
" Tidak mas....! Aku bukan ibu yang baik....!" Teriak Safia. Hermawan masih mencoba menenangkan istrinya. Hermawan masih memeluk Safia hingga dokter datang. Setelah dokter memberikan sebuah suntikan,tubuh Safia mulai lemas. Matanya secara perlahan mulai terpejam. Dokter mulai menjelaskan kondisi kesehatan istri Hermawan. Hermawan hanya manggut-manggut mendengar penjelasan dokter.
Setelah kondisi Safia mulai tenang dokter meninggalkan ruang perawatan Safia. Hati Hermawan mendadak nyeri melihat kondisi yang dialami istrinya kini. Hermawan meraih tangan Safia dan menciuminya dengan lembut.
" Istirahatlah sayang... Aku akan menjaga mu disini. Kau tak bersalah dengan kejadian ini. Semua ini gara-gara Martin!" Mata Hermawan mulai memerah, rahangnya mulai mengeras. Nampak kemarahan Hermawan yang luar biasa.
" Siapapun yang bersekongkol dengan mu Martin,dia akan mendapatkan hal yg sama sepertimu! Membusuk di neraka!" Suara Hermawan lirih namun penuh penekanan.
Semalaman Hermawan duduk disamping ranjang Safia. Kepalanya bersandar dengan kedua tangannya. Ketika sayup-sayup burung berkicau, Safia mulai membuka matanya. Hermawan masih setia diposisi awal ia menemani istrinya. Safia melirik pria yang tertunduk disamping ranjangnya.
Pasti kau kelelahan ya mas, maafkan aku yang selalu merepotkan mu.
Safia mengelus rambut suaminya. Ia melihat suaminya begitu lelap dalam tidurnya.
Opo penak to mas turu model ngono? ( Apakah nyaman tidur dengan posisi seperti itu?)*jowo ne kumatπ
Tak lama berselang Hermawan mulai membuka matanya. Ia mengucek matanya yang masih lengket beberapa kali.
" Sayang... Kau sudah bangun?"
" Sudah mas.."
" Apa kau butuh sesuatu?"
" Aku ingin pulang mas ..."
" Bagaimana kondisimu? Apakah kau sudah membaik?" Safia hanya mengangguk mendengar pertanyaan suaminya. " Tunggu dokter dokter memeriksa mu lagi" Hermawan masih setia mengenggam tangan Safia, sambil sesekali diciumi." Kau ingin makan sesuatu?"
" Nggak mas,aku hanya ingin pulang"
......
Setelah terjadi keheningan beberapa saat, dokter akhirnya datang untuk memeriksa keadaan Safia. Selang infus mulai dilepas, Hermawan minta izin agar Safia bisa pulang lebih cepat. Dokter akhirnya mengijinkan dengan catatan Safia harus tetap dikontrol kondisinya setiap 3hari sekali.
Hermawan menyelesaikan administrasi rumah sakit. Safia mulai berkemas dibantu suster. Selesai berkemas Safia diantar suster menggunakan kursi roda menuju tempat parkir. Hermawan dengan sigap menggendong tubuh Safia dan di dudukkan dijok samping kemudi.
" Mas,aku bisa jalan sendiri"
" Sudah diamlah... Aku ingin menggendong mu"
Setelah meletakkan tubuh safia, Hermawan mengucapkan terima kasih pada suster. Dan Hermawan melajukan mobilnya meninggalkan rumah sakit.
Didalam perjalanan....
__ADS_1
" Mas,apa kita pulang kerumah mas?" Safia menatap Hermawan dengan tatapan sayu.
" Kita pulang kerumah mu sayang. Sampai kondisimu membaik baru kita pindah ke Surabaya" Hermawan meraih tangan Safia dan meletakkannya di pahanya.
" Kenapa kita pindah mas...? Bagaimana keluarga ku?"
" Kita bisa berkunjung kesini seminggu sekali"
" Apa Fanesa juga ikut kita?"
" Tentu... Cuma mama tetap inggin tinggal disini"
Tidak ada jawaban setelah itu. Safia hanya diam seribu bahasa sambil menatap luar jendela. Entah apa yang ia fikirkan sekarang. Kejadian demi kejadian yang terjadi beberapa hari lalu mulai terlintas kembali difikiran Safia. Air matanya mulai menetes di pipinya. Satu hal yang membuat sakit adalah kehilangan calon bayinya.
" Sayang.... kau menangis?" Hermawan meraih dagu Safia dengan tangan kirinya. tangan kanan nya masih fokus menyetir. Safia langsung mengusap air matanya. " Katakan padaku apa yang kau fikirkan?"
" Aku nggak bisa jaga anak kita mas..."
