INIKAH TAKDIRKU...

INIKAH TAKDIRKU...
79 Gerebek villa Antony


__ADS_3

" Hei....kamu....!"


Safia terkejut dan menghentikan langkahnya. Tangannya mulai gemetar, apakah usahanya untuk kabur akan gagal?


" Hei,Bu Meri...! Mau kemanakah dinihari seperti ini?"


Seorang pria menyapa Safia, sepertinya pria itu mengira Safia adalah Bu Meri.


Safia berbalik badan, Safia pasrah dengan apa yang terjadi selanjutnya.


" Ooh,mau kepasar ya?"


Safia sadar kalau pria itu masih mengira kalau Safia adalah Bu Meri. Safia segera mengangguk dengan cepat.


" Pagi-pagi gini?"


Safia mengangguk kembali.


" Bukannya ini masih terlalu pagi?"


Safia mengangguk kembali, lalu ia sadar akan anggukannya membuat pria penjaga itu heran. Safia kemudian menggeleng kan kepalanya.


Merasa sedikit aneh dengan sikap Bu Meri pria itu berlalu begitu saja. Seperti nya pria itu sedang membuat kopi didapur.


Safia melanjutkan langkahnya kembali mendekati sebuah pintu yang diyakini pintu keluar. Safia segera membuka gembok pintu itu dengan kunci yang ia bawa. Safia sedikit kesulitan membuka gembok karena tangannya gemetar.


Setelah 10 menit lamanya Safia berusaha membuka gembok, akhirnya gembok itu pun terbuka dan Safia segera keluar dari villa Antony. Saking gugupnya Safia hampir terjatuh ketika berjalan setengah berlari.


Yaa Allah,tenangkan hati hamba. Hamba ingin kabur dari villa mas Antony,tolong ridhoi langkah hamba. Batin Safia.


Safia terus berjalan tak tentu arah. Safia berharap segera bertemu dengan sebuah mushola agar ia tetap bisa melaksanakan sholat subuh dan mencari bantuan pada warga sekitar.


Safia sudah melepas seragam Bu Meri yang ia kenakan. Namun ia memakai kembali sweater Bu Meri. Udara pagi yang begitu dingin dan menyusuk tulang. Tangan Safia mulai mengkerut karena kedinginan. Semalam hujan deras, sehingga membuat udara sedikit berkabut dan tanah nya pun masih basah. Bahkan masih tertinggal kubangan air ditepi jalan.


" Sayang,kita harus kuat...!" suara Safia mulai bergetar karena kedinginan.


Kaki Safia mulai pegal,rasanya ia sudah tidak sanggup lagi berjalan. Safia mulai menitikkan air mata,antara menyesal kabur tapi sudah terlanjur. Ia tidak tau kalau villa Antony benar-benar terpencil. Dengan susah payah ia mulai mengumpulkan tenaga untuk berjalan lagi.


Sesekali Safia mengusap perutnya yang kram. Walau sambil berjalan tertatih-tatih ia harus melanjutkan perjalanannya. Sayup-sayup ia mendengar suara gemericik air.


Sepertinya ada sungai didekat sini. Batin Safia.


Safia melihat dari arah belakang ada cahaya mobil dari kejauhan secepat kilat ia masuk ke semak-semak agar tidak tertangkap anak buah Antony lagi. Tanpa melihat jalan Safia terus berjalan memasuki semak-semak.


" Aaaaaaaaaarrrggghh....." teriak Safia.

__ADS_1


Karena rumput-rumput yang ia pijaki sedikit licin karena terkena air hujan. Akhirnya Safia terpeleset dan tidak sadarkan diri.


πŸŒΊπŸŒΊπŸ’—πŸ’—


Pagi hari dirumah Hermawan


" Kamu mau kemana her?"


" Menyusul Safia dirumah Antony"


" Jangan gegabah lagi, tunggu mama menghabiskan sarapan lalu kita berangkat bersama"


" Ma...!"


" Habiskan sarapanmu dulu...!"


" Oma, Fanes boleh ikut nggak?" walaupun sedikit takut,akhirnya Fanesa memberanikan diri untuk bertanya pada nenek nya.


" Fanes dirumah saja dengan bunda, doakan Oma dan papa bisa membawa mama pulang kerumah ini lagi"


Fanesa hanya mengangguk.


Setelah selesai sarapan akhirnya Hermawan berangkat bersama nyonya Sanjaya. Perjalanan yang ditempuh hampir dua jam lamanya. Sebelum sampai di villa Antony, nyonya Sanjaya meminta sopirnya untuk mampir kekantor polisi terdekat.


" Ma, untuk apa kita kesini?"


