
Mendengar dua perkataan orang asing yang tiba-tiba datang di rumahnya hal itu tidak membuat Ilyas bingung, sorot mata yang ditunjukkan Abian seolah membuat pemuda yang sudah berusia 14 tahun itu mengerti apa yang sudah di beri tanda oleh ayahnya.
"Ilyas." Panggil Lina kepada Ilyas dengan raut wajah yang menunjukkan seolah mereka benar-benar begitu merindukan dirinya.
"Siapa kalian?" tanya Ilyas kepada dua orang asing yang ada di ruang tamu.
"Kami adalah paman dan bibi-mu." jawab Lina dan Sidik.
Ilyas tidak akan mudah percaya begitu saja, pemuda itu hanya menunjukkan sikap yang biasa-biasa saja.
"Bisakah aku meminta bukti-bukti atas semua yang kalian katakan tadi?" tanya Ilyas yang membuat dua orang itu sedikit terkejut. pemuda seperti Ilyas tidak mudah untuk dibohongi.
"Apakah kamu tidak percaya kalau kami ini adalah keluargamu?" tanya Lina kepada Ilyas.
Hidup bersama dengan ayah seperti Abian membuat Ilyas belajar memahami sebuah arti kehidupan, begitu banyak orang yang selalu ingin menghancurkan mereka. begitu banyak cobaan yang selalu menerpa Abian dan Naura, karena hal itu Ilyas sudah ditempa menjadi seorang pemuda yang selalu berhati-hati dalam mengambil tindakan.
"Aku tidak bisa mengatakan kalau aku percaya atau tidak, tapi jika kalian bisa memberikan bukti itu kepadaku Mungkin aku akan berpikir kalian benar-benar adalah keluargaku." jawab Ilyas.
Remaja berusia 14 tahun itu menatap dua orang yang tiba-tiba datang dan mengaku Ilyas sebagai keluarganya, bukannya Ilyas ingin hidup bahagia terus bersama dengan Naura dan Abian. tapi pernah suatu ketika Abian berbicara kepada Ilyas mengenai Siapa dirinya. waktu itu Ilyas menanyakan mengenai jati dirinya, Abian menjawab dengan penuh kejujuran bahkan Abian juga bilang jika suatu ketika ada orang yang tiba-tiba mengakui dirinya sebagai seorang anak ataupun keluarga. maka Ilyas tidak boleh terlalu percaya, andai kata dia benar-benar masih mempunyai keluarga Abian dan Naura tidak akan melepaskan dia sebagai putranya sampai kapanpun. Ilyas adalah putra pertama Abian dan Naura, karena hal itu Ilyas selalu memegang apa yang dikatakan oleh ayahnya.
"Kami adalah Paman dan bibirmu, tidak mungkin kami membohongi bahkan Kami mempunyai fotomu bersama keluarga kita." ucap Sidik kepada Ilyas.
"Buktikan dengan konkrit jika kalian mempunyai bukti yang benar-benar bisa aku percaya, kembalilah kalian ke sini aku tidak ingin terlalu percaya dengan kata-kata orang yang tiba-tiba datang ke rumah Papa dan mamaku. Aku tidak akan percaya kata-kata orang yang tiba-tiba mengakui aku sebagai keluarganya." ucap Ilyas.
"Aku tahu kenapa kamu mengatakan hal itu, bibi yakin kamu tidak ingin meninggalkan kemewahan ini." ucap Lina.
__ADS_1
Naura yang mendengar perkataan dari Lina, nampak wanita itu berdiri mendekati seorang wanita yang tiba-tiba datang untuk mengakui putranya. "Apa salahnya, Putraku tidak ingin pergi dari rumah kami. Dia adalah putra kami Dia adalah anggota keluarga kami, jika kalian terus menerus mengakui Putra kami sebagai keluarga kalian. kalian harus kembali dengan membawa bukti-bukti yang yang bisa kami percaya, jika tidak maka kami tidak bisa menerima apapun yang kalian katakan." ucap Naura yang kemudian mempersilahkan dua orang itu untuk pergi dari rumahnya.
Seperti seorang pengemis, wanita itu terlihat menatap rumah yang barusan mereka masuki. "Aku benar-benar tidak pernah mengira kalau wanita itu begitu pedas kalau berbicara." ucap Lina.