" Sudahlah sayang,ini semua bukan salahmu"
" Apakah Martin dipenjara mas?"
" Tidak sayang, sudahlah jangan memikirkan kejadian itu lagi!"
" Sudahlah sayang, Martin sudah meninggal!"
" Apa?!" Safia kaget dengan penuturan suaminya. Matanya membulat sempurna.
" Iya, dia mungkin mau menyelakaimu namun malah celaka sendiri. Kalau kau masih belum percaya aku bisa mengantar mu ke makamnya" Safia kembali diam. Ia tak menyangka kalau Martin bisa pergi secepat itu. Yang ia ingat terakhir mengemudikan mobilnya dengan kecepatan penuh. Karena menahan perutnya yang sakit ia menepikan mobilnya dipinggir jalan. Setelah ia keluar dari mobilnya dan melihat darah segar mengalir di pahanya,ia pun tak sadarkan diri.
Setelah menempuh perjalanan 15 menit akhirnya sampai di sebuah perumahan elit dikawasan Kediri kota. Safia nampak fokus memperhatikan bangunan rumah yang berjajar di kiri dan kanan mobil. Hingga akhirnya berhenti di depan pekarangan sebuah rumah. Sejak menikah ia tak pernah sekalipun mengetahui rumah hadiah maskawin dari suaminya itu.
Safia masih tak percaya dengan kenyataan. Bahwa ia kini memiliki rumah mewah. Diparkiran ada sebuah mobil dan sebuah motor matic keluaran terbaru.
" Apa ini rumahku mas?" Safia masih terbengong-bengong didepan rumah.
" Iya sayang,ini mas kawin pernikahan kita. Ini harganya lebih mahal dari milik Karin. Karena aku percaya kalau kau takdir terakhir ku"
" Mas,ini sungguh berlebihan...!"
" Karena kau istimewa sayang" Hermawan merangkul bahu Safia dan mengecup pipi Safia.
" Mas,aku nggak bisa terima ini" Safia menatap suaminya begitu dalam.
__ADS_1
" Tapi bapak sama ibuk suka tinggal disini. Apa kau tega membiarkan bapak dan ibu kembali kerumah lama?" Safia hanya menggeleng lemah. Hermawan mengajak Safia masuk kedalam rumahnya.
Nampak pintu terbuka, Hermawan dan Safia langsung masuk ke dalam rumahnya.
" Assalamualaikum...!" Sapa Hermawan.
" Walaikum salam, Yaa Allah le.... nduk.... piye kabare?" (walaikum salam,yaa Allah le\=sebutan untuk anak laki-laki, *nduk\=sebutan untuk anak perempuan bagaimana kabarnya?) Ibu Safia langsung memeluk tubuh putrinya." Jare awakmu kecelakaan to nduk... Yaa Allah nduk, ndi seng loro?" (katanya kamu mengalami kecelakaan to nduk... yaa Allah nduk, mana yang sakit?) Ibu Safia mulai menangis sesenggukan.
" Safia baik kok buk" Safia merasa tak tega dengan ibunya yang menangis.
" Goro-goro korona aku ate nyambangi teko parkiran wes dicegat karo pak satpam. Aku dikon muleh..." ( gara-gara korona aku mau menjengukmu sampai parkiran dicegat sama pak satpam. Aku disuruh pulang...)
" Sudah buk, fia nggak papa" ucap Safia sambil mengelus bahu ibunya.
" Ayo Nyang kamarmu... Leren disik,ibuk mau njangan tewel. Tak jikuk engkotak terno ndek kamarmu,ayoo...!" ( ayo ke kamarmu... Istirahat lah,ibu tadi bkin sayur nangka muda. Aku ambilkan nanti aku antar kekamarmu,ayoo....!) Safia berjalan beriringan bersama ibunya.
Hermawan merasakan getaran dihape nya. Ia melihat sebuah panggilan dari bibik Karin. Ia mengusap icon warna hijau dilayar.
π Hermawan : hallo bik,
π Bibik Karin : Hallo her,kamu bisa datang kerumah Karin sekarang?
π Hermawan : Ada apa bik?
π Bibik Karin : Karin nangis-nangis histeris sejak pagi. Bibik takut dengan kondisi Karin. Datanglah kesini sekarang...!
π Hermawan : baiklah,tunggulah sebentar bik!
π Bibik Karin : iya her...
Panggilan itupun berakhir...
Hermawan nampak berfikir keras,ia mulai gelisah dengan penuturan bibik Karin. Ia pergi ke dapur menemui ibu Safia.
" Bu,maaf saya izin pergi sebentar"
" Ooh iya nak her,nggak papa. Hati-hati..."
πΊπΊπΊπΊ
terimakasih...ππ
i love you so much π
__ADS_1