
" Fia juga Tante...!"
Nyonya Veronika melepas pelukannya, lalu memperhatikan tubuh Safia.
" Kamu sehat kan fia?"
Safia mengangguk sambil tersenyum.
" Kamu kurusan...! kamu sudah makan?"
"Sudah Tante ....!"
" Mbak, biar fia istirahat dikamarnya. Kita kangen-kangenan nya besok lagi! kasihan Safia pasti capek..."
" Tapi aku mau tidur dengan cucuku...!"
" iya, mbak yu boleh tidur dengan cucu mbak...!"
Istirahatlah di kamarmu, sebentar lagi Hermawan pasti pulang"
Nyonya Sanjaya membawa baby Arjuna masuk kedalam kamarnya. Safia diantar kekamar Hermawan oleh nyonya Veronika. Setelah itu nyonya Veronika meninggalkan Safia sendirian. Safia nampak memperhatikan sekeliling kamar. Kamar yang dulu ia tempati bersama Hermawan tidak berubah.
Safia berjalan mendekati ranjang dan duduk di pinggir ranjang. Tangannya meraih fotonya bersama suaminya dan juga Fanesa. Diusapnya foto Hermawan.
" Mas...aku kangen...! Kamu dimana?" Air mata Safia menetes di bingkai foto tersebut.
ππππ
Pasar induk osowilangun Surabaya
Setelah berputar-putar di lorong pasar selama berjam-jam Hermawan tidak juga menemukan istri dan juga anak nya. Rasanya hatinya hancur kembali. Ia tidak ingin meninggalkan pasar itu sebelum bertemu Safia.
" Awan...ayo kita pulang!"
" Aku nggak akan pulang sebelum menemukan istriku!"
" Ini sudah pukul 1 dini hari, bisa saja istrimu sudah berada di rumah"
" Mana mungkin ton! kalau memang sudah pulang, seharusnya dia sudah berada di rumah sejak magrib tadi!"
" Awan....mungkin mereka sedang macet!"
" Aku takut terjadi sesuatu pada istri dan anak ku ton...! kamu nggak tau betapa sengsaranya mereka...!" Hermawan nampak berantakan. Wajahnya terlihat sangat frustasi.
" Bibi Vero menelpon ku agar kita pulang dulu...!"
" Tapi ton...!"
Antony menggandeng tangan Hermawan. Awalnya Hermawan menolak,tapi akhirnya menurut juga. Antony menyetir mobil Hermawan, ia tidak tega jika sahabat nya harus menyetir dengan keadaan seperti ini. Dalam perjalanan Hermawan hanya melihat pemandangan di jendela saja. Fikirannya melayang-layang tidak tentu arah.
Setelah sampai dirumah Hermawan, Antony langsung berpamitan. Hermawan langsung masuk kedalam rumah nya. Masih dengan wajah acak-acakan Hermawan masuk kedalam kamarnya. Kamarnya gelap, Hermawan sengaja tidak menyalakan lampu kamarnya.
" Mas Hermawan...!"
__ADS_1
Hermawan terkejut mendengar suara Safia. Buru-buru Hermawan menyalakan lampu kamarnya. matanya terpaku pada seorang wanita yang duduk diranjangnya. Hermawan mendekati wanita itu lalu duduk disampingnya.
Tangan Hermawan mencoba menyentuh wajah Safia. " Apa kamu nyata?"
" iya mas, aku Safia istrimu...!" tangan Safia menyentuh tangan Hermawan.
Hermawan langsung memeluk tubuh istrinya dengan erat. Isak tangis terdengar dari mulut keduanya. Keduanya saling melepas rindu. Malam ini terasa begitu hangat dan panas. Keduanya melepas kerinduan dengan melakukan adegan dewasa. Setelah selesai mandi keduanya tidur sambil berpelukan.
Pagi hari nyonya Sanjaya sudah asik bermain bersama cucunya. Begitupun nyonya Veronika. Hermawan dan Safia berjalan beriringan menuruni tangga. Kebahagiaan menyelimuti keduanya. Tangan mereka pun saling bertautan satu sama lain. Rasanya tak ingin mereka berpisah untuk sedetikpun.
" Kelihatannya kamu terlihat lebih segar her...!" goda Nyonya Veronika.
Hermawan tersenyum sambil mencium tangan Safia.
" Apa kau sudah melihat anak mu? Sepertinya kamu tidak perduli dengan penerus Sanjaya grup sama sekali!" ledek Nyonya Sanjaya.
Hermawan melepas tangan Safia lalu menghampiri mamanya. " tentu tidak ma ... aku tau, anak ku pasti setampan aku!" Hermawan menggendong baby Arjuna.
" Fia, sudah kamu beri nama siapa cucu mama?"
" Arjuna ma..,!"
" Nama yang bagus! Beri saja Hermawan Sanjaya dibelakangnya!"
