
" Tapi non,baju nona basah...! ini kesalahan saya,biar saya ganti baju nona" Pria itu nampak memaksa.
" Maaf tidak usah repot-repot,nanti juga kering sendiri" Safia masih kekeh untuk menolak pria ini.
" Baiklah kalau nona tidak mau, perkenalkan... Nama saya Antony Suherman" Pria itu nampak mengulurkan tangannya.
Safia membalas uluran tangan itu" Safia Larasati" Namun Safia nampak merasa aneh karena tangannya perlahan diangkat ke atas dan dicium oleh pria itu. Merasa aneh dan canggung, Safia langsung menarik tangan nya secara paksa. " Maaf,saya harus permisi... Suami dan anak saya sudah menunggu"
Safia langsung pergi begitu saja. Namun saat beberapa langkah nya terhenti karena pria itu memegang lengannya. Safia menoleh " Maaf ada apa lagi?" Safia melepaskan tangan dari Antony.
" Ini kartu nama saya, hubungi saya jika non Safia membutuhkan" Antony menyerahkan sebuah kartu nama. Safia menerimanya dan mengangguk. " Terimakasih...!" Safia pergi meninggalkan Antony yang masih berdiri mematung.
Tiba-tiba datang lah Alex menghampiri bos nya " Boss,gimana...?" Antony masih tak bergeming. Matanya masih setia menatap kepergian Safia. Antony tersenyum simpul.
" Buat wanita itu datang padaku" Kata Antony dengan mata berapi-api.
" Maksud boss..." Tanya Alex tidak mengerti.
" Ayo pergi,bukankah Karin sedang menunggu?"
Antony pergi begitu saja meninggalkan Alex yang masih berdiri. Ia mencoba mencerna kata-kata bos nya. Kalau si bos sudah menginginkan seorang wanita,maka bosnya bisa nekat melakukan apapun untuk mendapatkan wanita itu.
Pasti sudah gila si bos. Kenapa sukanya merebut istri orang sih. batin Alex.
Alex menggeleng-gelengkan kepalanya. Ia mengutuki semua perbuatan bosnya selama ini. Bos nya yang kaya ini tak pernah setia dengan satu wanita. Setiap saat berganti wanita. Sebenarnya ia mempunyai dua istri,namun satu istrinya sudah ia ceraikan. Istri yang tersisa adalah istri hasil perjodohan karena perjanjian bisnis. Seorang pengusaha mengajukan kerjasama bisnis dengan imbalan putrinya harus dijadikan istri Antony. Antony sangat senang dan menerimanya. Karena dalam fikiran Antony adalah uang,uang,dan uang. Dengan banyaknya keuntungan yang ia dapat ia bisa mendapatkan wanita seperti apapun. Sungguh br*ngsek bukan?
****
" Sayang....kenapa lama sekali di kamar mandi?" Hermawan nampak cemas melihat istrinya.
" Lihat tuh mah,mama pergi ke toilet sebentar aja papa udah khawatir banget" celetuk Fanesa.
Safia masih diam seribu bahasa. Ia masih mengusap-usap bajunya yang basah dengan tisu.
" Baju mama basah?" tanya Fanesa cemas.
Safia mengangguk. Bibirnya masih manyun,ia kesal akan tabrakan yang terjadi tadi. Gara-gara tabrakan itu sekarang merubah mood nya secara drastis.
" Sayang,apa yang terjadi? Kenapa bajumu basah?" Hermawan mendekati tempat duduk Safia.
"Aku tadi tabrakan sama orang,lalu dia nggak sengaja numpahin minumannya dibajuku" Kata Safia sambil mengusap-usap bajunya yang masih setengah basah.
__ADS_1
" Ayo kita beli baju ganti untuk mu,kalau kamu masih pake baju ini nanti bisa masuk angin" Hermawan meraih tangan Safia. Safia hanya menuruti keinginan suaminya. Dan tinggal lah Fanesa sendiri direstoran.
Fanesa sedikit kesal,kenapa sekarang keadaan nya jadi berbeda. Ia ingin sekali menikmati waktu nya bersama orang tua nya, sekarang ia malah ditinggalkan sendirian di restoran.
" Sayangnya mama...!"
Fanesa tersentak dari lamunannya. " mm....ma...ma" ucapannya nampak terbata-bata.
