INIKAH TAKDIRKU...

INIKAH TAKDIRKU...
76 Aku harus kuat


__ADS_3

" Dimana aku meletakkan kertas itu ya?" nyonya Sanjaya sibuk mencari kertas yang diberikan Susi kemarin malam. Namun,sejak tadi pagi kertas itu tetap saja tidak ditemukan.


" Oma cari apa?" Fanesa mendekati Omanya yang sibuk mencari sesuatu.


" Kertas yang diberikan bibik Susi tadi malam kemana ya sayang...?"


" Sudah diambil pala sejak subuh tadi"


" Apa? Giendeng tenan!" Nyonya Sanjaya mengambil handphone nya segera menghubungi putranya. Berkali-kali ia telepon namun tetap saja tidak diangkat.


" Apa bibik Susi masih dirumah?"


" Masih,bibik sedang sarapan sama bunda Vero"


Nyonya Sanjaya segera turun menemui Susi untuk meminta alamat villa dimana Antony menyembunyikan Safia.


" Dimana Hermawan tante?"


" Entahlah,sejak pagi belum kelihatan"


" Susi....Susi... Tante minta alamat Antony lagi" tiba-tiba nyonya Sanjaya datang menghampiri Susi yang sedang menikmati kopi panas.


" Kemarin kan sudah Susi kasih Tan"


" Iya,tadi pagi-pagi buta Hermawan sudah mengambil alamat itu. Sepertinya dia tidak sabar untuk menyusul Safia. Tante mau nyusul ke malang, Tante takut terjadi hal-hal yang nggak diinginkan"


" Eh, iya tan..." Susi langsung mengambil kertas dan pulpen yang dibawa Fanesa untuk mencatat alamat villa Antony.


" mbak yu sarapan dulu"


" Iya ver..."


Nyonya Sanjaya sarapan terlebih dahulu untuk menyiapkan tenaga untuk menyusul Hermawan ke malang.


❤️❤️❤️❤️


Villa Antony


" Maaaass.....!" Safia terbangun dari tidurnya. Ia mengusap pipinya yang basah. Sepertinya ia habis menangis. Safia mencoba mengingat mimpinya bersama Hermawan.


" Kenapa nggak inget sama sekali" Safia menangis sambil menutupi wajahnya. Samar-samar ia mengingat kata-kata Hermawan pada Safia sebelum Safia diculik.


Sayang,ingatlah satu hal...apapun yang terjadi kamu harus kuat,kamu harus bisa menjaga anak kita dengan baik.


Safia mengelus perutnya yang membuncit. Safia mulai menitikkan air mata. Sudah berhari-hari ia mengabaikan kondisi anaknya. Bahkan ia sama sekali tidak mau menyentuh makanan yang diberikan pelayan rumah Antony sama sekali.


" Aku bahkan tidak merasa lapar sama sekali selama berhari-hari. Kenapa aku tidak sadar sama sekali" Safia memijat perlahan pelipis kepalanya.


Ceklek...


Seorang pelayan wanita bertubuh tambun masuk kekamar Safia sambil membawa nampan yang berisi makanan serta vitamin.


" Silahkan nyonya, jika nyonya menginginkan sesuatu nyonya boleh memanggil saya"


Safia masih terus saja memandangi pelayan itu dengan seksama. Safia merasa tidak bisa mengingat apa yang terjadi beberapa hari ini. Badannya terasa pegal-pegal, dan perutnya terasa lapar sekali.


" Nama saya Meri nyonya,saya akan merawat anda dengan baik"


" Aku ingin salad buah"


Mata Meri terbelalak mendengar Safia berbicara dengannya. Selama beberapa hari ini Safia seperti orang gila yang sedang mengamuk. Setiap ada orang yang masuk kekamar nya ia terus saja meraung-raung seperti orang gila. Hingga Meri terus menyuntikkan obat penenang ketubuh Safia.


" Apa kamu mendengarku Meri?"

__ADS_1


" Eh,iya nyonya...!" Meri segera pergi kedapur untuk membuatkan salad buah untuk Safia.


" Aku harus makan, demi anak ku...! Aku harus kuat...!" Safia mulai meraih piring yang diletakkan Meri pada nakas.


Dengan gemetar Safia mulai menyuapkan nasi sesendok demi sendok kemulutnya. Awalnya terasa pahit,namun Safia terus saja memaksa dirinya sendiri untuk makan. Akhirnya makanan itu pun habis.


" Alhamdulillah..."


Ceklek....


Antony tersenyum melihat Safia selesai makan.


" akhirnya kamu mau makan juga sayang...."


" Sayang...?"


