INIKAH TAKDIRKU...

INIKAH TAKDIRKU...
55 Dirumah sakit


__ADS_3

Ceklek....


Pintu kamar inap Safia terbuka, Hermawan langsung masuk dan mendekati tempat tidur Safia.


" Sayang...maafkan aku,aku baru bisa menjengukmu dirumah sakit. Tadi ada rapat,aku nggak bisa gitu aja ninggalin rapat" Hermawan menggenggam tangan Safia dan menciuminya.


" Nggak papa mas,dari tadi ada mama dan mas Antony nemenin aku mas..."


" Antony,...?" Hermawan terkejut mendengar nama Antony. Matanya langsung mencari keberadaan pria yang bernama Antony.


" Iya her,tadi pagi Antony yang membantu mama membawa Safia ke rumah sakit. Nggak kebayang gimana tadi pagi,kalau saja Antony tidak membantu mama membawa Safia kerumah sakit" nyonya Sanjaya menghampiri putranya dan mengelus bahunya.


Ceklek....


Pintu kamar mandi terbuka,keluarlah seorang pria tampan mengenakan kemeja biru dongker dengan setelan celana bahan. Ia sedang merapikan kemejanya dengan penuh hati-hati.


Semua mata tertuju pada keberadaan pria itu. Tak terkecuali Hermawan. Didalam hatinya bergemuruh antara kebencian dan emosi yang luar biasa. Tangan Hermawan mengepal keras,hingga terlihat urat-urat nya keluar.


" Sudah selesai Antony...." sapa nyonya Sanjaya lembut.


" Iya bibi...." Antony tersenyum ramah. Ia menghampiri nyonya Sanjaya dan Hermawan. " Sepertinya saya harus segera pergi kekantor,banyak sekali pekerjaan yang harus aku selesaikan bik" Antony melirik Hermawan sambil tersenyum samar.


" Kamu memang yang terbaik, terimakasih ya sudah membantu bibik membawa Safia ke rumah sakit. Nggak tau apa jadinya kalo fia nggak segera di bawa kesini" raut wajah nyonya Sanjaya tiba-tiba berubah sendu.


" Tentu bibik, sesama manusia memang harus selalu tolong menolong bukan? Apalagi masih berkaitan dengan sahabat ku..." Antony memandang Hermawan sambil tersenyum.


" Iya... terimakasih...!"


" Bibik jangan sungkan kalau butuh sesuatu jangan sungkan menghubungi ku bik" Antony mengelus bahu nyonya Sanjaya.


" Iya..."


" Terimakasih ya mas Antony..."


" Iya fia..." Antony mengedipkan satu matanya pada Safia.


Hermawan terkejut melihat tingkah Antony. Sedangkan Safia hanya tersenyum manis. Dada Hermawan semakin bergemuruh menahan emosi yang sudah berada di ubun-ubun.


" Aku pamit dulu ya bik,fia.... Jaga dirimu baik-baik. Kalau Hermawan tidak bisa menjaga mu,katakan padaku. Aku akan menjemputmu..."Antony memegang lembut tangan Safia. Lalu pergi menghampiri Hermawan. " Pergi dulu ya awan...." Antony menepuk bahu Hermawan lembut lalu pergi keluar kamar inap Safia.

__ADS_1


Antony keluar dari kamar inap Safia dengan perasaan bahagia. Ia berhasil membuat sahabat nya itu kesal. Rasanya seperti ingin bersorak atas keberhasilannya itu.


" Hemmmt. . ..tinggal selangkah lagi!" ujarnya sambil tersenyum devil.


" Tony.... tunggu...!!"


Terdengar suara begitu familiar ditelinga nya. Antony berhenti melangkah dan membalikkan tubuhnya. Benar saja, sahabatnya itu menyusulnya ke lorong rumah sakit.


" Apa kau ingin mengucapkan terimakasih padaku awan..." sindir Antony.


" Cih...tak sudi aku mengucapkan kata-kata itu padamu"


" Lalu....? apa kau berniat berbaikan padaku...?"


" Kau....!" Hermawan mengepalkan tangannya erat. ingin sekali ia menghantam wajah sahabatnya itu dengan bogemnya.


" Kalau tak ada yang harus dibicarakan,aku pergi...! Kau buang-buang waktu saja...!" Antony membalikkan tubuhnya dan melanjutkan langkahnya.


" Tony,kau boleh melakukan apapun. Tapi jangan pernah lagi menyentuh istriku...!"


" Hahaha...." Antony melambaikan tangannya tanpa melihat wajah kesal Hermawan. Ia terus berjalan menyusuri lorong meninggalkan Hermawan. Hatinya begitu bahagia membuat emosi sahabatnya itu meledak-ledak.


