
" Please...! jangan samakan fia dengan Karin! Dia sungguh dijebak, Suamimu sengaja mengirimkan bunga atas namaku agar fia mau menemuinya. Dia kira itu aku!"
" Tapi apakah kau tau? Antony akan memberikan semua kemewahan yang tidak pernah istrimu kira"
" Tidak,aku yakin istriku akan tetap setia !"
" Sudahlah...! urungkan niatmu untuk mencari istrimu!"
" Tidakk.....!!" Hermawan berteriak sekuat tenaganya.
Susi terkejut melihat reaksi Hermawan.
" Her..."
" Aku hanya ingin tahu dimana Antony, kenapa kau menghasut ku seperti itu?"
" Her...."
" Cukup! aku tidak ingin mendengar apapun lagi darimu!" Hermawan berjalan keluar dari kamar apartemen Susi.
" Aku hanya..."
Hermawan berhenti melangkah.
" Kau pikir anak siapa yang dikandung Safia saat ini? Itu anak ku! Apa aku salah jika aku harus memperjuangkan anak dan istriku? Kau tidak pernah tau bagaimana rasanya terus diganggu rumah tangganya sepertiku!"
Hermawan pergi meninggalkan Susi.
Di basement Hermawan mengelus dadanya yang sakit,ia benar-benar tidak terima istrinya dituduh sebagai wanita tidak baik. Ia langsung melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi untuk kembali kerumahnya.
Setelah sampai di rumah, Hermawan masuk kedalam rumahnya dengan langkah terseok-seok. Kakinya benar-benar terasa tak bertulang. Fikirannya diliputi kegelisahan bagaimana cara mencari keberadaan istri dan anak nya.
" Her.... bagaimana? Kau bisa menemukan fia?"
Hermawan hampir terjatuh, namun nyonya Sanjaya segera menangkapnya.
" Kamu tidak apa-apa her?"
Nyonya Sanjaya terlihat begitu cemas. Wajah Hermawan terlihat begitu pucat.
" Ayo Mama bantu berjalan ke kamarmu"
Nyonya Sanjaya memapah Hermawan pergi kekamarnya.
" Istirahatlah her,mama akan ambilkan kamu makanan dulu"
Hermawan menggenggam tangan nyonya Sanjaya.
" Ma, bagaimana dengan fia ma?" Hermawan mulai menangis sesenggukan.
" Tenanglah nak,kita pasti bisa menemukan fia" nyonya Sanjaya memeluk putranya.
" Fia diculik Antony ma...!"
nyonya Sanjaya sedikit terkejut dengan ucapan putranya.
" Tenanglah,mama akan bantu sekuat tenaga mama supaya fia segera ditemukan"
" Yang aku cemaskan adalah kondisi fia,aku takut dia depresi karena Antony memaksa membawanya. Psikolog bilang fia belum sembuh betul ma...."
Nyonya Sanjaya melepas pelukan Hermawan.
" Kamu harus kuat,kita pasti akan segera menemukan keberadaan Safia. Kalau kamu kuat,fia pasti bisa kuat. Kita juga berdoa,supaya fia baik-baik saja"
Hermawan mengangguk.
" Aku ambilkan makan dulu ya"
__ADS_1
" Aku nggak lapar ma"
" Kamu harus makan, kamu butuh tenaga untuk mencari istri dan anak mu"
Nyonya Sanjaya berdiri lalu meninggalkan Hermawan sendiri di kamar.
Hermawan masih manangis sesenggukan,ia merasa menyesal karena mengabaikan panggilan Safia. Ia tidak menyangka akan seperti ini jadinya.
🌹🌹🌹🌹
Di Sebuah villa mewah
Safia merasa kepalanya begitu berat untuk digerakkan. Dengan sekuat tenaga ia mulai membuka matanya. Ia mengamati keadaan di sekelilingnya. Ia merasa kamar tersebut bukan kamar di rumah Hermawan.
" Aku dimana...?"
" Kamu sudah sadar?" Terdengar suara seorang pria,namun pria itu bukan Hermawan.
Safia terkejut bukan main.
" Ka-kamu?"
" Selamat datang di villa ku,sayang"
Pria itu mencoba mendekati Safia.
" Jangan mendekat....!" Safia berteriak sekuat tenaga. Ia menutupi telinganya dengan kedua tangannya.
" O-ok,kamu jangan takut! Aku nggak akan nyakitin kamu!"
Terlihat Safia mulai menangis.
" Jangan nangis,aku nggak akan menyakiti kamu! Aku janji...!" Pria itu mencoba mengelus tangan Safia, namun Safia segera menepisnya.
