
Dari sore hingga setelah isya' Safia tak kunjung keluar dari kamarnya. Hermawan sempat membujuk nya namun selalu ia tolak. Sebenarnya ia merasa bosan dikamar,namun ia malu jika keluar kamar dengan kondisi lehernya merah keunguan.
" Mas Hermawan benar-benar kurang ajar. Tega sekali melakukan ini padaku" Sekeras apapun Safia menutupi bekas hisapan Hermawan. Bekas itu tak kunjung tertutup juga. " Nggak lucu dong kalo aku keluar kamar pake syal? Pasti Wulan ngledekin aku habis-habisan" Safia masih merenung dimeja riasnya. Kemudian ia beranjak dari meja riasnya dan membuka lemarinya.
Sebuah ide terlintas dibenaknya. " Apa sebaiknya aku pakai kerudung saja?, setidaknya Wulan nggak akan ada alasan untuk meledekku" gumam Safia
Ia pun mengambil sebuah sweater berwarna coklat susu dan sebuah celana bahan. Ia kembali memilih sebuah kerudung yang pas untuk melengkapi penampilannya. Akhirnya ia memelih pasmina berwarna senada dengan sweater nya.
Safia bergegas turun dari kamarnya setelah memakai baju yang ia pilih. Ketika menuruni anak tangga Safia mendengar gelak tawa di ruang makan. Safia akhirnya melangkah keruang makan dengan langkah cepat.
" Wiiiih.... enek mas Hermawan macak terusss..." Ledek Wulan ( wiiihhh ada mas Hermawan dandan terus). Hermawan langsung menoleh ke arah Safia.
Safia yang awalnya mengepalkan tangannya ingin menonjok Wulan akhirnya menurunkan tangannya. Ia tak ingin suaminya menilainya sebagai wanita bar-bar.
" Sini sayang..." Hermawan menepuk sebuah kursi yang berada disampingnya. Safia akhirnya duduk disebelah suaminya.
" Wong wedok lak wes rabi,kudu macak terus neng ngarep e bojo. Ojo Sampek ketok dawul-dawul. Ben bojo tambah cinta" Ucap ibu Safia memulai percakapan. ( perempuan kalau sudah menikah,harus berdandan terus dihadapan suaminya. Jangan sampai kelihatan berantakan. Agar suami makin cinta)
" Bener kuwi nduk" balas bapak Safia. ( betul itu nak-perempuan)
" Bapak iki yo, melu-melu mbelani mbak" Wulan nampak tidak mau kalah.( bapak ini ya, ikut membela kakak-perempuan)
" Uwes-uwes...! Udur-uduran terus lak Ra mangan-mangan" ( sudah-sudah,! Kalau berdebat terus nanti nggak makan-makan) ibu Safia mulai mengambilkan nasi dan lauk untuk bapak. Kemudian disusul dengan Wulan.
Disudut lain Hermawan tak henti-hentinya melempar pandangan ke wajah istrinya. Safia yang merasa dipandangi sejak tadi mulai gugup. " Mas, hentikan pandangan nakal mas terhadapku!!" bisik Safia.
" Apakah aku tak boleh menatap seorang bidadari surga yang berada di samping ku sayang?" Hermawan nampak takjub dengan penampilan Safia berkerudung. Sesekali ia memainkan kerudung Safia. Merasa risih dengan sikap suaminya Safia menepis tangan Hermawan. Hermawan mendapatkan perlakuan seperti itu malah terkekeh.
" Mas,hertikan! ini semua gara-gara cupangan mas tadi sore. Aku malas kalau harus menerima ejekan dari Wulan. Makanya aku berkerudung" bisik Safia kembali.
" Hahaha...kalau begitu nanti malam aku akan membuatnya lebih banyak lagi. Agar kau selalu berpenampilan seperti ini ketika keluar kamar" goda Hermawan.
" Awas saja kalau mas melakukan itu lagi!! Aku nggak akan segan melakban bibir nakal mas!" balas Safia semakin sengit.
__ADS_1
" Kalau kau berani melakban bibirku,aku tak akan membiarkan kau tidur dengan sehelai benang pun setiap malam!" Bisik herma lagi.
Mendengar ucapan suaminya,Safia menatap Hermawan dengan tatapan membunuh. Hermawan tertawa geli melihat tatapan mengerikan yang diberikan istrinya.
Di kursi berbeda Wulan nampak kesal dengan kemesraan yang dipertontonkan Safia dan Hermawan. Wulan merasakan iri mengapa kehidupan kakaknya bisa sempurna seperti itu. Memiliki suami tampan dan kaya. OMG.....! Wulan mengunyah makanan dimulutnya dengan hentakan gigi yang kasar.
