
Semenjak Safia hamil,sikap nyonya Sanjaya mulai berubah. Perhatian nya kini tercurah pada menantu barunya itu. Terlebih setelah melakukan pemeriksaan USG diketahui jika janin dalam perut Safia berjenis kelamin laki-laki. Perhatian nyonya Sanjaya begitu luar biasa,bahkan terasa begitu berlebihan.
" fia...makanlah ini" nyonya Sanjaya mengambilkan sayur dan menuangkan ke dalam piring Safia.
" ma....sudah cukup,fia sudah kenyang"
Hermawan hanya tersenyum melihat kelakuan mamanya. Hermawan bahagia kini mamanya mulai bisa menerima Safia dengan baik di keluarga nya.
" Oma...aku ingin jalan-jalan ke mall" tiba-tiba Fanesa menyela keakraban ibu mertua dengan menantu nya .
" Oma nggak bisa nganterin kamu jalan-jalan ke mall. Oma mau nganterin mama fia perawatan ibu hamil"
" Oma....." rengek Fanesa.
" Kamu kan bisanya dirumah belajar,ngapain sih kok jalan-jalan ke mall segala..." gerutu nyonya Sanjaya.
Fanesa hanya cemberut karena penolakan Omanya itu. Ia merasa dongkol karena Omanya lebih perhatian dengan kehamilan ibu sambungnya itu.
" Bersikaplah dewasa,kamu itu bentar lagi punya adek. Jangan bersikap manja terus... seakan-akan kamu anak tunggal dikeluarga ini" nyonya Sanjaya menambahkan.
" Ma.... jangan begitu,jangan terlalu keras pada fanes. 14tahun dia menjadi anak tunggal, sikapnya sekarang seperti ini hanya karena dia belum terbiasa" bela Hermawan.
" Mama hanya ingin dia lebih dewasa,jangan bersikap egois seperti mamanya Karin. Hanya karena menuruti kesenangan nya saja ia sampai meninggalkan keluarganya"
" Mbak.... sudahlah,jangan diteruskan lagi" bibik Vero mengelus bahu Fanesa. Ia tak tega melihat Fanesa yang mulai menangis terisak-isak. " Nanti biar aku saja yang mengantarkan Fanesa jalan-jalan di mall"
" Terserah,aku tak perduli...!" nyonya Sanjaya kembali menatap Safia lembut." Fia .... ayo kita berangkat,pagi ini mama akan mengantarmu senam hamil. Supaya kamu dan bayimu sehat,nanti pas melahirkan bisa lancar"
" Iya ma... fia mau ambil tas dulu dikamar"
" Ayo Mama antar...." nyonya Sanjaya menggandeng menantu kesayangan nya itu kekamar dengan telaten.
" Her ...bujuk mbak yu biar jangan keterlaluan dengan Fanes. Kasihan fanes.... kebencian nya pada Karin tak seharusnya di lampiaskan pada cucunya Fanes. Walau bagaimanapun dia cucunya"
" Bik.... mama selalu saja begitu. jangan terlalu diambil hati. Mama dari dulu terobsesi punya cucu laki-laki. Makanya,mungkin saking happy nya mama seperti itu"
" Tapi jangan keterlaluan pada fanes dong..." tambah bibik Vero.
" Nenek Vero,Fanes nggak papa...." Fanesa mengusap kedua pipinya yang basah. " Benar kata Oma,Fanes harus bersikap dewasa. Mama fia sedang hamil,jadi mama lebih butuh perhatian Oma"
" Yaa ampun fanes,kamu cucu nenek yang pinter...sehat terus ya kamu nak"bibik Vero memeluk Fanesa.
" Ini.... papa hanya punya uang cash ini. Kamu bisa pake jalan-jalan di mall bareng nenek. Nanti kalo uang nya nggak cukup papa transfer ke rekening nenek...." Hermawan mengambil beberapa lembar uang seratusan ribu dan menyerahkan nya pada Fanesa.
" Makasih pa.... ini saja udah cukup.kata mama fia,fanes harus bisa belajar membeli sesuatu yang penting saja. Nggak boleh membeli sesuatu yang nggak penting" Fanesa menerima uang dari papanya.
__ADS_1
" Anak papa memang pintar... sini peluk papa" Hermawan memeluk Fanesa dan menciumi dahi fanesa. " bik...titip Fanesa dulu ya... aku mau ke kantor dulu" Hermawan mencium pipi kanan dan kiri bibik Vero.
Kebetulan Safia dan nyonya Sanjaya menuruni anak tangga dan menghampiri Hermawan.
" Her...." sapa Nyonya Sanjaya.