"Iya,karena aku menyayangimu fia"


" Secepat itu kah kamu menyayangiku?"


" Tentu,siapa yang tidak sayang dengan wanita secantik dan se anggun kamu sayang"


" Ooh ya, aku pikir itu hanya obsesi kamu untuk menyakiti suamiku saja"


" Kenapa kamu bilang seperti itu?"


" Kalau kamu memang sayang,seharusnya kamu tidak mengunci ku didalam kamar seperti tawanan saja!"


Antony tersentak dengan perkataan Safia.


" eh, a-aku tidak akan mengunci pintu kamar ku lagi. Kamu boleh bebas berkeliling villa ini. Dengan satu syarat...!"


" Kamu tidak kabur...!"


" kalau kamu ketahuan mencoba kabur,aku akan membawa mu pergi ke Jepang agar Hermawan benar-benar tidak dapat menemukan mu lagi"


" Bisa diatur"


" Apakah kamu mau berjanji padaku?"


Safia berfikir keras bagaimana menjawab perkataan Antony namun tidak berbohong.


" Kita lihat saja,seberapa pintar kamu menyenangkan hatiku"


Antony begitu senang mendengar perkataan Safia.


" Ok, baiklah sayang...tunggulah kejutan-kejutan yang kuberikan padamu!"


Antony pergi meninggalkan Safia sendiri dikamar.


Setelah Antony sudah tidak nampak lagi,Safia menghembuskan nafasnya kasar.


"Yaa Allah,maafkan hamba.... bukan maksud hamba untuk menipu mas Antony. Tapi saya ingin kembali pada suami hamba..."


Entah kesadaran dari mana Safia mencoba memulihkan tenaganya kembali seperti sedia kala. Hanya dengan begitu mungkin dia bisa kabur dari villa Antony.


Ceklek....


" Permisi nyonya,ini salad anda..." Bu Meri datang sambil membawa semangkuk salad buah.


" Terimakasih..."


" Ooh ya nyonya,jangan lupa vitamin diatas nakas juga diminum"

__ADS_1


" iya.."


" Kalau begitu saya permisi dulu"


" Tunggu,Bu Meri.. sebenarnya dimana sekarang saya berada?"


" Villa tuan Antony"


" Maksudku alamat villa ini"


" Malang,tepatnya Kedungkandang malang. Tempat ini dekat dengan coban amprong"


" Apa itu coban amprong?"


" Wisata air terjun"


"ooh..."


" Kalau begitu saya permisi dulu nyonya"


Safia mengangguk dan kembali menghabiskan salad buahnya.


Sore pun tiba,Safia puas berkeliling villa Antony yang cukup luas. Antony mulai memberi kebebasan pada Safia. Namun masih diawasi Bu Meri tentunya. Sedangkan Antony sedang diruang kerjanya.


" Meri..." teriak Antony dari dalam ruang kerjanya.


"iya tuaan...." Meri berlari masuk kedalam ruang kerja Antony.


" Apa nyonya merasa bahagia?"


" iya tuan,nyonya merasa bahagia bisa berkeliling villa"


Mata Antony terpaku pada layar laptopnya.


" Meri...cepat bawa Safia masuk dan beri dia obat penenang"


" Ta-tapi tuan....!"


" Jangan membantah...!" bentak Antony.


Antony langsung keluar dari ruang kerjanya. Dia berjalan cepat keluar dari villa nya. Sementara itu Bu Meri segera menarik Safia masuk kedalam kamarnya. Safia yang terkejut dengan perlakuan Bu Meri. Namun ia hanya bisa menuruti kemauan Bu Meri.


Setelah sampai dikamar,Safia diberi satu obat berbentuk kapsul. Awalnya Safia ragu untuk meminum obat itu,tapi akhirnya obat itu diminum juga. Tidak lama kemudian Safia kembali tidak sadarkan diri.


Di halaman villa, Antony sudah siap menghadang tamu yang tidak diinginkan Antony. Tentu Antony tidak sendiri, Ia bersama 4 anak buahnya.


" Ngapain kamu kesini?"


" Dimana istriku...!"


" Cih, bisa-bisanya kamu datang ketempat orang tanpa permisi"


" Aku tidak perduli dengan mu...! katakan dimana kau sembunyikan istriku?"


" Ditempat yang nyaman dan aman"


" Dasar kau kurang ajar...!"


Hermawan bersiap untuk menyerang Antony ,namun segera dihalangi oleh anak buah Antony.


" Heii....! brengs*k kau Antony!"


" Hancurkan dia....!"

__ADS_1


❤️❤️❤️❤️🌺🌺🌺🌺🌺❤️❤️❤️


__ADS_2