"Kita harus mendapatkan anak itu, jika tidak kita tidak akan bisa menguasai peninggalan dari orang tua anak sialan itu." ucap Sidik.
"Kamu benar mas, kita harus mendapatkan warisan dari almarhum saudaramu itu. jika kita membawa anak sialan itu kita bisa menguasai beberapa lahan dan rumah yang sudah dia tinggalkan." jawab Lina.
"Kita harus mencari cara untuk mendapatkan bukti kalau anak kecil itu adalah keponakan kita, jika dia tidak bisa kita bawa pulang maka kita tidak akan bisa menguasai peninggalan dari saudaraku." ucap Sidik.
"Aku benar-benar tidak pernah mengira kalau pria itu akan mengatakan hal itu." jawab Lina.
"Lebih baik kita tidak usah mengatakan apapun, kita harus segera pergi dari sini jika tidak mereka akan mendengarkan pembicaraan." kita ucap Sidik yang kemudian mengajak istrinya untuk segera pergi dari rumah Abian.
"Bagaimana Mas?" tanya Naura kepada sang suami.
"Kamu tenang saja, Mas sudah meminta sandi untuk mencari tahu mengenai permasalahan dari Ilyas." jawab Abian.
"Apakah kamu yakin semuanya akan baik-baik saja, Mas?" tanya Naura kepada sang suami.
"Kamu tenang saja, semuanya baik-baik saja. jika mereka berusaha untuk melakukan sesuatu kepada kita Mas jamin akan membuat mereka menyesal seumur hidup." jawab Abian.
Setelah mendengar jawaban yang dikeluarkan oleh suaminya akhirnya Naura merasa lega, namun berbeda dengan Ilyas yang tiba-tiba merasakan takut. jika benar mereka adalah keluarganya yang lalu apa yang akan dia lakukan.
"Apa yang kamu pikirkan, Ilyas?" tanya Abian kepada Sang putra.
__ADS_1
"Tidak apa-apa, Papa." jawab Ilyas.
"Apakah kamu takut jika mereka adalah keluargamu?" tanya Abian yang membuat Ilyas menganggukkan kepalanya, Jangan pernah takut dengan sesuatu yang belum kamu ketahui, Ilyas. yakinlah walaupun mereka adalah keluargamu, papa yakin ada udang di balik batu, mereka sudah tahu kalau aku telah mengambilmu semenjak beberapa puluh tahun yang lalu. jika mereka datang kemari pasti mereka memiliki sesuatu yang kamu miliki, namun mereka tidak bisa memilikinya." jawab Abian yang membuat Ilyas sedikit tenang.
"Apakah papa akan selalu mempertahankan aku?" tanya Ilyas kepada Abian.
"Tentu saja Papa tidak akan pernah melepaskanmu, Kamu adalah putra Papa sampai kapanpun kamu akan menjadi Putra Papa." jawab Abian yang kemudian masuk ke dalam ruang kerjanya dan meminta Ilyas untuk kembali ke kamarnya untuk segera membersihkan dirinya.
Saat berada di dalam kamar terlihat Ilyas terus memikirkan apa yang telah dikatakan oleh dua orang yang baru tiba tadi, Ilyas yakin apa yang dikatakan oleh ayahnya ada benarnya juga. karena tidak mungkin orang itu tiba-tiba datang tanpa ada yang dia inginkan, ada sesuatu yang membuat Ilyas tahu kalau ada sebuah masalah yang terselubung bahkan Ilyas yakin kalau dua orang itu memiliki motif yang belum diketahui oleh Ilyas.
Tatapan mata Ilyas menatap ruangan yang sudah di tempati selama 14 tahun tersebut, terlihat pemuda itu menatap ruangan yang penuh cinta dari sang ayah dan ibunya.
"Aku tidak akan pernah mau kehilangan Papa dan Mama, mereka adalah keluargaku mereka adalah segalanya bagiku." ucap Ilyas yang kemudian masuk ke dalam kamar mandi.
** bersambung **
mohon dukungannya di novel baruku, dan jangan lupa dukung novelku yang lain.
- my little wife
- Janji di bawah rembulan
- Isteri kesayangan tuan besar
- ku balas pengkhianatan mu
__ADS_1