
" her..... sudahlah,jangan difikirkan lagi. Sebaiknya kau istirahat. Besok fikirkan lagi bagaimana cara meluluhkan hati istrimu..." Bibik Vero mencoba mengalihkan pembicaraan. Ia takut keceplosan yang akan berakibat menyakiti perasaan keponakannya itu.
Hermawan mengangguk " Baik bik... aku akan segera kekamarku untuk istirahat. Bibik jaga kesehatan...!" Hermawan berdiri dari kursinya lalu meninggalkan bibik Vero yang masih duduk di meja makan.
" Her... maafkan bibik" bibik Vero membersihkan sisa makanan dan mencuci piring yang ada dimeja makan. Semua itu bibik Vero lakukan karena sudah terbiasa. Walaupun Hermawan menyediakan asisten rumah tangga,namun bibik Vero tetap membantu para asisten rumah berberes rumah.
***
Dikamar....
Hermawan sengaja membawa laptop nya kekamarnya. Ia ingin sekali bertanya pada Safia ketika ia sudah masuk kamarnya kenapa ia selalu menghindari Hermawan.
Pukul 22.00 wib Hermawan mulai merenggangkan otot-otot nya. Tiga jam sudah ia berkutat dengan semua pekerjaan nya. Akhirnya ia meletakkan laptop yang berada dipangkuan nya ke meja dekat ranjang. Ia mengatur posisi untuk merebahkan tubuhnya. Malam ini ia benar-benar lelah. Ia masih berprasangka baik kalau Safia akan kembali kekamarnya.
Sejak makan malam tadi Safia tidak juga pergi kekamarnya. Namun rasa kantuknya begitu kuat menyerang akhirnya Hermawan memejamkan matanya.
πΉπΉπΉπΉπΉ
Dikamar Fanesa....
" Tapi mama janji ya mama jangan cerita ke papa kalau ada cowok yang nembak aku"
" Iya mama janji,tapi kamu juga harus janji harus tetap belajar yang rajin yaa..." Safia mengelus lembut rambut Fanesa.
" Iya,nesa janji...!" Sambil mengacungkan kedua jarinya seraya tersenyum riang. " Aku sayang mama...!" Fanesa memeluk Safia dengan erat. Perasaan bahagia menyeruak didalam alam bawah sadarnya.
" mama juga sayang banget sama Fanes,tapi Fanes jangan ikut pergi mama Karin ya" Safia sedikit serak dalam mengucapkan kata-katanya. Tak terasa buliran air mata meluncur bebas dipipinya.
Fanesa mendongakkan kepalanya. " mama nangis? kenapa?" Fanesa bingung dengan Safia yang tiba-tiba menangis.
" Mama hanya nggak ingin jauh dari kamu...."
" Dan papa kan...?"
Mata Safia membulat,ia terkejut dengan ucapan Fanesa. Safia menunduk tanpa berucap sepatah kata pun.
" Mama liat Fanes, aku tau mama sayang banget sama papa. Mama jangan nyiksa diri mama untuk ngejauhin papa terus. Udah beberapa hari sejak mama pulang dari rumah sakit mama selalu ngejauhin papa. Mama masih marah sama papa?"
Safia hanya menggeleng lemah.
" Lalu...? kenapa mama terus ngejauhin papa?"
__ADS_1
" Bukan begitu nes, mama ngrasa entah kenapa perasaan mama sedikit tidak enak jika berdekatan dengan papamu. Mama udah maafin papa.... Tapi.... entahlah!!" Safia memalingkan wajahnya Berusaha mencari kebenaran hatinya. Kenapa ia masih merasa sakit jika berada bersama Hermawan. Bayang-bayang Hermawan yang mengusirnya senantiasa menghantuinya.
" mama...lihat Fanes" Fanesa meraih dagu Safia agar menghadap wajahnya. " mama pernah bilang ke Fanes,sejahat apapun orang lain pada kita... kita harus bisa memaafkan mereka sebelum mereka meminta maaf pada kita. Apalagi papa suami mama,semua orang nggak ada yang sempurna ma. Pasti melakukan salah juga. Apalagi papa..."
Safia tersenyum mendengar putri sambungnya itu menasehatinya. " sejak kapan kamu pinter sekali menasehati mama?" Safia mengacak-acak rambut Fanesa.
" Yaa...sejak mama ada dikehidupan kami" Fanesa menatap manik mata Safia. Terlihat begitu tulus dan menyejukkan.
" Haha.... ada-ada saja kamu....! udah ya...udah malem,mama capek mau tidur dulu. Kamu tidur ya sayang... Besok subuhnya biar nggak kesiangan" Safia memeluk tubuh Fanesa sejenak lalu beranjak dari tempat tidur Fanesa.