" Ide bagus....! nanti papa mau pergi ke kantor kependudukan buat bikin akta lahir kamu yaa sayang...!" kata Hermawan sambil melayangkan ciuman bertubi-tubi pada pipi gembul baby Arjuna.
" Sini....sini, mama mau gendong lagi,,!"
Hermawan menyerahkan bayi laki-laki nya pada nyonya Sanjaya.
" Tentu tante, nanti mama merawat baby Arjuna.... Tante akan aku bikinkan baby lagi agar Tante ada yang dirawat...!"
" Heh, anak kurang ajar...! Kami ini sudah tua, seharusnya kami tinggal menikmati hidup. Jalan-jalan juga belanja. Bukannya malah kamu suruh mengasuh anak kamu!"
" Iya betul mbak yu! enak anak anak mbak yu mau bikin anak lagi lalu suruh aku rawat!"
Hahahaha....
Mereka tertawa bersama di meja makan. Kehadiran baby Arjuna membuat warna tersendiri pada kehidupan Hermawan juga nyonya Sanjaya. Kini nyonya Sanjaya sudah tidak merasa kesepian lagi. Karena ada baby Arjuna yang siap meramaikan suasana rumah.
Hari berganti hari, baby Arjuna berkembang begitu pesat. Dengan usia hampir 3 bulan baby Arjuna sudah mampu tengkurap. Hal itu membuat nyonya Sanjaya begitu bangga. Begitupun dengan Safia dan Hermawan.
" Permisi tante.....!"
" Hai Tony... kemarilah...! eh ada Susi juga! sini-sini...!" nyonya Sanjaya menatap Fanesa yang berdiri di belakang Susi.
" Fanesa....kemarilah sayang, mama rindu!" Safia merentangkan kedua tangannya.
Fanesa menatap Susi dan Antony. Kemudian Antony menganggukkan kepalanya. Fanesa pun berlari memeluk tubuh Safia.
" Kamu makin besar ya...!" Safia mencium kening Fanesa.
Hermawan mendekati Fanesa lalu membelai lembut rambut Fanesa. Fanesa langsung memeluk Hermawan bergantian.
__ADS_1
" Sebenarnya, kami ingin berpamitan pada semuanya..."
" Berpamitan? Apa maksudmu ton?"
" Iya tante, Tony berniat memboyong keluarga Tony ke Jepang"
" Kenapa harus ke Jepang?"
" Tony ingin memulai kehidupan Tony yang baru Tante...!"
" Tapi, kenapa harus pindah?" Hermawan nampak bersedih.
" Aku sudah mengurus hak asuh Fanesa di pengadilan. Jadi maaf kan aku awan, aku harus membawa Fanesa ikut dengan ku!"
" Lagi pula sekarang aku sedang hamil Tante, aku ingin benar-benar menikmati kehamilanku dengan baik..."
" Apa Susi? kamu hamil?"
" Iya..."
Semuanya terharu mendengar kabar bahagia bahwa Susi sedang hamil. Setelah makan bersama, Antony sekeluarga berpamitan. Keluarga Hermawan mengantarkan kepergian Antony sekeluar sampai halaman rumah.
Hermawan sekeluarga juga berniat mengantarkan Antony sekeluarga sampai bandara besok. Hermawan berharap hubungan persahabatan mereka menjadi semakin erat dan menghangat.
ππππ
Pagi hari ketika semuanya sudah bersiap-siap. Safia nampak mondar-mandir di kamar mandi. Hermawan semakin cemas karena melihat wajah Safia semakin pucat. Tidak lama kemudian Hermawan memanggil dokter untuk datang kerumah.
" Bagaimana kondisi istri saya dok...?"
" Nyonya hanya sedikit kelelahan. Ini biasa terjadi pada seorang wanita dalam kondisi hamil muda"
" Apa? hamil?"
" Iya, selamat ya tuan Hermawan! Anda akan menjadi seorang ayah untuk ke dua kalinya!" Dokter itu menjabat tangan Hermawan.
Hermawan masih tidak percaya, ia menepuk-nepuk pipinya berkali-kali. Ia mendekati Safia lalu memeluknya.
" Terimakasih sayang....! Kamu dan anak-anak adalah segalanya buat ku...!"
" Iya mas, semoga keluarga kita diberi kesehatan juga umur panjang...!"
" Aamiin..."
Safia kembali menutup mulutnya dengan tangannya. Ia buru-buru berlari kekamar mandi. Safia kembali mengeluarkan cairan putih dari dalam mulutnya. Setelah selesai muntah, Safia terjatuh di pelukan Hermawan.
" Apa perlu aku antar kerumah sakit sayang?"
" Nggak perlu mas, cukup kamu peluk saja aku itu sudah cukup...!"
πΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊ
***Alhamdulillah dan terima kasih aku ucapkan pada semua reader yang sudah membaca karya akuπ
__ADS_1
Semoga kalian semua diberikan kesehatan, rejeki yang melimpah...dan umur panjangππ
i love you all π***