
" Mas...!" Safia terkejut karena Hermawan tiba-tiba mengenggam tangannya.
Kepala Hermawan langsung menoleh kearah Safia. " Apa yang terjadi sayang?"
Safia mengelus dadanya dengan tangan yang tertancap selang infus." Aku kaget banget mas...."
" Jangan gerak-gerakan tangan itu sayang..." Hermawan mengarahkan tangan yang tertancap infus untuk tidak berpindah posisi. " Letakkan disana,tepat disamping mu...! Jangan banyak bergerak" Hermawan mengelus tangan yang satunya dan mengecupinya.
" Mas hentikan,disini ada mama...!"
" Aku merindukan mu sayang..."
" Masak...?"
" Iya..., lihatlah aku bawakan rujak yang kamu pesan sayang" seraya menunjuk bungkusan diatas nakas.
" kamu benar-benar membawakan nya untuk ku mas?"
"iya,demi kamu dan bayi kita..." dengan gerakan cepat Hermawan mencium perut Safia lalu mengelus nya dengan lembut.
Mata Safia mulai berkaca-kaca " maafkan aku mas...."
"Sayang kamu kenapa bersedih...." Hermawan mengusap pipi Safia lembut.
" Aku udah nyusahin kamu...."
" Enggak sayang,itu semua nggak susah buat aku, jangan nangis dong....nanti nggak cantik lagi"
" Ehhmmmmtt.....mas,aku bukan Fanesa" Safia semakin kesal lalu mencubit lengan Hermawan.
" Aaahh....sedap!" walaupun sempat meringis karena kesakitan,namun Hermawan mencoba merubah ekspresi wajahnya seakan-akan menikmatinya.
" Mas...." Safia memukuli lengan Hermawan dengan tangan kanannya.
" Aaaaww....mantap!" Hermawan menangkap tangan Safia yang memukulinya dan menciumnya. " jangan lukai tangan mu untuk memukuli ku sayang"
" Habis kesel aku sama mas ...!"
" Tapi sayang kan...?" Hermawan tersenyum menggoda.
Safia hanya mengangguk lemah. Ia mulai melirik bungkusan yang dibawa Hermawan diatas nakas.
" Kamu mau makan?"
Safia hanya mengangguk.
" ini sudah malam. Apa nggak papa?"
__ADS_1
Safia mengangkat kedua bahunya.
" Jangan ya... nanti asam lambung kamu naik lagi. Aku simpen di kulkas aja ya... kamu makan besok siang aja"
Safia akhirnya menurut.
" Kamu ingin sesuatu? "
Safia kembali menggeleng.
" misalnya aku pijit gitu?"
Safia akhirnya tersenyum.
" Tidurlah... aku akan memijit kakimu sayang..."
Safia mengangguk,namun ada sesuatu yang mengganjal difikirannya. " Mas,aku boleh tanya sesuatu padamu?"
" Tentu sayang...apapun itu pasti akan ku jawab"
" Apa hubungan mas dengan mas Antony masih tidak baik?"
" Sebenarnya..." Hermawan menghela nafas nya panjang. " aku sudah lelah bermusuhan dengan Antony. Setiap perbuatannya aku tidak pernah membalasnya. Tapi dia selalu saja mengangguku. Setelah kejadian itu... apapun yang menjadi milikku selalu ia rebut. Proyek,bahkan istriku..."
Safia mengelus lengan Hermawan lembut. " Sampai kapanpun aku nggak akan meninggalkan mas"
Safia meremas tangan Hermawan. " Cinta yang tulus itu tidak diukur dari berapa banyak harta yang dimiliki pasangan kita mas. Cinta akan bertahan didalam kondisi seburuk apapun. Karena cinta yang tulus...tak akan surut jika keduanya saling menguatkan dan mengasihi"
Hermawan menatap mata Safia lekat. " Apa kau tau,Antony sudah gencar mendekatimu sejak kita pindah ke sini. Bahkan dia mengirimkan hadiah-hadiah mahal untuk mu. Tapi aku menyuruh bibik membuangnya sebelum kamu mengetahuinya. Apa kamu masih mau bertahan dengan ku?"
" Tentu,kenapa tidak... Asal bukan kamu sendiri yang meninggalkan aku mas"
" Tapi dia akan melakukan apapun untuk merebutmu dariku sayang..."
" Mas... percayalah,aku akan menjauhi pria itu. Kalau perlu aku tidak akan keluar rumah agar pria itu tidak ada kesempatan untuk menemui ku mas"
" Kamu serius?"
Safia mengangguk.