" Mama sama fia hati-hati ya... " Hermawan mencium pipi nyonya Sanjaya.
" Iya her...."
Safia menghampiri suaminya dan mencium tangan Hermawan. " Mas aku pergi sama mama ya..."
" iya sayang... hati-hati" Hermawan mendekatkan wajahnya ke wajah Safia dan mengecup pipi Safia. " Kamu semakin cantik dan menggemaskan saja sayang..." bisik Hermawan ke telinga Safia.
Safia hanya menunduk malu. Wajahnya merona merah,ia bingung menutupi wajahnya yang memerah didepan mertuanya.
" Sudah-sudah menggombal nya.....! Kau buang-buang waktu saja!" Gerutu nyonya Sanjaya dan langsung menggandeng tangan Safia dan mengajaknya keluar.
Nyonya Sanjaya bersama Safia keluar dengan mobil yang berbeda dengan Hermawan. Hermawan menyetir mobilnya sendiri sedangkan Safia dan nyonya Sanjaya bersama sopir.
Kedua mobil itu keluar dari pekarangan rumah Hermawan secara bergantian. Di pintu Fanesa berdiri dengan perasaan sedih.
" Sayangnya nenek...kita pergi naik ojek online saja ya..." bujuk bibik Vero.
Bibik Vero ikut duduk disamping Fanesa sambil mengotak-atik handphone nya untuk memesan ojek online.
" Nek...."
" Hemmmttt...."
" Apa papa juga Oma nanti akan lebih sayang pada dedek bayi kalo dedek sudah lahir?"
Bibik Vero kaget mendengar kata-kata Fanesa. " Kenapa sayangnya nenek bilang begitu?"
" Oma sekarang berubah setelah mama fia hamil lagi"
" Itu hanya perasaan mu saja sayang...."
" Buktinya papa bilang kalo Oma pengen banget punya cucu laki-laki"
" Ya karena biar bisa gantiin papa ngurus perusahaan"
" Tapi aku nanti kan juga bisa bantu papa ngurus perusahaan...!"
" Sayangnya nenek... dengerin nenek, anak perempuan bukan tak bisa membantu mengurusi perusahaan keluarga. Tapi... anak perempuan jika sudah menikah,dia menjadi tanggung jawab suaminya. Jika suaminya tak mengizinkan dia berkerja,dia harus menuruti. Dosa jika nggak nurut suaminya. Sedangkan anak laki-laki bertanggung jawab dengan istri dan orang tuanya. Bebannya lebih berat dari anak perempuan. Jadi kamu nggak boleh merasa kalo Oma lebih sayang sama adek baru ya..."
__ADS_1
Fanesa hanya mengangguk sambil mencerna semua kata-kata neneknya.
Ting....
Notifikasi aplikasi ojek online berbunyi. Bibik Vero melihat kedatangan sebuah mobil berwarna abu-abu metalik memasuki pekarangan rumah Hermawan.
" Ayo sayang..." bibik Vero menggandeng tangan Fanesa untuk masuk ke dalam mobil ojek online.
" selamat pagi nyonya dan nona. Tujuan sesuai aplikasi ya..." sapa pak sopir ramah.
" iya pak..."
Mobil berwarna abu-abu metalik itu melesat meninggalkan pekarangan rumah Hermawan.
πΉπΉπΉπΉ
Didalam mobil Safia...
" Fia... sebentar lagi acara tujuh bulanan kehamilan mu,mama mau ngadain acara pengajian dirumah bersama anak yatim dan para santri undangan lalu kita Adain juga di hotel"
" Ma... apa itu tidak berlebihan?"
" Nggak sayang,ini kan cucu laki-laki mama penerus keluarga Sanjaya"
" Tapi kan ini cucu kedua mama... fia malu ma,kalau harus dirayakan dengan begitu mewah seperti kemarin"
" kenapa harus malu sayang... eh fia,mama sudah bilang ke Hermawan kalau kamu bisa mengandung anak laki-laki... kamu berhak atas saham perusahaan Sanjaya sebesar 20%. Dan Hermawan setuju..." nyonya Sanjaya begitu bahagia dan antusias.
Tiba-tiba terjadi goncangan cukup kuat dan mobil mengerem mendadak.
Ckiiiitttt......
" Aaaaaaaaaarrrggghh....." teriak nyonya Sanjaya dan Safia bersamaan.
" Pak sopir.... kamu ini bisa nyetir mobil dengan baik nggak sih" Bentak nyonya Sanjaya emosi.
" Maaf nyonya,saya akan keluar mengecek kondisi ban mobil dulu"
.....
πΊπΊπΊπΊ
Bersambung dulu ....πππ
Maafin aku yaa....i love you all π
__ADS_1