
Hembusan embun dipagi hari menerpa kerudung Safia. Kerudung model pasmina menari-nari mengikuti irama angin. Si empunya pun begitu menikmati suasana pagi ini.
Kaki yang putih bersih semakin lama semakin hangat terkena pancaran sinar matahari. Wajah yang polos tanpa make-up,semakin lama semakin memerah.
" Mas,aku masuk kerumah dulu. Mau mandi,udah keringetan...!" Safia berdiri dari tempat duduknya namun tangannya digenggam erat Hermawan.
" Tunggu sebentar lagi.... aku masih ingin menikmati pagi ini bersamamu" Hermawan menyentak tangan Safia hingga tubuhnya jatuh kepangkuan Hermawan.
" Mas... apa-apaan ini? aku malu...!" pipi Safia merona,ia berusaha melepaskan pelukan Hermawan.
" Tunggu sebentar saja,sudah berminggu-minggu kau menyiksaku dengan selalu menghindari ku. Apa itu belum cukup,hah?!" Hermawan berbisik di telinga Safia.
Safia Berusaha menatap kesegala arah mencoba menghilangkan kegugupannya. Entah mengapa sudah 7 bulan ia menjadi istri seorang Hermawan. Masih saja ia merasa canggung bila berada di dekat Hermawan.
" Acara 4 bulan anak kita kamu mau apa dariku sayang?" Hermawan kembali mendekatkan bibirnya ke telinga Safia yang terbungkus kerudung.
Safia menggeleng,"aku hanya ingin acara pengajian sederhana. Aku nggak ingin apapun" Safia sejak kecil bukan tipe anak yang penuntut. Ia selalu menerima kondisi orang tua nya serba kekaurangan. Ia berusaha untuk tidak membebani kedua orang tua nya. Hingga kini, walaupun ia menjadi istri dari seorang Hermawan yang kekayaannya luar biasa pun ia tak pernah meminta apapun pada Hermawan.
" Ayolah sayang,aku sangat bahagia kamu bisa mengandung lagi. Kamu boleh meminta apapun dariku" Hermawan mengusap-usap hidungnya pada pipi lembut safia.
" Aku hanya ingin mas juga membantuku meminta pada Allah agar aku dan bayi kita diberi kesehatan hingga aku melahirkan kelak" Safia menunduk malu karena Hermawan memperhatikan setiap tingkahnya.
" Hanya itu?"
Safia mengangguk.
" Aku akan memberimu dua penawaran bagus"
Safia tersentak. " Apa mas?"
" Jika ternyata anak yang kamu kandung sekarang ini laki-laki,aku akan memberikan separuh hartaku pada anak kita. Jika perempuan...akan kuberi seperempat nya saja" kata Hermawan berapi-api.
" Kenapa tidak sama mas? Bukankah Fanesa juga anak kandung mu" Safia nampak bingung dengan ucapan Hermawan baru saja.
" Jelas berbeda, kalau anak laki-laki mempunyai tanggung jawab menafkahi keluarga dan juga orangtuanya. Sedangkan perempuan akan dinafkahi suaminya. Ia tak berhak menafkahi siapapun. Uang istri hanya milik istri saja. Kalau uang suami,ada hak istri juga orang tua nya, jika orang tuanya sudah tak mampu bekerja lagi."
" Lalu...?"
" Jik anak kita laki-laki,ia akan aku beri tanggung jawab mengelola semua aset dan usaha yang ku miliki" Hermawan tersenyum melihat tingkah istrinya yang memperhatikan semua ucapannya. "Apa kamu mengerti sayang?".
" Mas..."
" Hemm....."
" Jika anak yang ku kandung bukan laki-laki,apa kamu akan menuntut ku untuk hamil lagi?" Safia menatap Hermawan takut.
__ADS_1
"Tentu..." Hermawan tersenyum lalu meraih dagu Safia agar keduanya saling berhadapan. Hermawan mengecup bibir Safia dengan lembut. " Apapun jenis kelamin nya,ia anak ku. Aku akan menerimanya dengan suka cita".
Safia sedikit lega,karena Hermawan mau menerima anak nya dengan suka cita. Safia larut dengan fikirannya sendiri tanpa sadar Hermawan telah menggendong nya sampai ke kamarnya. " Mas, apa-apaan ini? turunkan aku...!" Safia berusaha turun dari gendongan Hermawan.
" Diamlah sayang,aku akan membuatmu lemas tak berdaya jika tidak menurut padaku" Hermawan tersenyum senang karena melihat Safia akhirnya diam tak berkutik.
