INIKAH TAKDIRKU...

INIKAH TAKDIRKU...
33 Terapi pertama


__ADS_3

Hermawan kembali kekamarnya sambil membawa satu botol berisi air dingin. Ketika ia sampai di kamarnya,ia melihat Safia sedang khusyu' sholat isya. Hermawan menunggu Safia hingga selesai sholat dan berdoa.


Setelah selesai berdoa Hermawan menghampiri Safia dan menyerahkan botol minum yang ia bawa dari dapur.


" Sayang,minumlah...!"


" Mas... tubuhku lemas sekali,aku mau tidur saja ya" kata Safia lirih.


" Iya sayang..." Hermawan membantu Safia merebahkan tubuhnya di ranjang. Hermawan memeluk Safia hingga Safia tertidur pulas. Setelah melihat istrinya tertidur pulas, Hermawan pergi untuk menunaikan kewajibannya sholat isya lalu merebahkan tubuhnya kembali di samping istrinya.


****


Hari ini Safia mulai mengikuti terapi psikologi. Hermawan senantiasa mendampingi Safia ketika diruangan pemeriksaan. Dokter awalnya menganalisa gejala pasien,lalu mulai melakukan sederet pemeriksaan secara spesifik. Hingga diketahuilah bagaimana metode penyembuhan yang terbaik untuk Safia.


Dokter memutuskan HIPNOTERAPI lah yang akan dijalani oleh Safia. karena menelisik kejadian demi kejadian yang dialami Safia merupakan sebuah kejadian kekerasan dan menyebabkan trauma yang mendalam.


Hermawan dengan setia mendampingi Safia, hingga terapi yang dijalani Safia selesai. Awalnya Safia biasa saja, lama-kelamaan ia ketakutan dan menangis histeris ketika menjalani terapi. Namun Hermawan segera menenangkan Safia. Dokter menjelaskan jika Safia rutin melakukan terapi ini,Safia akan kembali seperti sediakala.


" Pak Hermawan,saya harap nyonya Safia dijauhkan dari benda-benda yang mengingatkannya pada kejadian buruk yang pernah terjadi. Ini tidak berlangsung lama hingga kondisi nyonya membaik" kata dokter Dicky menjelaskan.


" Iya dok,saya akan menjauhkan Safia dari barang-barang itu. Bahkan saya sudah menjual rumah saya yang dikediri demi kesembuhan istri saya" tutur Hermawan.


" Baiklah pak Hermawan,saya tunggu tiga hari lagi untuk terapi selanjutnya. Saya undur diri dulu,.." Dokter Dicky meninggalkan Hermawan.


Hermawan menghampiri Safia yang tiduran di ranjang pasien. " Sayang... apa kau rasakan saat ini?"


Safia bangun dari tidurnya dan mencoba untuk duduk dibantu Hermawan. " Aku nggak tau apa yang terjadi padaku mas,yang jelas perasaan ku lebih baik dari yang sebelumnya"


" Apa kau tidak sadar apa yang dilakukan dokter Dicky tadi padamu?" Tanya Hermawan heran.


" Aku nggak ingat mas,aku nggak ingat apapun. Setelah dokter Dicky menyuruhku berbaring disini,aku nggak ingat apa yang terjadi kemudian" Safia nampak kebingungan dengan yang terjadi padanya.


Hipnoterapi adalah terapi yang digunakan untuk mengobati pasien yang mempunyai fobia atau trauma akan suatu hal buruk yang terjadi padanya. Terapi ini seperti hipnotis untuk meng-sugesti alam bawah sadar kita agar tidak berlarut-larut dalam kesedihan. Dan menghilangkan kenangan buruk masa lalu agar tidak menjadi kenangan yang menakutkan hingga terbawa ke masa berikutnya.


" Ya sudahlah jangan difikirkan lagi,ayo kita pulang dan istirahat" Hermawan merangkul Safia keluar dari ruangan terapi.


" Mas,apa aku tadi menangis?" Safia nampak mengusap pipi dan matanya.

__ADS_1


" Tidak sayang,mungkin mata kamu kelelahan dan berkeringat" tutur Hermawan santai. Namun Safia percaya saja dengan penuturan Hermawan.


Selama terapi berlangsung,tak hanya menangis Safia berteriak bahkan tangannya memukul apapun yang berada didepannya. Hermawan tak luput dari pukulannya.


Sesampainya diparkiran Hermawan dan Safia langsung masuk kedalam mobil. Dalam perjalanan,Safia memejamkan matanya. Rasa kantuk yang amat kuat menderanya. Hermawan tersenyum melihat Safia tertidur namun masih terlihat cantik.


