
Akhirnya Safia dan Fanesa pergi jalan-jalan mengendarai sebuah mobil. Tentunya Safia yang menyetir. Awalnya Safia ragu,namun ia harus berusaha sekuat tenaga untuk menghilangkan semua ketakutannya. Dan akhirnya berhasil, awalnya safia mengemudikan dengan kaku. Namun setelah beberapa menit kemudian tubuhnya sudah mulai relax.
Fanesa membuka kaca pintu mobil disebelahnya berusaha menghirup angin yang berlarian menerpa wajah cantiknya.
" sayang,jangan keluarkan kepalamu...itu bahaya...!" safia mulai menasehati putri sambung nya itu.
" Iya ma,tapi coba deh hirup angin sore ini benar-benar menyejukkan.." Fanesa mendekatkan wajahnya kepintu,namun tak sampai keluar.
Safia mengikuti saran Fanesa untuk membuka jendela dan menghirup angin sore. " Benar-benar damai...." gumam Safia lirih.
Tak lama setelah asik bercanda dan bercerita tentang banyak hal, akhirnya mobil mereka sampa disebuah persimpangan jalan. Mobil mereka berhenti karena lampu lalulintas saat ini berwarna merah. Safia fokus dengan jalan di hadapannya. Namun tak disadari disebelah mobil Safia ada seorang pengendara motor sedang memperhatikan nya.
Pengendara tersebut menggenakan helm full face, sehingga Safia tidak bisa mengenalinya. Setelah menunggu beberapa menit akhirnya lampu lalu lintas berganti warna dan Safia melajukan mobilnya kembali.
Lima belas menit kemudian mobil Safia terparkir di sebuah basement mall terbesar di kota Surabaya. Fanesa langsung menggandeng tangan ibu tirinya itu. Saking girangnya Fanesa berjalan tanpa memperhatikan jalan dihadapannya. Bahkan ia beberapa kali bersenggolan bahkan menabrak pengunjung mall tersebut.
" Fanes, perhatikan jalan dihadapanmu....!" Safia nampak menegur Fanesa dengan lembut.
" Aku happy banget ma,, papa bahkan mama tak pernah mengajakku jalan-jalan ke mall. Aku hanya pergi bersama Oma. Itupun bisa dihitung dengan jari" Fanesa nampak mengerucutkan bibirnya.
Safia nampak sedih mendengar penuturan Fanesa. Fanesa dilahirkan dari keluarga berada namun haus akan perhatian dan kasih sayang. Kedua orangtuanya sibuk dengan urusannya masing-masing.
" Aku pernah bolos sekolah dengan alasan sakit, padahal aku jalan-jalan ke mall seharian ...hahaha" Fanesa tertawa lepas mengingat kenakalannya dimasa lalu.
" Jangan ulangi lagi ya,jika kamu ingin jalan-jalan...mama akan menemanimu sayang" Safia mengelus kepala Fanesa.
__ADS_1
" Makasih ya ma,aku harap sikap mama tidak akan berubah walau mama sudah punya anak dari papa" kata Fanesa penuh harap.
" Baikk...." Safia mengacungkan jari telunjuk dan jari tengah seperti sedang bersumpah.
Mereka berdua masuk ke sebuah toko baju wanita dan segala pernak-pernik wanita.
Safia dan Fanesa sibuk memilih barang yang mereka inginkan. Hingga tak sadar mereka sedang terpisah. Fanesa sedang berada dilorong ujung tempat sepatu dan sandal berjejer dan Safia di depan kasir sedang sibuk memilih sebuah pasmina yang cocok ia kenakan. Tiba-tiba seorang pria menepuk pundak Safia.
" Fia...." sapa pria itu sambil menepuk pundak Safia lembut. Safia nampak terkejut melihat siapa pria yang berdiri dibelakang nya itu.
πΉπΉπΉπΉ
Dirumah Hermawan...
Tok....tok...tok...
" Masuklah....!" kata Hermawan singkat.
