INIKAH TAKDIRKU...

INIKAH TAKDIRKU...
65 Pengajian


__ADS_3

" Lalu butiknya?"


" Masih ada...kemarin ia kembalikan. Nanti kalau Fanesa sudah besar,biar dia yang ngurusin butiknya. Dan anak kita yang satu ini bantuin papa diperusahaan" Hermawan kembali mengelus perut Safia.


" Mas,sudah...! aku mau mandi..."


" Ayo aku bantu," Hermawan menuntun Safia kekamar mandi. Ia takut terjadi sesuatu di kamar mandi, terpeleset atau semacamnya. Semenjak kehamilan safia makin besar, Hermawan sangat perhatian pada istrinya tersebut. Jika ia harus disibukkan dengan urusan kantor,maka nyonya Sanjaya lah yang menggantikannya.


Setelah selesai mandi,Safia sedikit terkejut karena dikamarnya kini sudah ramai beberapa orang berkumpul. Ada mama mertuanya,ibu Safia,Wulan adik Safia, Fanesa,bapak juga mas Hermawan.


" Semuanya kok disini?"


" Kami mau memastikan saja bagaimana keadaan mu sayang..." Kata nyonya Sanjaya.


" Syukurlah anak ibuk sudah membaik. ibuk ,bapak sama Fanesa mau pamit. Besok ada acara mantenan di rumah adiknya bapak"


" Tapi buk,bapak masih krasan disini..." bapak menyela perkataan ibu Safia.


Ibu Safia langsung melotot ke arah bapak.


" Mbak... kapan-kapan Wulan boleh kesini lagi kan?!"


" Iya boleh,nanti kamu bisa wa mas... nanti mas jemput" kata Hermawan sambil menuntun Safia duduk.


" Asyik....." Wulan berjoget-joget kegirangan. Ibu memelototi Wulan karena tingkahnya sedikit tidak sopan.


ibu Safia memperhatikan langkah Safia yang berjalan dituntun Hermawan.


" Kaki mu masih sakit to nduk?" ibu Safia mendekati putrinya.


" Mboten buk,cuma agak gimana gitu...berasa kaya kaki gajah aja"


"Hahahaha.... " semua orang serentak tertawa.


" Itu wajar nduk,semua ibu hamil ngalami itu.. jadi banyakin gerak,kalo tidur kakinya diganjel sama bantal,,biar enggak linu...."


" Nggeh buk..."


" Kene ibuk sayang sek..." Ibu Safia menciumi wajah Safia dan memeluk Safia erat. " Jadi istri yang baik ya nduk...buat suamimu juga anak-anak mu nanti" ibu mulai menitikkan air mata.


" nggeh buk..." Safia jadi ikut merasa sedih.


Bapak dan Wulan ikut mendekati Safia,dan mereka memeluk dan menciumi Safia secara bergantian. Tangis Safia pun pecah.


Hermawan mengantarkan bapak,ibu,Wulan juga keluarga besar ibu ke tempat parkir. Ibu Safia sekeluarga rombongan naik bis mini. Biar lebih murah kata bapak.


Hermawan dan nyonya Sanjaya melambaikan tangan ketika bis itu mulai meninggalkan pekarangan rumah Hermawan.


Safia tidak diijinkan untuk mengantarkan bapak ibu pulang,karena takut Safia pingsan kembali. Kondisi kehamilan safia sangat lemah,berbeda dengan fisik wanita hamil lainnya.


Jadi Safia harus sering istirahat dan banyak rebahan. Terlebih dikondisi pandemi seperti ini wanita hamil dianjurkan untuk banyak-banyak dirumah. Karena wanita hamil sangat rentan tertular penyakit seperti covid 19.

__ADS_1


" Mama please jangan nangis lagi...! Fanesa bingung kalo mama nangis terus..," Fanesa mencoba menghibur Safia. namun,ibu tirinya itu masih saja terus menangis.


Ceklek....


Pintu kamar terbuka, Hermawan masuk sambil membawa nampan berisi camilan.


" Sayang...sudah ya,jangan nangis lagi!" Hermawan mengelus rambut Safia.


" Papa... bagaimana ini? Mama nggak berhenti nangis sejak tadi..."


" Biar papa yang ngurusin mama,kamu bantu Oma nyiapin makanan buat tamu-tamu diluar,ya..."


" Iya pa..." Fanesa akhirnya pergi dari kamar Safia.


" Sayang...."


Safia masih menangis sesenggukan.


Hermawan meraih tangan safia,mengecupnya perlahan. Hermawan membelai rambut Safia.


" Tahu nggak seberapa berharganya kamu dan bayi kita buat ku?"


Safia hanya menggeleng dan masih terus menangis.


