
Martin sangat marah mendapatkan informasi bahwa Martin mencoba mencelakai istrinya. Bahkan Martin berhasil membunuh calon anaknya. Tangannya sudah mengepal ingin menghancurkan siapapun yang berada didepannya. Namun ia mulai teringat kondisi istrinya. Safia tidak boleh melihat kemarahannya.
" Pak Hermawan,apa anda akan menghadiri pemakaman Martin sore ini?"
" Tentu,aku ingin melihat jasad nya benar-benar terkubur dan tidak akan menganggu istriku lagi"
Fikiran Hermawan masih berkecamuk siapakah dalang dari rencana ini. Mungkinkah mantan istrinya?! Karena sangat janggal bila Martin sekejam itu. Ia faham betul bagaimana watak dan sifat Martin.
" Awasi terus kemanapun Karin pergi" Ucap Hermawan kemudian berlalu pergi meninggalkan taman rumah sakit. Ia kembali ke tempat perawatan Safia istrinya.
Kamar perawatan Safia.....
" Pah..." sapa Fanesa.
" Iya sayang,kau sudah pulang dari sekolah?"
Hermawan mengelus kepala Fanesa.
" Sudah pah,aku tadi dijemput supir..."
" Biarkan mama mu istirahat,kita pulang kerumah terus nanti sore kita datang kepemakaman om Martin" Hermawan mengusap kepala Fanesa lembut.
" Om Martin meninggal pah?" Fanesa nampak terpukul mendengar kabar dari Hermawan.
" Iya sayang,om Martin kecelakaan. Nanti biarkan Oma menjaga mama disini" Fanesa nampak mengangguk. Matanya sedikit berkaca-kaca, Hermawan tau putrinya begitu menyayangi sosok Martin.
" Her,ajak Fanesa pulang sekarang. Biarkan dia istirahat dirumah sebentar. Aku akan disini menjaga anak mantuku" Ucap nyonya Sanjaya sambil melangkah mendekati ranjang Safia.
" Iya ma,ayo kita pulang sayang..." Hermawan menggandeng putrinya. Tak lupa ia berpamitan dan mengecup kening istrinya.
Setelah kepergian Hermawan dan fanesa,nyonya Sanjaya duduk disamping menantunya.
" Ma..."
" Iya fia,"
" Apa benar Martin benar-benar meninggal?"
" Iya,mama sendiri yang lihat jenazahnya dipindahkan ke kamar mayat"
" Mama nggak ikut mas her ke pemakaman?"
" Buat apa mama melayat orang yang sudah mencoba membunuh mantu dan cucu mama"
" Cucu? maksud mama?" Safia nampak terkejut dengan ucapan ibu mertuanya.
" Ooh lupakan. Istirahatlah...! mama akan menunggumu disini" Nyonya Sanjaya mengelus lengan Safia lembut. Hati Safia mulai berkecamuk,apakah ia hamil? Tetapi ia benar-benar tidak ingat apa-apa. Terakhir yang ia ingat hanya perutnya yang sakit luar biasa.
******
Dipemakaman....
__ADS_1
Para pelayat mulai berkumpul mengantarkan jenazah untuk terakhir kalinya. Keluarga Karin dari luar kota sudah datang untuk menghibur Karin. Karin benar-benar merasakan kehilangan yang luar biasa. Keluarga satu-satunya dikota ini sudah meninggalkan nya seorang diri. Hatinya benar-benar hancur. Berkali-kali ia jatuh pingsan.
Ketika jenazah mulai dimasukkan ke liang lahat,ia mulai menangis meraung-raung tak terkendali. Orang-orang disekitarnya tak kuasa mengendalikan nya.
Walau sebenarnya hati Hermawan begitu sakit mengingat penghianatan Karin. Ini bukanlah waktu yang tepat untuk mengingat semua itu. Ia merasa kasihan dengan kondisi Karin saat ini.
" Pah...kasihan mama Karin" Fanesa menatap wajah ayahnya.
" Ayo kita mendekati mama Karin" Fanesa mengangguk mendengar kata ayahnya.
Hermawan dan Fanesa mendekati Karin. Ketika Karin sadar ada Hermawan dan Fanesa didekat nya, Karin langsung memeluk Hermawan.
" Mas.... Martin sudah pergi meninggalkan aku. Aku nggak punya siapa-siapa lagi,,hiks....hiks...hiks" Karin menangis sambil memeluk Hermawan. Hermawan menepuk-nepuk punggung Karin dengan lembut.
" Tenanglah,kau harus ikhlas... ini semua adalah takdir Tuhan" Hermawan mencoba menghibur Karin. Sebenarnya apa yang keluar dari mulut Hermawan berlainan dengan isi hatinya. Ingin sekali ia segera menemukan otak dibalik percobaan pembunuhan istrinya. Sebenarnya ingin sekali ia mengintrogasi Karin. Namun melihat kondisi Karin yang memprihatinkan,ia mengurungkan niatnya.
" Mas,aku tak punya siapapun lagi. Setelah kau pergi meninggalkan ku,kenapa Martin juga pergi .... hiks...hiks..."
