
Hermawan begitu cemas menanti kesadaran Safia. Hingga tanpa sadar tertidur disamping Safia hingga subuh. Hermawan sempat tersentak karena mendengar suara adzan subuh. Matanya berlarian kesana kemari mencari keberadaan Safia yang sudah tidak berada disampingnya lagi.
Namun ketika matanya melihat sang istri sudah bersimpuh berbalut mukena hatinya sedikit lega. Hermawan menghampiri istrinya dan memeluknya.
" Mas,lepaskan....! Aku susah napas nih...!" Safia meronta-ronta melepas pelukan Hermawan.
" Maafin aku ya sayang,aku nggak bermaksud nyakitin kamu. Maafin aku yang sudah berkata kasar padamu" Hermawan mendaratkan ciuman ke pipi Safia berkali-kali.
" Hentikan mas, mulutmu bau...! Hueekk...hueek" entah mengapa Safia merasa mual ketika mencium bau mulut Hermawan.
" Oke,oke...aku gosok gigi lalu sholat dulu. Habis itu kita jalan-jalan pagi disekitar komplek sini ya..." Hermawan mengusap-usap kepala Safia. Safia hanya membalas dengan senyuman.
Hermawan sedikit lega istrinya tidak mengalami hal buruk yang seperti yang ia fikirkan. Ia berharap agar Safia lekas sembuh dari traumatik yang ia alami. Supaya cepat bisa melakukan program kehamilan kembali.
" Sayang...." Hermawan memeluk tubuh Safia dari belakang. Safia sendiri sedang melamun di balkon kamarnya. " Apa yang sedang kau fikirkan?" Hermawan mengecupi leher Safia.
Safia hanya menggeleng lemah.
" Apa kau kurang enak badan?" Hermawan mulai cemas dengan keadaan Safia.
" Nggak papa mas,ayo...katanya mas mau ngajak aku jalan-jalan di sekitar komplek?" Safia berbalik badan. sekarang Safia berhadapan dengan tubuh Hermawan.
Hermawan mengecup kening Safia lembut. Ia menggenggam tangan safia. " Ayo sayang..." Hermawan menggandeng Safia keluar dari kamarnya. ketika menuruni tangga Hermawan melihat Fanesa sedang duduk dimeja makan sambil memainkan ponselnya. " Pagi princess nya papa...." sapa Hermawan.
" pagi pa..." jawab Fanesa tanpa mengalihkan pandangannya dari ponsel pintar nya.
" Kok anak papa lebih asik sama hape sih?" sindir Hermawan.
" Males aja pah,nggak ada kegiatan. sekolah belum diperbolehkan masuk gara-gara Corona" Fanesa meletakkan hapenya di meja makan. Matanya fokus pada sebuah kotak didepannya. " buk Darmi,ini punya siapa?"
" itu non,punya ibu Safia... mungkin kiriman dari temannya" jawab buk Darmi asisten rumah tangga Hermawan.
Sejenak Safia dan Hermawan saling berpandangan. Safia menghampiri Fanesa disusul Hermawan.
Fanesa membuka kotak tersebut,ternyata isinya adalah berbagai jenis kue dari sebuah toko kue terkenal di Surabaya. " waauuu,kuenya pasti enak-enak. Aku makan ya ma...."
" Iya sayang..." Safia melihat sebuah kartu tertempel di kotak kue tersebut.
***teruntuk....
teman ku Safia
__ADS_1
hub 082346789xxx
Mr A***_
Hermawan ikut membaca kartu ucapan yang tertempel di kotak tersebut. Tangannya mengepal keras.
Brengs*k kamu Antony,kenapa kau selalu mengganggu kehidupan ku! Baiklah,akan aku ikuti permainan mu....! batin Hermawan kesal.
" Siapa ya mas...? apa sebaiknya aku telepon saja. Mungkin dia teman lama ku..." Safia mengambil hape dari kantung celananya.
" Jangan sayang,aku yakin itu hanya orang iseng. Atau salah kirim,bisa jadi karena mungkin di komplek ini ada yang bernama Safia. Kamu kan baru pindah... nggak mungkin teman kamu tau alamat kita secepat ini" Hermawan menahan lengan Safia agar tidak menghubungi nomer tersebut.
" Tapi kuenya sudah terlanjur dimakan Fanesa mas,gimana dong....?" Safia merasa bersalah.
Fanesa menghentikan kegiatannya mengunyah kue. " Pah,gimana dong...? udah terlanjur aku makan"
" Nggap papa sayang lanjutkan,nanti kalau ada orang yang minta ganti rugi akan papa ganti" Hermawan berusaha berbicara senetral mungkin agar Fanesa dan Safia tidak curiga kalau ia sedang memendam amarah yang begitu besar.
" Ya udah yuk mas kita jalan-jalan..." Safia menggandeng lengan Hermawan.
