
Malang - Coban Amprong
Sore ini Bu Lastri dan pak Hasan bisa pulang lebih awal. Karena akhir pekan, coban Amprong cukup ramai. Bisanya Bu Lastri dan pak Hasan pulang sore bahkan hampir magrib untuk menghabiskan dagangan nya. Namun, hari ini pukul 3 sore pak Hasan dan Bu Lastri sudah pulang.
Pak Hasan memanfaatkan waktu untuk mencari kayu bakar. Sedangkan Bu Lastri mencari daun pisang untuk membungkus kue mendut dan kue nogosari. Kadang Bu Lastri juga membuat kue lemper,cucur dan sebagainya.
Safia dirumah memasak untuk makan nanti malam. Baby Arjuna sangat pintar, tidak pernah rewel jika harus ditinggal Safia membantu pekerjaan Bu Lastri.
" Nduk.... wes mateng?" ( nak, sudah matang?) Bu Lastri datang sambil membawa daun pisang yang sudah diikat dengan ikatan yang cukup besar. Bahkan Bu Lastri sedikit kesulitan membawanya.
Safia dengan sigap membantu Bu Lastri membawa daun pisang.
" Bu, kenapa bawanya banyak sekali? kan ibu bisa minta tolong fia!"
" Gak Popo, ibuk jek kuat" ( tidak apa-apa, ibu masih kuat)
" Jaga kesehatan ibu, fia nggak mau kalau ibu sakit"
Bu Lastri tersenyum, " Awakmu koyok anak ku lanang" ( kamu seperti anak lelakiku)
Safia tersenyum, namun hatinya merasa sedih. Ia meras kasihan, dengan usia yang sudah senja Bu Lastri dan pak Hasan harus tetap berjualan untuk berjuang hidup.
" Yowes, ibuk mau ke kebon lagi!" ( ya sudah ibu mau ke kebun lagi)
" Sudahlah buk....!"
" Nggak papa"
Bu Lastri tetap berangkat kekebun mencari sayur untuk dimasak besok pagi. Safia hanya bisa menunggu dirumah. Karena Safia tidak tega jika harus meninggalkan baby Arjuna sendirian terlalu lama.
Braakkk....!
Terdengar suara barang jatuh dibelakang rumah pak hasan, Safia langsung berlari ke belakang rumah.
" Bapak....! bapak nggak papa?"
Safia merasa cemas karena pak Hasan telihat terengah-engah.
" Nggak papa....!"
Safia masuk kedalam rumah lagi untuk mengambilkan pak Hasan minum.
" Pak minumlah!"
" Makasih ya nduk"
Pak Hasan langsung meneguk air secangkir besar hingga habis.
Safia tersenyum karena melihat pak Hasan yang begitu kehausan.
" Mau fia ambilkan air lagi?"
__ADS_1
" Wes nduk, makasih....!"
Pak Hasan mengambil celurit yang sudah ia jatuhkan ke tanah. Tiba-tiba datang Bu Lastri sambil berteriak-teriak.
" Nduk....! nduk....!" Bu Lastri menghampiri Safia.
" Opo to buk?" bentak pak Hasan.
" Enek bojone fia ndek ngarep pak...!" ( ada suaminya fia di depan pak!)
" Aah mosok buk?" ( aah masak Bu?) Pak Hasan terlihat tidak percaya.
" Ho-oh, jenenge Hermawan! wonge guanteng, persis koyo seng dicritakne fia" ( iya, namanya Hermawan! orangnya ganteng, persis seperti yang diceritakan fia" Bu Lastri langsung menggandeng Safia masuk.
Pak Hasan merasa penasaran dan tidak enak perasaannya, akhirnya pak Hasan mengikuti Safia dari belakang. Ketika melewati box baby Arjuna, Safia menggendong putranya. ia benar-benar tidak sabar ingin bertemu suaminya.
Safia berjalan cepat menuju halaman rumah pak Hasan. Safia melihat seorang pria memakai kemeja berdiri membelakanginya.
" Mas .....!"
Safia tidak sabar untuk melihat wajah pria yang selalu ia rindukan.
Pria itu membalikkan tubuhnya. Wajah Safia langsung terkejut. Safia mundur beberapa langkah.
" Fia....!" Pria itu mencoba mendekati Safia .
" Stop! Berhenti disitu...!" Teriak Safia.
" Ngapain kamu kesini?"
" Fia.... aku minta maaf, kita bisa bicarakan semua baik-baik, ok!"
