INIKAH TAKDIRKU...

INIKAH TAKDIRKU...
14 Aku Takut


__ADS_3

" Safia hentikan...!!" Hermawan meraih tangan Safia. Hermawan mencengkeram pergelangan tangan Safia dengan kuat.


" Aaaw...." pekik Safia.


" Kenapa kau seperti ini?! Apa yang terjadi denganmu?" Hermawan mulai menaikkan intonasi suaranya. Jelas itu membuat Safia semakin takut. " Katakan kenapa?!" Hermawan mulai berteriak.


" Kenapa mas menikahiku kalau mas mencintai wanita lain?" Suara Safia mulai meninggi.


" Siapa wanita yang kau maksud?"


" Sonia..."


Hermawan menarik tangan Safia hingga membuatnya jatuh ke pelukan Hermawan. " Apa yang kau katakan sayang?" Suara Hermawan mulai melemah." Kenapa kau cemburu dengan sahabat ku... Aku hanya menganggapnya sahabat. Tidak lebih dari itu..." Hermawan mengelus punggung Safia.


" Lalu kenapa kau sedekat itu mas? Aku rasa perlakuan mas kepada nya lebih dari sekedar sahabat" Safia masih menangis.


" Kau tidak menyukainya?" Hermawan meraup wajah Safia. Tatapan Hermawan begitu dalam pada Safia. " Katakanlah..!"


Safia hanya menggeleng lemah. Hermawan langsung mengecup mesra bibir Safia yang memerah.*Cuupp....


" Aku tak akan mengulanginya lagi" Hermawan kembali menghadiahi kecupan, sekarang ke kedua pipi Safia dan hidung Safia. " Apa tanganmu sakit?" Hermawan memperhatikan pergelangan tangan Safia yang kemerahan. " Maafkan aku"


Safia mulai luluh dengan sikap Hermawan. Hermawan memberi salep pada pergelangan tangan Safia. " Dengarkan aku sayang.... Jangan pernah marah seperti ini lagi! jika kau tak suka dengan sikapku,kau boleh menegurku"


" Mas....aku hanya...."


Hermawan merapikan rambut Safia. " Hanya apa? katakanlah..."


" Aku hanya takut kau meninggalkanku dengan wanita lain" Hermawan tersenyum. Ia begitu bahagia karena Safia mulai merasakan cemburu bila dia berdekatan dengan wanita lain.


" Tak akan pernah. Aku mencintaimu dengan seluruh nafasku fia" Hermawan mencium tangan Safia.


" Mas....jangan seperti itu" pipi Safia mulai merona bak tomat matang.


" Katakan padaku,apakah kau ingin sesuatu?"


" Tidak mas...aku tak ingin apapun"


" Kenapa? Katakanlah jangan malu-malu seperti itu. Aku adalah suamimu sekarang"


Safia nampak diam sejenak. Ia berfikir sejenak apa yang suaminya katakan." Aku tidak ingin apapun mas..."

__ADS_1


" Apakah kau tau, Fanesa selalu minta sesuatu ketika amarahnya mulai mereda"


" Apa mas menganggapku seperti Fanesa?"


Hermawan kembali tersenyum. " Bukan maksud ku menganggapmu seperti anak kecil Sayang. Tapi aku ingin menyenangkan hatimu karena aku telah membuatmu menangis" Safia mulai tersenyum. Safia memeluk Hermawan.


" Aku ingin jalan-jalan di taman hijau dekat simpang lima gumul" Safia mendongakkan kepalanya menatap suaminya lekat.


" Baiklah sayang....apapun untuk mu. Tapi tunggu Fanesa pulang ya,kita kesana bersama Fanesa" Safia mengangguk sambil tersenyum manja. Hermawan menarik hidung Safia gemas.


Hermawan mulai tak sabar akan godaan didepannya. Ia tk akan melewatkan kesempatan berdua dengan Safia. Safia hanya bisa pasrah dengan apa yang dilakukan Hermawan padanya. Memang seharusnya terjadi bila sudah menjadi suami istri kan?


Setelah selesai melakukan pergulatan diatas ranjang merekapun mandi bersama. Tak lupa sholat Dzuhur berjamaah.


Hermawan baru merasakan rumah tangga yang sesungguhnya. Merasa selalu merindukan istrinya, padahal baru saja meninggalkannya 10 menit. Hatinya selalu berbunga-bunga bila berada disamping istrinya. Walaupun Safia dengannya berbeda jauh usianya, Hermawan merasakan kembali jatuh cinta seperti masa-masa ABG dulu. Entah ini bs dibilang puber ke 2 atau tidak.


