
" Her, ngapain lihatnya sampe gtu banget...!" goda Nyonya Sanjaya.
" Ini sih bidadari ma....." Hermawan masih saja takjub dengan penampilan terbaru Safia. Rambut Safia diwarnai light brown,bagian bawah dikeriting gantung. Safia memakai baju terusan se lutut,beralas kaki sepatu berhak tinggi. Wajahnya terlihat lebih bersih berseri.
" Udah yuk masuk her..."
" Iya ma," Hermawan mengikuti langkah Safia dan nyonya Sanjaya.
" Her,mama mau tidur disini malam ini"
" Terserah mama !" Tatapan Hermawan masih fokus pada penampilan baru Safia.
" Ok baiklah.... Mama kau cuekin sekarang" ucap mama kesal. Nyonya pergi ke kamar tamu untuk beristirahat.
" Mas,ayo kita istirahat juga..." Hermawan mangangguk. Safia heran dengan tingkah suaminya. Dari tadi Hermawan tak henti-hentinya memandanginya. " Mas apakah penampilan ku aneh?"
" Tidak sayang kau hari ini cantik banget" Pipi Safia merona merah.
" Mama yang melakukan ini semua. Mas,maafkan mama belanjanya terlalu berlebihan" Safia nampak sedih.
" Tak apa sayang,aku bekerja untuk mu dan Fanesa. Sudah sepatutnya kau ikut menikmati hasil kerja keras ku" Hermawan menggandeng istrinya masuk ke kamar.
" Tapi barang-barang yang ku pakai semuanya sangat mahal mas. Ini sangat berlebihan...!"
" Buatku,kau pantas memakai barang-barang mahal seperti ini. Kau terlihat sangat cantik sayang" Hermawan menuntun istrinya duduk dipinggir ranjang. Hermawan mulai melakukan serangan. Mulai dari mencium tangan Safia,rambut,pundak.... sekarang leher.
" Mas aku belum mandi..." Safia menggeliat karena geli.
" Walau belum mandi,tapi kau wangi sekali sayang.... Aku jadi nggak tahan" Hermawan semakin brutal melakukan sentuhan-sentuhan.
" Mama mengajakku kesalon mas..." Hermawan mendorong tubuh Safia hingga jatuh terlentang. Hermawan berjalan merangkak diatas Safia. Ia mulai melucuti semua baju yang dipakai istrinya. Safia pun pasrah dengan perlakuan Hermawan.
Akhirnya kejadian 21+ pun terjadi. Walau sebenarnya Safia merasa capek,namun ia tak boleh menolak keinginan suaminya itu. Dosa hukum nya !
*****
Setelah sarapan Hermawan mulai bersiap untuk pergi kekantor. Fanesa juga sudah menyelesaikan sarapannya.
" Bik,antar sarapan ini kekamar" Hermawan menyerahkan sepiring nasi lengkap dengan lauknya.
" Baik den..."
" Kenapa Safia tak sarapan dibawah bareng kita her?"
" Safia sedikit kurang enak badan ma, sebaiknya nanti belajar mengemudi nya diundur saja. Biar Safia istirahat hari ini"
" Baiklah,mama akan menelpon gurunya dulu"
" Ma..,. aku berangkat kekantor dulu,sekalian antar Fanesa sekolah"
__ADS_1
" Iya sayang hati-hati..!" Hermawan mengecup kening mamanya. Begitu dengan Fanesa.
" Oma berangkat dulu...!"
" Iya cantiknya Oma, hati-hati ya...!"
Nyonya Sanjaya beranjak dari meja makan menuju teras. Memastikan anak dan menantunya sudah pergi meninggalkan rumah.
" Bik,nanti kalau Safia butuh apa-apa tolong hubungi aku"
" Iya nyonya"
" Ooh ya,jangan terima tamu tak dikenal"
" Iya nyonya"
" Aku pergi dulu ya bik..."
" Iya nyonya..." Bibik melambaikan tangan menyambut kepergian nyonya Sanjaya.
Diseberang jalan ada sebuah mobil sport yang mengawasi gerak-gerik penghuni rumah Hermawan. Setelah melihat mobil nyonya Sanjaya keluar dari pekarangan rumah Hermawan,mobil sport itu pun pergi meninggalkan tempat parkirnya.
****
Didalam kamar Safia masih meringkuk lemas. Entah kenapa kepalanya berkunang-kunang dan tubuhnya terasa lemas tak berdaya. Sewaktu sholat subuh saja ia membutuhkan bantuan Hermawan untuk menuntun nya.
Tiba-tiba handphone nya bergetar diatas meja dekat tempatnya tidur.
π Safia : Assalamualaikum mas....
π Hermawan : Bagaimana keadaan mu sayang?
π Safia : Masih lemas mas
π Hermawan : Apa perlu kupanggilkan dokter?
