INIKAH TAKDIRKU...

INIKAH TAKDIRKU...
30 Maaf Nona,


__ADS_3

Sayup-sayup adzan ashar terdengar begitu merdu. Mata Safia mulai mengerjap beberapa kali mencoba mengumpulkan nyawanya. "Mas....,udah ashar! Ayo bangun!" Safia menggoyang-goyang kan tubuh suaminya. Suaranya serak,khas baru bangun tidur. Bukannya bangun Hermawan malah semakin mengeratkan pelukannya.


" Maaaaaaasss.......!" Teriak Safia didepan telinga Hermawan.


" Yaa ampun sayang,bisa budek telinga aku kalau kamu teriak-teriak gini" Hermawan mengusap-usap telinganya yang sakit.


" Mas...! Kamu tadi kenapa sih nakal banget. Liar banget,!" Safia mulai melepaskan pelukan Hermawan.


" Tapi kamu suka kan sayang? Aku suka banget pas cium aroma mis v kamu. Baunya enak,khas..mana nggak becek,legit! Kaya kue lapis legit" Hermawan terkekeh.


Safia melirik Hermawan dengan tatapan tak suka. " Jangan lagi,disitu kan kotor....! Aku nggak mau mas ngelakuin itu lagi"


" Tapi aku suka sayang....!" rengek Hermawan.


" Udah-udah,! Aku mau mandi ! " Safia beranjak dari tempat tidurnya. Namun pergelangan tangannya digenggam erat oleh Hermawan. " Sudah mas,sudah ya.... !," Kata Safia lembut. akhirnya Hermawan melepaskan tangan Safia.


Hermawan segera memakai bajunya yang berserakan dilantai dan turun dari kamarnya menemui putrinya Fanesa.


*****


Dimeja makan....


" Hai sayang...!" sapa Hermawan.


" Hai pah,papah tadi tidur ya?" Tanya Fanesa sengit.


" Iya,papah capek banget" Hermawan menarik sebuah kursi dan duduk disamping Fanesa.


" Pantesan," Fanesa nampak mengerucutkan bibirnya kesal.


" Kenapa sayangnya papa?" Hermawan meraih dagu Fanesa hingga tatapan mereka saling beradu.


" Aku mau jalan-jalan ke mall" rengek Fanesa.


" Ok nggak masalah " jawab Hermawan enteng.


" Aku pengen makan sushi pah" kata Fanesa dengan mata berbinar.


" iya,kamu sudah sholat belum? sholat ashar dulu. Entar habis magrib kita keluar,sekalian makan malam" Hermawan berdiri dari duduknya.


" Sama bunda juga ya!" Kata Fanesa dengan mata berbinar.


" Iya sayang,papa mandi dulu" Hermawan mengecup kening Fanesa. Lalu pergi meninggalkan Fanesa sendiri di meja makan.

__ADS_1


*****


Setelah bersiap-siap...


Hermawan,Fanesa juga Safia akhirnya pergi keluar untuk makan malam. Mereka memilih sebuah mall terbesar dikota Surabaya untuk untuk menikmati malam mereka.


Fanesa nampak bahagia karena merasa memiliki keluarga seutuhnya. Ada papa,dan mama. Ia tak pernah sekalipun seumur hidupnya pergi keluar bersama kedua orangtuanya.


Papanya Hermawan, selalu sibuk dengan segudang pekerjaan nya. Sedangkan mamanya Karin,asik berkumpul dengan teman-teman sosialita nya. Atau bahkan lebih memilih menghabiskan uang Hermawan dengan berbelanja ketimbang menemani putrinya jalan-jalan. Fanesa benar-benar menjadi remaja yang kiper dan tertutup. Kegiatan nya setiap hari cuma bersekolah dan berkutat dengan gadget nya dikamar.


" Pah,Fanes happy banget hari ini" kata Fanesa sambil bergelayut manja di lengan Hermawan, papanya.


" Papa juga,nggak ada hal yang lebih bahagia selain bersama kalian" Hermawan membalas Fanesa dengan senyuman.


Mereka bertiga berjalan menuju sebuah restoran. Hermawan sengaja tidak memilih tempat duduk biasa,bukan VIP. Karena permintaan Fanesa dan Safia. Kedua wanita yang selisih umurnya hanya beberapa tahun itu ingin menikmati pemandangan orang-orang yang berlalu-lalang di depan restoran.


" Pah,coba dulu kita sama mama Karin bisa gini" kata Fanesa sedih.


