INIKAH TAKDIRKU...

INIKAH TAKDIRKU...
60 Persiapan 7 bulanan


__ADS_3

Hari demi hari berlalu begitu cepat. Perut Safia semakin lama semakin membuncit saja. Hadiah demi hadiah datang silih berganti. Bahkan rumah Hermawan sekarang hampir mirip toko perlengkapan bayi.


Β 


Fanesa membantu ibu tirinya itu merapikan barang-barang.Ada beberapa barang yang sudah dibuka. Ada beberapa yang masih terbungkus kertas kado dan berjejer rapi.


" Mama fia..."


" Iya sayang..." Safia menatap Fanesa penuh kasih. " Ada apa?"


" Kalau adek baby lahir,sikap mama jangan berubah ya..." Fanesa terlihat sedih.


" Heii....kenapa kamu sedih?" Safia meraih dagu Fanesa dengan lembut.


" Papa sama Oma sudah berubah, cuma Oma Vero yang baik sama Fanes"


" Enggak sayang, mereka tidak pernah berubah sm Fanesa..."


" Mama nggak tau, keluarga Oma itu sangat memuja-muja keturunan laki-laki. Buat mereka,sesukses apapun mereka bekerja...jika tidak punya keturunan laki-laki itu sia-sia"


" Sayang..."


" Makanya aku nggak pernah deket dengan keluarga papa"


" Sayang..." Safia langsung memeluk tubuh Fanesa. Hatinya sedikit terenyuh dengan pengakuan Fanesa baru saja. Ia benar-benar tidak menyangka kalau hanya karena gender bisa membuat sebuah keluarga menjadi merenggang.


" Dengerin mama, setiap anak mempunyai rejeki masing-masing. Jika adik baby lahir perempuan seperti Fanesa,mama tetep sayang kok sama adek baby".


Fanesa melepas pelukan Safia dan menatap Safia lekat.


Safia meraup wajah Fanesa dan mencium hidung Fanesa. " Mama juga akan tetap sayang sama kamu sampai kapanpun. Fanesa tetap anak mama sama papa. Begitupun adek baby..."


" Fanes sayang mama..." Fanesa memeluk tubuh Safia erat.


" Sayang hentikan....! Mama nggak bisa nafas..." Safia pura-pura sesak nafas. Lalu mereka tertawa bersama.


" Fia.... cepat kemari... waktunya fitting baju" Teriak nyonya Sanjaya dari ruang tamu.


Safia mengulurkan tangannya. Tak lama kemudian Fanisa menyambut uluran tangan mama sambungnya itu.


" Ayo, mulai sekarang kamu nggak boleh jauh-jauh dari mama ya..."


Fanesa pun tersenyum sambil mengangguk. Akhirnya mereka berdua menghampiri nyonya Sanjaya yang sedang memilah-milah baju yang baru saja datang dari butik langganan nya.


" Fia,cepat pakai baju ini... nanti kalau kurang nyaman katakan pada mbak rosi biar diperbaiki" nyonya Sanjaya menunjuk seorang wanita. Wanita itu menunduk dengan sopan pada Safia.


" Iya ma..." Safia menerima baju yang diberikan nyonya Sanjaya. Sebentar ia mengamati baju itu,baju kebaya moderen berwarna ungu kombinasi terlihat cantik namun masih terlihat elegan.

__ADS_1


" Ooh ya Ros, apa baju untuk acara siraman mantuku juga sudah siap?"


" Tentu nyonya," mbak rosi membuka sebuah koper dan mengeluarkan sebuah jarik dan kemben yang sudah dimodifikasi sedemikian rupa. " Bunga melati untuk hiasan kepala juga dada akan kami kirim tepat acaranya berlangsung,agar bunga melati nya tetap terlihat segar"


Nyonya Sanjaya hanya manggut-manggut mendengar ucapan mbak rosi.


" Mama nggak ngadain acaranya besar-besaran kan?" tanya Safia penasaran.


" Hahahaha......fia....fia, kamu itu mantu mama. Dan anak yang kamu kandung itu akan jadi penerus keluarga Sanjaya. Ya jelas mewah dan besar-besaran lah" nyonya Sanjaya tertawa terbahak-bahak.


" Ma... nanti pasti sangat melelahkan. Mama kan tau aku nggak boleh terlalu lelah" Safia mencoba mengeles.


" Tenanglah,semua sudah mama atur. Kamu cukup duduk manis. Biarkan mama yang urus semuanya. Hanya orang-orang tertentu saja yang bisa bertemu denganmu"


" Maksud mama?"