Muncullah seorang ibu asisten rumah tangga Hermawan dari balik pintu. Ia nampak kesulitan membawa beberapa paper bag ditangannya sambil menghampiri Hermawan.
"Apa itu buk....?" Hermawan menghentikan pekerjaannya dan memperhatikan apa yang dibawa asisten rumah tangga nya itu.
" Isi nya saya nggak tau den,tapi pengirimnya tetap sama" jawab ibu itu hati-hati. Ibu itu meletakkan paper bag tersebut diatas meja Hermawan.
Satu persatu dibuka isi paper bag tersebut. Hermawan nampak melongo melihat isi paperbag tersebut. Isi paperbag tersebut adalah baju-baju mahal,tas branded bernilai fantastis, sepatu hak tinggi juga bernilai fantastis. " Brengs*k tuh orang...! Apa maunya?" Hermawan membuang barang-barang itu sembarangan hingga berserakan dilantai.
__ADS_1
Hermawan mengambil ponselnya dan mengetik nomor sesuai angka yang tertera di sebuah kartu didalam paper bag tersebut.
" Halo..." terdengar suara seorang pria diseberang sana.
" Apa maumu brengs*k? kenapa kau selalu menggoda istriku dengan mengirimkan barang-barang murahan itu?" hardik Hermawan.
" Aku ingin istrimu....hahaha" Pria itu nampak tertawa tanpa merasa berdosa sekalipun.
" Brengs*k...! bukankah kau sudah mendapatkan Karin hah? aku bahkan sudah merelakan dia denganmu bukan? Kenapa kau masih saja mengangguku hah?" Hermawan nampak menggebrak mejanya. Nampaknya emosinya mulai membakar akal sehatnya.
" Aku sudah tak menginginkannya. Mantan istrimu itu sudah tak menarik lagi bagiku. Sekarang aku ingin sekali mencoba istri mudamu itu ....? sepertinya,ia lebih menggoda ketimbang Karin?" ledek pria itu.
" Awas saja kalau kau berani menyentuh istriku! Akan ku patahkan tanganmu!" Hermawan langsung memutuskan sambungan telepon nya. " Bu....buang semua barang-barang ini ketempat sampah. Jika ada kiriman lagi,segera buang ketempat sampah ketika kurirnya sudah pergi. Jangan biarkan Safia menerima paket dari pria breng*ek itu".
"Ba....ba..baik den" si ibu menjawab dengan terbata-bata karena ketakutan melihat emosi Hermawan yang meletup-letup.
" Bereskan ruangan kerjaku kembali,aku ingin mandi...!" Hermawan pergi kekamar nya untuk membersihkan diri.
Setelah mengurung diri didalam kamar mandi selama 20 menit,akhirnya Hermawan keluar dari kamar mandi dengan memakai handuk kimono putih. Rambutnya basah diusap-usap dengan sebuah handuk kecil. Sejenak ia bercermin dan merapikan rambutnya dengan sisir.
Tak lama kemudian ia melihat ponsel pintar yang tergeletak di atas meja riasnya menyala-nyala. Pertanda ada sebuah pesan masuk. Hermawan melirik pesan itu dengan malas. " Hah,nomor baru..." Hermawan mengacuhkan pesan itu dan pergi duduk disofa sambil menyeruput secangkir kopi.
Namun tanpa disadari nalurinya berkata lain. Nalurimya menuntunnya untuk segera membuka pesan itu. Hermawan kembali menghampiri ponsel pintar nya. Ia mengusap layar ponsel tersebut. Tangannya dengan cekatan membuka isi pesan tersebut.
Betapa kagetnya ia melihat foto istrinya sedang dipeluk oleh seorang pria tak dikenalnya. Wajah Hermawan berubah menjadi merah padam. " brengs*k......!! wanita murahan.....!! enyah kau dari sini.....!!" Hermawan mengacak-acak semua yang berada diatas meja rias depannya.
__ADS_1
πΊπΊπΊπΊ