" siap booss...!" kata Fanesa seraya memberi hormat.
Safia tersenyum melihat tingkah menggemaskan putri sambungnya itu. Safia mematikan saklar lampu kamar Fanesa lalu menutup pintunya. Safia menggerak-gerakkan tubuhnya yng begitu pegal. Entah kenapa setelah hamil tubuhnya begitu mudah lelah.
Dengan malas ia berjalan kekamarnya. Ketika membuka pintu kamarnya,ia melihat suasana kamar dengan lampu temaram.
Sepertinya mas Hermawan sudah tidur. gumamnya sambil berjalan keranjangnya.
Setengah jam sudah ia merebahkan tubuhnya di ranjang. Entah mengapa ia merasa tidak senyaman dulu sebelum hamil. Ketika tidur terlentang,miring ke arah kiri ataupun kanan terasa tidak nyaman. Safia akhirnya duduk bersandarkan sandaran ranjang. Ia melihat suaminya begitu lelap tidurnya.
Kenapa aku nggak bisa tidur, benar-benar nggak enak. Aduh...! Bisa-bisa bangun kesiangan besok sewaktu sholat subuh.
Hermawan merasa ada yang bergerak terus disampingnya. Akhirnya ia mencoba membuka matanya. " Kenapa sayang,kenapa kamu belum tidur?" Hermawan merubah posisinya menghadap Safia dan memperhatikan istrinya.
"Aku nggak bisa tidur...!"
" Apa perutmu sakit?"
Safia menggeleng lemah.
" Apa kamu lapar?"
Safia menggeleng lagi.
" Lalu...?"
" Seluruh badanku terasa pegal" Kata Safia lirih.
" Apa kamu punya minyak zaitun?"
" Ada di meja rias..."
__ADS_1
" Ok,aku akan mengambilnya..." Hermawan berjalan menghampiri meja rias Safia. Ia memperhatikan satu persatu peralatan make up Safia hingga akhirnya ia menemukan minyak zaitun. " Buka bajumu...!" Hermawan duduk disamping Safia.
" Hah? kenapa harus buka baju?" Safia sedikit terkejut dengan perintah Hermawan.
" Aku akan memijatmu sayang.... Jangan berfikir macam-macam. Aku tidak akan mengajakmu bergulat sampai kondisi janin didalam perut mu kuat"
Wajah Safia tiba-tiba merona merah. Ia begitu malu dengan suaminya. Ia tak menyangka suaminya akan berkata seperti itu padanya.
" Ayo,duduklah didepanku dengan cara membelakangi ku. Agar aku dengan mudah memijat bajumu"
Safia mengikuti perintah Hermawan. ia juga mengikat rambutnya agar lebih rapi. Ia membuka dua kancing bajunya agar bahunya sedikit terbuka.
" Kenapa sedikit? Gimana caranya memijit kalo dibuka cuma sedikit?" Hermawan begitu tidak sabar langsung membuka semua kancing baju istrinya itu." Nah,gini kan enak mijitnya..." Hermawan mulai mengolesi bahu Safia dengan minyak zaitun dan memijitnya perlahan.
Safia merasa malu karena hanya memakai penutup dada saja. ia menutupi aset nya yang berharga itu dengan kedua tangannya.
" rilex kan tubuhmu sayang ... jangan seperti itu. Nanti kamu nggak bisa menikmati pijatanku" Sebenarnya Hermawan beberapa kali menelan ludahnya. Ia begitu tergoda dengan pemandangan yang berada dihadapannya. Namun ia tidak boleh egois mementingkan nafsunya semata.
" Apa sudah mulai enakan...."
Safia hanya mengangguk.
" Dulu Karin juga seperti mu sayang, susah tidur. Jadi setiap malam aku selalu memijatnya"
β Oo....." Safia begitu malas ketika Hermawan selalu menceritakan masa lalunya bersama Karin. Menurutnya,masalalu biar menjadi kenangan saja. Tidak perlu diungkit atau dibahas di depannya lagi.
" Sekarang buka celana mu sayang?"
" Hah? untuk apa? jangan macam-macam ya mas...!"
" Hahahaha...." Hermawan langsung memeluk tubuh istrinya gemas.
" Lepasin...! aku nggak mau ya mas kamu giniin...!"
πΊπΊπΊπΊ
Aduh, diapain yaa kira-kira mbak fia nya...π€
Makasih buat semuanya....πͺπ
tetap semangat,dan semoga kita selalu dilindungi Allah π€² aamiin
__ADS_1