🌹🌹🌹🌹


Seketika tubuhnya lemas,tangannya menggapai dinding. Ia berjalan tertatih-tatih menghampiri tempat duduk yang berada dilorong kamar rumah sakit. Ia mengusap wajahnya dengan kasar.


" Aku lelah Antony....kenapa kau selalu saja menggangguku,hah?"


Tak terasa matanya mulai berkaca-kaca. Ia benar-benar tak sanggup jika kehilangan istrinya kembali. Dulu memang ia sudah merelakan Karin yang jatuh dalam pelukan Antony. Tapi entah mengapa ia tak rela kalau Safia pun begitu. Wanita yang belum setahun menjadi istrinya ini sangat istimewa baginya.


Entah sehancur apa ia kelak jika Antony benar-benar merebut Safia dari nya. Terlebih Safia sekarang sedang mengandung bayi laki-laki. Bayi yang selalu dibanggakan seorang ayah. Bayi yang akan menjadi penerus semua usahanya.


Hermawan tersentak, seseorang telah menyentuh bahunya. Hermawan mendongakkan kepalanya. " Ada apa ma...?"


" Apa kau baik-baik saja?"


Hermawan segera mengusap air mata yang merembes di sudut matanya. " Iya,aku baik-baik saja ma..."


" Pergilah ke toilet untuk cuci muka. Dan carikan Safia rujak buah. Cucuku ingin makan itu"

__ADS_1


Dengan malas Hermawan berdiri." Rujak buah? Dimana aku harus mencarinya sore-sore begini ma?"


" Entahlah,yang jelas jangan kembali sebelum kau mendapatkan nya..." nyonya Sanjaya pergi begitu saja meninggalkan Hermawan yang berdiri mematung.


Hermawan kebali mengusap wajahnya dengan kasar. Sungguh, baginya kehamilan safia kali ini sangat merepotkan. Safia sering memintanya dibelikan makanan dijam-jam yang tidak sewajarnya. Pernah ia malam-malam berkeliling Surabaya hanya untuk mencari buah naga. Dan yang lebih konyolnya penjualnya harus kakek-kakek. Ia ngambek seminggu dengan Hermawan karena Hermawan tak memenuhi keinginan nya.


Sungguh kasihan mas Hermawan...


🌹🌹🌹


Dikamar inap Safia...


" Ma...apa mas Hermawan benar-benar membelikanku rujak yang aku inginkan?!"


" Tentu sayang....apapun untuk mu"


"ooh...begitu. Syukurlah...."


" Jangankan rujak buah seporsi,segerobaknya pun anak mama mampu membelikannya untukmu"


" mama...." wajah Safia merona merah. " ma,dimana mas Hermawan bisa mendapatkan rujak jam segini? Besok aja deh ma... fia mau telpon mas Hermawan dulu" Safia mencoba meraih handphone nya di atas nakas.


" husstt....nggak usah!" nyonya Sanjaya menangkis tangan safia. "Biarin aja dia nyari rujak sampe dapet. Mama pengen tau kesungguhan cintanya padamu...."


" seorang wajib memenuhi kebutuhan istrinya, terlebih istrinya yang sedang hamil" senyum menyeringai muncul di wajah nyonya Sanjaya. " Ingat fia,anak mu itu laki-laki...ia penerus kekayaan Sanjaya Group. Ia berhak mendapatkan apa yang iya mau" nyonya Sanjaya berjalan ke kasur kecil di pojok kamar. Nyonya Sanjaya merebahkan tubuhnya disana,lalu memejamkan matanya.


Mata Safia menatap jendela kaca yang terbuka gordennya. Menampakkan pemandangan taman yang mulai gelap. Lampu-lampu taman mulai berkerlip indah menghiasi taman malam itu.


Pukul 01.00 Safia merasa tangannya kesemutan karena ada sesuatu yang berat menindih tangan itu. Ia mulai membuka matanya. Ia melihat suaminya tertidur pulas bertumpu pada tangannya.


Pukul 19.30 dokter datang mengecek kondisi Safia,suster memberikan 2butir obat untuk diminum Safia. Entah mengapa setelah itu Safia merasa kantuk yang luar biasa. Niat hati ingin menunggu kepulangan suami malah ia tertidur.


" Mas....maafkan aku yang sudah menyusahkan mu..."gumam Safia lirih. Tangannya yang lembut mulai mengusap rambut Hermawan dengan lembut. " Kamu pasti lelah mas..."


Hermawan merasa ada sesuatu yg menggelitik dikepalanya secepat kilat tangan nya meraih tangan Safia.


" Mas....!"


💗💗💗💗

__ADS_1


Terimakasih semua.... maaf telat up,,


soalnya syibuk...😂😂😂


__ADS_2