Nyonya Sanjaya keluar dari mobil yang dikendarai bersama Hermawan. Hermawan hanya bisa pasrah dengan keinginan mamanya. Dia hanya bisa berdoa semoga tidak terjadi apapun pada Safia dan anaknya.


Setelah 20menit menunggu,nyonya Sanjaya keluar bersama beberapa orang polisi. Polisi tersebut mengendarai mobil yang berbeda. Mobil polisi mengikuti laju kendaraan yang dikendarai Hermawan bersama ibunya.


" Ma,kenapa bawa polisi?"


" Biar aman...!"


" Ma,gimana kalau Antony tau lalu mereka memindahkan Safia ketempat yang tidak kita ketahui?"


"Kan ada polisi,apa gunanya mereka kalau kita harus susah payah mencari"


" Ma, ini masalah nyawa anak dan istriku ma!"


" Apa kamu lupa secinta apa Antony pada istrimu? Dia bahkan selalu mengirimkan barang-barang mewah pada istrimu setiap hari! Apa kamu lupa?!" Nyonya Sanjaya menatap Hermawan tajam.


Hermawan langsung melemah. Ia sadar betul sepertinya Antony sangat menginginkan Safia.


" Darimana mama tau?"

__ADS_1


" Nggak penting darimana mama tau! Yang jelas, Antony tidak akan menyia-nyiakan wanita yang ia idam-idamkan sejak lama"


Dalam perjalanan Hermawan hanya bisa diam. Hatinya sakit ketika mengetahui Antony sangat menginginkan Safia istrinya. Lebih tepatnya menginginkan semua wanita disampingnya.


30menit belalu,akhirnya mobil Hermawan dan mobil polisi sampai di depan villa Antony. Villa itu dijaga oleh beberapa pria bertubuh kekar. Hermawan dan beberapa polisi sempat dihadang pria penjaga tersebut. Dengan sigap polisi langsung mengacungkan pistol mereka,dan para penjaga itupun mundur.


Hermawan,ibunya dan beberapa polisi itu akhirnya masuk ke villa Antony. Villa Antony cukup besar dan mewah, nyonya Sanjaya sempat takjub dengan kemewahan villa Antony. Namun Hermawan langsung nyelonong masuk kedalam villa Antony.


" Hei...! Lancang sekali kamu masuk kevilla ku tanpa ijin!" Antony sedikit terkejut dengan keberadaan Hermawan yang tiba-tiba masuk kedalam villa nya.


Beberapa polisi pun berjajar dibelakang Hermawan sambil mengacungkan pistol mereka masing-masing. Satu polisi maju sambil menyerahkan secarik kertas pada Antony.


" Maaf tuan Antony, ijin kan kami menggeledah rumah anda atas laporan saudara Hermawan dan nyonya Sanjaya karena anda telah membawa istri sekaligus menantu nyonya Sanjaya secara paksa"


Antony tersenyum, lalu Antony meremas kertas itu dan membuang nya di lantai.


" Apa buktinya aku membawa istrinya?"


" Rekaman cctv kafe belarosa tuan"


Salah seorang anak buah Antony tiba-tiba datang dari belakang dan membisiki Antony. Wajah Antony memerah,tangannya mengepal kuat.


" Jadi kalian semua mau menggeledah vila ku?"


" Iya benar tuan"


" Silahkan...! Silahkan anda cari sampai dapat istri anda tuan Hermawan Sanjaya. Jika tidak ada istri anda dirumah saya,saya akan menuntut Anda balik!" Antony berkata dengan penuh emosi sambil menunjuk-nunjuk Hermawan.


" Eh,Antony... semua masih bisa kita bicarakan baik-baik bukan?" nyonya Sanjaya mencoba membujuk Antony.


" Maaf bibik,sudah tidak ada kata baik-baik untuk kami!"


Hermawan dan beberapa polisi akhirnya menyusuri seluruh ruangan yang ada di villa Antony. 30 menit berlalu Hermawan tidak juga menemukan keberadaan Safia.


" Dasar berengs*ek kau!" Hermawan langsung menyerang Antony. Hermawan mendorong Antony hingga terjatuh dan melayangkan beberapa tonjokan kewajah Antony. " Dimana kau sembunyikan istriku hah?"


" Aaargh....her" nyonya Sanjaya langsung berlari mendekati Hermawan dan berusaha memisahkan perkelahian Antony dengan Hermawan.


Dibantu polisi dan anak buah Antony,akhirnya Hermawan dan Antony bisa dipisahkan. Wajah Antony babak belur,tidak hanya itu. Bahkan keluar darah dari ujung bibirnya.


" Dimana kau sembunyikan istriku!"


🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺


*Jangan lupa ❀️ nya yaa....😘😘😘

__ADS_1


Dan tinggalkan jejak mu😘😘😘*


__ADS_2