Melihat keromantisan putrinya bersama suaminya,ibu Safia bersama bapak Safia nampak bahagia. Sesekali bapak menggoda ibu dengan mengingat masa muda dulu. Ibu tersipu malu sambil mencubit paha bapak.
Selesai makan malam bapak dan ibuk safia bersantai di ruang keluarga bersama Wulan. Bapak dan ibuk menonton sinetron yang sedang buming di Chanel ikan terbang. Sedangkan Wulan asik mengusap-usap layar handphone nya. Lalu dimanakah pasangan Safia dan Hermawan?!
" Mas... jangan dekat-dekat iih!" Safia menggeser posisi duduknya agar sedikit menjauh dari suaminya.
" Kenapa sih sayang..." Hermawan menarik pinggang Safia hingga kedua tubuh mereka saling menempel.
" Ini ditaman loh,bapak sama ibuk bisa lihat kita! aku malu..." Safia kesal dengan sikap Hermawan.
" Kalau begitu dikamar aja yuuk...!" goda Hermawan.
" Kenapa sih sayang..." Hermawan meraih dagu Safia hingga tatapan mereka saling beradu.
" Mas selalu saja genit...!"
" Genit sama istri memangnya tidak boleh?" goda Hermawan sambil mendekatkan wajahnya.
" Tapi mas selalu bikin aku kesel...!"
Cup....
Sebuah kecupan lembut mendarat dibibir Safia. Safia mendorong tubuh Hermawan.
" Semakin kau menolak,aku semakin tergoda sayang..." Hermawan semakin mengeratkan pelukannya.
Yang benar saja, suamiku menginjak usia kepala empat. Tapi kenapa nafsunya seperti anak ABG ya? Atau suamiku sedang puber ke dua? batin Safia.
__ADS_1
Safia bergidik ngeri. Ia tak pernah membayangkan kalau suaminya semakin tua semakin menjadi.
" Mas kalau diluaran jangan macam-macam ya!" Ancam Safia.
" Hahaha..... kenapa sekarang kamu jadi cemburuan begitu?" Hermawan tertawa terbahak-bahak. Puas sekali ia mendapati istrinya sekarang mulai posesif.
" Aah, enggak! Siapa yang cemburu? Aku hanya nggak ingin aja mas ganjen sama cewek-cewek diluaran sana. Malu sama umur...!" Safia sedikit gugup karena Hermawan tau arah pembicaraan Safia.
" Kenapa kamu nggak mau ngaku sih sayang....kalau kamu sekarang mulai cemburu...hahaha"
" Bodo amat, terserah kamu saja lah mas!" Safia melipat tangannya didada dan membelakangi Hermawan.
Hermawan tak kurang akal untuk menjahili istrinya. Ia spontan menggendong tubuh istrinya bak bridal style. Safia memekik mendapatkan perlakuan mesra Hermawan. Safia meronta-ronta minta diturunkan dari gendongan Hermawan. Namun Hermawan tak bergeming sedikitpun.
Safia akhirnya membenamkan wajahnya di dada Hermawan. Ia malu kalau ibu,bapak,bahkan Wulan mengetahui keromantisan Hermawan. Safia benar-benar dibuat tidak berkutik oleh Hermawan.
Hermawan membopong tubuh Safia melewati ruang keluarga. Safia sedikit mengintip dengan ekor matanya.
kenapa sepi sekali? apa semua sudah tidur? syukurlah... batin Safia.
Hermawan berjalan begitu hati-hati menaiki tangga. Ketika sampai didepan kamarnya,ia pun berhenti sejenak.
" Buka pintunya sayang..." Hermawan manatap Safia sambil tersenyum menggoda. Safia memutar kenop pintu kamarnya. Hermawan langsung mendorong pintu itu dengan kakinya. Dan segera merebahkan tubuh Safia diatas ranjang.
Safia takut suaminya memaksanya untuk melayaninya malam ini. Ia merasa masih kurang sehat untuk melayani suaminya. Selain itu wanita yang baru saja keguguran tidak diperbolehkan untuk berhubungan badan hingga 2 minggu hingga 6 minggu. Agar tidak berakibat infeksi pada rahim perempuan tersebut.
Safia sempat gugup karena Hermawan mengunci pintu kamarnya dan segera merebahkan tubuhnya disamping Safia. Hermawan membenamkan wajahnya di ceruk leher Safia. " Tidurlah sayang,besok pagi kita berangkat ke Surabaya" bisik Hermawan.
Safia mulai memejamkan matanya,mencoba menetralkan degub jantung nya.
πΊπΊπΊπΊ
thanks n i love you allππ
__ADS_1