INIKAH TAKDIRKU...

INIKAH TAKDIRKU...
88 Mengintip dari celah-celah


__ADS_3

Malang - Cobaan Amprong


Safia melakukan aktivitas seperti biasa, membantu Bu Lastri memasak juga membersihkan rumah Bu Lastri. Kadang Safia ikut membantu Bu Lastri berjualan diwarungnya. Bukan tanpa alasan, Safia hanya tidak ingin menyulitkan kehidupan Bu Lastri dan pak Hasan.


Baby Arjuna sudah berusia satu bulan dua puluh hari. Wajahnya semakin menggemaskan sekali. Pipinya yang semakin gembul, dan begitu riangnya ia berceloteh. Menyemangati diri Safia untuk tetap bertahan dan tidak putus asa. Pak Hasan sudah berjanji jika ada sopir pengangkut sayuran yang pergi ke Surabaya, Safia akan dititipkan.


Beberapa sopir sudah dimintai tolong,tapi mereka menolak. Apalah daya Safia hanya bisa berdoa agar bisa pulang ke Surabaya.


" Nduk...ibuk berangkat ke warung dulu. Nanti kalau kue nya sudah matang, tolong bawakan ke warung ya!"


" Nggeh Bu...!"


Bu Lastri dan pak Hasan pergi ke warung. Tinggal Safia dan baby Arjuna dirumah pak Hasan. Terdengar baby Arjuna sedang berceloteh sambil memainkan boneka kayu buatan pak Hasan.


Safia menghampiri putranya. Tanpa terasa bulir bening meluncur dipipinya.


" Anak mama sudah sebesar ini sekarang. Sabar ya sayang...! sebentar lagi kita bertemu papa ya nak!"


Setelah diberi ASI oleh Safia, baby Arjuna akhirnya tertidur. Ini kesempatan Safia untuk mengantarkan kue yang sudah masak. Safia tidak diperbolehkan membawa Arjuna keluar oleh pak Hasan. Karena pak Hasan benar-benar tidak ingin terjadi hal-hal yang tidak diinginkan.


Safia meletakkan baby Arjuna di box bayi. Kemudian Safia segera menata kue-kue yang berbalut daun pisang kedalam keranjang besar. Setelah selesai, Safia segera mengantarnya ke warung pak Hasan.


Diwarung sudah banyak pria-pria yang berkerumun untuk sekedar ngopi atau sarapan pagi. Safia menggenakan masker serta baju-baju daster Bu Lastri. Walau terlihat sederhana, namun kecantikannya masih terpancar dibalik baju dasternya.


" Waaaah.....ayune..." celetuk salah seorang pengunjung warung pak Hasan.


" Hust! Iki anak ku! wes ndue bojo...!" ( hust! ini anak ku! sudah punya suami!) bentak pak Hasan sambil melotot.


" Hahahaha.....galak e bapak e!" celetuk seorang pengunjung yang lain.


Semua orang menertawai sikap pak Hasan yang berlebihan. Safia melihat ada dua orang pria seperti anak buah Antony sedang memperhatikan nya.


" Anak bapak apa sedang hamil?" kata salah satu orang yang memperhatikan Safia.


" Iya...,eh tidak...!" Bu Lastri tersadar akan jawabannya yang salah.


Pak Hasan memelototi Bu Lastri agar tidak berbicara macam-macam.


" Eh, dia keponakan saya...! Rumahnya Pare, kehamilannya mengalami masalah. Jadi dokter menyarankan untuk operasi. sedangkan operasi kan biayanya mahal. Jadi lahiran disini saja" pak Hasan mencoba mengarang cerita.

__ADS_1


" Tapi suaminya kok nggak pernah jemput?"


Pak Hasan semakin kesal dengan pertanyaan-pertanyaan seperti ini. Namun pak Hasan mencoba untuk bersikap biasa saja. Agar tidak ada orang yang curiga.


" Suaminya kerja bangunan di Surabaya. Pulangnya seminggu sekali" Pak Hasan mencoba menjawab dengan sebaik mungkin.


Bu Lastri menyuruh Safia agar segera pulang kerumah, agar para pengunjung warung pak Hasan tidak mengulik secara mendalam tentang kehidupan Safia. Safia menuruti kemauan Bu Lastri untuk pulang kerumah.


Tanpa sepengetahuan pak Hasan, salah seorang dari pengunjung warung pak Hasan mengikuti Safia pulang. Ditengah perjalanan Safia melepas maskernya karena merasa sudah tidak ada orang. Safia sempat menyapu halaman rumah pak Hasan. Lalu masuk kedalam rumah pak Hasan.