" Nggak...!" Safia berlari dan bersembunyi dibalik tubuh pak Hasan. " pak, dia pria jahat yang menculikku!" Tangan Safia bergetar karena ketakutan.
Pak Hasan mengacungkan celuritnya. " Hei...! pergi dari sini!"
" Tapi pak... biarkan saya bicara baik-baik pada Safia. Saya tidak akan menyakitinya!"
" Bohong....!" teriak Safia lagi.
" Fia...kali ini tolong percayalah padaku, aku akan membawamu pergi menemui Hermawan!"
" Bohong. ...! Kamu pembohong! Aku nggak akan percaya lagi dengan tipu muslihat mu!" Safia masuk kedalam rumah pak Hasan, diikuti Bu Lastri.
" Fia....please....!" Antony memohon agar Safia mempercayai nya.
" Hei...! jangan mendekat!" Pak Hasan mengacungkan kembali celuritnya pada Antony.
" Pak...! saya mohon, saya sudah taubat dengan apa yang pernah saya lakukan. Saya menyesal, saya tidak akan menyakiti fia! Saya janji....!" Antony memohon agar pak Hasan mempercayai nya.
" Pergi kau anak muda...! Atau celurit ini mencabik-cabik tubuhmu!" Pak Hasan masih mengacungkan celuritnya.
__ADS_1
Antony dan anak buahnya ketakutan, akhirnya mereka terpaksa kembali ke Surabaya. Dalam perjalanan Antony berfikir keras bagaimana caranya membawa Safia kembali ke Surabaya. Namun sepertinya keluarga yang menolong Safia begitu melindungi Safia.
Akhirnya Antony kembali kerumah mewahnya. ia berfikir untuk menyusun rencana agar Safia kembali, namun tidak dengan cara kekerasan.
Ceklek....
Pintu kamar Antony terbuka. Fanesa datang menghampiri Antony yang sedang duduk dipinggir ranjang.
" Kamu belum tidur nes?"
Fanesa hanya menggeleng. " Papa dari mana?"
" Papa sedang mencari tante fia"
Fanesa nampak terkejut, " apa mama fia sudah ketemu pa?"
Antony mengangguk," tapi mama fia nggak mau pulang sama papa"
" Kenapa nggak mau?"
" Karena papa jahat,!"
Fanesa memeluk Antony. " Papa kan sudah berubah"
Antony mencium kepala Fanesa, " mama Fanesa tidak semudah itu percaya pada papa,karena..."
" Karena apa pa?" Fanesa mendongakkan kepalanya.
" Karena begitu banyak kesalahan yang pernah papa lakukan" Antony menunduk.
" pa, ajak aku kesana...! Aku akan bicara pada mama fia, biar mama fia percaya" Fanesa memohon kepada Antony.
Antony mengelus kepala Fanesa, " Tetaplah tinggal disini, disana sangat tidak baik untuk seusiamu. Papa besok pagi akan pergi kerumah papa Hermawan, mengajaknya untuk menjemput mama fia"
Fanesa mengangguk setuju.
Sebenarnya Antony tidak ingin Fanesa mendengar pertengkaran atau kata-kata kasar jika bertemu dengan Safia. Antony juga tidak ingin Fanesa berubah fikiran setelah bertemu Safia. Yang Antony inginkan saat ini adalah hak asuh dari Fanesa. Antony benar-benar ingin merubah semua kesalahan dimasa lalunya.
" Tidurlah, papa juga ingin tidur...!"
" Bolehkah aku tidur sambil memeluk papa?"
Antony mengangguk, Fanesa langsung mengambil posisi yang nyaman di ranjang Antony. Kemudian disusul Antony berbaring disisi Fanesa. Mereka tidur saling berhadapan. Tangan Fanesa melingkar di tubuh Antony, begitupun tangan Antony.
Merekapun memejamkan matanya. Antony senang Fanesa hadir ketika kehidupannya hampir terpuruk. Tepatnya obat penyembuh lukanya. Fanesa juga penyemangat hidupnya. Kalau tidak ada Fanesa, mungkin hidupnya akan semakin terpuruk.
Antony baru menyadari apa maksud Tuhan menghadirkan Fanesa di balik semua kesalahannya. Ya, kali ini Antony tidak akan mengulangi kesalahan-kesalahannya kembali. Antony ingin memulai semuanya dari awal kembali. Berjuang demi kebahagiaan keluarga kecilnya.
πππππ
***Lanjuuuuuttt....!! Apa yang terjadi berikutnya ya....? Apakah mbak fia mau diajak pulang kembali?? Jangan lupa like,komen n voteππ
__ADS_1
Thank you all π***