" Kamu dan bayi kita adalah separuh nafasku. Kamu tau jika kalian terluka apa yang terjadi padaku?"


Safia mulai tenang. Ia kembali menggeleng tidak mengerti.


" Aku bisa hancur... bahkan mungkin gila. Jadi tolong jangan seperti ini. Kuatlah demi aku,dan bayi kita..." Hermawan mengusap air mata dipipi Safia.


Safia mengangguk.


" Jangan nangis lagi ya...!"


Safia kembali mengangguk.


Semenjak hamil,Safia mudah sekali bad mood. Bahkan terkadang karena hal sepele saja bisa membuatnya menangis. Kondisi ini sangat dikhawatirkan oleh Hermawan. Ia takut itu akan mempengaruhi psikologis Safia.


Sebenarnya, kondisi psikis Safia belum sepenuhnya membaik. Karena kandungannya yang lemah,Safia sudah beberapa bulan tidak melakukan terapi. Hermawan takut Safia kelelahan dan berdampak pada tumbuh kembang si janin. Hermawan benar-benar tidak mau kehilangan calon anaknya bersama Safia untuk ke 2 kalinya.


" Sini aku peluk..." Hermawan merentangkan kedua tangannya.


Safia mendekati Hermawan dan akhirnya mereka saling berpelukan. Saling memberi kehangatan, dan rasa nyaman. Tidak dipungkiri Safia merasa aman jika berdekatan dengan Hermawan.


" Mas,aku laper..."


Hermawan langsung melepaskan pelukannya. Ia menatap Safia lekat.


" Sejak kapan kamu belum makan?"


" Siang aku belum makan sama sekali,cm minum es dawet sedikit..." Safia menunduk takut.

__ADS_1


" Kenapa nggak makan sih? Kalo males ngambil kan bisa minta tolong asisten..,"


Safia sedih kembali.


" Sudah-sudah...jangan sedih,aku ambilkan dulu ya. Tunggu aku disini,...!" Hermawan segera pergi meninggalkan Safia sendirian.


Terdengar sayup-sayup lantunan ayat suci Alquran dari luar kamar.


Sepertinya pengajiannya sudah dimulai.


Safia beranjak dari duduknya dan menyeret sebuah kursi mendekati jendela. Safia meletakkan kursi itu tepat disamping jendela kamar. Safia membuka sedikit jendela kamarnya.


Hembusan angin malam menerpa wajah ayunya, bahkan rambutnya ikut menari-nari mengikuti irama angin.


*Dari sini terdengar jelas pengajiannya. Andai aku bisa duduk diantara orang-orang yang sedang mengaji... Tapi mana boleh sama mas Hermawan. Safia kembali cemberut.


Ceklek*....


Pintu kamar terbuka. Hermawan terkejut karena tidak melihat Safia di atas ranjangnya.


" Fia..." Hermawan berlari mendekati kamar mandi dan segera membuka pintunya.


" Mas,aku disini..." Kata Safia santai. Bahkan ia tak sedikit pun menoleh kearah suaminya.


Hermawan menoleh," Apa yang kamu lakukan disitu?" Hermawan berjalan mendekati Safia dan langsung menutup jendela kamar.


" Mas...!" Safia kembali mengeluarkan jurus mode ngambek nya.


" Please fia....jangan seperti ini. kamu bisa masuk angin...!"


" Aku bosan mas harus diem aja dikasur nggak ngapa-ngapain..." Safia cemberut.


" Menurutlah fia,besok malah kita masih ada acara dihotel. Tolong hargai usaha mama... Semua acara 7 bulanan kamu semua yang ngurusin mama. Kalau kamu sakit,mama pasti kecewa..."


" Baiklah mas...aku nurut" Safia berjalan mendekati ranjang dan duduk ditepi ranjang.


Hermawan duduk disamping Safia." Ayo buka mulutmu" Tangan kiri Hermawan membawa sepiring nasi lengkap dengan lauknya. Sedangkan tanggan kiri memegang sendok berisi nasi dan lauk untuk disuapkan kemulut Safia.


" Aku bisa makan sendiri mas...!" Safia masih pada mode ngambek nya.


" Aku ingin memastikan kamu makan banyak malam ini. Ayo..." Hermawan menyodorkan sendoknya kembali.


Dengan malas akhirnya Safia membuka mulutnya.


" Berjanjilah padaku kalau kamu tidak akan melakukan hal-hal yang membahayakan diri kamu dan bayi kita"


" Iya...tapi aku bosan...!"


" Jangan bicara ketika sedang makan. Cukup mengangguk saja."


Safia mengangguk dengan menunjuk kan bibir yang dimonyongin.

__ADS_1


" Fia....!"


🌺🌺🌺🌺🌺


__ADS_2