Di dalam terdengar suara tangisan bayi, pria itu mendekati rumah pak Hasan dan mengintip dari celah-celah dinding yang terbuat dari bambu. Pria itu melihat Safia dengan luwes nya menenangkan seorang bayi. Pria itu langsung berlari kembali ke warung pak Hasan.


💓💓💓💓


Surabaya


Setelah berhasil membawa Fanesa pulang, Antony menghibur Fanesa dengan mengajaknya berbelanja, jalan-jalan juga makan di restoran. Hal itu tidak juga bisa mengukir senyum diwajah Fanesa. Antony sempat putus asa dibuatnya. Namun Antony yakin, kasih sayang pasti akan bisa meluluhkan kerasnya batu karang.


Siang ini Antony mengajak Fanesa makan di restoran. Ia juga mengundang Susi untuk datang. Awalnya ia ragu kalau Susi akan datang. Namun walaupun terlambat datang, tapi Susi tetap datang.


Susi sempat terkejut dengan adanya Fanesa disamping Antony. Namun ia mencoba bersikap biasa saja.


" Hai Susi....!" Antony memcoba menyapa kehadiran Susi.


" To the point, kepala ku pusing aku ingin segera istirahat dirumah" Susi nampak pucat dan tidak bersemangat.


" Apa sebaiknya aku antar pulang?"


" Cepetttaaan.....!"


" i-iya," Antony menghela nafasnya perlahan. Ia mulai menyusun kalimat untuk ia utarakan pada Susi. " Begini Susi, aku ingin memperbaiki semua kesalahan yang pernah ku perbuat padamu juga Fanesa".


Susi memperhatikan Antony berbicara, begitupun dengan Fanesa.


" Maksud kamu? Apa hubungannya dengan Fanesa? dia kan anak Hermawan?" Susi semakin tidak mengerti. Susi memang mengetahui Antony menjalin hubungan perselingkuhan dengan Karin. Namun ia tidak mengerti kalau Fanesa adalah putri kandung Antony.


" Fanesa putri kandungku dari hasil perselingkuhan ku dengan Karin" Antony menunduk, ia merasa sangat bersalah.


Fanesa dan Susi terkejut secara bersamaan. Susi menutup mulutnya dengan kedua tangannya. Matanya berkaca-kaca, ia benar-benar tidak menyangka kalau surat tes DNA yang pernah ia baca itu benar adanya.

__ADS_1


" Aku fikir kamu selama ini menolak keinginan ku untuk merawat Fanesa karena dia bukan anak mu!"


" Maafkan aku Susi, aku tidak pernah berkata jujur padamu..."


Fanesa tidak menyangka kalau ia lahir karena kesalahan kedua orangtuanya. Makanya papa awan tidak mau menerimanya. Ya, karena ia lahir dari hasil perselingkuhan.


" Susi...beri aku kesempatan!" Antony mengatupkan kedua tangannya seraya memohon.


Susi berdiri dari duduknya, lalu ia menghela nafasnya berat. " Beri aku waktu untuk berfikir" Lalu Susi pergi meninggalkan Antony dan Fanesa.


Antony merasa sedih sekali. Ia menundukkan kepalanya menahan tangis penyesalannya. Tiba-tiba sebuah tangan mungil menggenggam tangan nya. Antony menoleh kearah Fanesa.


" Walaupun aku lahir dari sebuah kesalahan,tapi...papa nggak akan ninggalin aku kan?" Fanesa berkata dengan mata yang berkaca-kaca.


Antony mengangguk lalu memeluk Fanesa dengan erat. " Papa janji, papa akan selalu menjaga kamu. Ada bersama mu...! Maafkan papa yang telah mengabaikan mu...!" Antony ikut menangis sambil memeluk Fanesa.


Tangisan mereka tiba-tiba dihentikan dengan dering telepon Antony.


" Sebentar ya, papa angkat telepon nya dulu"


Fanesa mengangguk.


Antony langsung mengangkat teleponnya.


📞 Antony : Halo....! Ada apa?!


📞 🧒. : nyonya ketemu boss!


📞 Antony : kamu serius?


📞 🧒. : Duarius bos!


📞 Antony : Share loc sekarang!


📞 🧒. : Siap boss....!


Antony mematikan ponselnya.


" Fanes, papa ada urusan...! Kamu papa antar pulang dulu ya! Papa akan pulang nanti malam. Fanes dirumah bareng bibik ya...!"

__ADS_1


Fanesa hanya bisa mengangguk setuju. Antony mengambil kunci mobil yang berada di meja lalu menggandeng Fanesa pulang.


💓💓💓💓💓


__ADS_2