hermawan karena kesal.


Hermawan langsung menarik tengkuk Safia dan mencium bibir Safia lembut. " katakan padaku kalau kamu mencintaiku"


Pipi Safia langsung merona merah. Andai saja bisa seperti tokoh kartun, mungkin sekarang mata Safia akan muncul emoticon love-love.


Safia menyembunyikan wajahnya didada Hermawan.


" Kenapa sayang? Apa kamu malu? hahaha...."


Safia kembali memukul dada Hermawan sambil tersenyum.


" Katakan padaku sejak kapan kamu mencintai ku?"


" Ehmmm....sejak....sejak...." Safia menunduk kan kepalanya agar wajahnya tidak terlihat Hermawan.


" Ayolah sayang ..,!"


" Mas...!" Safia mendongakkan kepalanya menatap wajah suaminya.


" Hemmmttt..."


" Aku harap mas mau mencintai ku hingga tua nanti"


" Tentu sayang...."


" Kalau setelah melahirkan badan aku berubah gendut seperti buldoser,apa mas tidak akan berubah?"


" Fia,dengarkan aku.... Aku mencintaimu bukan karena fisikmu yang indah,namun aku mencintaimu karena ini" Hermawan menyentuh dada Safia dengan telunjuknya.


" Sungguh?"


" Iya..."


" Apa ini hanya untuk menghibur ku agar tidak setres saja?"


" Hahaha.....fia....fia... kenapa aku punya istri semenggemaskan kamu...." Hermawan memeluk Safia erat.


" Mas...,"


" Apa lagi sayang..."


" Jika aku diculi penjahat, lalu penjahat itu minta tebusan seluruh harta kamu. Mana yang akan kamu pilih mas?"


" Ya aku pilih kamulah....haha"


" Tapi mas akan jatuh miskin karena ingin bersama ku"


" Itu bukan masalah buatku sayang... kita akan mulai dari nol lagi"


" Jangan mas,"


" Kenapa? apa kamu nggak ingin aku selamatkan?"


" Bukan begitu mas,mas harus berfikir dewasa. Mas nggak boleh egois,masih ada Fanesa dan juga mama. Mereka tidak akan mampu hidup susah"


" Lalu...aku harus mengorbankan kamu? gitu?"


" Kalau memang yang terbaik,kenapa enggak?"

__ADS_1


" Kamu nggak mikirin gimana aku?"


" Ya mas kan bisa cari istri lain..."


" Semudah itu kah?" Hermawan tersenyum kecut.


" Mas,jangan mencintaiku berlebihan... Cintai aku sewajarnya saja,kita tidak pernah tau takdir tuhan"


" Maksud kamu?"


" Aku sekarang sedang mengandung,nanti sewaktu melahirkan...aku mempertaruhkan nyawaku demi bayi yang berada dalam kandungan ku ini. Aku baca artikel,ada banyak hal penyebab kematian ibu setelah melahirkan. Ada yang pendarahan hebat, hipertensi, infeksi, komplikasi...dan masih banyak lagi" Safia menunduk, matanya mulai memerah.


" Sayang,jangan bicara macam-macam. Kamu pasti selamat,juga bayi kita... jangan khawatir"


" Mas,kita nggak akan pernah tahu takdir kita mas. kemungkinan apapun yang akan terjadi aku siap mas"


" Sayang....enggak.... enggak....! kamu nggak boleh bilang macem-macem" Hermawan meraup wajah Safia dan menciuminya.


" Maaaasss......!!"


Hermawan melepaskan Safia. Safia nampak terengah-engah mendapati pelakuan suaminya itu.


" Kamu nggak papa kan sayang...?"


" Dasar kamu mas,makin tua makin gila...!"


" Hahaha....tapi kamu suka kan?" goda Hermawan.


" Bodo amat...!, aku mau mandi...!"


" Mandi bareng yuk sayang...!"


" Nggak mau...! Jauh-jauh dariku mas...!" Safia beranjak dari tempat tidurnya untuk menghindari suaminya. Namun kalah cepat dengan gerakan Hermawan langsung menggendong tubuh Safia. Hermawan membawa Safia masuk ke dalam kamar mandi tamu.


" Mama.......mama....!"


Safia berteriak memanggil-manggil ibu mertuanya. Namun sepertinya ibu mertuanya tau kalau anak laki-laki nya sedang menggoda istrinya.


Nyonya Sanjaya hanya geleng-geleng sambil tersenyum mendengar teriakan Safia.


" Mbak yu, apa tidak sebaiknya mbak yu bantu Safia?"


" Untuk apa?"


" Sepertinya fia sedang dalam kesulitan"


" Kamu ini Vero,kaya nggak tau anak muda saja...haha. Mereka sedang bersenang-senang"


" Tapi..."


" Sudahlah...! Awan tau batasan mana yang seharusnya tidak ia lakukan. Aku belum pernah melihat awan sebagai ini"


" iya mbak... aku rasa juga begitu"


Nyonya Sanjaya dan nyonya Veronika kembali sibuk memilih hidangan apa yang akan disuguhkan sewaktu acara 7 bulanan kehamilan safia nanti.


🌹🌹🌹


Dikamar Fanesa


Fanesa duduk ditepi ranjang nya,ia menatap lekat foto yang ada di pangkuannya.


" Ma...nesa kangen mama. Kenapa mama tidak seperti mama fia ma? Kenapa mama nggak pernah sayang sama aku? Aku ingin dipeluk mama....seperti mama fia meluk aku ma..." Fanesa mulai menitikkan air matanya. Ia memeluk erat foto Karin.


" Sampai kapanpun...aku tetap sayang mama"


🌺🌺🌺🌺

__ADS_1


***Aku tuh ikut sedih gays kalo nulis yang sedih2 begini. Maklum in aja...aku kan termasuk spesies emak2 yang kalo liat sinetron/ drama Korea ikut nangis....😭😭😭


terimakasih dan sampai jumpa di episode berikutnya 😘😘😘***


__ADS_2