Hermawan mengenggam erat tangan Fanesa. " Sayang, dengarkan papa.... Semua sudah menjadi takdir Allah. Mungkin juga karena papa selalu memanjakan kalian dengan uang. Menurut papa dulu, memiliki uang banyak adalah puncak dari sebuah kebahagiaan. Tapi ternyata bukan ! Kebersamaan keluarga lah yang menjadi kebahagian. Bukan harta ! Jadi, mulai sekarang kita rubah mindset kita"


" Jadi makan nggak makan ngumpul,gitu ya pah?" Balas Fanesa serius.


" Kalo cuma ngumpul aja nggak makan ya laper nes," timpal Safia. Mereka nampak tertawa lepas. Kebahagiaan terlihat nyata di wajah mereka.


Ditengah perbincangan hangat Hermawan,Safia dan Fanesa. Tiba-tiba Safia merasakan ada sebuah panggilan alam yang mendesak.


" Mas,nes... Aku ke toilet dulu yah" Safia mulai berdiri dari duduknya.


" Mau aku temani ma?"


" Nggak usah sayang..." Safia sudah mulai beranjak dari kursinya.


" Sayang hati-hati...!" Hermawan sedikit berteriak. Tanpa menunggu lama Safia langsung berjalan dengan cepat memuji toilet wanita. Toilet itu berada cukup jauh dari restoran tempat mereka makan. Namun masih berada dalam satu lantai.


Setelah selesai menuntaskan hajatnya Safia mulai bergegas keluar dari toilet tersebut. Ketika melewati sebuah toko baju, pandangannya tertuju pada sebuah dress cantik selutut yang terpajang di manekin.


Baju itu pasti cantik kalau yang make Fanesa. Gumam Safia dalam hati.


Tanpa ragu Safia langsung melangkah kan kakinya ke toko tersebut. Ada seorang wanita muda menghampiri Safia.


" Selamat malam kakak...ada yang bisa kami bantu kakak..."


" Mbak aku mau baju itu bisa?" Kata Safia dengan menunjuk sebuah manekin.

__ADS_1


" Bisa kakak,saya ambilkan dulu ya..." wanita muda itu berjalan mendekati manekin dan melepas baju itu. " Silahkan kakak..."


Hal pertama yang Safia lakukan adalah melihat label harga yang tertera di baju itu.


Deg....


Gila,mahal banget nih baju! Kek gini aja hampir setengah juta! Tapi bagus sih,nggak kaya baju dipasar-pasar. gumam Safia dalam hati.


Safia teringat sebuah kartu debit pemberian Hermawan. Ia segera mengambilnya,dan berjalan ke kasir.


" Ini saja kakak?" Kata seorang kasir. Safia hanya mengangguk sambil tersenyum.


" Saya proses ya kak..." Kasir itu langsung meng-scan barcode pada baju itu. " Totalnya 478.000 ya kak"


Safia menyerahkan sebuah kartu berwarna hitam ke kasir tersebut. Tak lama kemudian kasir itu menyodorkan sebuah mesin gesek kepada Safia. " Silahkan PINnya kakak..."


Safia memencet 6 digit angka lalu si kasir memprosesnya kembali. Tak lama kemudian si kasir menyerahkan sebuah kartu hitam tersebut beserta slip bukti pembayaran. " Silahkan kakak kartunya. Dan ini belanjaannya" Si kasir menyerahkan sebuah paper bag berwarna merah maroon pada Safia.


" Terimakasih kakak, selamat berbelanja kembali" kata seorang wanita muda sambil mengatupkan kedua tangannya.


Safia merasa sangat bahagia bisa membelikan Fanesa baju. Ini kali pertama Safia membelikannya. Walaupun itu dengan uang suaminya. Safia terkekeh.


Dalam perjalanan menuju restoran,tatapan Safia tak lepas dari paper bag warna maroon yang ia genggam. Senyum nya terus saja tersungging di setiap langkahnya.


Bruukk.....


" Aahh....." Rintih Safia.


" Maaf nona,kau tidak apa-apa?" Kata seorang pria yang menabrak Safia.


Tabrakan itu cukup keras hingga membuat Safia oleng dan jatuh dengan posisi duduk. Bahkan minuman yang berada ditangan pria itu berhasil mengguyur tubuh Safia.


" Mari nona saya bantu..." Pria itu mulai membantu Safia berdiri.


" Terimakasih !" Safia mulai mengusap-usap bajunya yang basah.


" Biar saja bersihkan nona...!" Pria itu mengambil sapu tangan yang berada disakunya dan berusaha membantu membersihkan baju Safia.


Namun,Safia langsung menepis tangan pria itu perlahan. " Maaf,saya bisa melakukannya sendiri"


🌺🌺🌺🌺


Thank you 😘😘πŸ”₯

__ADS_1


__ADS_2