π Safia : Nggak usah mas, aku mau rebahan saja dikamar. Nanti juga membaik sendiri, mungkin aku kelelahan.
π Hermawan : Baiklah, istirahatlah sayang .. kalau ada apa-apa hubungi aku
π Safia : Iya sayang, hati-hati ya...
π Hermawan : Love You..... Assalamualaikum...!
π Safia : Love You too.... walaikum salam waroh matullahi wabarokatuh
" Lhoh? kenapa lampunya tiba-tiba mati ya?" Safia mencoba bangun dari tidurnya. Ia menyalakan flash light di handphone nya. Ia menuruni tangga dengan hati-hati. Kakinya masih terasa lemas dan kepalanya masih berkunang-kunang.
" Bik...,bibik....! Kenapa lampunya mati bik?"
__ADS_1
Safia sedikit takut karena tak ada jawaban. Safia pergi ke dapur, ketika melewati meja makan ia melihat bibik duduk sambil merebahkan kepalanya dimeja makan.
" Bibik kenapa tidur di sini sih bik?" Safia menggoyang-goyangkan tubuh bibik. Tak mendapatkan respon, Safia mengernyit heran.
Safia melihat di atas meja makan ada satu dus pizza yang sudah termakan satu potong.
Prok....prok.....prok....prok....
Terdengar bunyi seseorang sedang bertepuk tangan. Ada bayangan seorang laki-laki menghampiri Safia. Safia mengarahkan lampu handphone nya ke arah pria itu.
" Martin ....! " Safia berjalan mundur hingga punggung nya menyentuh kulkas. " Mau apa kau Martin?" Martin tersenyum licik.
" Tentu saja membunuhmu...!" Mendengar ucapan Martin Safia semakin gugup.
" Please Martin jangan bercanda!" Tubuh Safia semakin pucat pasi, tangannya mulai dingin.
" Hahaha....bercanda kamu bilang? Ok,aku sedang ingin bermain-main denganmu" Martin mengeluarkan sebuah pisau lipat dari kantong celananya. Martin menghujamkan pisau itu ketubuh Safia,namun ditangkis dengan tangannya.
" Aaarrgh.....!" Safia memegangi lengannya yang tergores pisau hingga mengeluarkan darah segar.
Martin tersenyum, gerakannya semakin menggila. Sekarang Martin menjambak rambut Safia dan mendorong nya hingga tersungkur ke lantai. " Aaarrgh...! Martin,apa yang kau lakukan padaku? Ampun Martin,tolong hentikan!"
Martin menarik tangan Safia hingga ia terseret beberapa meter dari posisinya dan membenturkan kepala Safia ke dinding. " Aaarrgh...." Kepala Safia semakin pusing. Tubuhnya limbung, akhirnya Safia pingsan.
Martin mengambil air es dari dalam kulkas dan menyiramnya ke wajah Safia.
Byuuurrrr......
Safia gelagapan mendapatkan guyuran air es. Martin tertawa puas karena berhasil menyiksa Safia dengan kejam. Tangan Safia meraih handphone yang terjatuh dilantai untuk menghubungi suaminya. Martin langsung merampas handphone Safia dan membantingnya ke dinding hingga hancur berhamburan.
Martin menghimpit leher Safia dengan lengannya dari belakang. Kaki Safia bergerak menendang-nendang, Safia mulai kehabisan nafas. Safia meraih kepala Martin dan menjambak nya. Lalu mencakar mata Martin.
" Aaarrgh....,wanita si*lan!" Martin melepaskan Safia dan memegangi kedua matanya yang perih karena dicakar Safia. Safia berjalan setengah berlari meninggalkan Martin. Tangan Safia menyambar kunci mobil sedan Hermawan. Dengan langkah terseok-seok dan nafas memburu Safia segera ke garasi dan membuka pintu mobil.
Safia merasakan sakit luar biasa pada perutnya. Martin menggedor-nggedor pintu mobil dengan keras. Safia langsung menyalakan mobil dan memacunya dengan kecepatan penuh.
Martin berlari menghampiri mobil sport nya yang terparkir di seberang jalan. Ia memacu mobilnya dengan kecepatan penuh untuk mengejar mobil yang ditumpangi Safia.
Safia merasakan darah segar mengalir diantara kedua pahanya. Ia hanya bisa menangis sambil memegangi perutnya yang sakit. Satu tangannya fokus untuk mengoperasikan setir bundarnya.
Bruuuaaaakkkk......
Mobil Martin menabrak bemper belakang mobil Safia. Kepala Safia sempat membentur setir. Mobil Safia mulai hilang kendali. Martin menambah laju kendaraannya,ia ingin menabrak mobil Safia dari samping kanan.
Ketika mobil Martin berada tepat di kanan mobil Safia, tiba-tiba ada truk berjalan dari arah berlawanan. Seketika itu Martin panik dan akhirnya......
Bruuuaaaakkkk....
πΊπΊπΊπΊπΊ
__ADS_1