" Kamu akan duduk di tempat private room. Disana akan disediakan sebuah layar yang berukuran besar. Jadi kamu bisa menikmati acaranya di tempat itu. Bagaimana?"


" Terserah mama saja..." Safia akhirnya menyerah.


" Nyonya Hermawan,mari saya bantu..." mbak rosi membawakan baju-baju yang akan dicoba Safia kekamar tamu. Disusul Safia dan Fanesa.


Mbak rosi membantu Safia untuk mencoba baju yang akan dikenakan waktu acara 7 bulan kehamilannya.


" Mbak,mbak tau nanti acaranya apa saja?" Tanya Safia penasaran.


" Mbak Rossi manggilnya fia aja. Biar aku nyaman...."


" Mbak fia aja ya... nggak enak manggil nama saja"


" Baiklah..."


" Tante rosi,waktu mama karin hamil dulu pasti Oma bikin acara 7 bulanan mama mewah seperti ini ya?" Tanya Fanesa penasaran.


" Tante waktu itu masih menjadi asisten pemilik butik dimana Tante sekarang bekerja. Tante rasa waktu itu tidak semewah sekarang sih"


Safia menggenggam lembut tangan Fanesa. Sejenak mereka saling bertatapan. Safia mencoba menguatkan hati Fanesa.


" Bagaimana mbak fia?"


" Rasanya dibagian perut agak ngap ya,bisa tolong dibesarkan sedikit?"


" Baik mbak,akan kami perbaiki"


" Mbak Rossi,bisa nggak kalau kemben buat siramannya dibuat tertutup? Saya malu jika aurat saya dilihat orang lain yang bukan mahram saya,.."


" Begini mbak fia,acara siramannya nanti dilaksanakan tertutup. Jadi yang bisa menyaksikannya hanya keluarga inti saja. Sedangkan tamu undangan akan menunggu dibalik tirai. Ini semua permintaan mas Hermawan mbak,dan kami juga menghargai karena mbak fia berhijab"

__ADS_1


Safia hanya bisa tersenyum kecut. Ia tidak bisa membayangkan akan secapek apa waktu acara nanti.


" Tante kok tau semuanya?" kata Fanesa menyelidik.


" Karena saya merangkap pihak wo yang dipercaya keluarga Sanjaya"


" Ooh....begitu"


" Saya rasa cukup mbak rosi, semua baju yang mbak kirim saya suka. Hanya baju ganti setelah siraman saja yang terasa sesak diperut"


" Baiklah mbak fia, terimakasih atas kerjasama nya. Saya undur diri dulu... terimakasih dan sampai jumpa" Mbak rodi mengemasi baju-baju yang di coba Safia dan memasukkannya kedalam koper dan membawanya ke butik kembali.


Safia merebahkan tubuhnya di ranjang kamar tamu. Matanya terpejam, ia merasakan tubuhnya mulai pegal-pegal.


" Mama ngantuk? kenapa nggak tidur dikamar mama aja?"


Safia menoleh ke arah Fanesa berbaring. " Mama lelah sayang. Andai saja mama Sanjaya tidak berlebihan"


" Mama nggak suka ya tinggal bersama kami?"


" Bukan...! bukan seperti itu maksud mama..." Safia memiringkan tubuhnya menghadap Fanesa berbaring. " Mama sebenarnya nggak ingin acaranya seribet ini. Kalo 7 bulanan nya cuma pengajian aja mama nggak masalah. Sayangkan kalau harus buang-buang uang begitu"


" Kenapa mama selalu bilang begitu. kita harus hemat,beli barang-barang yang penting saja... Harus banyak nabung..."


" Karena mama terlahir dari keluarga nggak punya Fanes,jadi orang nggak punya itu nggak enak. Kita nggak akan tau takdir kita besok bagaimana. Amit-amit kalo papa tiba-tiba bangkrut. Kalo kita punya tabungan, insyaallah hidup kita nggak akan terasa sangat berat"


" Fanes nggak tau gimana rasanya nggak punya uang. Belum sampe habis papa sudah transfer lagi kerekening Fanes"


" Makanya kita harus hemat ya sayang..."


" Ma...."


" Hemm...."


" Mama cinta nggak sama papa?"


" Awalnya sih mama enggak cinta sama papa"


" Lalu kenapa mama mau nerima papa? apa karena papa kaya?"


Safia menggeleng.


" Lalu?"


🌺🌺🌺🌺


Lalu apa yaa....?? Baca episode selanjutnya ya... terimakasih 😘😘😘

__ADS_1


__ADS_2