INIKAH TAKDIRKU...

INIKAH TAKDIRKU...
44 Maafkan aku Fia


__ADS_3

" Fiaaa......" Teriak Hermawan frustasi.


Ia kembali ke mobilnya dengan tidak semangat. Hermawan ingin segera pergi kekediri kerumah Safia yang ditinggali mertuanya. Namun ia ragu,apakah Safia benar-benar pulang kekediri selarut ini?


Tentu tidak,Safia bukan anak yang bisa membebani kedua orang tuanya. Lalu dimana Safia berada sekarang? Dimana ia tinggal? Bukankah disurabaya ia tak memiliki sanak saudara? Bahkan teman,Safia tak pernah pergi keluar rumah. Bagaimana bisa ia memiliki teman?


Hermawan kembali kerumahnya dengan perasaan kecewa. Ia duduk di sofa ruang tengah dengan kondisi lampu mati. Kepala Hermawan benar-benar terasa mau pecah. Bagaimana nanti ia menjelaskan kepada kedua mertuanya dengan masalah yang menimpa Hermawan dan Safia?


Hermawan menyalakan korek dan membakar rokoknya. Batang demi batang ia habiskan hingga asapnya memenuhi ruangan itu.


" Her....sudah larut malam. Istirahatlah...! Besok kita cari Safia bersama-sama" nyonya Sanjaya menyentuh bahu Hermawan lembut.


" Ma...,aku yang salah! Aku sendiri yang menghancurkan rumah tangga ku" Hermawan menangisi kesalahannya.


" Sudahlah her,semua sudah terjadi...! Yang perlu kita fikirkan gimana caranya kita menemukan Safia" nyonya Sanjaya mencoba menenangkan Hermawan.


" Apa fia mau memaafkanku ma?" tanya Hermawan serius.


" Tentu,kenapa tidak? istri yang baik akan selalu memaafkan semua kesalahan suaminya" kata nyonya Hermawan serius.


" Semoga Safia mau memaafkan kesalahan ku ma..,"


" Tentu,ayo kita istirahat..." nyonya Sanjaya menggandeng tangan Hermawan.


Hermawan melihat jam yang melingkar dipergelangan nya. Pukul 2 dini hari. Batin Hermawan. Ia merengkuh bahu mamanya dan berjalan bersama menuju kamar mereka. Belum sampai kamar mereka tiba-tiba ponsel Hermawan berdering.


drrrrttttt..... drrrrttttt.... drrrrttttt....


Hermawan menatap layar ponselnya. Ia tersenyum melihat nomor Safia menghubungi nya. " Fia ma yang telpun..."


" Ayo cepat angkat her.." jawab nyonya Sanjaya penuh semangat.


πŸ“ž πŸ‘¨ : Halo....

__ADS_1


Deg....hati Hermawan berdesir, ternyata yang menelponnya seorang pria. Ia menatap wajah mamanya bingung.


πŸ“ž πŸ‘¨ : Halo....! Apakah Ini suami nyonya Safia?


πŸ“ž Hermawan : I...iya... (Jawab Hermawan gugup)


πŸ“ž πŸ‘¨ : Istri anda sekarang berada dirumah sakit,apakah anda bisa kesini sekarang?


πŸ“ž Hermawan : i...iya,dimana alamat nya?


πŸ“ž πŸ‘¨ : sy akan share location sekarang


πŸ“ž Hermawan : Baik,saya tunggu...


" Her apa yang terjadi?" kata nyonya Sanjaya bingung.


" Safia dirumah sakit ma..." Hermawan menyambar kunci mobilnya dan berlari menuju garasi.


" Mama ikut..." nyonya Sanjaya berlari mengikuti putranya.


" Maaf sus,dimana pasien bernama Safia Larasati dirawat?" Hermawan bertanya dengan cemas.


" Nyonya Safia sudah dipindahkan diruang perawatan kamar Cempaka no 12. Dari sini anda bisa naik lift ke lantai 2"


" Terimakasih sus..." Hermawan langsung berlari ke arah lift bersama nyonya Sanjaya. Ia menekan tombol pada dinding lift,tak lama kemudian lift terbuka. Hermawan dan ibunya masuk kedalam lift dan menekan angka 2.


Setelah sampai dilantai 2, Hermawan menyusuri lorong demi lorong mencari kamar Cempaka. Setelah itu ia memperhatikan nomor yang berada di pintu kamar satu persatu. Akhirnya ia sampai di kamar nomor 12. Dengan ragu ia memutar gagang pintu dan masuk kedalam kamar itu.


