INIKAH TAKDIRKU...

INIKAH TAKDIRKU...
91 Surabaya


__ADS_3

" Bohong...! kau ingin menjebak dan menyakiti anak ku lagi kan?!"


" Tidak tante, aku benar-benar sudah menemukan Safia" Antony menunjukkan foto Safia yang sedang menyapu halaman rumah.


Hermawan begitu terkejut dengan kondisi Safia. Seharusnya Safia melahirkan akhir bulan ini, tapi kenapa perutnya sudah rata?


" Apa yang terjadi dengan anak ku?"


" Anakmu sudah lahir...!"


" Lahir di mana cucuku? Apakah cucuku dirawat dirumah sakit terbaik disana?"


" Tony tidak tau tante....!"


" kamu memang kurang *jar! tidak bertanggung jawab! kamu memang berengs*k...!" nyonya Sanjaya mencoba menyerang Antony.


" Ma... sudahlah, mama sedang sakit! jaga emosi mama...!"


" Aku nggak menyangka kalo Tony bisa sejahat itu padamu awaan...!" nyonya Sanjaya menangis di pelukan Hermawan.


" Sudahlah ma... semua sudah berlalu, awan nggak mau mengingat semua itu lagi!"


Hermawan merasa sedih melihat kondisi mamanya yang sakit. Beberapa hari ini nyonya Sanjaya jatuh sakit. Tepatnya semenjak kebenaran Fanesa terungkap dan Antony membawa Fanesa pergi.


" Awan, ayo kita pergi sekarang...!"


" Ma, awan pergi dulu ya...!"


" Tidak, mama ikut...!"


" Ma, tubuh mama masih lemah. Mama dirumah saja ya...!"


" Nggak...! Mama ikut...!"


Akhirnya Hermawan tidak bisa menolak keinginan mamanya. Sebenarnya Hermawan tidak tega melihat mamanya. Namun sebenarnya nyonya Sanjaya masih tidak percaya pada Antony. Nyonya Sanjaya takut kalau Antony diam-diam ingin menyerang Hermawan. Makanya nyonya Sanjaya nekat untuk ikut bersama mereka.


Dalam perjalanan, nyonya Sanjaya hanya bisa tertidur. Selain karena usia yang sudah tidak muda lagi, nyonya Sanjaya juga sedang dalam keadaan tidak sehat. Itu yang membuat nyonya Sanjaya terasa mudah mengantuk.


" Apa disini tempatnya?" Hermawan merasa aneh dengan tempat mobil Antony berhenti. Disitu tidak terlihat ada rumah warga, yang terlihat hanya pohon bambu yang menjulang di kanan dan kiri jalan.


" Iya, tapi kita harus berjalan masuk kedalam. Rumahnya ada di dalam sana...!" Antony menunjuk sebuah gang diantara pohon-pohon bambu.


Sebenarnya Hermawan merasa ragu, namun ia melihat Antony sudah turun dari mobil. Hermawan akhirnya ikut turun. Nyonya Sanjaya ikut turun dibantu Hermawan.

__ADS_1


" Mama sebaiknya dimobil saja!"


" Nggak, mama ikut...!"


" Ayo, rumahnya tidak jauh dari sini...!"


Antony berjalan cepat menuju rumah yang dituju. Sedangkan Hermawan harus berjalan perlahan sambil menggandeng nyonya Sanjaya. Tubuh yang lemah karena sakit, membuat nyonya Sanjaya kesulitan berjalan dengan cepat.


" Permisi....!"


" Ya..." keluarlah bu Lastri. Setelah melihat tamu yang datang adalah Antony, Bu Lastri langsung emosi. " Ngapain kamu kesini?!"


" Saya dan keluarga Safia ingin menjemput safia...."


Bu Lastri mencebikkan bibirnya mengejek. " Sandiwara apa lagi yang kamu lakukan?"


" Saya tidak sedang bersandiwara Bu, tolong tunjukkan dimana Safia sekarang!"


Bu Lastri melipat tangannya didada. " Kalaupun aku tau dimana Safia, tidak akan diberitahu dimana keberadaannya!"


" Eneng opo buk...? kok rame-rame?" ( ada apa buk...? kok ramai-ramai?) keluarlah pak Hasan dari dalam rumah.


" Iki loh pak... enek wong jahat teko rene maneh!" ( ini lo pak.... ada orang jahat datang kesini lagi!)


" Pergi kau dari sini...!" Bentak pak Hasan.


" Tolong jangan emosi, saya Hermawan suami Safia yang sebenarnya" Hermawan datang sambil menuntun nyonya Sanjaya.


" Dimana cucu saya...." nyonya Sanjaya mulai menangis sesenggukan karena melihat pak Hasan yang mengacungkan celurit.


Hermawan mengeluarkan dompet dari sakunya. Ia mengambil KTP dan menyerahkannya pada pak Hasan. Pak Hasan menerima KTP Hermawan dan membaca sekilas nama dan domisili KTP tersebut. Pak Hasan lalu menurunkan celuritnya dan menatap Bu Lastri.


