
Hermawan melakukan sebuah panggilan telepon. " Nes...!,cepat pulang....!! Sekarang...!!" bentak Hermawan dan langsung mematikan sambungan telepon nya.
Hermawan nampak sangat emosi saat ini. Ia mondar-mandir sambil menahan emosinya yang sedang meletup-letup.
πΉπΉπΉ
Di mall...
" Ma,ayo kita pulang...!"
Safia nampak terkejut melihat ekspresi Fanesa yang nampak sedih." Kamu kenapa?" tanya Safia cemas.
" Papa menyuruh kita pulang sekarang. Papa tadi marah bahkan sampe bentak aku. Tapi aku nggak tau apa alasannya" kata Fanesa sedih.
" Ya sudah,mungkin tanpa kita sadari kita lupa waktu. Sebaiknya kita pulang sekarang" Safia nampak menenangkan Fanesa. Namun sebenarnya ia juga cemas kenapa suaminya tiba-tiba marah pada Fanesa. Padahal tak pernah Hermawan marah sekalipun pada Fanesa.
Dalam perjalanan Safia merasa perutnya sedikit tidak nyaman. Seharian ia merasa tak enak makan. Tubuhnya lemas karena tidak mendapatkan nutrisi yang cukup sejak pagi. Tangannya keluar keringat dingin. Ia meraba tengkuknya yang hangat.
Aku kenapa? Apa aku sakit? batin Safia dalam hati.
Sesampai di kediaman Hermawan, Safia langsung memarkirkan mobilnya digarasi. Ia melihat Fanesa nampak ketakutan karena ini kali pertama papanya marah tanpa sebab padanya.
" Ma...aku takut!" Fanesa nampak memegang tangan Safia erat.
" Tenanglah,nanti kalau papa memarahimu kita tanggung berdua. Aku tak akan membiarkan mu kena marah sendirian" kata Safia mencoba menenangkan Fanesa.
Akhirnya keduanya wanita itu berjalan memasuki rumah dengan bergandengan. Ketika baru memasuki rumah,Safia dan Fanesa nampak terkejut karena Hermawan sudah menghadang mereka dengan muka garang. Tentu saja bak singa yang ingin menerkam mangsanya.
Fanesa bersembunyi dibelakang tubuh Safia. Sedangkan Safia mencoba berjalan menghampiri suaminya itu dengan tenang. " Mas, assalamualaikum..." Sapa Safia Rama lalu meraih tangan Hermawan untuk ia kecup.
Diluar dugaan Hermawan langsung menepis tangan Safia dengan kasar. " Tak perlu kau bersandiwara didepan ku wanita m*rahan!" Hermawan menatap tajam wajah Safia.
" Ada apa ini mas,kenapa kasar seperti ini padaku?" tanya Safia gugup.
" Kenapa katamu....?! Setelah apa yang kau lakukan dibelakang ku. Benar-benar wanita tak tau diuntung kamu ya....!" Hermawan mulai meninggikan suaranya.
" Apa salahku mas,kenapa kamu marah-marah seperti ini padaku?" suara Safia mulai bergetar menahan tangisnya.
" Apa salahku? Kau masih belum tau kesalahan mu atau pura-pura nggak tau,hah?" Hermawan mengambil ponsel nya yang tergeletak di atas meja. Lalu ia mengarahkan ponsel itu pada Safia.
__ADS_1
Safia nampak terkejut melihat foto yang terpampang di ponsel Hermawan. Dari arah samping agak kejauhan Safia nampak seperti dipeluk oleh seorang laki-laki. " Mas,itu tidak seperti yang kau fikirkan. Aku bisa jelaskan semuanya" Air mata Safia mulai meluncur membasahi pipinya.
" Hemmmttt, penjelasan apa lagi yang ingin kau berikan? kupikir dengan penampilan barumu berkerudung kau bisa menjaga tingkah laku mu tapi ternyata...." Hermawan nampak tersenyum mengejek.
" Mas..."
" Apa...?" Hermawan langsung membentak Safia.
" Pa,mama...." Fanesa mencoba menjelaskan apa yang terjadi namun langsung dipotong Hermawan.
" Diam kau...! pergi kekamarmu sekarang...!" bentak Hermawan sambil menunjuk arah tangga.
Fanesa berlari menaiki tangga sambil menangis. Disisi lain emosi Hermawan masih diubun-ubun. Sedangkan Safia nampak berdiri mematung sambil menangis.
" Bereskan barang-barang mu dan pergi dari rumahku. Sekarang...!" bentak Hermawan.
" Mas,tidak kah kau memberiku kesempatan untuk..." Safia masih mencoba membela diri.
" untuk apa lagi?! agar kau bisa menyakiti ku lagi? enyah kau dari rumahku sekarang...! Aku sudah tak sudi lagi melihat kau disini...!" Hermawan nampak memalingkan wajahnya dari hadapan Safia.