" Memang sebaiknya kamu dirumah saja sayang. Itu lebih baik untuk mu dan anak kita" Hermawan mengelus perut Safia lembut.
" Iya mas,aku janji...!"
" Makasih ya sayang..."
" Iya mas" Safia merenung kembali. sebenarnya ada yang ingin ia ketahui apa sebab permusuhan suaminya dengan Antony. " Sebenarnya apa sih yang membuat dua sahabat saling bersitegang?"
__ADS_1
" Semua karena Emily..., Dulu Antony memiliki pacar yang bernama Emily. Antony sangat mencintai wanita itu. Hingga akhirnya Antony bertunangan dengan Emily. Setelah pertunangan Antony,Emily ketahuan hamil. Dan Antony merasa kalau anak yang dikandung Emily bukan anaknya. Antony menuduhku yang menghamili Emily hanya karena dulu sewaktu kuliah Emily pernah bercerita kalau ia menyukai ku". Hermawan menghembuskan nafas nya panjang.
" Lalu mas..."
" Antony sempat menghajarku karena tuduhan palsunya itu. Emily menyuruhku ke apartemen nya. Ia minta maaf karena Antony menghajar ku tanpa mencari tahu kebenarannya. Emily bercerita kalau hubungan nya sedang tidak baik dengan Antony. ia bimbang harus meneruskan pertunangan itu atau tidak. Setelah aku pulang, keesokan harinya Emily ditemukan sudah tidak bernyawa di bathtub. Antony melaporkan ku kepolisi. Mama Sanjaya jatuh sakit" Hermawan terisak-isak.
Safia ikut menangis mendengar cerita suaminya.
Hermawan berusaha kuat dan mengusap air matanya. ia kembali mendongakkan kepala dan melanjutkan ceritanya. " Antony menuduhku kalau aku yang menyebabkan Emily meninggal. Dengan bukti cctv apartemen ia berusaha menjebloskan aku ke penjara. Namun takdir berkata lain. Kebenaran tetap akan menang. Namun tetap saja Antony tidak bisa terima itu semua".
" Mas her tau siapa pria yang menghamili Emily?"
" Tau... tapi entahlah. Pria itu hilang bagai ditelan bumi setelah berita kematian Emily menyebar"
" Lalu... bagaimana nama baik mas Hermawan setelah itu?"
" Tentu saja hancur..." Hermawan tersenyum miris. " Beberapa cabang perusahaan ayah harus tutup karena bangkrut. Bagitu sulit bangkit setelah kejadian itu. Lalu mama mengenalkan aku dengan karin. Aku mulai punya semangat hidup kembali. Karin selalu menemani hari-hariku,hingga tanpa ku ketahui Antony mendekati Karin diam-diam. Dan... entahlah apa saja yang mereka lakukan dibelakang ku"
" Mas...sudahlah,jangan berlarut-larut dalam kesedihan. Yang penting adalah hari ini dan juga esok. Jadikanlah hari kemarin sebagai pelajaran"
" Cerdas sekali istri mas..."
" Aku begini karena mas...."
" Tidurlah,ini masih pukul 1 malam"
" Mas juga tidur..."
" Iya,aku tidur disamping kamu sayang..." Hermawan menaikkan selimut Safia ke dada Safia. Hermawan tau istrinya itu tidak begitu tahan dengan dinginnya AC. Namun ia enggak memarikan AC nya karena takut mamanya tidak bisa tidur dengan nyenyak.
" Mas, biarkan AC nya tetap menyala. Kasihan mama pasti sangat lelah. Aku nggak apa-apa mas..."
Hermawan mengambil selimut lagi di lemari dan menyelimuti tubuh Safia lagi. " Begini lebih hangat kan..." kata Hermawan sambil tersenyum.
Safia mengangguk lalu memejamkan matanya.
Hermawan mengecup kepala Safia lembut. "Tidur nyenyak sayang..."
Fikiran Hermawan melayang jauh. Ia menatap wajah Safia,wanita yang kini menjadi istrinya. Karena kejujuran dan kedermawanan Safia membuat hatinya luluh. Orang yang rela membantu orang lain padahal dirinya sendiri tidak berkecukupan. Dan kesederhanaan nya benar-benar membuat Hermawan geleng-geleng kepala.
" Diluar sana banyak wanita yang menginginkan hidup bermewah-mewah, Tapi kamu...." Hermawan tersenyum,lalu ia mengelus lembut kepala Safia.
" Nggak akan kubiarkan siapapun menganggu rumah tangga kita, termasuk Antony....!"
πΊπΊπΊπΊπΊ
thanks n i love you all
__ADS_1