INIKAH TAKDIRKU...

INIKAH TAKDIRKU...
9 Ijab Kabul


__ADS_3

" Safia... terimakasih kau mau datang kepernikahan kita" ucap nampak Hermawan terharu.


" Maafkan aku datang terlambat mas"


" Tentu, acaranya tak akan dimulai tanpa kehadiran mu Safia"


Keduanya saling melempar senyuman. Melihat sikap keduanya rombongan pengantin wanita nampak sedikit canggung.


" Apa acaranya dimulai diparkiran saja?" ucapan ibu Safia sedikit memecah kecanggungan itu. Dan akhirnya semua orang tertawa.


" Tentu tidak Bu, silahkan masuk..." Hermawan mempersilahkan rombongan pengantin wanita untuk masuk ke masjid.


Sesekali Hermawan mencuri pandangan ke arah Safia. Namun Safia hanya menunduk malu.


" Safia....apa alasan kau mau datang ke pernikahan kita?"


" Kalau Allah sudah menentukan jodoh kita,aku bisa apa mas....??" ucapan Safia yang teduh sedikit membuat Hermawan bahagia.


" Silahkan pengantin pria dan wanita menempati posisi yang sudah dipersiapkan" ucap seorang petugas masjid mengarahkan. Para rombongan pengantin menempati tempat yang sudah disediakan.


" Fia... Ndang maju,lak nggak Ndang maju opo ibuk ae seng maju dadi manten wedok e?" (Fia... cepat maju ke depan,kalau kamu tidak segera maju apa ibu saja yang menggantikanmu menjadi pengantin wanitanya?) ucapan ibu sedikit membuat Safia kaget.


" Hust.... ngawur ae ibuk Iki" ( ibu ini ngawur saja). Ucap bapak Safia membalas gurauan ibu Safia. " Ayo fia..." kini bapak Safia menggandeng tangan putrinya menuju altar ijab qobul.


" Pak... Safia takut" ucap Safia gugup. Tangannya mulai mengeluarkan kringat dingin. Bapak Safia menggenggam erat tangan anaknya dan meniup-niupnya bertujuan memberikan kehangatan.


" Tenanglah anakku,pasrahkan semuanya kepada Allah..."


Melihat keadaan Safia mulai membaik bapak Safia menggandeng Safia menuju altar ijab qobul. Bapak Safia duduk disebelah bapak penghulu, sedangkan Safia duduk disamping Hermawan.


" Bisa kita mulai sekarang?" ucap pak penghulu. Hermawan menganggukkan kepalanya pertanda sudah siap. Bapak Safia sedikit berkaca-kaca kini mulai memandang Hermawan serius.


" Mari kita mulai, silahkan bapak Ahmad..."


Kini Hermawan dan bapak Safia bersalaman.


" Bismillahirrahmanirrahim.... Nak Hermawan Sanjaya,saya nikahkan engkau dengan putri saya,Safia Larasati binti Ahmad Rojali dengan mas kawin sebuah rumah senilai 1,5M dan seperangkat alat sholat dibayar tunaaiii...."


Bapak Ahmad pun menghentakkan tangan Hermawan. Dan Hermawan pun menyautnya dengan satu tarikan nafas.


" Saya terima nikahnya Safia Larasati binti Ahmad Rojali dengan mas kawin tersebut dibayar tunaaiii...."


" Bagaimana saksi...?" ucap pak penghulu.


" saahh...." kedua saksi saling bersautan.


" Alhamdulillah,acara ijab qobul nya sudah selesai. Sekarang mas Hermawan dan mbak Safia sudah sah menjadi suami istri. Mari kita berdoa bersama supaya pernikahan keduanya diridhoi Allah dan menjadi keluarga sakinah mawadah warahmah...Aamiin, Alfatihah..."

__ADS_1


Akhirnya bapak penghulu memimpin doa dengan hikmat. Bapak Ahmad kini tertunduk menengis,tak kuasa air matanya ditahan lagi. Kini putri kesayangannya menjadi istri orang. Rasanya berat hatinya melepas putrinya secepat ini. Namun jodoh sudah diatur Allah.


Selesai berdoa kedua pengantin saling menandatangani surat nikah dan persyaratan nikah. Lalu penyerahan mas kawin dan foto bersama. Kedua keluarga saling berbaur menjadi satu. Tak lama kemudian Adzan sholat Dzuhur berkumandang. Kedua keluarga itu sholat berjamaah di masjid.


" Nak Hermawan,bapak ingin bicara sebentar..."


" Iya bapak, silahkan..."


" Safia memang bukan putri satu-satunya bapak,tapi Safia adalah putri terbaik bapak. Bapak mohon,jagalah Safia dengan baik. Bahagiakan Safia,bapak selama ini belum bisa membahagiakannya..." kini bapak Ahmad mulai berlinang air mata lagi. Hermawan pun langsung memeluk bapak mertuanya itu.