" Jangan sentuh aku!"
" Kamu kenapa fia?"
" Jangan dekat-dekat! Mas Hermawan nanti marah! Aku mau pulang...!"
Pria itu menjadi kesal karena mendengar nama Hermawan.
" Tidak...! Kamu tidak akan aku antar pulang...! Kamu sekarang milik ku! Jadi kamu harus menuruti ku!"
" Aku nggak mau! aku mau pulang...!" Safia terus berteriak sambil menangis.
Pria itu pun keluar dari kamar yang ditempati Safia. Diluar kamar sudah ada beberapa orang yang berjaga.
" Jaga dia, jangan sampai dia kabur"
" Baik boss...!"
Pria itu pergi meninggalkan kamar Safia yang sudah dikunci dari luar.
Didalam kamar Safia terus saja menangis dan minta diantar pulang. Safia juga tidak kenal lelah terus menggedor-nggedor pintu agar pintu dibuka. Namun usahanya sia-sia belaka.
Hingga pagi hari masih terdengar tangisan Safia dari balik pintu kamarnya. Merasa iba,pria itu membuka pintu kamar Safia.
" Fia...sudahlah, jangan menangis lagi!"
Wajah Safia terlihat sangat pucat, tangannya gemetar kareja sejak siang dia tidak makan.
" Mmm...mas,antarkan aku pulang!" terdengar suara Safia yang sangat lemah dan menyayat hati.
" Aku ingin pulang mas..."
Tidak lama kemudian Safia terlihat memejamkan mata dan jatuh tersungkur. Safia tidak sadarkan diri, pria itu langsung membopong Safia untuk direbahkan ke ranjangnya.
__ADS_1
Pria itu berlari mencari anak buahnya.
" Carikan dokter kandungan dan bawa kesini,cepat....!"
" Baik,bos...!"
Pria itu sangat gelisah, ia mencoba untuk membangunkan Safia namun tetap saja tidak berhasil. Ia mencoba mengelap wajah Safia dengan handuk hangat agar Safia lekas sadar. Namun tetap saja tidak berhasil. Bahkan semakin lama tubuh Safia semakin dingin.
" Permisi....!"
Seorang dokter masuk kekamar Safia dan segera memeriksa keadaan Safia.
" Apa yang terjadi sebelum nya pada istri Anda tuan?"
" Hah, istri?"
" Iya,bukan kah ini istri Anda tuan Antony?"
Antony diam beberapa detik.
" eh iya...istri saya"
" Sepertinya istri anda sedang tertekan"
" Apa? maksudnya?"
" Apa anda melakukan kekerasan dalam rumah tangga?"
" apa? apa maksud anda?"
" iya,kondisi istri anda dalam keadaan tertekan dan depresi. itu akan sangat membahayakan bayi anda. Bayi anda bisa lahir sebelum waktunya"
" tapi saya tidak melakukan kekerasan pada istri saya. itu tidak mungkin dok!"
" Bisa jadi itu disebabkan oleh masa lalunya yang belum sepenuhnya disembuhkan"
" Lalu apa yang harus saya lakukan dok?"
" Sebaiknya konsultasikan pada dokter spesialis psikologi. Saya takut si ibu bisa bertindak membahayakan dirinya sendiri dan bayinya"
" Tapi dok, ditempat terpencil seperti ini tidak mudah mendapatkan dokter spesialis terbaik"
" Maaf, untuk sementara saya hanya bisa memberikan vitamin dan obat penenang"
" Terimakasih dokter"
" Tuan Antony,saya percaya...anda bisa memperlakukan istri anda dengan baik. Jangan membuat istri Anda tertekan atau terlalu bersedih..."
Dokter itu menepuk-nepuk bahu Antony.
" permisi bos,saya mau membersihkan tubuh nyonya dulu"
Seorang ibu-ibu gendut membawa baskom berisi air masuk ke dalam kamar safia. Antony mempersilahkan ibu itu dengan melambaikan tangannya. Antony pun keluar dari kamar tempat Safia terbaring.
Setelah lima belas menit ibu gendut itu keluar dari kamar Safia.
" Buk..."
" Saya Meri tuan Antony"
" iya Bu Meri,tolong usahakan nyonya makan tepat waktu. Beri makanan apapun yang dia inginkan. jangan lupa berikan vitamin yang diberikan dokter. ini,berikan obat ini jika nyonya menangis terus atau mengamuk"
Antony menyerahkan obat penenang dari dokter pada Bu Meri.
" Baik tuan.."
❤️❤️❤️❤️
__ADS_1