INIKAH TAKDIRKU...

INIKAH TAKDIRKU...
64 Jangan Dekati Suamiku


__ADS_3

" Ooh ya?"


Safia meremas bajunya. Ia tidak menyangka akan bertemu dengan istri Antony. Ternyata apa yang dikatakan ibu mertuanya selama ini adalah salah. Istri Antony yang ia bayangkan selama ini adalah wanita berhati lembut, ternyata wanita yang berada dihadapannya bermulut pedas.


" Kamu pasti tau Karin,wanita itu bahkan rela berlutut dihadapan Antony agar suamiku mau menikahinya,cih.... menjijikkan!"


" Tapi aku bukanlah mbak Karin...! Aku Safia, aku tidak akan pernah mengemis karena ingin hidup enak. Aku juga nggak pernah bermimpi menjadi istri orang kaya...! Jangan pernah menganggapku serendah itu mbak...!"


" Hemmmttt..." Susi tersenyum sinis. " Mana mungkin seseorang yang serba kekurangan tidak mengharapkan kehidupannya lebih baik hah? aku tau latar belakang mu!"


" Aku memang anak orang miskin,tapi orang tuaku tidak pernah mengajariku untuk merebut suami orang!" Safia mengusap air matanya.


" Munafik...!" Susi berdiri. " Kalau kau punya harga diri,jangan dekati suamiku! Kalau tidak,kamu akan berurusan dengan ku..!" Susi melangkah pergi meninggalkan Safia. Namun langkahnya terhenti karena perkataan Safia.


" Aku tidak pernah mencoba mendekati suami mu mbak. Dialah yang selalu berusaha mendekati ku. Asal kau tau...bahkan aku telah memblokir nomor telepon nya! Untuk apa? Karena aku menghargai suamiku. Kalau memang aku tidak mencintai suamiku,aku tidak akan hamil anaknya...!" Safia semakin terisak.


Susi menoleh," Aku harap itu bukan cuma omong kosong,kalau aku mengetahui sendiri kamu bersama suamiku, aku tidak akan segan-segan untuk membinasakan mu...!" Susi berjalan meninggalkan Safia.


Safia meringis kesakitan karena perutnya kembali kram. Tidak lama kemudian Hermawan masuk kedalam kamarnya.


" Sayang....kamu nggak papa?"


Tangis Safia semakin menjadi-jadi. " Mas her..."


Hermawan memeluk tubuh Safia. " Tenanglah...! jangan bersedih...!"


" Aku mencintaimu mas,nggak ada pria lain dihatiku... wanita itu jahat telah menuduhku macam-macam. Ini anakmu mas...! Aku nggak pernah berhubungan dengan pria lain selain kamu...!" Tangis Safia semakin menyayat hati.


" Tenanglah...! Aku percaya padamu sayang. Jangan menangis lagi,ini sangat menyakitkan untuk ku" Hermawan mengusap air mata Safia.


" Wanita itu menuduhku mendekati suaminya... padahal aku nggak pernah melakukan itu"


" Iya...iya,aku percaya...!" Hermawan mengambil gelas berisikan es dawet ayu dan memberikannya pada Safia. " minum dulu agar kamu sedikit tenang"


Safia menyeruput sedikit es dawet itu. " Mas percaya padaku kan?"


Hermawan mengangguk. " Aku percaya, kamu bisa menjaga mahkota kamu dengan baik. Buktinya akulah pria pertama yang bisa menikmati keperawanan kamu kan?"


Safia mengangguk.


"Aku juga tau kamu bukan wanita murahan yang sering gonta-ganti pacar"


Safia mengangguk kembali. " Kamu pria pertama yang mampu melelehkan hatiku mas"


" Ooh ya..hahahaha" Hermawan tertawa terbahak-bahak.

__ADS_1


Safia mencubit perut Hermawan.


" Aauuw.... kebiasaan deh!"


" Nggak ada yang lucu kenapa ketawa?"


" Segitu polosnya kamu hingga akulah pria pertama yang bisa menempati hatimu? Selama ini,kemana saja pria-pria yang ada diluar sana??"


" Ibuk selalu bilang,wanita yang baik bukanlah wanita yang mencintai banyak pria dihatinya. Tapi wanita yang baik itu adalah wanita yang mencintai satu pria untuk selamanya"


Hermawan mengenggam erat tangan Safia. " Aku menyesal terlambat bertemu dengan mu sayang"


"Yang bener aja mas, kita selisih 15 tahun... kalau mas menikah umur 25tahun...aku baru umur 10tahun mas...! mas mau disebut pedofil?"