Kenapa aku tidak bertemu denganmu sejak dulu? batin Hermawan.


Tangan Hermawan meraih tangan kanan Safia untuk dimainkan dalam perjalanan. Entah apa yang membuat Hermawan sangat mencintai Safia melebihi cintanya pada Karin dulu.


Setelah sampai halaman rumah mewah Hermawan,Safia tak kunjung membuka matanya. Tanpa membangun kan Safia Hermawan langsung menggendong tubuh Safia. Merasa tubuhnya bergerak Safia membuka matanya. ketika tatapannya beradu dengan manik Hermawan,Safia kembali memejamkan matanya. Tubuhnya terasa lemas dan sangat lelah.


" Loh....her,apa yang terjadi pada Safia?" tiba-tiba suara bibik Veronika memecah keheningan.


" Dia lelah bik, biarkan dia istirahat. Apa Fanesa sudah pulang sekolah?"


" Udah dikamarnya sama Karin"


" Ok,aku kekamar dulu bik" Hermawan melangkah meninggalkan bibik Veronika.


Ketika menaiki tangga, Hermawan melihat Karin menyembul keluar dari kamar Fanesa. Karin melihat Hermawan menggendong tubuh Safia dengan mesranya membuat hatinya begitu sakit. Waktu Hermawan melewati kamar Fanesa tak sepatah katapun terucap dari bibirnya. Karin semakin geram.


Awalnya Karin gugup,namun ia mencoba memberanikan diri masuk ke ruang kerja Hermawan.


Ceklek....


Pintu ruang kerja Hermawan terbuka. Karin melihat Hermawan begitu serius dengan laptopnya.


" Mas her,kopinya..." Karin meletakkan secangkir kopi di meja kerja Hermawan.


" Makasih" kata Hermawan singkat.


" Mas,maafkan aku..." Karin begitu gugup memulai percakapan nya dengan Hermawan.


" Sudahlah Karin,sekarang kondisinya sudah berbeda. Kau nggak berhak masuk kekamarku semaumu. Kita sudah bukan suami istri lagi. Ada hati yang harus aku jaga" Hermawan masih serius menatap layar laptopnya tanpa melirik Karin sedikit pun.


" Tapi mas... aku nggak tau kalo bajuku sudah kamu pindahin semuanya" Karin mencoba membela diri.

__ADS_1


Hermawan menoleh dan menatap Karin dengan tajam. " Kau tau aku mengijinkanmu tinggal disini karena apa? Semua karena Fanesa yang menginginkannya. Bahkan aku mengesampingkan perasaan istriku sendiri. Apa aku kurang baik padamu?"


" Maafkan aku..." Karin menunduk.


" Sudah keluarlah! Aku ingin menyelesaikan pekerjaan ku" mata Hermawan kembali fokus pada layar laptopnya.


Karin keluar dari ruangan kerja Hermawan dengan perasaan kesal.


Awas kau mas,lihat saja... istri kesayangan mu itu akan tau rasa karena berurusan dengan ku. batin Karin.


" Ma....mama mau kemana?" Fanesa nampak keluar dari kamarnya.


" Bukan urusanmu...!" Karin berlalu pergi tanpa menghiraukan Fanesa sedikit pun. Karin mengambil tas jinjing nya di kamar tamu lalu pergi begitu saja tanpa pamit dari rumah Hermawan.


Bibik Veronika yang berada diruang keluarga nampak memanggil-manggil Karin namun tak dihiraukan Karin sama sekali. Karin mengambil ponsel pintarnya dari dalam tas jinjing nya.


" Jemput aku sekarang dirumah Hermawan" Karin mematikan ponselnya dan berjalan menuju pintu gerbang. Setelah menunggu 10 menit tak lama kemudian datanglah sebuah mobil paj*ro sport warna putih berhenti di depan pintu gerbang. Karin membuka pintu mobil itu dan langsung masuk kedalam mobil. Pak satpam melihat mantan nyonya besarnya itu geleng-geleng kepala.


" Buk Karin nggak berubah ya,masih sama seperti dulu suka ganti-ganti cowok"


****


Dikamar Hermawan....


" Mas..." Safia duduk sambil bersandar di sandaran ranjang.


" iya sayang..." Hermawan nampak memilih baju ganti dalam lemari.


" Aku ingin masak...." Safia memainkan jarinya.


" Aku kan sudah bilang,jangan pergi kedapur selama kondisimu belum membaik" Hermawan melepas handuk yang melilit pinggangnya dan segera berganti pakaian.


" Mas... Aku bosan!"


🌺🌺🌺🌺🌺🌺


thank you 😘

__ADS_1


i love you all 😍😘😘πŸ”₯πŸ”₯


__ADS_2