" Tentu bapak tidak usah khawatir,saya akan menjaga Safia sekuat tenaga saya"


" Nak..jika Safia mengecewakan mu,biarkanlah bapak menjemput nya sendiri dari rumahmu"


" Tidak pak,Safia tidak akan pernah mengecewakan saya. Saya yakin...!"


" Terimakasih kau telah menerima anak bapak dengan segala kekurangannya nak"


Keduanya saling bergandengan menuju tempat parkir. Sesekali mereka berbincang menceritakan masa kecil Safia.


Di barisan paling belakang ada Safia dan nyonya Sanjaya,ibu mertuanya. Safia sedikit gugup mengingat pertemuannya yang kurang mengenakkan direstoran.


" Safia, terimakasih kamu sudah mau datang ke pernikahan kalian. Kalau tidak,mama tidak akan pernah memaafkanmu Safia! Kali ini,buatlah Hermawan bahagia... Jadilah istri penurut,jangan pernah membuatnya kecewa"


" I-iya....ma" ucapan Safia tampak terbata-bata karena gugup.


" Sekarang kamu sudah menjadi menantuku,istri yang dicintai anakku. Jangan pernah sungkan kepadaku. Dan ...beri aku cucu laki-laki" nyonya Sanjaya nampak tersenyum dengan ucapannya tersebut.


" Tante,jangan pernah buat ayahku marah lagi" Fanesa tiba-tiba ikut nimbrung.


" Fanesa, sejarang dia mamamu nak"


" Tapi Fanesa belum bisa memanggil nya mama Oma..!"


Safia hanya bisa tersenyum melihat kelakuan anak tirinya itu.


" Ayo kita pulang kerumahnya sayang..."


Nyonya Sanjaya sambil menggandeng cucunya itu.


" Fanesa nggak mau pulang,aku mau tidur dirumah Oma saja" ucap Fanesa sambil memonyongkan bibirnya.


" Baiklah ... tapi izin papamu dulu,biar papamu tidak kawatir"


" Iya Oma..."


Safia sendiri sedikit kesulitan berjalan karena gaunnya. Wulan membantu Safia berjalan dan mengangkat sedikit gaunnya.

__ADS_1


Sambil berbisik Wulan berkata" Mbak jangan lupa belikan aku hape merk oppa keluaran terbaru"


" Gila kau... nggak ngasih selamat ke aku malah nodong barang yang tidak penting"


" Itu penting mbak,demi kelangsungan hidup dan masa depanku"


" Emangnya punya hape doang g makan bisa hidup kamu?"


" Enggak juga sih....hehe"


Sesampainya diparkiran Hermawan membantu Safia berjalan. Setelah berpamitan dengan kedua orang tua Safia, dengan telaten Hermawan membantu Safia masuk kedalam mobil.


" Sayang,kita pulang kerumah ku ya"


" Aku ikut mas Her saja"


Hermawan meraih tangan Safia dan mengecup punggung tangan Safia.


' Yaa Allah,manis sekali... Aku nggak kuat' batin safia. Melihat kelakuan Hermawan yang begitu manis pipi Safia merona merah.


" Kenapa kamu sayang... kamu malu? Ayolah,kita sudah sah menjadi suami istri..."


Safia hanya menunduk sambil tersenyum malu. Hermawan tak tau kalau ini pertama kalinya Safia diperlakukan seperti ini oleh seorang pria. Hermawan terus saja memainkan jemari Safia sambil menatap tingkah istrinya itu.


" Nanti sore ada acara makan malam di hotel bersama saudara terdekat saja. Aku harap kau tidak menolaknya sayang"


" Apa ini tidak berlebihan mas?"


" Apa yang berlebihan? cuma makan malam biasa. Sayang aku mohon,aku sudah menuruti semua kemauan kamu untuk tidak menggelar acara resepsi pernikahan kita"


" Baiklah, terserah mas saja bagaimana baiknya..."


" Terimakasih sayang, jadilah istri penurut dan selalu bersikaplah manis padaku"


Sambil mengelus kepala Safia akhirnya tatapan keduanya saling bertemu. Hermawan sedikit mendekatkan wajahnya ke Safia. Sebelum semakin dekat tiba-tiba pak sopir mengerem mendadak.


cekiiitttttt......


" Astaga pak.....ada apa? kenapa mengerem mendadak sih?"


" Maaf pak Hermawan,ada ibu-ibu tiba-tiba menyebrang jalan"


" Makanya konsentrasi kalau nyetir" Hermawan nampak kesal dengan pak supir. Ingin sekali Hermawan mengecup mesra bibir istrinya namun digagalkan oleh pak supirnya itu. Melihat tingkah suaminya Safia tersenyum geli.


****


Alhamdulillah gaisss.... akhirnya mas her sama mbak dia sudah sah....

__ADS_1


Terus dukung aku ya supaya karyanya semakin lebih baik lagi. Mohon suport nya dg cara like,komen n voteπŸ™


terimakasih πŸ”₯πŸ”₯πŸ”₯


__ADS_2