
"Tuan." panggil salah satu pembantu.
"Ada apa?" tanya Abian kepada salah satu pekerja yang ada di rumahnya.
"Tuan muda Ilyas ada yang mencari." jawab pekerja pria.
"Apa temannya?" tanya Abian.
"Saya kurang tahu, Tuan. tapi seorang wanita agak tua mencarinya." jawab pekerja Pria.
"Siapa orang yang mencari Ilyas." ucap Abian yang kemudian berjalan menuju ruang tamu. saat berada di ruang tamu tatapan mata Abian menatap sepasang suami istri yang sudah berada di ruang tamu rumahnya.
"Siapa kalian?" tanya Abian kepada seorang pria dan seorang wanita yang sudah ada di rumahnya.
Dua orang itu nampak menatap seorang pria gagah yang sudah ada di depan mereka, tatapan seorang wanita yang mungkin usianya 45 tahun itu menatap Abian dan Naura yang sudah ada di depan mereka.
"Kami ke sini karena kami ingin menemui Putra kami." ucap wanita yang ada di tempat itu.
Abian yang mendengar perkataan wanita itu tentu saja dia sedikit kebingungan. "Putra? memangnya Putra kalian itu siapa?" tanya Abian dengan raut wajah yang sedikit bingung.
"Saya kemari karena saya ingin menjemput anak kami, Tuan." jawab seorang pria yang nampak menatap Abian dengan tatapan mata yang begitu tajam.
"Kalian ingin menjemput Putra kalian, Memangnya Putra kalian bekerja di sini?" tanya Naura yang baru datang dan mendengar perkataan dua orang yang sudah ada di rumahnya tersebut.
"Maafkan kami, nyonya. beberapa tahun yang lalu adik kami mengalami kecelakaan, kami tidak tahu kalau putranya masih hidup dan menurut dokter yang ada di rumah sakit kalau putra dari adik kami itu diadopsi oleh keluarga ini." jawab si pria.
Naura yang mendengar perkataan pria yang barusan datang itu tentu saja Naura benar-benar tersentak, wanita itu tidak akan pernah mengizinkan siapapun berusaha untuk menghancurkan kebahagiaannya.
"Aku tidak mengerti apa yang kalian katakan, jelaskan apa maksud kalian kemari?" tanya Naura dengan emosi yang sedikit tinggi.
"Beberapa tahun yang lalu kalian mengambil seorang bayi laki-laki, keluarganya sudah meninggal semuanya tapi sebenarnya bayi itu masih mempunyai keluarga dan saya adalah paman dan bibinya." jawab si pria.
Abian dan Naura saling menatap satu sama lain, tatapan mereka menatap seorang pria yang mengatakan kalau dirinya adalah paman dari Ilyas.
__ADS_1
"Kenapa aku harus percaya dengan kata-kata kalian?" tanya Naura yang bersikap begitu biasa.
Wanita itu tidak ingin percaya kalau dua orang yang tiba-tiba datang itu adalah keluarga dari Ilyas putranya. dua orang itu nampak menceritakan mengenai saudara-saudaranya yang sudah meninggal dunia, pria itu memberikan sebuah foto yang menunjukkan kebersamaan orang tua dari si bayi dan Ilyas yang digendong.
"Katakan Siapa nama kalian?" tanya Abian kepada dua pria orang yang sudah ada di rumahnya tersebut.
"Saya adalah paman dari pihak pria, saya datang kemari karena saya ingin mengambil keponakan kami. sudah lama kami mencari bayi itu Namun kami tidak bisa mendapatkan keberadaan anak itu sama sekali." ucap si pria yang berbicara dengan wajah yang begitu sedih, dia ingin menunjukkan kalau dia benar-benar Paman dari bayi kecil yang dulu di adopsi oleh Naura dan Abian.
"Aku tidak akan percaya begitu saja, jika kalian adalah keluarga dari Putra kami tapi kami sudah mengadopsi bayi itu secara hukum dan Kami tidak akan melepaskannya Apapun Yang terjadi." jawab Abian.
"Kami tidak ingin keponakan kami terpisah dari kami. Dia adalah satu-satunya keluarga kami, Saya ingin membawa kembali keponakan saya." ucap si pria.