" Pergilah dulu kedepan sayang,aku ingin kekamar kecil..."
Hermawan kembali ke dapur. " buk Darmi,kalau ada kiriman lagi semacam itu... tolong berikan dulu padaku" tutur Hermawan tegas.
" nggeh mas Hermawan..." jawab Bu darmi sambil mengangguk.
Hermawan mengacak-acak rambut Fanesa dengan gemas. " Sayang...papa keliling komplek dulu ya..."
Fanesa hanya mengangguk sambil melanjutkan kegiatannya mengunyah kue.
πΉπΉπΉπΉ
Dirumah Antony...
" Bagaimana Lex? Apa sudah kamu kirim kuenya?"
" Sudah bos...! Tadi sudah aku cek ulang sama Karin"
" Hmmmmtt,....Karin?" Antony tersenyum sinis. " Apa hubungan mu dengan Karin?" Antony merasa curiga.
" Tidak bos,tidak ada..." Alex Berusaha berbohong agar Antony tidak mengamuknya.
__ADS_1
" Ingat Lex,Karin wanita murahan....! Dia sudah tidur dengan banyak lelaki. Kau pantas mendapatkan wanita yang lebih baik darinya..." kata Antony sambil menikmati sarapannya.
" Iya bos saya tau...." kata Alex lemas. Alex merasa ucapan bos nya itu bagaikan petir yang menyambar nya di pagi hari. Kata-kata bos nya itu sedikit menggoyahkan cintanya pada Karin.
" Cepat bereskan pekerjaan mu jika kau benar-benar ingin resign. Dan jangan lupa carikan aku pengganti mu secepatnya"
" Baik bos"
" nanti sore... kirimin istri Hermawan tas mahal. Jangan lupa kartu ucapan nya ditulis seperti tadi. Agar dia penasaran dan segera menghubungi ku"
" Baik bos..."
πΉπΉπΉ
Safia merasa bahagia diajak berjalan-jalan berkeliling komplek perumahan Hermawan. Komplek yang berisi barisan rumah-rumah mewah berpagar tinggi. Safia merasa takjub setiap melewati rumah demi rumah. Bahkan ia tak sanggup membayangkan berapa rupiah yang dihabiskan untuk membangun rumah-rumah yang berada di hadapannya.
" Sayang...apa kamu happy?" kata Hermawan mulai memecah lamuna Safia.
" Eh,iya mas... aku seneng bisa jalan-jalan begini. Aku rindu bersepeda mas... pasti enak bersepeda pagi hari begini.."
" Nanti aku akan membelikanmu sepeda..." tutur Hermawan penuh semangat.
" Jangan beli mas,..." Safia berkata dengan hati-hati "Mas bisa mengambilkan sepedaku dulu?" kata Safia penuh harap.
" Kenapa harus mengambil sepeda butut mu dulu sayang? Bahkan aku mampu membelikan mu baru...! kenapa harus sepeda itu?" Hermawan sedikit terkejut dengan tingkah istrinya.
" Jangan beli mas, mubazir...! Aku nggak mau mas membeli barang-barang yang kurang penting"
" Apa istriku kurang penting? Apa semua kebutuhan nya tidak penting bagiku? Penting sayang... Kamu segalanya buatku" Hermawan memeluk Safia gemas.
" Bukan begitu mas, sepeda menurutku kurang penting karena jarang dipake. Sayang kan kalo harus beli baru"
" Nggak masalah sayang, jangan seperti orang susah begitu. Mulai sekarang biasakan hidup mewah seperti Fanesa dan karin. Kamu sekarang nyonya Hermawan sayang...!"
Safia berhenti sejenak,ia menatap mata Hermawan begitu dalam. " Aku memang nyonya Hermawan mas,tapi aku nggak suka kalau harus hidup seperti mbak Karin. Aku mau menghargai jerih payah suamiku. Harta itu titipan mas...! Sebaiknya harta itu kita digunakan untuk membantu orang lain. Berbelanja pun seperlunya saja"
" Baiklah istriku tercinta,aku nggak salah memilihmu" Hermawan meraup wajah Safia dan menghadiahi kecupan yang bertubi-tubi.
" Mas, hentikan...! ini jalan mas,gimana kalo ada orang lewat? aku malu..!" Safia melepaskan tangan Hermawan dan mengerucutkan bibirnya kesal. Ia berjalan cepat mendahului langkah Hermawan. Hermawan mengikuti istrinya dengan setengah berlari. Hermawan merasa bahagia mempunyai istri seperti Safia. Bahkan ia baru tersadar bahwa dalam sebuah kehidupan,harta bukan segalanya. Namun segalanya butuh harta. Jangan sampai kita hidup diperbudak harta.
πΊπΊπΊπΊ
__ADS_1