Mata Hermawan terpaku melihat seorang pria dengan perban melilit dikepalanya. Pria itu berdiri menyambut kedatangan Hermawan.


" Apa anda suami nyonya Safia?" Pria itu bertanya dengan hati-hati.


" iya,anda siapa?" Hermawan bertanya dengan memasang wajah dingin.

__ADS_1


" Maafkan saya," Pria itu menunduk takut. " Saya hampir menabrak nyonya Safia,namun saya segera membanting setir hingga mobil saya menabrak pohon ditepi jalan"


" Br*ngsek...!" Hermawan hampir saja melayangkan sebuah bogem pada pria itu namun nyonya Sanjaya mampu menahannya dengan cepat.


" Her,jangan bertindak ceroboh! ini rumah sakit...! kontrol emosimu..." bujuk nyonya Sanjaya. " Maafkan putra saya... Kalau saya boleh tau bagaimana keadaan menantu saya?"


" Kata dokter nyonya Safia sedang hamil muda, sekarang kondisinya sedang stres berat. Dokter memberikan obat penenang agar keadaan nyonya tidak semakin buruk" pria itu memberikan penjelasan.


Hermawan dan nyonya Sanjaya saling bertatapan. Lalu kembali menatap pria tak dikenal itu dengan intens.


" Terimakasih anda telah membawa menantu saya ke rumah sakit. Anda boleh beristirahat dirumah. Kami akan menjaga Safia dengan baik" kata nyonya Sanjaya dengan sopan.


" Baiklah nyonya,sekali lagi saya minta maaf...!" pria itu menunduk sebentar lalu berpamitan." Kalau begitu saya pulang dulu,mari nyonya dan tuan..."


Nyonya Sanjaya mengangguk sambil tersenyum ramah lalu mengantar pria itu keluar sampai pintu.


" Ma,kenapa mama membiarkan pria itu pergi begitu saja. Seharusnya mama menjebloskan pria itu kekantor polisi. Dia sudah berusaha mencelakai anak dan istriku ma..." Hermawan nampak kesal dengan sikap mamanya.


" Diam kau....! Justru kau lah yang berusaha mencelakai menantu dan cucuku. Jadi apa perlu aku menjebloskan mu ke kantor polisi,hah?" nyonya Sanjaya berjalan menghampiri Safia. Ia memperhatikan tubuh Safia apakah ada yang terluka. " Syukurlah cuma lecet dikit saja..."


" Lecet mama bilang? Bagaimana kalau tulangnya ada yang retak atau patah?" Hermawan nampak cemas dengan kondisi Safia.


" Tutup mulutmu...! Kalau ada yang patah dokter tentunya sudah menangani itu semua dengan baik. Apa kau tak lihat kepala pria itu diperban? Dia bahkan rel menabrakkan mobilnya ke pohon demi menghindari istrimu. Coba kalau pria itu tetap menabrakkan mobilnya ke tubuh Safia lalu meninggalkan Safia tergeletak dijalan begitu saja? Apa yang akan terjadi pada Safia? pikir pake otak!" Nyonya Sanjaya menunjuk pelipisnya.


Hermawan menyadari perkataan ibunya ada benarnya. Dengan hati-hati ia menghampiri Safia yang terkulai lemas diatas ranjang.


" Harusnya kau bersyukur,masih bisa bertemu dengan Safia dengan kondisi baik-baik saja" Nyonya Sanjaya merebahkan dirinya di bed tunggu yang berada tak jauh dari ranjang Safia.


Sedangkan Hermawan duduk di kursi tunggu disamping bed pasien. " Fia....maafkan aku" Hermawan menggenggam tangan Safia lalu mengecupnya.


Dari sudut mata Safia tiba-tiba meneteskan air mata. " Mas....aku bisa jelaskan...hiks,hiks,hiks..,!" rintih Safia sambil memejamkan mata.


Hermawan nampak tertegun melihat Safia mengigau sambil menangis. Dalam tidurnya bahkan Safia masih ingin menjelaskan apa yang terjadi sebenarnya. " Maafkan aku fia....maafkan!" Hermawan ikut menangis melihat Safia manangis. Tanpa terasa Hermawan tertidur dengan posisi duduk disamping Safia.

__ADS_1


🌺🌺🌺🌺🌺


Alhamdulillah sudah ketemu ya Safia nyaπŸ˜‚πŸ˜‚ siapa yang nyariin Safia? Buruan dijenguk di rs yaa... alamat nya ntr aku japri yaaπŸ˜‚πŸ˜‚


__ADS_2