Abian tidak akan percaya begitu saja dengan kata-kata yang diucapkan oleh dua pria yang tiba-tiba datang dan mengaku sebagai keluarga dari Ilyas.
"Siapa nama kalian?" tanya Abian kepada dua orang yang barusan datang tersebut.
"Nama saya sidik dan ini istri saya Lina." jawab sidik yang kemudian berjalan mendekati Abian.
Naura benar-benar tidak menyukai keberadaan dua orang yang tiba-tiba mengaku sebagai keluarga dari Ilyas.
tatapan mata Naura terus menatap bocah kecil tersebut, ada begitu banyak kesedihan juga ada begitu banyak sakit yang begitu luar biasa.
"Kenapa saya harus percaya dengan kata-kata kalian?" tanya Naura.
"Kami membawa bukti-bukti mengenai kebenaran dari bayi itu." jawab Lina.
Memberikan bukti sebanyak apapun tidak akan bisa membuat Naura percaya kalau wanita yang barusan datang itu adalah keluarga dari Ilyas. tak berselang lama terlihat Abian menelpon Sandi dan meminta orang kepercayaannya itu untuk menyelidiki sepasang suami istri yang mengaku menjadi keluarga putranya. bahkan Abian juga meminta sandi untuk mencari bukti-bukti mengenai keluarga putranya yang sudah meninggal.
** beberapa menit kemudian **
"Makanlah dahulu." Naura yang kemudian menyuruh dua orang itu untuk makan terlebih dahulu. Naura menatap dua orang yang baru datang itu dengan tatapan mata yang tidak percaya sama sekali. dokter Hasan pernah mengatakan kalau bayi itu sudah tidak mempunyai keluarga, bahkan Abian juga sudah menyelidiki mengenai keluarga dari bayi Malang tersebut.
Sekitar 30 menit kemudian seorang pemuda tampan sudah memasuki rumah Abian. "Assalamualaikum!" seru Ilyas yang baru datang dari sekolahnya.
__ADS_1
"Waalaikumsalam, Sayang." jawab Naura.
Tatapan mata Ilyas menatap 2 tamu yang ada di rumahnya, sedangkan dua orang itu nampak menatap seorang pemuda yang benar-benar sangat membuat mereka tersenyum.
"Ada tamu, Ayah?" tanya Ilyas kepada sang ayah.
Abian tidak menjawab, pria itu hanya menganggukkan kepalanya. Ilyas yang melihat jawaban dari sang ayah seketika dia langsung berjalan meninggalkan ruang tamu. sedangkan dua orang itu menatap Ilyas yang kemudian pergi.
Dengan segera dua orang itu berdiri dan memanggil Ilyas dengan sebutan keponakan. "Apakah dia bayi malang itu?!" seru Lina yang terlihat berdiri mendekati Ilyas.
Naura yang melihat hal itu tentu saja wanita itu marah. "Kalian Jangan bersikap lancang di rumah kami." ucap Naura yang mulai tersulut emosi. dengan segera Naura berdiri di depan dua orang itu.
"Tenanglah Sayang." ucap Abian.
Naura menatap suaminya, tatapan lembut yang ditunjukkan oleh Abyan seolah mengatakan semuanya akan baik-baik saja.
"Siapa Mereka Ma, Pa?" tanya Ilyas.
Dua orang asing itu seketika mendekati Ilyas. "Kami adalah paman dan bibirmu." jawab Lina.
Terlihat Ilyas menatap dua orang asing yang tiba-tiba ada di rumahnya tersebut, tak ada perkataan yang diucapkan oleh Ilyas. tatapan mata pemuda itu menatap Naura dan Abian yang seolah ingin mengetahui apa yang dikatakan oleh dua orang itu, terlihat Abian hanya menganggukkan kepalanya pemuda itu seketika tahu apa isyarat yang diberikan oleh Abian.
** bersambung **
mohon dukungannya di novel baruku, dan jangan lupa dukung novelku yang lain.
- my little wife
- Janji di bawah rembulan
- Isteri kesayangan tuan besar
- ku balas pengkhianatan mu
__ADS_1