" Iya juga ya....hahaha" Hermawan tertawa geli. " Kamu umur 10 tahun apa sudah secantik sekarang fia?"


" Ya belumlah mas...! Kerjaan ku cari kayu bakar di kebon,bahkan aku kesawah cari rumput buat makan kambingnya bapak"


" Apa? pasti kamu kumel dan lusuh sekali..." Hermawan terkejut.


" Menurut mas? ya jelaslah buluk... mana mikir dandan anak sekecil itu... lagian mas juga tau,rumah ku aja reot... kalo bapak punya uang pasti buat makan, boro-boro buat bawa kesalon anak-anaknya" Safia mengerucutkan bibirnya.


" Sayang . .. mulai saat ini,aku janji sama kamu...aku akan membahagiakan mu dan anak kita. Aku akan bekerja keras demi kalian berdua" Hermawan mengelus perut Safia dengan lembut.


Hermawan langsung meraup wajah Safia dan mencium nya sekilas.


" Jaga kesehatan mu dan anak kita,nanti malam masih ada pengajian... kamu disini saja, istirahat! Baju dan semua perlengkapan mu akan bibik bawa kemari. Jadi jangan naik turun tangga...!"


Safia mengangguk sambil tersenyum.


" Sekarang mandi ya,aku akan mempersiapkan air hangat untuk mu" Hermawan berdiri,sekilas ia mengacak-acak rambut Safia karena gemas lalu pergi kekamar mandi menyiapkan air hangat untuk istrinya.


Mbak Susi,kenapa kamu sejahat itu padaku? Ataukah itu hanya pertahanan dirinya agar aku tidak mendekati suaminya? Tapi...kenapa dia meragukan bayi yang ku kandung?


Safia menatap perutnya yang membuncit. Ia mengelusnya dengan lembut.


Jelas kamu anak papa Hermawan lah,tidak mungkin mama berselingkuh dengan om Antony! Sayang.... jaga mama ya,supaya iman mama kuat dan tetap bisa bertahan bersama papa Hermawan. I love you baby....


" Sedang apa?" Hermawan menyentuh bahu Safia.


Safia sedikit terkejut," Maaasss.....aku kaget tau!"


Hermawan duduk disamping Safia duduk. " Kenapa kamu senyum-senyum sendiri?"


" Aku sedang berkomunikasi dengan baby..."

__ADS_1


" Memangnya apa yang mama katakan sayang?" Hermawan mengelus perut Safia.


" Rahasia...!" Safia tersenyum meledek.


" Sayang,dengarkan papa... jika mama berani macam-macam mendekati pria lain,pastikan mama merasakan sakit yang luar biasa diperutnya"


" Aaaiiissshh....! perintah macam apa itu? kamu nggak boleh ya mas ngajari anak kita hal-hal buruk! berkata buruk, menyakiti orang lain... melakukan kekerasan...! nggak boleh!" Safia memeluk perutnya erat.


" sayang....bukan begitu maksud ku...!"


" pokoknya nggak boleh...!!"


Hermawan tidak hilang akal,ia mengambil baby oil dari clutch kecil diatas nakas.


" Sudah-sudah aku minta maaf,sini aku pijitin punggung kamu" Hermawan membuka resleting di punggung Safia. Hermawan mengoleskan baby oil ke punggung Safia dan memijatnya.


Walau bibirnya masih manyun,tapi Safia mulai menikmati pijatan Hermawan.


Hermawan kini mempunyai hobi baru,yaitu jadi tukang pijit pribadi untuk istrinya.


" Bagaimana? apa ini nyaman?"


" he-em..." Safia nampak memejamkan matanya menikmati sentuhan demi sentuhan Hermawan.


" Sekarang gantian betis kamu" Hermawan duduk dilantai,dengan terampil tangannya meletakkan kaki Safia di pangkuannya dan mulai memijitnya.


" Mas..."


" Iya..."


" Apa mas dulu juga gini sama mbak Karin?"


Hermawan menggeleng " nggak pernah,kita sibuk dengan urusan masing-masing. Aku selalu pulang larut malam,dan pagi-pagi sekali sebelum Karin bangun aku sudah pergi kekantor"


" Mbak Karin nggak pernah nyusulin ke kantor?"


" Pernah,tapi jarang... Dia kekantor kalau limit kartu kredit nya sudah habis"


" Kartu kredit yang mas berikan limitnya besar loh..." Safia sedikit terkejut.


" Karin itu gila belanja,bahkan kadang barang belanjaannya belum sempat ia pakai sudah belanja lagi. Akhirnya...aku bikinin butik buat nampung barang belanjaannya itu"


" Lalu butiknya?"


🌺🌺🌺🌺

__ADS_1


__ADS_2