Hermawan menurunkan tubuh Safia dikamar mandi. Lalu berusaha ikut masuk namun Safia segera mendorong tubuh Hermawan keluar dari kamar mandi.
" Sayang....aku ingin membantumu...."
" Nggak mau...!" teriak Safia dari dalam kamar mandi.
" Aku nggak akan mengganggumu..., percayalah!"
" No ....!"
"Sayang....!"
" Nggak...!"
Dengan wajah kecewa Hermawan berjalan menjauhi kamar mandi. Ia merebahkan tubuhnya di ranjang. Matanya terpejam,mencoba membayangkan tubuh istrinya yang lama tak ia sentuh.
Bruukk....
Tiba-tiba setumpuk map menimpa wajah Hermawan. Hermawan kaget tiba-tiba ada setumpuk map mendarat bebas diwajahnya. Ia segera bangun dari tidurnya.
" Selesaikan segera...! Jangan hanya menumpuk pekerjaan saja...! Ingat,anak istrimu butuh makan! Nggak kenyang hanya kamu beri kasih sayang...!" Kata nyonya Sanjaya ketus lalu meninggalkan putranya yang molongo melihat ulah ibunya.
" Mama selalu saja begitu..."
Hermawan membawa map-map yang tercecer diranjangnya. Dengan langkah tidak bersemangat ia berjalan menuju ruang kerjanya.
Setelah lima belas menit akhirnya Safia keluar dari kamar mandi menggunakan handuk kimono. Rambutnya yang basah terlilit handuk kecil. ia mengamati seluruh sudut kamar nya.
Kemana mas Hermawan pergi...
Safia melihat sebuah map terjatuh di bawah ranjangnya. Map itu terlihat sebagian saja. Safia menghampiri map itu dan mengambilnya. Dengan perasaan yang diliputi rasa penasaran yang begitu besar akhir nya ia membuka map itu.
Baris demi baris ia baca,matanya membulat sempurna. Bibir nya melongo,ia segera menutup bibirnya dengan telapak tangannya.
Gila,suamiku ternyata milyuner....
" Sayang...."
Safia tersentak,ia tak menyangka kalau suaminya tiba-tiba sudah berada didepan ia duduk. " Mas...." Kata Safia lirih.
__ADS_1
" Kamu kenapa? Apa kamu baik-baik saja?" Hermawan sedikit panik karena melihat wajah istrinya yang pucat.
" Apa ini...." Safia sulit berkata-kata.
Hermawan memeriksa map yang disodorkan Safia. " Iya,ini map yang ku cari.... kamu memang istri pintar"
" itu....it...tu..." Safia begitu sulit berkata-kata.
" ini kontrak yang harus aku tanda tangani. Istirahatlah sayang...." Hermawan mengecup pipi Safia.
" Apa kamu pemilik perusahaan minyak goreng cap ikan doreng itu mas?" Safia begitu penasaran siapakah suaminya sebenarnya.
" Perusahaan ini dulu milik kakek ku,aku generasi ke 3 nya" Hermawan pergi meninggalkan Safia sambil tersenyum.
Sayang,jangan khawatir... aku akan mencukupi semua kebutuhan mu hingga anak cucu kita.
Safia masih tidak menyangka kalau ia sekarang sedang menikah dengan milyuner. Safia menepuk-nepuk pipinya berkali-kali hingga wajahnya memerah.
" Aauuuww.....sakit! Ternyata aku nggak mimpi..." Safia mencoba mencubit pipinya. Ia bingung, apakah ia harus bahagia atau sedih.
πΉπΉπΉ
Dirumah Antony,
" Boss. ..."
" Heemm....ada apa?" Antony memutar kursinya dengan malas.
" Mall x telah membatalkan kontrak kita bos,mereka lebih memilih produk dari perusahaan pak Hermawan karena harganya lebih terjangkau boss"
" Apa kau bilang....?" Antony mencengkeram kerah baju anak buahnya. " Apa kau mempermainkan ku,hah?!"
" Maaf boss,saya tidak berani..." orang itu nampak ketakutan sekali.
" Pergi kau dari sini....!" teriak Antony. Ia mengambil gelas disampingnya dan melemparnya ke tembok.
Pyaarr....
" Hermawan....! Kau berani melawanku....! Tunggu sejauh apa aku bisa menghancurkan mu..."
πΊπΊπΊπΊπΊ
Terimakasih semuanya....πππ
Jangan pelit-pelit pencet love samaa like ya....
__ADS_1
ditunggu juga komentarnya...πππ
I Love You Allπͺππ