Waktu beranjak sore,Fanesa sudah pulang sejak 1jam lalu. Hermawan masih asik dengan istri nya dikamar. Fanesa mulai kesal dengan tingkah papanya itu.


" Bik,papa ngapain aja sih dikamar?"


" Nggak tau non,tadi bibik dengar bapak teriak-teriak. Sepertinya bapak berantem sama mbak Safia"


" Bibik masakin ini lagi ya besok"


" ini bukan masakan bibik non... ini masakan mbak Safia"


" Kenapa nggak bibik aja yang masak sih?"


" Kan non tau sendiri bibik masaknya itu-itu aja,non juga sering protes kan?"


" Iya sih,tapi bibik janji jangan bilang kalau aku suka masakan tante"


" Kenapa non? kan biar besok dimasakin mbak fia sop merah seperti ini lagi"


" Jangan pernah bilang apapun! Katakan saja bibik suka masakan ini" Fanesa mengancam bibik dengan sedikit melotot.


" Iya-iya non,tapi non jangan melotot seperti itu saya takut"


" Makanya nurut...!" Fanesa sedikit berteriak.


" Apasih sayang yang harus nurut?" Fanesa kaget tiba-tiba ayanhnya sudah berada dibelakangnya bersama Safia.

__ADS_1


" Papa jangan marah... Fanesa cuma...." Ucapan Fanesa terputus karena takut ayahnya marah.


" Jangan seperti itu sayang, kasihan bibik nanti takut. Kalau bibik pergi dari rumah siapa yang ngurus rumah"


" Kan ada istri papa..." Balas Fanesa sambil mengerucutkan bibirnya.


" Yaa asal kamu juga ikut bantu mama Safia ya..." Hermawan tersenyum jail.


" Dih,najis....! nggak level...!" kini tak hanya mengerucutkan bibirnya, Fanesa juga melipat tangannya didada.


" Makanya sayang... hormatilah orang lain apapun pekerjaan nya. Kamu nggak boleh bersikap seperti itu pada bibik dan mama Safia. Itu tidak sopan!"


" Papa kenapa sih sering-sering dirumah? Papa kan biasa pulang malam,sibuk kerja... Kenapa dirumah?"


" Karena papa ingin mengajakmu jalan-jalan. Apa kamu nggak suka sayang?"


" Mau dong pa...." kini muka Fanesa langsung berubah memelas.


" Boleh ikut,asal kau rubah sikap burukmu itu sayang"


" Iya papa...." Fanesa merasa sedikit kesal dengan sikap papanya.


" Ya udah bersiaplah,kita akan segera berangkat" Fanesa hanya mengangguk dan segera pergi ke kamarnya. Selama ini papanya tak pernah ada waktu untuk nya walau sekedar jalan-jalan bersama. Mamanya juga selalu sibuk dengan urusannya sendiri. Itu sebabnya sikapnya seperti itu.


Setelah lama menunggu Fanesa pun turun menghampiri Hermawan yang sedang bersantai bersama Safia.


" Ayo pa kita berangkat"


" Ayo sayang..." Hermawan menggandeng tangan Safia dan meninggalkan Fanesa mengikuti dibelakangnya. Bibir Fanesa semakin mengerucut. ' Kenapa sih papa gandengan terus sama tante fia?! jadi kesel deh!" gumamnya dalam hati.


Hermawan memilih mengemudikan mobilnya sendiri. Safia duduk disebelah bangku kemudi. Sedangkan Fanesa dibangku belakang. Dalam perjalanan Fanesa selalu memperhatikan tingkah papanya. ' Papa ini apa-apaan sih? Senyum-senyum terus ke tante Safia,udah gitu tangannya pegangan mulu' gumamnya lirih.


Hermawan merasakan seperti memiliki keluarga kecil yang utuh kembali. Sesekali ia menoleh kebelakang memastikan kalau Fanesa menikmati perjalanannya. Ya,Fanesa benar-benar bahagia bisa keluar bersama papanya. Walau hati kecil Fanesa sedikit cemburu terhadap sikap papanya terhadap ibu tirinya itu.


Sesaat Hermawan berputar-putar disebuah jalan simpang lima. Fanesa langsung mendongakkan kepalanya ke jendela.


" Pa...what is this seriously?" Fanesa kaget sekaligus melongo takjub.


" Serius sayang kita kesini... sebentar papa mau cari parkir dulu"


Fanesa menutup mulutnya yang masih melongo dengan tangannya. Matanya berbinar tak percaya kalau papanya benar-benar mengajaknya kesini. Mamanya selalu menolak jika ia mengajaknya kesini. Begitupun dengan papanya selalu tak pernah ada waktu untuknya.

__ADS_1


__ADS_2