" Sudahlah Karin.... sudah....!" Seorang wanita paruh baya ikut menenangkan Karin. " Her... antarkan Karin pulang dan temanilah sebentar"
" Tapi bik...! "
" Kasihanilah kondisi Karin sekarang" ucap bibik Karin.
" Baiklah bik..." Hermawan akhirnya pasrah.
Setelah pemakaman selesai,Hermawan menuntun Karin menuju mobilnya. Ia benar-benar mengikuti perintah bibik Karin untuk mengantar Karin pulang.
" Sepertinya iya untuk malam ini. Besok pagi-pagi bibik akan kembali ke Surabaya"
" Bik,tinggallah dirumah Karin untuk sementara"
" Kenapa seperti itu? Bukankah Karin tinggal bersama mu? Apa sebenarnya yang terjadi?"
Bibik Karin nampak bingung mendengar permintaan Hermawan.
" Kami sudah berpisah,dan aku sudah memiliki istri lagi. Sekarang istriku sedang dirawat dirumah sakit. Sungguh tidak pantas jika aku lebih memilih menemani Karin dirumahnya"
Bibik Karin diam, nampaknya bibik Karin sedang berfikir dengan keras. " Apa Karin melakukan kesalahan yang cukup fatal hingga kau meninggalkannya begitu saja?"
" Biarkan Karin yang menjelaskan sendiri pada bibik"
" Baiklah.... Fanesa,apakah kau tak ingin menemani nenek menginap dirumah mamamu?" Ucap bibik Karin sambil mengelus pipi Fanesa.
" Tidak nek,Fanes banyak tugas. Besok Fanesa ada ujian,jadi Fanesa harus belajar"
" Baiklah sayang, belajarlah baik-baik. supaya kau bisa jadi orang sukses seperti papamu " Fanesa hanya tersenyum sambil mengangguk.
Dalam perjalanan Karin tertidur di bangku penumpang. Nampaknya ia kelelahan karena terlalu banyak menangis. Fanesa dan bibik Karin diam seribu bahasa. Begitupun dengan Hermawan yang fokus menyetir.
Setelah sampai dihalaman rumah Karin, Hermawan mencoba membangunkan Karin. Namun Karin seperti nya kehilangan banyak tenaganya untuk sekedar berdiri. Akhirnya Hermawan menggendong Karin masuk kedalam rumahnya. Didalam hatinya Karin merasa bahagia karena mendapat perlakuan seperti itu dari Hermawan.
__ADS_1
" Bik,aku pamit pulang dulu... tolong jaga Karin,nanti kalau bibik butuh sesuatu bibik bisa hubungi aku"
" Baiklah her, terimakasih untuk kebaikanmu. Hati-hati dijalan, sering-sering lah berkunjung kemari..."
" Tentu bik... " Hermawan mengecup tangan bibik Karin, begitupun dengan Fanesa. Hermawan mengantar putrinya Fanesa pulang kerumahnya. Setelah sampai rumah, Hermawan segera kembali kerumah sakit.
****
Kamar perawatan Safia....
" Mah,pulanglah...! Mama istirahatlah dirumahku. Mama pasti capek..."
" Iya her,mama akan pulang kerumah mu. Mama akan temani Fanesa"
" Mama hati-hati ya...." Hermawan mengecup kening Nyonya Sanjaya.
" Jaga Safia baik-baikβ¦! Mama pulang dulu ya her..."
" Iya ma..."
Setelah kepergian Nyonya Sanjaya kamar mulai hening kembali. Hermawan mulai merebahkan tubuhnya di sofa. Matanya menatap langit-langit kamar. Entah apa yang sedang ada dalam fikirannya.
" Mas...." Ucap Safia lirih.
" Iya sayang..." Hermawan menoleh ke arah Safia dan menghampirinya. " Kau butuh sesuatu?" Safia hanya menggeleng lemah.
" Apa aku hamil?"
Hermawan nampak terkejut dengan pertanyaan Safia. " Siapa yang mengatakan itu padamu?"
" Jawablah mas...! Aku ingin tahu kebenarannya" Hermawan mengecup i tangan Safia. Beberapa menit Hermawan terdiam,ia sedang berfikir memilih kata-kata yang cocok agar tidak memperburuk kondisi Safia.
" Apapun yang terjadi aku tetap mencintaimu. Kita bisa memulai nya kembali"
" Apa maksud mas? Apa aku benar-benar hamil?" Hermawan hanya bisa mengangguk.
" Lalu bagaimana keadaan janin kita mas?" Mata Safia mulai memerah. Ia mengelus perutnya yang datar.
" Allah mengambilnya kembali"
" Apa? Tidak mas,ini salah ku..... aku nggak bisa menjaganya.hiks.....hiks...hiks..." Emosi Safia mulai tidak terkontrol kembali. Ia menangis tersedu-sedu. Sesekali ia menyakiti dirinya dengan cara memukul dadanya. tak lama kemudian selang infus terlepas dari tangannya. Hermawan segera memanggil dokter dan memeluk Safia.
" Tidak mas....! Aku bukan ibu yang baik...!" Teriak Safia.
πΊπΊπΊπΊ
π΄π΄π΄
Terimakasih ya sayangkuh semua...πππ
i love you so much ππ
__ADS_1