" Iya sayang...mama kangen. Mama sengaja nyusulin kamu kesini" Karin langsung memeluk Fanesa dengan erat. Fanesa nampak memejamkan matanya. Merasakan harum tubuh mamanya,mama yang selama ini ia rindukan pelukannya. Mama yang selalu mengacuhkannya.
" Fanes kangen mama..." Fanesa nampak membalas pelukan Karin.
" Sudah-sudah,nanti mama nggak bisa nafas" Karin melepaskan pelukannya.
" Mama udah makan?!"
" Belum sayang..."
" Makan bareng yuk ma," ajak Fanesa.
" Mama nggak enak sama istri baru papa kamu"
" Nggak papa ma, mama Safia baik kok"
" mas....mas...!" Fanesa melambaikan tangannya memanggil seorang pelayan restoran. Pelayan itu datang menghampiri Fanesa.
" iya mbak ada yang bisa saya bantu?" sapa pelayan itu ramah.
" Mama mau pesan apa?"
" Terserah kamu aja sayang..,"
Fanesa menunjuk sebuah gambar makanan dan sebuah gambar minuman di sebuah buku menu. Pelayan itu mengangguk tanda mengerti dan pelayan itu pergi.
" Sayang,mana papa sama mama barumu itu?" kata Karin mulai membuka obrolan kembali.
" Mama fia sama papa ke toko baju,tadi baju mama fia basah. Jadi papa mau belikan baju ganti mama fia" kata Fanesa sambil menikmati makanannya.
Mas Hermawan,begitu perduli nya kamu dengan wanita itu mas. batin Karin.
" Jahat sekali papa kamu sayang," Karin mengelus lengan Fanesa. Mendapati perlakuan seperti itu Fanesa menatap mamanya bingung. " maksud mama, mama baru mu itu yang jahat. Dia sudah bikin papa mu pergi meninggalkan mu sendiri an disini"
__ADS_1
" Fanes sebenernya kesel sih ma, sekarang papa tuh lebih perhatian sama mama fia ketimbang Fanes"
" ooh ya?" Karin berpura-pura kaget.
" Iya, papa sekarang jarang nemenin Fanes. kalau papa pulang kerja yang dicari pertama pasti mama fia. kalau sudah masuk kamar, papa nggak keluar-keluar" kata Fanesa sedih.
" Jelas dong sayang,kan sekarang papa kamu lebih sayang mama fia ketimbang Fanes. Apalagi kalau papa udah punya anak lagi dari mama Fia. Pasti lupa deh sama kamu" hasut Karin.
Mendengar kata-kata Karin, Fanesa menjadi semakin sedih. " Mama tinggal sama Fanes dirumah papa ya" bujuk Fanesa.
" Nggak bisa sayang,mama kan sekarang bukan istrinya papa lagi. Kecuali...." Karin nampak tersenyum licik.
" Kecuali apa ma?"
" Kecuali kamu mau mama kembali sama papa lagi..." kata Karin penuh semangat.
" Tapi ma...." kata Fanesa ragu.
" Kamu mau bantu mama nggak? Biar mama bisa temenin kamu terus...?" bujuk Karin.
" Mau ma...."
Karin melihat dari kejauhan ada Hermawan dan Safia datang menghampiri mejanya.
" Nanti mama jelasin ya..." Karin nampak kesal melihat kemesraan Hermawan dengan Safia. Namun, ia harus tetap berpura-pura bersikap manis didepan Hermawan.
" Hai Rin....,lho kok kamu disini juga?" sapa Hermawan.
" iya,nggak sengaja aku lewat. Soalnya aku liat tadi...Fanesa sendirian duduk disini.jadi aku samperin" Karin berusaha tetap ramah dan baik didepan Hermawan.
" Makan bareng sekalian Rin,aku pesenin makanan ya.." Hermawan nampak mengangkat tangannya memanggil pelayan. Namun dicegah Karin.
" nggak usah mas,tadi fanesa udah mesenin buat aku"
" okey...." kata Hermawan tak mau ambil pusing.
Awalnya Safia duduk disamping Fanesa, berhubung tempat yang ia duduki sekarang ditempati Karin. Akhirnya Safia duduk disamping Hermawan.
Hermawan nampak merapatkan kursinya di samping kursi Safia. Sehingga tubuh mereka saling berhimpitan. Tangan Hermawan merengkuh pinggang Safia. Tangan kanannya menikmati kudapan yang tersuguh dihadapannya.
πΊπΊπΊπΊπΊ
__ADS_1
thank you allπππ₯