" Piye pak?" ( bagaimana pak) Bu Lastri menatap pak Hasan tidak mengerti.


" Dia suami fia...!" pak Hasan menatap nyonya Sanjaya bergantian " Anda siapa?".


" Saya mertua Safia...! Dimana mantu dan cucu saya?!"


" Sudah pergi...!"


" Apa...?" kata Hermawan dan Antony bersamaan.


Bruuukk....

__ADS_1


Akhirnya nyonya Sanjaya tersungkur tidak sadarkan diri. Hermawan segera mengangkat tubuh mamanya. Pak Hasan menyarankan agar nyonya Sanjaya dibawa masuk kedalam. Dan nyonya Sanjaya akhirnya dibawa masuk ke dalam.


Pak Hasan menceritakan kronologi bagaimana pak Hasan bisa bertemu Safia hingga bagaimana Safia tinggal dirumahnya. Hermawan menunduk menahan tangisnya. Betapa sedihnya ia mengetahui kehidupan anak dan istrinya yang menderita.


Antony mendekati Hermawan dan mengelus punggung nya. " Maafkan aku awan...!"


Hermawan berdiri dan menatap tajam Antony. Dengan spontan Hermawan melayangkan bogem mentah ke wajah Antony. Tanpa persiapan, Antony pun jatuh tersungkur di tanah. Antony mengusap ujung bibirnya yang berdarah. Antony tersenyum lalu berdiri kembali.


" Lakukan apa yang kamu inginkan! Asalkan kau mau memaafkan ku...!" Antony memejamkan matanya, ia bersiap untuk menerima pukulan dari Hermawan kembali.


Hermawan sudah mengangkat tangannya ingin memukul Antony, namun tertahan diudara. Hermawan menghela nafasnya begitu berat. Dadanya begitu sesak dan pedih. Rasanya begitu sulit dan rumit.


" Aaaaarrrrrghhh.....!" Hermawan berteriak sekuat tenaga.


Merasa akan diserang, Antony semakin merapatkan matanya. Ia siap menerima pukulan yang akan dihadiahkan padanya. Bahkan ia siap jika Hermawan akan membunuhnya. Namun berbeda dengan apa yang ia fikirkan. Tubuhnya terasa hangat, ia pun memberanikan diri untuk membuka matanya. Ternyata bukan pukulan yang ia terima, melainkan pelukan.


Antony begitu terkejut melihat perlakuan Hermawan. Pria yang ia sakiti kini malah memeluknya. Antony membalas pelukan Hermawan. Kini keduanya sama-sama menangis.


" Ton...aku sudah tidak sanggup lagi bermusuhan dengan mu ton, aku menyerah...!!"


" Maafkan aku awan, maafkan aku yang tidak pernah mau mendengarkan mu...!"


Keduanya saling mengungkapkan perasaannya masing-masing. Permusuhan yang terjalin selama bertahun-tahun kini berakhir sudah. Keduanya sudah saling meminta maaf dan merendahkan ego masing-masing untuk melupakan semua kesalahan-kesalahan yang pernah mereka lakukan.


Didalam rumah, nyonya Sanjaya tersenyum lega melihat keduanya sudah berbaikan. Setelah lama berbincang dengan keluarga pak Hasan dan Bu Lastri, Antony dan Hermawan akhirnya berpamitan. Sebelum berpamitan, Antony dan Hermawan menyerahkan sejumlah uang pada pak Hasan.


Awalnya pak Hasan menolak. Namun karenya bujukan nyonya Sanjaya, akhirnya pak Hasan mau menerima uang tersebut. Kini rombongan Hermawan, nyonya Sanjaya dan Antony kembali kesurabaya. Berharap jika Safia sudah sampai dirumah.


Namun Harapan Hermawan tidak sesuai dengan kenyataan. Setelah sampai di rumahnya, Hermawan tidak juga menemukan istri dan anaknya. Kekecewaan terlihat sekali di wajah Hermawan. Antony mencoba menenangkan Hermawan. Namun tetap saja Hermawan tidak bisa tenang.


Siang berganti sore, sorepun menjadi malam. Safia tidak kunjung sampai di rumah Hermawan. Hatinya semakin gelisah, ia benar-benar takut terjadi sesuatu pada anak dan istrinya. Hermawan mengambil kunci mobil dan jaketnya.


" Awan... mau kemana?"


" Mencari istriku...!"


πŸ’“πŸ’“πŸ’“πŸ’“πŸ’“πŸŒΊπŸŒΊπŸŒΊπŸ’“πŸ’“πŸ’“πŸ’“


***kejujuran dan kesetiaan memang penting dalam menjalani sebuah hubungan, namun keterbukaan dan saling percaya juga sangat penting.


Jagalah pasanganmu dengan baik dan jangan beri kesempatan orang lain masuk dalam kehidupan mu....!!


Siapapun pasangan mu saat ini, dialah yang terbaik untukmu πŸ’—

__ADS_1


i love you all 😘***


__ADS_2