Bagaikan disambar petir tubuh Safia menjadi lemas tak bertulang. ia tak membayangkan kalau takdir pernikahannya berakhir seperti ini.
Inikah takdirku. ...Tuhan! batin Safia sambil menangis.
Fanesa melihat apa yang dilakukan ibu sambungnya itu dari balik pintu. Ia langsung berlari menghampiri Safia. " Ma, hentikan...! apa yang mama lakukan?" Fanesa mencoba menghentikan apa yang dilakukan Safia.
Safia menggeleng lemah. "Biarkan aku mengemasi bajuku sayang,papa mu sudah nggak menginginkan mama lagi. Kamu harus jaga diri,jadilah anak yang baik...!" Safia memegang kedua tangan Fanesa dengan lembut.
" Nggak ma,papa nggak boleh ngusir mama. Ini nggak seperti yang papa fikirkan" Fanesa pergi meninggalkan Safia dikamarnya sendirian.
Safia melanjutkan aktivitas nya mengemasi bajunya. Ia tak membawa semua baju pemberian Hermawan dan ibu mertuanya. Ia hanya membawa baju-baju lamanya yang ia bawa dari rumah ibunya dulu.
πΉπΉπΉπΉ
Diruang tamu...
" her...." bibik Vero menepuk bahu Hermawan.
Hermawan menoleh dengan raut wajah malasnya.
__ADS_1
"Jangan menuruti emosi sesaat. Semua bisa dibicarakan dengan baik-baik" bibik Vero kemudian duduk di sofa samping Hermawan.
" Apa lagi yang harus dibicarakan bik? kenapa selalu aku yang dikhianati? kenapa aku yang selalu merasakan sakit ini bik?" Hermawan mengusap wajahnya dengan kasar.
" Setidaknya ijinkan fia menginap malam ini saja. ini sudah malam her,kasihan Safia...! kemana ia harus pergi malam-malam begini?" bibik Vero mencoba meyakinkan Hermawan kembali.
" Entahlah bik,aku tidak perduli...!" Hermawan beranjak dari duduknya dan pergi menuju ruang kerjanya. Ia duduk di depan meja kerjanya sambil meratapi kejadian yang telah terjadi. Dua kali sudah ia dihianati seorang wanita. Hermawan melempar semua barang di meja kesembarang arah. Ia memegang kepalanya dengan kedua tangannya. Kepalanya mendadak sakit seperti mau pecah saja.
Diruang keluarga....
Veronika nampak cemas duduk disofa. Sesekali ia merubah posisi duduknya. Tangannya sibuk melakukan panggilan telepon. Tak lama kemudian telepon nya diangkat seseorang.
π π : " Halo..."
π Vero : " kemana saja sih mbak kok nggak diangkat-angkat?,duh gawat mbak....gawat!"
ππ : " ngomong yang bener...!! Ada apa?"
π Vero : " Habis ada perang dunia mbak, Hermawan ngusir istrinya. Mana istrinya kelihatan pucet banget. Aku takut terjadi apa-apa sama dia mbak,mana sudah malem"
π π. : " Aku kesana sekarang,cegah mantuku pergi dulu"
π Vero : " Baik mbak...."
Bibik Vero beranjak dari duduk nya untuk pergi kekamar Hermawan,namun ia terkejut karena melihat Safia sudah menuruni tangga dengan menenteng sebuah tas besar.
" Fia....." bibik Vero berteriak sambil berlari menghampiri Safia. " Fia kamu mau kemana?"
" Entahlah bik,fia udah nggak punya tujuan hidup lagi" Safia menjawab dengan sesekali mengusap air matanya.
" fia...! apa yang kau katakan? kamu nggak boleh bilang gitu...!!" bibik Vero menahan tubuh Safia yang hampir jatuh.
" Apalagi yang bisa aku harapkan lagi? rumah tangga ku hancur begitu saja. Bahkan suamiku saja tak mau mendengarkan penjelasan ku. Apa gunanya aku hidup? Aku nggak mau orang tuaku sedih melihat ku seperti ini bik" Safia melepaskan tangan bibik Vero yang menahannya pergi.
" Safia....maafkan keponakan bibik,tinggal lah untuk malam ini saja. Besok bibik akan mengantarmu ke stasiun" bibik Vero masih mencoba menahan Safia.
" Hentikan bik....! Biarkan dia pergi....!"
πΊπΊπΊπΊπΊ
__ADS_1
Maafkan saya yang lama tidak up sayangku semua..... dikarenakan sy mengalami musibah kehilangan 2 org keluarga dengan waktu yg cukup dekat. Buat saya sangat sulit' untuk segera bangkit menata semangat hidup. Namun sy sdh ikhlas sekarang.... semua akan kembali pada Allah.
selamat jalan Mbah kung dan my fetusπΆ kita akan berkumpul di surga kelak...π semoga kalian bahagia disisi Allah,dan diampuni segala dosanya.... aamiin π€²π»